
Oscar mengemudikan mobil, melintasi jalan raya yang membelah sebuah sungai besar yang cukup ramai oleh lalu lintas kapal barang naupun kapal penumpang. Sesekali pria itu akan menoleh pada Naomi yang duduk di sampingnya dan terlihat menikmati pemandangan yang ada. Sementara Jesslyn, si gadis menyebalkan itu duduk di jok belakang dan seperti biasa telinganya disumpal oleh headphone yang bahkan ukurannya sama besarnya dengan kepala Jesslyn. Apa gadis itu tak takut kalau telinganya akan jadi tuli karena sering disumpal headphone?
"Mau aku gantikan mengemudi?" Tawar Naomi pada Oscar yang masih sibuk memikirkan Jesslyn yang menyebalkan.
"Tidak usah!" Tolak Oscar cepat.
"Mom!" Panggil Jesslyn dari jok belakang.
"Apa, Sayang?"
"Apa rumah Oma masih jauh?" Tanya Jesslyn yang sudah ganti mengalungkan headphone-nya di leher.
"Mungkin sekitar tiga puluh menit lagi."
"Kau sudah lupa?" Tanya Naomi yang masih menoleh ke arah Jesslyn.
"Aku tertidur saat Mom menculikku dari rumah Oma," ujar Jesslyn mengingatkan.
"Menculik?" Oscar bergumam dan sedikit menahan tawa.
"Kenapa tertawa? Tidak ada yang lucu!" Gertak Jesslyn yang masih saja galak pada Oscar.
"Jess! Jaga sopan-santunmu pada Oscar! Dia Dad-"
"Dia bukan Dad Jesslyn!" Sergah Jesslyn memotong seraya mendelik pada Naomi. Gadis itu sudah kembali memakai headphone ke kepalanya dan Naomi hanya mampu berdecak sebal dengan kelakuan putrinya.
"Dia mirip denganmu! Keras kepala dan menyebalkan!"pendapat Oscar yang membuat Naomi kembali berdecak.
"Memangnya kau sendiri tidak keras kepala?" Sergah Naomi menyalak pada Oscar yang langsung tergelak.
"Aku tak merasa! Maaf!" Jawab Oscar yang terus fokus pada jalan di depannya. Pemandangan di kiri kanan jalan sudah berubah menjadi ladang pertanian penduduk. Sesekali juga ada padang rumput tempat domba-domba di lepaskan untuk mencari makan.
"Hidup di pedesaan yang jauh dari hingar bingar kota metropolitan selalu jadi impianku sejak dulu," tutur Naomi bercerita pada Oscar.
"Menurutku itu tak terlalu buruk dan kita bisa menjadi petani setelah ini," pendapat Oscar yang kembali terkekeh. Naomi hanya menanggapi selorohan Oscar dengan senyum tipis.
"Kau yakin nantinya akan betah hidup di daerah terpencil seperti ini?" Tanya Naomi yang masih saja merasa ragu. Hidup Oscar selama sepuluh tahun terakhir tak lepas dari kesan glamor dan mewah.
"Aku sudah mengambil keputusan. Jadi aku pasti yakin dengan keputusanku," ujar Oscar seraya menghentikan mobilnya di sebuah persimpangan.
"Kiri atau kanan?" Tanya Oscar pada Naomi.
"Kanan," jawab Naomi dan Oscar segera membelokkan mobilnya ke arah kanan.
"Itu rumahnya!" Ujar Naomi memberitahu Oscar sembari tangan wanita itu menunjuk ke sebuah rumah yang cukup besar dengan pemandangan danau tepat di belakang rumah.
"Wow! Rumah tepi danau yang luar biasa!" Puji Oscar setelah pria itu memarkirkan mobil di garasi rumah besar tersebut.
"Jess!" Naomi menoleh ke jok belakang dimana Jesslyn hanya duduk diam seraya menatap ke rumah di depan mereka.
__ADS_1
"Oma sudah tidak ada di rumah," gumam Jesslyn seolah sedang memberitahu Naomi. Memang sudah tiga tahun lebih rumah itu kosong. Tepatnya setelah Oma pergi untuk selamanya.
"Oma akan tetap ada di rumah, Jess!" Ucap Naomi meyakinkan sang putri.
"Ayo turun!" Ajak Naomi selanjutnya seraya menggenggam tangan Jesslyn. Oscar sendiri sudah terlebih dulu turun dan mengeluarkan barang-barang mereka dari bagasi mobil.
"Tak ada yang berubah, kan?" Ujar Naomi seraya merangkul pundak Jesslyn yang tingginya sudah hampir sama dengan Naomi.
"Ya!" Jesslyn mengangguk.
"Lalu kita akan disini sampai kapan, Mom?" Tanya Jesslyn selanjutnya.
"Selama mungkin," jawab Naomi lirih. Naomi tak mungkin mengatakan sampai Naomi meninggalkan Jesslyn untuk selamanya, meskipun kenyataannya seperti itu.
"Ayo masuk!" Ajak Naomi selanjutnya yang tetap merangkul Jesslyn dan keduanya masuk bersamaan ke dalam rumah besar tersebut.
****
Malam menjelang.
"Saatnya minum obat!" Ujar Oscar seraya menyodorkan sekantung obat-obatan pada Naomi. Tak lupa Oscar juga membawakan segelas air putih.
Naomi menghela nafas, lalu mebelan dengan cepat obat obat yang tadi diberikan oleh Oscar.
"Jess sudah tidur?" Tanya Naomi yang langsung membuat Oscar mengendikkan kedua bahunya.
"Pintu kamarnya sudah dikunci rapat. Jadi aku tak bisa memeriksanya," ujar Oscar beralasan. Naomi hanya mengangguk, lalu sedikit bergeser untuk memberikan ruang pada Oscar agar ikut naik ke atas ranjang.
"Kau mau aku temani?" Oscar balik bertanya pada Naomi.
"Bukankah aku kekasihmu sekarang?" Naomi mengingatkan Oscar yang langsung tertawa kecil. Oscar akhirnya naik ke atas ranjang dan langsung masuk ke dalam selimut, lalu memeluk Naomi.
"Kau sungguh-sungguh membubarkan agensi?" Tanya Oscar membuka obrolan.
"Ya!" Jawab Naomi singkat.
"Kenapa tak menyerahkannya saja pada seseorang untuk dilanjutkan. Rasanya sedikit sayang-"
"Kau masih ingin menjadi escortman?" Sela Naomi seraya mengangkat kepalanya dari dada Oscar, lalu menatap tajam pada pria tersebut.
"Aku tak berkata begitu!"
"Aku hanya berpikir kalau kau dulu susah payah membangun agensi. Lalu kenapa kau mudah saja membubarkannya?" Tanya Oscar tak mengerti.
"Karena aku sudah tak bisa mengurusnya. Dan jika aku menyerahkan pada seseorang, aku yakin manajemennya mungkin akan kacau balau."
"Sekarang saja sudah kacau dan ada escortman juga yang berusaha membelot bahkan mengancam akan keluar karena dia jatuh cinta dan tergila-gila pada salah satu klien," tutur Naomi sedikit menyindir Oscar. Namun bukannya tersinggung, Oscar malah tergelak dengan sindirian Naomi barusan.
"Kau sedang menyindirku?" Tanya Oscar di sela-sela gelak tawanya.
__ADS_1
"Tidak! Kau saja yang terlalu sensitif!" Cibir Naomi seraya merebahkan tubuhnya, lalu berbaring miring dan membelakangi Oscar.
"Tidak ada ciuman dan ucapan selamat malam?" Tanya Oscar tak percaya.
"Aku kekasihmu, Nao!" Oscar mengingatkan Naomi, namun wanita itu tetap bergeming dan masih memunggungi Oscar.
"Baiklah!" Oscar merengkuh kedua pundak Naomi dari belakang, lalu mencium tengkuk wanita itu.
"Selamat malam, Nao! Selamat mimpi indah!" Bisik Oscar di telinga Naomi dengan nada sedikit menggoda. Terang saja, hal sederhana itu sudah bisa membuat Naomi menggigit bibir bawahnya. Namun kedua mata Naomi masih tetap terpejam seolah wanita itu sedang berpura-pura tidur.
"Oscar yang langsung peka dengan pergerakan bibir Naomi, mengulas senyum tipis, lalu mengecup belakang telinga Naomi, hingga wanita itu menggelinjang tiba-tiba.
"Kau belum tidur!" Goda Oscar yang sudah langsung membalik tubuh Naomi, hingga wanita itu menghadap ke arahnya sekarang. Tatapan mata Oscar dan Naomi saling beradu meskipun tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya.
Tangan Oscar sudah terulur dan mengusap sensual bibir Naomi, hingga membuat wanita itu kembali memejamkan mata. Naomi memejamkan mata karena menikmati sentuhan dari Oscar.
"Apa malam itu, saat kita melakukannya...." Jari Oscar masih menyusuri lekuk wajah Naomi.
"Itu juga adalah yang pertama untukmu?" Oscar melanjutkan pertanyaannya.
Naomi tersenyum tipis.
"Apa aku terlihat seperti seorang gadis polos saat kita bertemu pertama kali?" Naomi balik bertanya pada Oscar.
"Sama sekali tidak!" Jawab Oscar seraya tertawa kecil.
"Lalu kenapa masih bertanya?" Ketus Naomi yang kembali membuat Oscar tertawa kecil.
"Kau masih saja pemarah, hah?" Oscar kembali mengusap bibir Naomi yang lekukannya begitu indah. Kenapa Oscar baru menyadarinya sekarang?
"Kau akan mengusap bibirku sampai kapan?" Tanya Naomi yang langsung menyentak lamunan Oscar tentang bibir indah wanita itu.
"Sampai kau memberikan aku ciuman selamat malam."
"Bukankah kita pasangan kekasih sekarang?" Oscar mengingatkan sekali lagi.
Naomi menghela nafas, lalu langsung menangkup wajah Oscar dan meraup bibir pria itu. Oscar langsung busa merasakan lembutnya bibir Naomi yang mendarat di atas bibirnya, namuh sayangnya hal itu hanya sekilas saja.
Sial!
"Selamat malam, Oscar!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.