
Oscar keluar dari kamar mandi dengan tubuh dan rambut yang masih setengah basah. Pria itu langsung terlonjak kaget saat melihat Jesslyn yang ternyata sudah ada di rumah.
"Kau mandi lama sekali!" Komentar Jesslyn pada Oscar yang masih mengeringkan rambutnya memakai handuk.
"Agar bersih!" Jawab Oscar sedikit ketus.
"Lagipula, bukankah kau tadi bilang mau menginap di rumah Rivera dan membantu menjaga Peter? Kenapa sekarang kau malah pulang? Kangen dengan kamarmu?" Tanya Oscar seraya mencibir pada Jesslyn.
"Aku hanya ingin mengambil beberapa barangku," jawab Jesslyn beralasan. Gadis itu lalu bangkit berdiri dan masuk ke kamarnya. Sementara Oscar hanya berdecak dan masih lanjut mengeringkan rambutnya memakai handuk.
Tak berselang lama, Jesslyn sudah keluar lagi dari kamar seraya membawa sebuah ransel.
"Osh, aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Jesslyn seraya mendaratkan bokongnya di sofa.
"Tanya saja!" Jawab Oscar cepat.
"Kau tahu bagaimana Paul menyelamatkan nyawaku tempo hari, kan? Apa kau tidak mau membalas kebaikan Paul tersebut pada Nona Rivera dan Peter sekarang?" Tanya Jesslyn yang langsung membuat Oscar menghentikan aktivitasnya untuk beberapa saat.
"Aku sedang melakukannya sekarang," ujar Oscar meng-klaim.
"Kau tidak sedang melakukannya, Osh!"
"Kau bahkan tidak mau tinggal bersama Nona Rivera dan malah pulang kesini lagi." Sergah Jesslyn merasa sedih.
"Membalas kebaikan tidak harus tinggal bersama, Jess! Terlebih jika Nona Rivera saja belum menginginkannya, tentu aku tak boleh lancang membawa barang-barangku dan minta izin menginap!"
"Aku tidak mau Nona Rivera merasa tidak nyaman!" Ujar Oscar panjang lebar mencoba memberikan pengertian pada Jesslyn.
"Lagipula, meskipun aku tidak tinggal satu rumah dengan Rivera, aku akan tetap menjaganya seperti permintaan Paul," jelas Oscar lagi.
"Tapi bersama Mom dan Brennen kau mau saja tinggal bersama mereka, atas nama membalas budi juga. Lalu apa bedanya?" Jesslyn masih keras kepala.
"Tentu saja berbeda!" Sergah Oscar cepat.
"Apa bedanya?" Tanya Jesslyn sekali lagi.
"Entahlah aku tidak tahu! Yang jelas mereka berbeda! Rivera tak akan nyaman jika aku tinggal bersamanya!" Jawab Oscar merasa bingung dan pusing mendadak.
"Kau sudah pernah bertanya pada Nona Rivera memangnya?" Tanya Jesslyn lagi seolah sedang menginterogasi Oscar.
"Belum! Tapi jika melihat dari sikap Rivera-"
"Sikap yang mana yang kau maksud? Bukankah Nona Rivera selalu bersikap hangat padamu dan padaku!"
"Dia sudah menganggap kita sebagai keluarganya," Cerocos Jesslyn panjang lebar.
"Iya, tapi itu tidak bisa jadi alasan untukku tinggal bersama Rivera!" Sergah Oscar tetap keras kepala.
"Kau tidak tulus membalas kebaikan Paul berarti?" Tuduh Jesslyn yang benar-benar membuat Oscar ingin meledak bak kembang api sekarang. Kenapa sikap menyebalkan Jesslyn selalu saja muncul di waktu yang tak tepat seperti ini?
"Aku tulus! Hanya saja, aku tidak bisa tinggal bersama Rivera saat ini! Tapi aku akan tetap menjaganya dan rutin menjenguknya!"
"Bagaimana aku harus menjelaskan agar kau mengerti, Jess?" Oscar mulai frustasi sekarang.
__ADS_1
"Kau lihat sendiri tadi saat aku memasak untuk Rivera, dia saja sudah merasa tak enak hati. Apalagi jika aku tinggal bersamanya, bisa-bisa dia malah merasa tak nyaman dan tertekan!" Sambung Oscar lagi menjelaskan pada Jesslyn.
"Kau bahkan belum bertanya atau membicarakannya dengan Nona Rivera, tapi malah sudah mengambil kesimpulan sendiri," cibir Jesslyn yang sama sekali tak ditanggapi oleh Oscar.
"Lalu kau akan menjaga Nona Rivera sampai kapan?" Tanya Jesslyn selanjutnya.
"Sampai Rivera dan Peter menemukan pria yang baik dan tepat-"
"Lalu kenapa bukan kau saja yang menjadi pria itu?" Sergah Jesslyn memotong yang langsung membuat Oscar membelalak.
"Aku bukan pria yang baik!" Jawab Oscar cepat.
"Kau bisa belajar menjadi pria baik kalau begitu!" Jesslyn mulai keras kepala.
"Rivera tidak akan mau dengan pria sepertiku, jadi berhentilah memaksa-maksa aku untuk begini dan begitu!" Sergah Oscar yang kembali meninggikan suaranya pada Jesslyn.
"Belum mencoba dan berusaha tapi sudah mundur duluan! Payah!" Cibir Jesslyn pada Oscar.
"Bukan payah! Tapi aku hanya tahu diri!" Sanggah Oscar beralasan. Jesslyn kembali mencibir pada Oscar, sebelum kemudian gadis itu mengambil ranselnya dan pergi ke rumah Rivera.
****
Beberapa bulan kemudian....
Oscar menghentikan bus sekolah yang ia kemudikan di depan rumah Rivera. Terlihat wanita itu sedang di teras dan menimang Baby Peter yang sudah genap berusia tiga bulan. Oscar mengulas senyum.
"Ini!" Jesslyn menyodorkan kotak bekalnya yang sudah kosong pada Oscar. Meskipun kini Jesslyn tinggal bersama Rivera, namun untuk urusan bekal serta kebutuhan Jesslyn, semuanya masih menjadi tanggung jawab Oscar.
"Kenapa? Kau sudah kewalahan mengurus dirimu sendiri?" Tanya Jesslyn yang kembali menyindir perihal mengurus diri.
"Aku hanya bertanya karena besok akhir pekan." Jawab Oscar sedikit ketus. Jesslyn memang biasa pulang ke rumah saat akhir pekan untuk melakukan sidak di rumah atau hanya sekedar menceramahi Oscar perihal balas budi Oscar pada Rivera dan Peter yang masih belum maksimal.
Ya,ya, ya!
Gadis itu bisanya memang hanya ceramah dan berkomentar!
"Lalu kenapa bukan kau saja yang ke rumah Nona Rivera? Kau sepertinya sudah lama tak berkunjung dan menggendong Peter," ujar Jesslyn memberikan solusi sekaligus mengingatkan Oscar.
"Aku sibuk bekerja sekarang, oke!" Sergah Oscar lagi tetap mencari alasan.
"Lagipula, aku masih menjaga mereka!" Sambung Oscar lagi yang merasa tersindir dengan pernyataan Jesslyn barusan.
"Menjaga dari kejauhan," cibir Jesslyn sebelum gadis itu turun dari bus sekolah dan berlari ke teras rumah Rivera.
Masih bisa Oscar lihat Jesslyn yang langsung menggendong Peter, sebelum pria itu kembali melajukan bus meninggalkan rumah Rivera.
****
Akhir pekan.
Oscar membawa sekantung bahan makanan dan akhirnya benar-benar mengunjungi Rivera dan Peter, sekaligus Jesslyn yang sekarang tinggal di sana.
Oscar baru saja akan mengetuk pintu, saat ternyata pintu sudah dibuka dari dalam oleh Rivera yang sedang menggendong Peter.
__ADS_1
"Pagi!" Sapa Oscar pada ibu muda tersebut.
"Pagi, Osh! Tumben sekali kau datang," jawab Rivera yang langsung mempersilahkan Oscar untuk masuk. Oscar segera mengambil alih Peter dari gendongan Rivera, sementara Rivera ganti mengambil kantung bahan makanan dari tangan Oscar.
"Kebetulan sekali bahan-bahan di kulkas sedang habis dan kau malah membawakannya," ujar Rivera yang langsung menuju ke dapur dan mengeluarkan satu persatu sayur, buah, serta bahan makanan lain dan menyusunnya ke atas meja. Oscar mengikuti langkah Rivera masih sambil menggendong Peter.
"Jess mana?" Tanya Oscar yang tak melihat keberadaan Jesslyn. Jangan bilang kalau gadis itu masih tidur!
"Jess pergi pagi-pagi tadi karena ada kegiatan jelajah alam bersama teman-temannya. Aku pikir dia sudah memberitahumu," jelas Rivera yang yentu saja membuat Oscar kaget.
"Benarkah? Tapi dia tak memberitahuku kemarin," jawab Oscar seraya mengingat-ingat.
Tapi Jesslyn memang tak minta izin atau memberitahu Oscar kemarin.
Ck!
"Mungkin Jess lupa," tukas Rivera yang hanya membuat Oscar mengangguk.
"Lalu kapan dia pulang?" Tanya Oscar lagi pada Rivera.
"Besok pagi karena tadi dia juga membawa tenda serta kantung tidur. Katanya salah satu acaranya memang tidur di alam terbuka," jelas Rivera.
"Kau berdua saja bersama Peter malam ini berarti?" Tanya Oscar sedikit khawatir.
"Tidak masalah! Aku justru senang karena sekarang Jess sudah mau membaur bersama teman-temannya dan ikut kegiatan seperti ini."
"Aku masih ingat sekali saat dulu Jess baru awal-awal masuk sekolah, dia selalu menolak ikut kegiatan seperti ini," kenang Rivera seraya tersenyum.
"Aku jadi rindu mengajar anak-anak di sekolah," ujar Rivera lagi yang kembali tertawa kecil.
"Kenapa tidak membayar pengasuh saja agar kau bisa kembali mengajar, Rivera?" Oscar memberikan saran.
"Tidak! Peter masih terlalu kecil." Ujar Rivera.
"Lagipula, aku berencana untuk pulang ke kampung halamanku bersama Peter, setelah menunaikan keinginan terakhir Paul," lanjut Rivera lagi yang kembali membuat Oscar kaget.
"Pulang kemana?" Tanya Oscar sedikit bergumam.
"Ke rumah keluarga besarku. Mungkin bulan depan aku sudah berangkat," jawab Rivera seraya tersenyum. Wanita itu lalu dengan cekatan menyusun bahan-bahan makanan yang tadi dibawa Oscar ke dalam kulkasnya.
Sementara Oscar masih tenggelam dalam lamunannya sendiri dan mendadak perasaan pria itu menjadi galau.
Ada apa ini?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1