
"Berhentilah menjadi wanita egois yang serakah? Lepaskan Oscar dan aku akan memberikan dua persen dari total kekayaanku!"
"Kau tak perlu lagi menggeluti pekerjaan kotor ini dan silahkan duduk manis menikmati aliran uang yang aku berikan. Dan yang perlu kau lakukan hanyalah melepaskan Oscar Petrichor."
"Lepaskan Oscar, Naomi Olsen!"
"Jika aku jadi kau, aku akan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk membahagiakan wanita itu dan menebus semua rasa bersalah serta ketidakpekaan selama sepuluh tahun ini. Bukankah ini waktu yang tepat untuk membalas budi?"
Oscar mengayunkan langkahnya ke dalam kantor Madame Brennen. Pagi ini Oscar akan menyelesaikan semua urusannya dengan Madame Brennen sekaligus memberikan jawaban atas permintaan Madame Brennen tempo hari.
"Selamat pagi, Tuan Petrichor!" Sapa sekretaris Madame Brennen yang rupanya masih mengenali Oscar.
"Pagi." Jawab Oscar seraya tersenyum ramah.
"Anda tidak ada jadwal bertemu Madame Brennen hari ini. Apa anda ingin saya buatkan jadwal-"
"Madame Brennen di ruangannya sekarang?" Potong Oscar to the point.
"Madame Brennen sedang ada meeting penting dan anda harus membuat jadwal terlebih dahulu sebelum bertemu, Tuan Petrichor!" Sekretaris Madame Brennen memberikan peringatan pada Oscar.
"Aku akan menunggu di ruangannya kalau begitu," ucap Oscar keras kepala.
"Maaf, tapi tidak bisa seperti itu, Tuan Petrichor!" Sekretaris Madame Brennen bergegas memanggil security untuk menghentikan Oscar yang hendak masuk ke dalam lift.
"Lepaskan aku!" Oscar menyentak dan meronta saat dua orang security mencoba menghentikan langkahnya untuk bertemu Madame Brennen.
Di saat itulah, Madame Brennen yang sudah selesai meeting dan hendak menuju ka ruangannya, melihat Oscar yang tengah dicekal oleh security kantor.
"Aster!" Panggil Oscar yang langsung membuat Madame Brennen menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Aster! Aku ingin kita bicara!" Panggil Oscar lagi berucap lancang pada Madame Brennen yang tentu saja langsung membuat semua orang yang melihat bertanya-tanya. Krnapa Oscar Petrichor yang mereka ketahui sebagai psikolog Madame Brennen bisa dengan lancang memanggil nama depan Madame Brennen di depan semua orang.
"Silahkan membuat janji dengan sekretarisku terlebih dahulu, Tuan Petrichor!" Jawab Madame Brennen tegas tanpa sedikitpun menatap Oscar. Bagaimana Madame Brennen bisa menatap pada pria yang wajahnya seeta sorotan matanya saja sudah mampu membuat gairahnya bergejolak.
Dasar sialan.
"Apa kekasihmu juga harus membuat janji saat ingin menemuimu?" Tanya Oscar yang terang saja langsung membuat Madame Brennen kaget. Sejak kapan Oscar menjadi kekasihnya?
Madame Brennen mendadak kehilangan kata-kata untuk menyangkal pernyataan Oscar barusan. Pertemuan terakhir mereka saja pasti sudah menimbulkan tanda tanya besar karena Oscar dan Madame Brennen menghabiskan waktu lebih dari empat jam di ruang kerja Madame Brennen dan saat mereka selesai, ruang kerja Madame Brennen tak ubahnya seperti kapal pesiar mewah yang baru saja dihantam gelombang besar. Semuanya kacau berantakan dan porak poranda.
"Lepaskan Tuan Petrichor!" Titah Madame Brennen akhirnya pada dua security yang sejak tadi masih mencekal kedua tangan Oscar.
Oscar segera mendengus dan menatap sengit pada dia security lancang tersebut. Pria itu juga merapikan suitnya yang sedikit berantakan.
"Amy! Batalkan semua jadwalku beberapa jam ke depan!" Perintah Madame Brennen selanjutnya pada sang sekretaris.
"Sampai pukul berapa, Madame?" Tanya Amy.
Tak lupa Madame Brennen juga memberikan kode pada Oscar agar mengikutinya.
"Aku tak percaya kau berani mengaku secara blak-blakan sebagai kekasihku di depan para karyawanku!" Decak Madame Brennen seraya membenarkan letak tas mewah di lengannya.
"Bukankah itu adalah keinginanmu? Menjadikan aku sebagai kekasihmu, hingga kau rela membayar mahal pada Naomi agar ia melepaskanku?" Ujar Oscar yang langsung membuat Madame Brennen menatap ke arah pria tiga puluh tahun tersebut. Saat itulah, tatapan Oscar dan Madame Brennen bertemu dan seketika darah Madame Brennen langsung berdesir karenanya.
"Wanita itu mengatakannya kepadamu?" Tanya Madame Brennen dengan sedikit sinis.
"Ya!"
"Dan kau tahu apa keputusan Naomi baru-baru ini?" Oscar tiba-tiba sudah meraih dagu Madame Brennen dengan berani seolah pria itu siap untuk mencecap bibir merekah milik Madame Brennen yang pagi ini dihiasi lipstik warna merah menggoda.
__ADS_1
"Ada CCTV di lift ini, Osh!" Desis Madame Brennen mengingatkan Oscar.
"Tentu saja aku tak akan menelanjangimu di sini!" Jawab Oscar seraya mencium sekilas bibir Madame Brennen, lalu secepat kilat melepaskan tangannya dari dagu wanita empat puluh tahun tersebut.
Ciuman Oscar yang benar-benar hanya sekilas dan terasa seringan kapas, malah justru membuat gairah di dalam diri Madame Brennen bergejolak hebat. Dan sialnya, wajah wanita paruh baya itu juga sudah bersemu merah sekarang. Madame Brennen menelan ludahnya sendiri dengan susah payah, saat lift yang ia tumpangi bersama Oscar terasa begitu lambat dan tak kunjung tiba di lantai tujuan.
Ting!
Madame Brennen langsung bernafas lega, setelah penantian berabad-abadnya karena lift sialan tadi akhirnya berakhir.
"Jadi, apa keputusan Naomi baru-baru ini? Kau belum jadi mengucapkannya tadi," tanya Madame Brennen penuh selidik, seraya tangan wanita itu membuka pintu kaca satu sisi di ruangannya. Jadi dari dalam ruangan Madame Brennen selalu bisa melihat siapa yang datang ataupun yang hendak mengetuk pintu. Akan tetapi orang-orang di luar tak akan bisa melihat apa saja yang dilakukan Madame Brennen di dalam ruangan.
Madame Brennen hanya akan terlihat duduk di kursi kerjanya, lalu sesekali berdiri, lalu duduk lagi. Dan tentu saja hal itu hanya gambar layar tipuan untuk mengecoh para tamu.
Tidak ada yang bisa benar-benar melihat apa saja yang dilakukan Madame Brennen di dalam ruangannya.
Oscar tak langsung menjawab pertanyaan Madame Brennen, dan pria itu malah berjalan ke arah pintu, lalu memastikan apa pintu sudah dikunci atau belum.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Oscar!" Madame Brennen sudah bersedekap ke arah Oscar yang kini berjalan pongah ke arahnya. Oscar menatap tajam pada wanita empat puluh tahun tersebut dan berjalan semakin dekat dan semakin memangkas jarak di antara mereka.
Saat jarak keduanya sudah semakin dekat, Oscar dengan satu gerakan cepatnya, langsung menaikkan Madame Brennen ke atas meja kerja.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu nanti!" Ucap Oscar sebelum pria itu meraup bibir Madame Brennen lalu mencecapnya dengan panas dan dalam.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.