The Escort Man

The Escort Man
PERGI UNTUK SELAMANYA


__ADS_3

Oscar kembali ke tenda dengan wajah putus asa. Otak Oscar tak bisa lagi memikirkan alasqn yang akan ia sampaikan pada Rivera tentang keberadaan Paul. Tak bisa Oscar bayangkan hancurnya perasaan wanita itu jika tahu Paul sudah tiada.


Oscar mengintip ke dalam tenda dimana Rivera yang sudah bisa duduk sedang mengobrol bersama Jesslyn dan sesekali keduanya akan tertawa. Oscar benar-benar tak sampai hati memberitahu Rivera. Biarlah nanti Rivera tahu dari orang lain saja.


Oscar tak jadi masuk ke tenda, dan pria itu memilih untuk duduk saja di luar tenda. Pria itu menyugar kasar rambutnya berulang kali dan merasa frustasi sekarang.


****


"Dia tampan sekali," puji Jesslyn seraya mengusap-usap pipi bayi Rivera yang masih kemerahan.


"Kau sudah menyiapkan nama, Nona Rivera?" Tanya Jesslyn selanjutnya tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya pada wajah menggemaskan di depannya.


"Kau punya ide? Aku sedikit bingung memberikan nama untuknya dan Paul juga belum datang," ujar Rivera yang berulang kali melohat ke arah pintu masuk tenda saat ada yang masuk. Sepertinya Rivera sedang berharap kalau Paul akan segera datang menemuinya.


"Bagaimana kalau Peter?" Ceris Jesslyn memberikan usul.


"Tapi itu hanya usul saja! Keputusannya ada di tangan kau dan Paul,"tukas Jesslyn lagi tak mau memaksakan idenya.


"Peter? Bagus juga."


"Mungkin untuk sementara kita bisa memanggilnya Peter sampai aku dan Paul menemukan nama yang tepat untuk nama panjangnya," ujar Rivera yang rupanya langsung setuju dengan usulan Jesslyn.


"Hai, Peter! Kau tampan sekali,"sapa Jesslyn pada bayi Rivera yang begitu menggemaskan.


"Kau mau menggendongnya?" Tawar Rivera yang langsung membuat kefua mata Jesslyn berbinar.


"Boleh?" Tanya Jesslyn sedikit ragu.


"Boleh! Kemari, aku bantu!" Rivera membantu meletakkan Peter dengan hati-hati di dalam gendongan Jesslyn. Gadis itu sudah langsung luwes menggendong Peter yang juga terlihat begitu nyaman.


"Seperti ini?" Jesslyn mulai menimang Peter perlahan.


"Iya, seperti itu! Kau benar-benar sudah jadi kakak yang baik untuk Peter," puji Rivera seraya tersenyum melihat bagaimana Jesslyn yang terlihqt begitu menyayangi Peter.


Sementara Rivera kembali mrlihqt ke pintu masuk tenda, saat sekials ia melihqt punggung Oscar yang sepertinya hendak masuk tapi tidak jadi.

__ADS_1


Apa Oscar sudah dapat info tentang Paul?


"Kau bisa menjaga Peter sebentar, Jess?" Pinta Rivera pada Jesslyn.


"Ya! Kau mau kemana memangnya?" Tanya Jesslyn penasaran.


"Aku akan keluar sebentar. Tadi aku seperti melohat Oscar," tutur Rivera yang sudah berjalan oelan ke arah pintu keluar tenda. Jesslyn tak berkomentar apa-apa dan memilih untuk duduk masih sambil menggendong Peter. Jika benar Oscar sudah kembali, semoga pria itu membawa kabar baik tentang Paul.


Jesslyn juga masih berharap Paul selamat dan bisa menggendong bayinya yang tampan ini.


****


"Oscar!" Panggilan Rivera,langsung membuat Oscar yangvsejak tadi tertunduk lesu menjadi terlonjak kaget.


"Rivera! Kau sudah bisa berjalan?" tanya Oscar sedikit berbasa-basi sekaligus heran sebenarnya. Karena baru beberapa jam yang lalu wanita di depannya ini berjuang melahirkan sang putra.


"Kau sudah bertemu Paul?" Tanya Rivera tanpa menjawab basa-basi Oscar. Sorot mata wanita itu terlihat penuh pengharapan. Oscar benar-benar tak sampai hati memberitahu Ruvera tentang kondisi Paul.


"Aku-"


"Aku belum bertemu dengannya, Rivera!"


Maaf, Rivera!


"Mungkin masih membantu korban yang lain bersama tim," gumam Rivera berprasangka baik. Dusaat bersamaan, terdengar tangisan bayi Peter dari dalam tenda.


"Peter menangis. Aku masuk dulu," pamit Rivera selanjutnya pada Oscar.


"Peter?" Gumam Oscar yang baru tahu kalau nama bayi Rivera adalah Peter. Oscar hendak menyusul masuk ke tenda,namun ia malah berpapasan dengan Jesslyn yang hendak keluar.


"Kau menemukan Paul?" Tanya Jesslyn seraya menyeret Oscar sedikit menjauh dari tenda.


"Ya!"


"Dia di bawah timbunan dan sudah meninggal," jawab Oscar yang langsung membuat Jesslyn menutup mulitnya dengan telapak tangan.

__ADS_1


"Kau sudah memeriksanya dengan benar belum, Osh! Mungkin Paul hanya pingsan!" Cecar Jesslyn yang sudah ganti mengguncang kedua pundak Oscar.


"Tim penyelamat sudah memeriksa dan memastikannya, Jess!"


"Paul tidak selamat!" Raut wajah Oscar sudah berubah sedih sekarang.


"Sekarang bagaimana kita akan memberitahu Rivera-" Oscar menghentikan kalimatnya saat melihat beberapa anggotq tim penyelamat masuk ke dalam tenda Rivera.


Oscar menarik tangan Jesslyn dan secepat kilat mengajak gadis itu masuk ke dalam tenda. Namun saat Oscar dan Jesslyn tiba di dalam tenda, Rivera sudah menangis tergugu masih sambil memangku sang bayi. Sepertim penyelamat baru saja memberitahu Rivera tentang Paul yang tak selamat.


"Nona Rivera!" Jesslyn segera menghampiri Rivera dengan cepat dan memeluk wanita tersebut. Sementara Oscar sigap mengambil alih baby Peter dari pangkuan Rivera.


"Paul!" Rivera terisak-isak meratapi kepergian sang suami tercinta. Oscar hanya mampu menatap trenyuh pada Rivera sembari berjanji dalam hati ke depannya Oscar akan menjaga Rivera dan Baby Peter seperti pesan terakhir Paul.


****


Oscar membantu Rivera untuk bangkit berdiri. Wanita itu mendekap Baby Peter dan raut wajahnya masih sembab.


"Keinginanmu untuk pergi sebagai seorang pahlawan sudah terwujud, Paul!"


"Aku akan menceritakan semuanya pada Peter suatu hari nanti agar ia bangga memiliki Dad seorang pahlawan," gumam Rivera berjanji pada makam sang suami.


Jesslyn meletakkan setangkai bunga mawar putih di atas makam Paul,lalu gadis itu memeluk pusara Paul beberapa saat.


"Terima kasih!" Ucap Jesslyn yang kembali mengenang bagaimana hari-hari menyenangkannya bersama Paul. Bahkan di saat terakhir, Paul masih menuruti kemauan Jesslyn dan menolong Jesslyn yang terjebak.


Oscar mengusap punggung Jesslyn, lalu membimbing putrinya itu untuk bangkit berdiri. Jesslyn langsung menghambur ke pelukan Oscar dan menangis tersedu. Oscar tahu, kalau Jesslyn pastilah merasa begitu kehilangan mengingat Paul yang selalu bersikap baik dan hangat terhadap Jesslyn.


"Selamat jalan, Paul! Beristirahatlah dengan tenang, dan aku akan menjaga putramu mulai sekarang!"


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2