The Escort Man

The Escort Man
BIMBANG


__ADS_3

Jesslyn keluar dari kamar setelah hari beranjak gelap. Gadis sembilan tahun itu mengintip sejebak ke halaman depan yang tadi penuh dengan peia berbadan tegap dan berpakaian serba hitam. Namun sekarang mereka sudah tidak ada dan suasana juga sudah sepi.


Kecuali suara tawa Oscar dari arah dapur.


Oscar sedang tertawa bersama siapa?


Wanita asing yang tadi naked bersamanya di atas ranjang?


"Jess! Kau sudah bangun?" Sapa Oscar pada Jesslyn mengintipnya di dapur.


Jesslyn hanya diam dan tak membalas sapaan Oscar. Jesslyn masih marah pada pria itu!


"Kau lapar? Kemarilah! Aku sedang memasak makan malam!" Titah Oscar selanjutnya pada Jesslyn. Namun Jesslyn tetap bergeming.


"Jess!" Panggil Oscar lagi dan Jesslyn langsung berbalik lalu hendak pergi, saat kemudian celetukan Aster membuat Jesslyn menghentikan langkahnya.


"Gadis kecil yang pemarah!"


Jesslyn segera berbalik, lalu menghampiri Aster yang sedang menyesap minumannya.


"Keluar kau dari rumahku!" Usir Jesslyn galak pada Aster yang wajahnya terlihat santai.


"Jess! Jaga sopan santunmu pada Aster!" Tegur Oscar seraya menuding ke arah Jesslyn.


"Dia siapa memangnya?" Jesslyn balik mendelik marah pada Oscar.


"Dia temanku, oke! Dan dia akan jadi temanmu juga!" Jawab Oscar yang sedikit lebih tenang menghadapi kemarahan Jesslyn kali ini.


Yeah!


Mungkin karena Oscar baru mendapatkan pelampiasan tadi. Jadi emosinya masih bisa stabil.


"Dia bukan temanku!" Ketus Jesslyn yang tetap mendelik pada Oscar.


"Aster akan tinggal disini beberapa hari ke depan. Jadi suka atau tidak suka, terima saja!" Ucap Oscar menatap tegas pada Jesslyn yang langsung berbalik dan keluar dari dapur. Tak berselang lama, terdengar suara pintu kamar yang dibanting keras oleh Jesslyn.


Oscar hanya menyugar rambutnya dan berdecak berulang-ulang.


"Putrimu pemarah dan keras kepala, Osh! Bagaimana kau bisa tahan menghadapinya?" Tanya Aster dengan nada tak percaya.


"Aku juga tidak tahu!" Oscar mengendikkan kedua bahunya.


"Itulah salah satu alasanku tidak menyukai anak-anak. Mereka selalu membuat masalah, mudah marah, dan sulit diatur!" Tukas Aster sebelum kemudian wanita itu menyesap minumannya.


"Jadi, kau memutuskan untuk tak akan menikah dan punya anak?" Tebak Oscar seraya menyajikan hidangan makan malam yang sudah selesai ia olah ke hadapan Aster.


"Masih menjadi pertimbangan." Jawab Aster seraya mencicipi sedikit masakan Oscar.


"Lagipula, untuk apa aku menikah jika kau sudah setuju untuk menjadi kekasihku?"

__ADS_1


"Bukankah kau juga tak suka hubungan rumit serta sebuah ikatan?" Lanjut Aster yang hanya membuat Oscar tersenyum simpul.


Seperti halnya Aster, pernikahan memang tak pernah ada di kamus seorang Oscar yang cinta akan kebebasan. Oscar tak suka sebuah hubungan dengan ikatan semacam pernikahan.


"Bagaimana masakanku?" Tanya Oscar mengalihkan pembicaraan.


"Lumayan! Kau pandai memasak ternyata!" Aster mengerling nakal pada Oscar yang lanjut menuang masakannya ke dua piring lain.


"Yang satu untuk siapa?" Tanya Aster seraya mengendikkan dagunya ke dua piring makanan yangvada di depan Oscar.


"Jess," jawab Oscar.


"Aku akan mengantarnya ke kamar Jess dulu," pamit Oscar selanjutnya seraya membawa satu piring berisi makanan tadi keluar dari dapur.


"Jess!" Oscar mengetuk pintu kamar Jesslyn dengan keras namun tak ada jawaban. Oscar akhirnya memilih untuk membuka pintu kamar memakai kunci cadangan saja. Jess selalu saja menyumpal telinganya saat berada di kamar dan tak pernah mendengar panggilan Oscar. Jadi Oscar berinisiatif untuk membuat kunci cadangan saja ketimbang pita suaranya jebol karena harus berteriak setiap hari.


"Jess, aku membawa makananmu!" Oscar mendorong pintu kamar dan melihat Jesslyn yang kini membenamkan kepalanya di bawah bantal.


Tak ada jawaban dari Jesslyn.


"Baiklah aku akan meletakkannya disini," ujar Oscar akhirnya yang sedang malas berdebat. Oscar meletakkan piring berisi makanan di atas meja belajar Jesslyn. Pria otu lalu hendak keluar dari kamar, saat Jess tiba-tiba melontarkan pertanyaan.


"Kenapa kau tidak membiarkan yayasan membawaku saja kemarin?"


Oscar menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Jesslyn yang masih membenamkan kepalanya di bawah bantal.


"Karena kau adalah tanggung jawabku!" Jawab Oscar tegas.


"Dan suruh wanita itu keluar dari rumah ini!" Desis Jesslyn yang masih menatap Oscar dengan tatapan penuh permusuhan.


"Namanya Aster!"


"Dan dia adalah kekasihku, jadi dia akan tinggal disini bersama kita!" Jawab Oscar tegas dan egois.


"Dan seharusnya kau itu berterimaksaih karena aku tak menyerahkanmu ke yayasan!"


"Kau tak akan bisa tidur di kamar senyaman ini dan makan makanan enak jika tinggal di yayasan!"


"Kau harus berbagi dengan anak-anak penghuni yayasan lain!"


"Kau mau seperti itu?" Oscar meluapkan kekesalannya pada sikap Jesslyn yang hanya membisu.


"Jadi bersikaplah yang manis mulai sekarang dan berhenti jadi gadis ketus, pemarah, dan menyebalkan!" Pungkas Oscar sebelum kemudian pria itu berbalik dan keluar dari kamar Jesslyn. Namun Oscar kembali menghentikan langkahnya di ambang pintu.


"Dan habiskan makan malammu!" Pesan Oscar sebelum akhirnya pria itu keluar dari kamar Jesslyn dan menutup pintu.


"Aku tak akan makan!" Teriak Jesslyn yang merasa marah pada Oscar.


Jesslyn kembali membenamkan kepalanya di bawah bantal dan kini gadis itu menangis dalam diam.

__ADS_1


****


Malam semakin larut.


Oscar mengerang saat akhirnya ia berhasil mencapai pelepasannya di dalam milik Aster. Oscar mengakhiri pergelutan panasnya tersebut dengan memagut bibir Aster cukup lama karena batin Oscar merasakan ada sesuatu yang masih belum ia dapatkan.


Sesuatu yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Entah mengapa Oscar hanya merasa biasa saja, meskipun tadi ia berhasil mencapai pelepasannya. Sama sekali tak ada kenikmatan seperti saat dulu ia bercinta bersama Aster.


Aneh!


Apa Oscar sudah bosan pada wanita ini sekarang?


Apa jiwa petualang Oscar yang dulu sudah kembali lagi?


Aster memaksa untuk melepaskan pagutan Oscar setelah wanita itu nyaris kehabisan nafas.


"Kau mau lagi?" Tawar Aster pada Oscar.


Dulu Oscar yang selalu mengatakan itu pada para kliennya, termasuk Aster. Tapi lihatlah sekarang!


Aster sudah berani dan terang-terangan menawarkan diri pada Oscar. Apa wanita ini terkena syndrome puber kedua dan mulai kecanduan hubungan ranjang?


"Kau sudah lelah dan aku tak mau membuatmu pingsan." Oscar menarik selimut untuk menutupi tubuh naked Aster.


"Jadi tidurlah dan kita lanjutkan besok." Lanjut Oscar seraya mengecup kening Aster.


"Kau akan ikut aku dan tinggal dj mansionku berarti," ucap Aster tiba-tiba yang langsung membuat Oscar terkejut.


"Apa?"


"Kau sudah setuju untuk menjadi kekasihku dan akubtak bisa terus-terusan berada di sini! Aku punya banyak pekerjaan dan bisnis yang harus aku urus. Jadi besok aku akan pulang dan kau akan ikut bersamaku!" Ujar Aster panjang lebar yang lebih mirip sebuah perintah ketimbang permintaan.


"Aku tidak bisa, Aster!"


"Aku harus mengurus Jesslyn disini!" Tolak Oscar beralasan.


"Aku akan membayar baby sitter untk mengurus bayi ketusmu itu!" Aster menawarkan sebuah ide dan Oscar terlihat bimbang.


"Kau tak akan tahan mengurus Jesslyn, Osh!"


"Jadi menyerah saja dan kita serahkan pada ahlinya!" Sambung Aster lagi yang tak langsung dijawab oleh Oscar.


Sepertinya Oscar sedang bimbang sekarang.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2