
Jesslyn langsung menyumpal telinganya dengan headphone, saat melihat Oscar masuk ke dalam kamarnya. Genap satu bulan sudah, Jesslyn tinggal di mansion mewah Aster Brennen. Ketimbang berteriak-teriak setiap hari hingga tenggorokan Jesslyn terasa serak, Jesslyn sekarang memilih untuk kembali ke kebiasaan lamanya.
Ketus dan abai pada semua hal di sekitarnya!
Rasanya sia-sia juga jika Jesslyn terus memberontak karena kaki Jesslyn yang belum pulih sepenuhnya. Jadi meskipun Jesslyn merasa jengah pada sikap menyebalkan Aster dan Oscar, Jesslyn tetap akan bertahan.
"Jess!"sapa Oscar seraya bersimpuh di depan Jesslyn yang kini duduk di sofa dan pura-pura sibuk dengan layar laptopnya.
Jesslyn memang sudah mulai lepas dari kursi rodanya, dan kini gadis itu cukup memakai tongkat untuk beraktivitas di dalam kamarnya.
Ya! Jesslyn memilih untuk melakukan semua hal di kamarnya sendiri dan sebisa mungkin tak keluar dari kamar. Jesslyn malas bertemu siapapun di mansion besar Aster ini, termasuk kepala pelayan Johnson yang kerap menatapnya dengan aneh serta membuat risih.
"Kau mulai betah tinggal disini?" Tanya Oscar dan Jesslyn tetap pura-pura tak mendengar. Gadis itu malah mengeraskan volume suara di headphone-nya.
"Ck! Kau bisa tuli jika mendengarkan musik sekeras itu!" Oscar melepaskan headphone dari kepala Jesslyn dengan sedikit memaksa.
"Kembalikan!" Pinta Jesslyn seraya mendelik pada Oscar.
"Kau menikmati dan merasa senang mendapatkan semua fasilitas dari Aster, kan?"
"Masih mau mengatakan kalau semua kebaikan Aster adalah bohong?" Cecar Oscar balik mendelik pada Jesslyn.
"Bukan menikmati, tapi memanfaatkan apa yang ada di depan mataku!" Jawab Jesslyn dengan nada ketus dan sinis.
"Ketimbang aku menjadi gila di mansion besar ini! Bukankah lebih baik menikmati semua hasil kerja kerasmu dari menjual diri?" Lanjut Jesslyn yang sepertinya sengaja menyindir Oscar. Pria di depan Jesslyn itu terlihat menahan geram.
"Berapa kali harus kubilang, Jesslyn Olsen! Aku tidak sedang menjual diri disini! Aku bekerja sebagai asisten pribadi Aster!" Oscar menegaskan sekali lagi.
"Tapi kalian tidur bersama setiap malam!" Jesslyn tetap kekeh pada pendapatnya.
"Kami pasangan kekasih! Wajar jika kami melakukannya!" Sergah Oscar mencari pembenaran.
__ADS_1
Jesslyn berdecak.
"Baiklah terserah!" Jesslyn mengambil kembali headphone-nya dari tangan Oscar, lalu kembali memakai benda tersebut.
"Kurangi sikap ketus dan keras kepalamu itu! Lalu lihatlah dengan mata terbuka tentang semua kebaikan tulus dari Aster!"
"Kau sekarang bisa sekolah lagi! Kau bisa tidur dengan nyaman di kamar yang mewah dan penuh fasilitas. Kau juga bisa makan enak dan bergizi dan tak perlu makan junkfood setiap hari!" Oscar membeberkan semua kebaikan Aster, seolah wanita itu adalah dewi penolong atau mungkin pahlawan untuk Oscar dan Jesslyn yang sempat jatuh miskin.
Ya! Jesslyn akui kalau kebaikan Aster memang sesaat terlihat tulus.
Tapi cara yang digunakan Aster agar Oscar setuju untuk menjadi kekasihnya dan tinggal di mansion mewahnya ini benar-benar licik!
Jadi apa artinya semua ketulusan itu jika awalnya saja wanita itu sudah licik?
"Terima kasih sudah mengingatkanku!"
"Aku akan menikmati semua fasilitas mewah yang sudah diberikan oleh Aster Brennen yang murah hati!" Ucap Jesslyn dengan nada serta tatapan sinis oada Osca
"Melakukan apa maksudmu?" Tanya Oscar mengernyit.
"Mencari seorang pria kaya yang mau tidur bersamaku agar aku juga bisa mendapatkan tunjangan hidup serta semua fasilitas mewah seperti ini!" Jawab Jesslyn blak-blakan yang langsung membuat Oscar naik pitam.
"Apa? Kau marah?"
"Bukankah kau yang mengajariku?" Jesslyn menatap berani pada Oscar yang semakin terlihat marah.
"Kau-"
"Osh!" Panggilan Aster dari ambang pintu membuat Oscar tak jadi melanjutkan kalimatnya. Aster masuk ke kamar untuk menghampiri Jesslyn dan Oscar yang kini wajahnya merah padam menahan amarah.
"Hai, Jess! Kakimu sudah banyak perkembangan?" Aster berbasa-basi serta pura-pura bersikap manis pada Jesslyn.
__ADS_1
Yeah!
Itu hanya sikap manis pura-pura!
Jesslyn tak akan tertipu seperti pria bodoh di depannya yang sekarang mungkin sudah tergila-gila pada Aster Brennen!
"Ya! Sebentar lagi mungkin aku sudah bisa berlari dari mansion mewahmu ini, Madame Brennen!" Jawab Jesslyn seraya tertawa kaku dan dibuat-buat.
Aster pandai bersandiwara, Jesslyn juga bisa melakukannya!
"Kau mau berlari kemana memangnya? Kau tak betah tinggal disini? Atau ada sesuatu yang kau butuhkan tapi belum aku penuhi?" Cecar Aster dengan nada sok khawatir.
"Sama sekali tidak ada!" Jawab Jesslyn sedikit ketus. Jesslyn tak bicara lagi dan gadis itu sudah fokus pada layar laptop di depannya, seolah mengabaikan Oscar yang sejak tadi menatapnya dengan tajam. Mungkin berkaitan dengan kalimat terakhir Jesslyn tadi tentang menjual diri? Tapi siapa peduli? Bukan kenyataannya seperti itu?
"Kita sudah terlambat, Oscar! Ayo pergi!" Ajak Aster selanjutnya seraya menggamit lengan Oscar. Jesslyn masih seolah tak peduli dan tetap membisu hingga pasangan kekasih itu keluar dari kamarnya.
"Keluar dan tutup pintunya! Jangan menggangguku malam ini!" Perintah Jesslyn galak pada perawat pribadi yang selama satu bulan ini banyak membantunya di kamar.
"Baik, Nona!" Jaeab perawat patuh, seraya keluar dari kamar Jesslyn kemudian menutup pintu. Kini hanya ada keheningan di dalam kamar Jesslyn, sekeras apapun Jesslyn menyetel musik dari headphone-nya.
Hati Jesslyn merasa kesepian.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1