The Escort Man

The Escort Man
KELUARGA DAN SAHABAT BARU


__ADS_3

Oscar kembali menyentak masuk, setelah ia mengajak Rivera berguling dan mereka kembali bertukar posisi.


Kini Rivera kembali berada di bawah Oscar, dan wanita itu menatap lekat wajah Oscar yang sudah dipenuhi oleh peluh.


"Ada apa, kau sudah lelah?" Tanya Oscar khawatir. Oscar juga menghentikan sejenak gerakannya untuk memastikan apa Rivera masih mau lanjut ke ronde kedua atau istrinya ini ingin tidur dulu.


Meskipun sebenarnya Oscar masih menginginkannya, namun Oscar tak boleh egois.


"Kenapa berhenti? Lanjutkan saja," jawab Rivera seraya tersenyum dan mengusap wajah Oscar. Mengusap peluh yang membasahi wajah suaminya tersebut.


"Baiklah." Oscar kembali bergerak keluar dan masuk ke dalam milik Rivera.


Tadi ronde pertama berjalan kurang dari satu jam. Sebuah rekor tentu saja untuk Oscar yang dulu selalu butuh waktu berjam-jam hanya untuk mencapai sebuah pelepasan.


Apa karena Oscar sudah terlalu lama tak melakukannya, hingga tadi ia begitu bersemangat?


Atau karena Oscar yang memang merasa begitu lepas bersama Rivera yang sudah berstatus sebagai istri sahnya?


Atau mungkin karena Oscar memang sudah sangat mencintai Rivera, hingga permainan yang ia lakukan malam ini benar-benar berdasarkan cinta dan bukan semata-mata sebagai pelampiasan n*fsu belaka?


"Sssttt!" Rivera menangkup lembit wajah Oscar yang langsung membuat pria itu tersentak.


"Kau melamun?" Tanya Rivera yang tetap menangkup wajah Oscar.


"Tidak!" Oscar menggeleng.


"Hanya sedang menikmati hal indah malam ini," lanjut Oscar sedikit bersenandung.


"Hal indah apa itu? Mau menceritakannya kepadaku?" Tanya Rivera lagi sedikit menggoda Oscar.


"Ya!"


"Hal indah itu adalah kau!" Oscar menundukkan kepalanya, lalu segera meraup bibir merekah Rivera dan memagutnya dengan panas. Gerakan Oscar di bawah sana juga semakin intens dan temponya semakin cepat.


Oscat terus mel*mat bibir Rivera, sembari meng-eksplore setiap inchi dari bibir istrinya tersebut.


"Emmmhhh!"


Lenguhan, desah*an serta erangan tak berhenti terdengar dari bibir Oscar dan Rivera. Suasana di dalam kamar sudah semamin panas saat akhirnya untuk ledua kali Oscar kembali mencapai pelepasan. Oscar langsung menyandarkan kepalanya di dada Rivera dan nafas pria itu masih terengah-engah.


"I love you, Honey!" Gumam Oscar yang masih berusaha mengatur nafasnya.


"I love you, Rivera!" Ulang Oscar lagi seraya mengangkat kepalanya dari atas dada Rivera. Oscar menatap lekat pada wajah Rivera yang sudah dibanjiri oleh peluh. Tangan Oscar bergerak untuk merapikan beberapa anak rambut Rivera yang berserak


"I love you too," balas Rivera seraya menangkup wajah Oscar. Rivera sedikit menarik kepala Oscar lalu mengecup bibir suaminya itu sekali lagi.


"Mau lagi?" Tawar Oscar seraya tertawa kecil. Oscar sudah berguling ke samling, lalu memeluk tubuh naked Rivera dengan erat.


"Sebaiknya kita istirahat dulu," ujar Rivera sembari mengusap lengan Oscar yang masih mendekapnya dengan erat.


"Kita akan tidur sembari memeluk seperti ini setiap malam?" Tanya Oscar lagi yang sudah ganti mengecup puncak kepala Rivera.


"Ya! Kecuali Peter menangis, mungkin akan ada Peter di antara kita," jawab Rivera seraya tertawa kecil. Oscar ikut tertawa kecil.


"I love you!" Bisik Oscar lagim


"I love you too!" Rivera berbalik dan segera menyusupkan kepalamya ke dalam dekapan Oscar.


Sebuah senyuman lebar langsung terulas di bibir Oscar yang akhirnya menemukan apa itu cinta.


Ya, Oscar mencintai Rivera, Jesslyn, dan juga Peter. Mereka adalah keluarga Oscar sekarang.


****


Satu tahun kemudian....


Rivera membereskan meja serta kursi, sementara Oscar membereskan bagian dalam truk makanan. Malam ini semua sandwich dan hotdog sudah habis terjual, meskipun tadi mereka baru buka tiga jam.


"Peter! Jangan lari!" Jesslyn mengejar Peter yang kini sudah aktif berlari kesana kemari. Balita itu tertawa cekikikan saat Jesslyn berhasil menangkapnya.


Sudah enam bulan, Oscar dan Rivera memutuskan untuk pindah ke sebuah apartemen yang tak jauh dari alun-alun kota. Sementara dua rumah yang bearda di dekat danau sengaja mereka sewakan untuk penghasilan tambahan.


Sekarang setiap sore hingga malam, Rivera, Jesslyn, dan Peter juga akan menemani Oscar berjualan di alun-alun kota. Sedangkan saat pagi hingga siang, Oscar akan melakoni pekerjaan sebagai juru masak di sebuah rumah makan.


Ya, kini Oscar sudah hidup sebagai pria normal, yang memiliki keluarga dan menjalani pekerjaan seperti orang-orang pada umumnya. Oscar bukan lagi seorang escortman yang menjual diri untuk mencari uang.


"Hap! Dapat!" Rivera segera mengangkat tubuh Peter saat balita itu menabraknya. Jesslyn ikut menggelitiki Peter yang kembali cekikikan.


"Sudah selesai semua?" Tanya Oscar yang juga sudah ikut menghampiri istri dan kedua anaknya.


"Sudah!" Lapor Rivera seraya memberikan Peter pada Oscar.

__ADS_1


"Mmmmmuaaah!" Oscar langsung memciumi Peter dengan gemas hingga balita itu mulai berontak.


"Dah! Dah!" Celoteh Peter yang masih belum terlalu lancar berbicara. Namun celotehannya selalu bisa membuat gemas orang-orang di sekitarnya.


"Ayo naik pesawat sebentar!" Ajak Oscar yang sudah ganti menggendong Peter di atas tengkuknya, lalu membawa balita itu berputar-putar di alun-alun dan Jesslyn akan mengekori keduanya dari belakang seraya tertawa lepas.


"Brrruuum! Bruuum!"


"Ngeeng!" Oscar membuat dan menirukan suara pesawat terbang hingga membuat Peter tertawa ceria.


"Bruuuuum!" Oscar masih mengajak Peter main pesawat-pesawatan, saat ada sepasang pria dan wanita yang menghampiri Rivera.


"Selamat malam!"


"Malam! Kedai sudah tutup," jawab Rivera yang mengira kalau pasangan itu hendak membeli hotdig atau mungkin sandwich buatan Oscar.


"Mmmmm, kami ingin bertemu Jesslyn Olsen," jawab pria tersebut yang langsung membuat Rivera mengernyit.


Mereka siapa?


"Osh! Kemarilah!" Panggil Rivera akhirnya pada Oscar.


Oscar segera menurunkan Peter dari tengkuknya dan ganti menghendong putranya tersebut ke arah Rivera. Jesslyn turut mengekor di belakang Oscar dan Peter.


"Mereka siapa, Dad?" Tanya Jesslyn pada Oscar yang langsung mengendikkan bahu.


"Dad tidak tahu!"


"Ada apa, Rivera?" Tanya OS seraya memberikan Peter pada Rivera.


"Mereka mencari Jesslyn," jawab Rivera seraya menunjuk pada pasangan di depannya. Oscar mebatap lekat pada pasangan yang terlihat tak asing tersebut. Oscar seperti pernah melihat dan bertemu dengan mereka. Tapi dimana?


"Hai! Kau masih ingat padaku?" Tanya si pria yang langsung membuat Oscar mengernyit sekaligus mengingat-ingat


"Kau?"


"Aku Edward Anthony! Kita pernah bertemu di rumah Mom," jawab pria itu akhirnya seraya mengulurkan tangannya ke arah Oscar dan mengajak berjabat tangan.


Ya, akhirnya Oscar ingat pada putra tunggal dari wanita tua Anthony itu!


Lalu ada apa pria ini mencari Jesslyn? Mencurigakan sekali.


"Sebenarnya, aku kesini untuk mewakili Mom dan meminta maaf pada Jesslyn atas apa yang pernah Mom lakukan di masa lalu." Jawab Edward dengan raut penuh penyesalan.


"Aku tahu itu sudah lama berlalu. Tapi mungkin rasa trauma itu masih ada di dalam diri Jesslyn-"


"Madame Anthony mengadu kepadamu?" Sela Oscar memotong.


"Sebenarnya, saat kasus Johnson bergulir, Mom kabur ke negara kami untuk bersembunyi aku rasa. Lalu Mom jatuh sakit." Edwar menghela nafas dan wanita yang berdiri di sebelahnya teroihat menggenggam erat tangan Edward seolah sedang menyalurkan kekuatan.


"Mom lalu meninggal enam bulan setelahnya," lanjut Edward yang langsung membuat Oscar terkejut.


"Aku turut berduka," ucao Oscar dengan raut wajah datar.


"Ya!"


"Dan soal kasus pelecehan yang hampir menimpa Jesslyn." Edward ganti menatap pada Jesslyn yang kini berdiri di dekat Rivera dan menggenggam tangan Mom sambungnya tersebut.


"Itu semua sebenarnya adalah rencana Mom dan Johnson hanya kaki tangan."


"Jadi aku mewakili Mom meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Jesslyn dan padamu juga," ucap Edward dengan raut penuh penyesalan.


"Kami sudah melupakan semua hal itu," jawab Oscar akhirnya.


Ya, Oscar memang sudah lama melupakan hal tersebut apalagi sekarang Oscar sudah memiliki keluarga yang lengkap dan bahagia.


"Kau juga begitu, kan, Jess?" Iscar ganti bertanya pada Jesslyn yang langsung mendekat ke arah Oscar.


"Ya!" Jawab Jesslyn singkat.


"Kami akan membiayai pendidikan Jesslyn sebagai ucapan terima kasih," wanita yang bersama Edward akhirnya buka suara.


"Tidak usah repot-repot! Jess adalah tanggung jawabkj sebagai Dad-nya, jadi-"


"Tolong jangan menolak, Tuan Oscar!" Sela Edward cepat.


"Panggil Oscar saja dan jangan tuan! Aku bukan tuanmu!" Oscar tertawa kecil dan sedikit mencairkan suasana yang tadi tegang.


"Tolong jangan menolaknya, Oscar!" Edward mengulangi kalimatnya.


Oscar menatap sejenak pada Rivera seolah minta persetujuan. Istri Oscar itu lalu mengangguk dan menghampiri Oscar.

__ADS_1


"Baiklah, jika kalian memaksa," ucap Oscar yang akhirnya bersedia menerima hadiah dari Edward dan istrinya.


"Sapa mereka, Jess!" Titah Oscar pada sang putri.


"Hai, Tuan dan Nyonya Edward!"


"Istriku namanya Elleanore," Edward memperkenalkan Elleanore pada keluarga kecil Oscar.


"Dan ini istriku, Rivera."


"Lalu putraku yang berumur satu setengah tahun, Peter," Oscar ganti mengenalkan Rivera dan Peter pada Edward dan Elleanore.


"Sebenarnya, kami berencana pindah ke kota ini. Apa kita bisa menjadi teman, Oscar?" Tanya Edward lagi pada Oscar.


"Ya, tentu saja!"


"Tapi ngomong-ngomong, kenapa kalian pindah kesini?"


"Dad sakit dan kami ingin merawatmya disini," jawab Elleanore menjelaskan.


"Dad kandungmu?" Tanya Oscar pada Edward.


"Ya! Dia sedang sakit tapi dia juga tidak mau pergi dari kota ini. Jadi aku dan Elleanore memutuskan untuk pindah kesini saja agar bisa merawatnya," terang Edward.


"Semoga Dad-mu cepat sembuh dan sehat seperti sedia kala," ucap Oscar bersimpati.


"Terima kasih."


"Dan kalian bisa mampir ke kedai kami besok atau kapan saja. Kami buka mulai sore," ujar Oscar lagi seraya menunjuk ke truk makanan miliknya.


"Terlihat menggiurkan. Kau yang memasak?" Tanya Elleanore penasaran.


"Ya! Dan Rivera yang membantuku sebagai asisten di dapur. Lalu Jess dan Peter yang menyajikan pada pelanggan," cerita Oscar seraya menunjuk satu persatu anggota keluarganya.


"Keluarga yang kompak!" Puji Edward dan Elleanore berbarengan.


"Selamat datang di kota ini!" Ucap Rivera selanjutnya seraya memeluk Elleanore. Dia wanita itu sudah langsung terlihat akrab.


Dan Jesslyn juga.


Saat itulah dua balita yang lebih besar dari Peter tiba-tiba muncul dan berlari menghampiri Edward serta Elleanore.


"Mom!"


"Dad!"


"Hai, Sayang!" Edward dan Elleanore langsung menyambut dua balita tersebut dan memperkenalkannya pada keluarga Oscar.


"Siapa nama mereka?" Tanya Jesslyn yang langsung antusias saat melihat kedua anak kembar Edward dan Elleanore.


"Leon dan Leora," jawab Elleanore.


"Mereka kembar?" Gantian Rivera yang bertanya.


"Ya!" Jawab Elleanore dan Edward berbarengan.


"Lucu sekali!"


"Hai, Leon dan Leora!" Sapa Rivera pada kedua balita kembar tersebut.


"Ada apa? Kau mau yang kembar juga seperti ini?" Goda Oscar pada Rivera.


"Apa, sih? Kan kita sudah punya dua, Jess dan Peter," jawab Rivera malu-malu.


"Jess mau, Dad!" Celetuk Jess yang rupanya turut mendengar bisikan Oscar pada Rivera tadi


"Nanti Dad usahakan, ya!" Jawab Oscar sebelum akhirnya mereka tertawa bersama.


Dua keluarga itu lanjut mengobrol sembari bercengkerama di alun-alun kota hingga malam semakin larut.


**********TAMAT**********


Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua reader yang sudah membaca karya ini sampai tamat. Mohon maaf jika masih banyak typo bertebaran, serta kata-kata yang kurang pantas dan berkenan.


Terima kasih juga untuk semua reader yang memberikan like, komen,vote, hadiah, serta dukungan yang tak terhingga.


Cerita Oscar dan Jess othor akhiri sampai disini. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.


Jangan lupa untuk mampir dan kenalan sama Zeline & Gavin yang sama-sama somplak di "Telat Nikah (Zeline & Gavin)"


Bye💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2