
Malam menjelang.
Oscar dan Jesslyn menikmati makan malam mereka dalam kebisuan. Hanya terdengar suara dari peralatan makan yang saling beradu serta suara angin dari luar rumah yang sepertinya berhembus lumayan kencang malam ini.
"Hahh!" Jesslyn tersentak kaget saat jendela di dapur mendadak menjeblak terbuka karena tertiup angin. Oscar segera bangkit untuk menutup kembali jendela tersebut dan menguncinya sekalian..
Duaaarrr!
Gantian suara petir yang terdengar dari luar rumah. Sepertinya hujan akan turun lebat malam ini.
"Kau takut petir?" Tanya Oscar yang sudah kembali duduk dan menikmati makanannya lagi. Pria itu akhirnya buka suara dan berusaha untuk mengajak Jesslyn berbicara.
"Tidak!" Jawab Jesslyn singkat.
Duaaarrr!
Petir kembali menyambar dan Jesslyn sudah menutup kedua telinganya dengan tangan. Oscar refleks tertawa kecil melihat sikap spontan Jesslyn tersebut.
"Katanya tadi tidak takut?" Cibir Oscar.
"Aku hanya kaget!" Sanggah Jesslyn seraya mendelik pada Oscar.
"Kaget? Baiklah aku percaya!" Nada bicara Oscar tetap terdengar mencibir sekaligus mengesalkan. Jesslyn berdecak dan melanjutkan makan saat tiba-tiba lampu di rumah padam bersamaan dengan petir yang kembali menyambar.
"Brengsek!" Umpat Oscar seraya membanting sendok di tangannya. Hal yang paling Oscar benci selama tinggal di rumah terpencil Naomi ini adalah saat mati lampu seperti ini. Mati lamlu disertai huja nya badai, sungguh kompilasi yang luar biasa.
Oscar bangkit dari duduknya dan akhirnya pergi ke gudang bawah untuk menyalakan generator cadangan. Meskipun sebenarnya Oscar sedikit malas. Tapi Oscar sangat tahu kalau Jesslyn tak akan bisa tidur jika suasana gelap gulita begini. Setidaknya itulah yang pernah dikatakan Naomi setiap mati lampu. Jadi mau tak mau, Oscar harus menyalakan generator cadangan agar lampu di rumah bisa menyala.
Jesslyn masih duduk di tempatnya semula dan gadis itu sesekali menatap ke kiri dan kanan. Jesslyn mungkin memang ketus dan keras kepala. Namun selayaknya anak-anak seusianya, Jesslyn juga punya rasa takut. Jesslyn takut tidur di dalam kegelapan.
"Oscar! Kenapa lama?" Seru Jesslyn yang sudah meringkuk di atas kursi dan tak berani kemana-mana.
"Generatornya sedikit macet!"
"Jangan kemana-mana agar kakimu tak terantuk meja!" Jawab oscar berseru dari gudang bawah.
__ADS_1
"Cepat nyalakan lampunya!" Seru Jesslyn lagi yang sudah mulai panik..
"Iya! Aku sedang berusaha, Nona tukang perintah!" Sahut Oscar dengan suara yang mulai kesal.
Jesslyn terus meringkuk dan menyembunyikan wajahnya, saat akhirnya generator berhasil menyala dan rumah suadh kembali terang.
"Akhirnya!" Oscar bersorak lega dan sudah kembali ke ruang makan. Namun Jesslyn tetap meringkuk di kursinya.
"Lampu sudah menyala, Jess! Kau akan meringkuk sampai kapan?" Tanya Oscar seraya meng*lum senyum. Jesslyn mengintip sedikit untuk memastikan omongan Oscar. Ternyata memang benar, lampu sudah menyala. Jesslyn kembali duduk dengan benar dan lanjut menghabiskan makan malamnya. Hujan di luar terdengar semakin deras.
"Perlu aku temani tidur malam ini agar kau tak menangis ketakutan?" Tanya Oscar dengan nada mengejek pada Jesslyn.
"Tidak!" Jawab Jesslyn tegas. Gadis itu bangkit dari kursi ruang makan, lalu meninggalkan Oscar dan Langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Keras kepala tapi penakut!" Cibir Oscar.
****
Setelah hujan mengguyur dengan lebat semalaman, pagi ini akhirnya matahari bersinar cerah. Oscar sydah berjanji untuk mengantar Jesslyn ke makam Naomi pagi ini. Lalu setelahnya, Oscar dan Jesslyn akan pergi ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan.
Tapi bagaimana Oscar bisa menenggelamkan bocah sembilan tahun ini, jika Jesslyn saja pandai berenang?
"Kau akan berdandan berapa lama lagi, Jess?" Seru Oscar dari luar pintu kamar Jesslyn. Tak berselang lama, pintu sudab dibuka dan Jesslyn keluar dengan wajah yang lumayan berseri. Ya, setidaknya gadis ini tak membuat Oscar menunggu lebih lama lagi.
Jesslyn sudah mendahului Oscar dan masuk ke mobil pria itu. Sementara Oscar masih harus mengunci pintu depan sebelum pria itu menyusul masuk ke mobil. Tak berselang lama, mobil Oscar sudah melaju meninggalkan rumah Naomi.
"Belikan bunga untuk Mom!" Ucap Jess yang lebih mirip kalimat perintah. Namun tidak ada kata tolong di awal, dan cara bicara Jess pada Oscar lebih terkesan memerintah ketimbang minta tolong.
"Apa di sekolahmu tidak diajarkan untuk mengucapkan kata tolong atau bagaimana meminta sesuatu dengan sopan?" Tanya Oscar merasa geram pada Jesslyn yang langsung bungkam dan tak lagi buka suara.
Ya, ya, ya!
Sepertinya itu memanglah jurus andalan Jesslyn menyebalkan!
Oscar membelokkan mobilnya ke sebuah toko bunga untuk menuruti si Nona tukang perintah, Jesslyn Olsen!
__ADS_1
Mobil baru berhenti dan Jesslyn sudah langsung turun dari mobil Oscar, lalu gadis itu langsung memilih-milih bunga untuk ia bawa ke makam Naomi. Oscar menyusul turun namun memilih untuk melihqt dari samping mobil saja, dan rnggan ikut memilih. Biarlah gadus sembilan tahun itu yang menentukan sendiri pilihannya. Oscar sedang malas berdebat.
"Sudah!" Lapor Jesslyn yang sydah menghampiri Oscar dan membawa beberapa tangkai bunga di tangannya.
Jesslyn langsung masuk ke mobil, meninggalkan Oscar yang kini sibuk mengeluarkan dompet untuk membayar bunga Jesslyn. Sudah seperti sopir dan nona mudanya saja!
"Mau beli yang lain lagi?" Tanya Oscar ketis setelah pria itu menyusul masuk ke dalam mobil.
Jesslyn hanya menggeleng, dan gadis itu sibuk mengendus aroma bunga yang berada di pangkuannya. Sekilas, wajah Jesslyn yang tampak dari samping malah mengingatkan Oscar pada Naomi.
"Bunga yang bagus, Nao!" Puji Oscar yang baru tiba di rumah saat melihat Naomi yang sedang menciumi aroma setangkai mawar di tangannya.
"Ya! Mitch yang membelikannya!" Jawab Naomi pamer.
Oscar bersiul.
"Romantis! Tapi kenapa Mitch pelit sekali dan hanya membelikan satu tangkai?"
"Mau aku belikan satu rangkaian yang lebih besar?" Tawar Oscar pada Naomi yang langsung tergelak.
"Tidak usah!"
"Ssttt!" Jesslyn melambaikan tangannya di depan Oscar yang malah melamun.
"Apa?" Oscar menatap bingung pada Jesslyn yang langsung memutar bola matanya. Gadis sembilan tahun itu kembali menciumi aroma bunga di pangkuannya.
Oscar berdecak dan langsung melajukan mobilnya ke arah makam Naomi.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.