
Truk makanan bergambar sandwich buatan Oscar yang begitu menggiurkan sudah terparkir di depan rumah Rivera. Baru beberapa saat yang lalu Oscar dan Rivera membawanya pulang, setelah teman Rivera sedikit mengubah tatanan di bagian dapur atas permintaan Oscar.
Ya, Oscar masih merasa tak percaya dengan hadiah yang diberikan oleh Paul dan Rivera tersebut.
Pasangan suami istri tersebut bahkan bukan siapa-siapa Oscar dan awal perkenalan mereka hanya sebagai tetangga. Tapi siapa menyangka jika kebaikan hati Rivera dan Paul begitu luar biasa.
"Bisa kau jelaskan?" Tanya Oscar setelah ia dan Rivera duduk berdua di ruang tengah rumah Rivera. Peter sudah terlelap di kamar, setelah tadi bayi itu disusui oleh Rivera. Sejujurnya, Oscar masih bertanya-tanya alasan sebenaranya kenapa Paul dan Rivera membelikannya sebuah truk makanan.
"Itu adalah keinginan Paul sejak lama," Rivera memulai ceritanya. Wanita itu sedikit menerawang.
"Jadi waktu itu Jess pernah bercerita kepada Paul tentang masa lalumu dan tentang pekerjaan yang oernah kau geluti di masa lalu sebelum kau dan Jess pindah kesini." Ujar Rivera lagi yang sesaat membuat raut wajah Oscar sedikit berubah.
"Aku tak akan menghakimi. Setiap orang punya masa lalu, Osh," sergah Rivera cepat dan bijak yang langsung membuat Oscar mengangguk dan pria itu juga terlihat bernafas lega.
"Jess hanya mengungkapkan kekhawatirannya waktu itu."
"Khawatir soal?" Oscar menyela penjelasan Rivera.
"Soal kau." Jawab Rivera seraya menatap pada Oscar.
"Jess khawatir jika suatu hari nanti kau akan kembali ke pekerjaan lamamu itu." Ungkap Rivera yang sesaat malah membuat Oscar tercengang.
Ya, Oscar baru tahu kalau Jesslyn sepeduli itu pada Oscar!
"Lalu Paul meyakinkan Jess kalau ia akan memberikan peketjaan untukmu, pekerjaan yang sesuai dengan passion yang kau miliki, agar kau punya kesibukan dan tak ada lagi waktu untuk memikirkan tentang pekerjaan lamamu," Rivera melanjutkan penjelasannya.
"Paul berencana membelikanmu truk makanan dengan uang tunjangannya, agar kau bisa memulai usahamu," ujar Rivera lagi.
"Paul hanya tak ingin Jess terus kepikiran dan terus-terusan khawatir kau akan kembali ke dunia gelap itu lagi. Jadi Paul membuat rencana ini," tutur Rivera seraya menyeka butir bening di sudut matanya.
"Lagipula, Paul sudah menganggap kau dan Jess sebagai bagian dari keluarganya. Jadi aku rasa ini bukan satu hal yang berlebihan," ujar Rivera lagi seraya tertawa kecil.
"Aku tidak tahu lagi harus mengucapkan apa dan membalas bagaimana atas semua kebaikanmu dan Paul, Rivera!"ucap Oscar yang sudah kehilangan kata-kata sekarang.
"Kau bisa mulai menjalankan usahamu sendiri mulai sekarang dan tak membuat Jess sedih lagi, Oscar."
__ADS_1
"Mungkin dengan begitu, Paul juga akan merasa senang sekaligus bangga," jawab Rivera seraya mengulas senyum.
"Akan aku lakukan," jawab Oscar bersungguh-sungguh.
"Dan ini," Rivera memberikan sebuah amplop pada Oscar.
"Tidak!" Tolak Oscar cepat.
"Aku tak bisa lagi menerima semua kebaikanmu, Rivera," ucap Oscar lagi merasa tak enak hati pada Rivera.
"Ini modal awal untuk memulai usahamu, Oscar! Jadi kau harus menerimanya," ujar Rivera memaksa. Wanita itu meraih tangan Oscar dan memaksa untuk memberikan amplop tadi pada Oscar.
"Aku tidak tahu lagi harus mengucapkan apa." Oscar segera memeluk Rivera dengan erat.
"Terima kasih banyak, Rivera! Terima kasih!" Ucap Oscar yang sudah sangat kehilangan kata-kata.
"Ya." Rivera menepuk-nepuk punggung Oscar.
"Oh, ya ada satu hal lagi, Oscar," ujar Rivera lagi yang mendadak ingat pada keinginan Jess selama ini. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Oscar.
"Ini tentang keinginan Jess," ucap Rivera yang langsung membuat Oscar mengernyit.
"Jess punya keinginan?" Tanya Oscar
"Ya, dan dia beberapa kali mengungkapkannya kepadaku," tutur Rivera lagi.
"Keinginan apa?" Tanya Oscar penasaran.
"Keinginan untuk memiliki sebuah keluarga," jawab Rivera cepat.
"Keluarga? Dia sudah punya aku," sergah Oscar merasa tak paham.
"Maksud Jess disini adalah keluarga yang lengkap. Kau tahu, kan?"
"Sebuah keluarga dimana ada Mom, Dad, dan Jess sebagai seorang putri," terang Rivera panjang lebar yang sesaat membuat Oscar diam.
__ADS_1
"Aku tahu tentang prinsip yang selama ini kau pegang, Oscar! Kau bukan pria yang percaya pada pernikahan."
"Tapi Jess juga punya hak untuk hidup dan tumbuh di dalam sebuah keluarga," Tutur Rivera lagi mencoba membuat Oscar mengerti.
"Aku tak bermaksud mengajari, tapi kau tahu sendiri kalau Jess begitu peduli padamu dan gadis itu juga menyayangimu. Jadi mungkin tak ada salahnya jika kau mau mewujudkan keinginan Jess yang itu dan mengubah prinsipmu selama ini," lanjut Rivera lagi dan Oscar masih diam.
"Kau mungkin bisa mulai memikirkannya," ujar Rivera memberikan saran.
"Apa Jess juga mengatakan wanita yang mungkin mau ia jadikan Mom?" Tanya Oscar tiba-tiba yang ganti membiat Rivera bungkam. Tatapan wanita itu seketika beradu dengan tatapan Oscar yang dalam. Keduanya saling diam untuk beberapa saat.
"Kenapa aku tak kau jadikan putrimu yang sesungguhnya saja kalau begitu?"
Kalimat yang pernah dilontarkan oleh Jess mendadak berkelebat di benak Rivera saat tatapannya masih beradu dengan tatapan Oscar.
"Jess mengatakannya kepadamu, Rivera?" Oscar mengulangi pertanyaannya.
"Ti-tidak!" jawab Rivera tergagap. Wanita itu sudah memalingkan wajahnya dan tak lagi beradu pandang dengan Oscar.
"Baiklah, terima kasih untuk saran bujakmu kalau begitu. Aku mungkin akan mulai memikirkannya," ujar Oscar akhirnya yang hanya membuat Rivera mengangguk dan wanita itu terlihat salah tingkah.
"Ngomong-ngomong, sekarang sudah jam pulang sekolah. Jadi sebaiknya kau kembali bekerja," ujar Rivera akhirnya mengingatkan Oscar, setelah wanita itu menatap sekilas pada jam yang tergantung di dinding rumah.
"Benarkah?" Oscar ikut melihat ke arah jam.
"Cepatlah pergi dan jangan terlambat!" Titah Rivera sekali lagi, sebelum kemudian wanita itu beranjak dan meninggalkan Oscar.
Oscar ikut beranjak dan akhirnya mengayunkan langkahnya untuk kembali menjalankan tugas rutinnya, mengantar anak-anak dari sekolah ke rumah masing-masing.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.