
"Jess! Kau mau mencicipi pie apel buatan gurumu?"
"Rasanya lumayan," seru Oscar pada Jesslyn yang sudah masuk ke kamarnya.
"Tidak! Aku kenyang!" Tolak Jesslyn yang sudah kembali pada kebiasaan menyebalkan gadis itu. Menyumpal telinga dengan headphone
"Cobalah sedikit! Rasanya enak!" Tawar Oscar sekali lagi sedikit memaksa. Namun tak ada tanggapan dari Jesslyn yang sepertinya tak mendengar.
Bagaimana mau mendengar, kalau telinganya saja disumpal!
"Baiklah! Akan aku simpan di kulkas sisanya!" Putus Oscar akhirnya seraya meninggalkan kamar Jesslyn.
Oscar masuk ke dapur, lalu menyimpan pie apel pemberian Nona Rivera tadi ke dalam kulkas. Oscar sekalian membereskan dapur, sebelum pria itu melakukan ritual sebelum tidur.
Bukan lagi bercinta bersama seorang wanita melainkan minum satu atau dua botol alkohol demi melampiaskan sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya.
****
"Kau akan pergi ke rumah Nona Rivera dengan tangan kosong?" Tanya Jesslyn menatap tak percaya pada Oscar.
"Memang harus membawa sesuatu?" Tanya Oscar bingung.
Oscar belum ada pengalaman bersosialisasi dengan lingkungan karena sejak dulu dirinya adalah pribadi yang tidak peduli pada lingkungan sekitarnya. Oscar terbiasa hidup sendiri tanpa berbaur dengan lingkungan. Apalagi setelah Naomi memberinya pekerjaan sebagai escortman, Oscar semakin tak peduli pada lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.
"Ck!"
"Jangan jadi manusia kaku dan bawalah buah tangan, Oscar!" Omel Jesslyn pada Oscar.
"Pie apel yang semalam maksudnya? Tidak ada apa-apa di kulkas! Kita belum belanja!" Oscar memberitahu sekaligus mengingatkan Jesslyn.
"Kau punya banyak minuman mahal, kan? Berikan satu pada suami Nona Rivera!", ujar Jess yang rupanya tahu tentang Oscar yang menyimpan banyak minuman di lemari bawah dapur.
"Memangnya suami Nona Rivera suka minum juga?" Oscar terkekeh.
"Berikan saja apa susahnya!" Jesslyn pergibke dapur, kalu membuka lemari bawah dapur dan memeriksa satu persatu minuman koleksi Oscar, seolah Jesslyn paham.
"Kau paham memangnya?" Oscar mencibir pada gadis itu.
"Kata Mom, semakin lama tahunnya semakin enak,", jawab Jesslyn yang ternyata paham.
__ADS_1
Tapi kenapa juga Naomi mengajari Jesslyn hal-hal seperti ini? Naomi mau menjadikan Jesslyn penjaga bar minuman?
"Bawa yang ini!" Jesslyn memberikan satu botol dengan sedikit kasar pada Oscar.
"Pilihan yang bagus," puji Oscar sebelum pria itu membungkus minuman tadi ala kadarnya, lalu bersiap pergi ke rumah Nona Rivera yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya, untuk memenuhi undangan makan malam.
Jesslyn dan Oscar berjalan kaki menuju ke rumah Nona Rivera. Tak ada obrolan sepanjang jalan dari ayah dan putrinya tersebut. Dan tak sampai lima menit, keduanya sudah tiba di depan rumah Nona Rivera.
Jesslyn mengetuk pintu, dan tak berselang lama pintu sudah dibuka dari dalam.
"Selamat malam, Tuan Oliver!" Sapa Oscar pada suami Nona Rivera yang membuka pintu.
"Panggil saja Paul, Tuan Olsen-"
"Oscar!" Oscar menyebutkan nama depannya agar ia dan Paul lebih mudah berkomunikasi serta tidak merasa kaku.
"Baiklah, Oscar!"
"Silahkan masuk!" Paul mempersilahkan Oscar dan Jess untuk masuk ke dalam. Jesslyn terlihat langsung menyapa Rivera yang masih sibuk mempersiapkan hidangan makan malam, lalu dua wanita itu sudah saling akrab dan entah mengobrol apa.
"Rivera menyukai anak-anak sejak dulu. Itulah alasannya memilih profesi sebagai guru," terang Paul pada Oscar yang hanya mengangguk.
"Kau sendiri, Paul? Bekerja sebagai apa?" Gantian Oscar yang bertanya pada Paul.
"Pekerjaan mulia," puji Oscar yang langsung membuat Paul merendah.
"Kata Rivera, kau psikolog, Oscar? Apa itu benar?" Tanya Paul memastikan dan Oscar langsung tertawa kecil, karena pria itu mendadak merasa malu untuk mengakui pekerjaannya yang sebenarnya yaitu sebagai mantan escortman!
Oscar akhirnya memilih untuk mengangguk saja agar pembicaraan tentang profesi ini segera berakhir.
Oscar kembali menatap ke arah Jesslyn yang semakin dekat saja dengan Rivera. Sedikit aneh, mengingat kepribadian Jess yang ketus dan cenderung pemurung sebelumnya.
Namun bersama Nona Rivera, kenapa gadis itu bisa cepat sekali akrab sekaligus tertawa lepas?
"Sedang berbicara apa, Nona-nona?" Tanya Paul yang sudah ikut bergabung bersama Rivera dan Jesslyn.
"Obrolan wanita!" Jawab Rivera seraya tersenyum lebar. Benar-benar wanita yang murah senyum.
"Itu apa di tanganmu?" Tanya Rivera menunjuk ke botol anggur yang tadi diberikan oleh Oscar.
__ADS_1
"Anggur! Oscar yang membawanya,"jekas Paul.
"Oscar?" Rivera tampak mengernyit bingung.
"Itu nama depan dad-nya Jesslyn!" Paul menjelaskan sembari mengendikkan dagu ke arah Oscar. Rivera membulatkan bibir, lalu segera meminta Jesslyn agar mengajak Oscar bergabung ke ruang makan.
"Aku tidak minum, Sayang!" Ujar Rivera mengingatkan Paul yang hendak menuang anggur untuk wanita tersebut..
"Astaga, aku lupa!" Paul mengetuk keningnya sendiri, lalu lanjut menuang anggur ke gelas Oscar.
"Kau sedang hamil, Nona Rivera?" Tebak Oscar yang seolah paham alasan wanita menolak minum anggur.
"Ya! Kami akan punya bayi!" Ujar Paul pamer, yang langsung membuat Jesslyn turun dari kursinya, lalu memeluk Rivera dengan hangat.
"Selamat, Nona Rivera!" Ucap Jesslyn tulus.
"Terima kasih, Jess!"
"Kau mau sup?" Tawar Rivera pada Jesslyn yang langsung mengangguk. Rivera menuangkan sup dengan hati-hati ke dalam mangkuk Jesslyn, lalu Paul mengambilkan roti bawang sebagai pelengkap. Pria itu sedikit mengajak Jesslyn bercanda saat memberikan roti, hingga sebuah tawa lepas kembali lolos dari bibir Jesslyn.
Oscar benar-benar belum pernah melihat ekspresi bahagia yang begitu lepas di wajah Jesslyn sebelum malam ini.
Jesslyn seperti seorang putri di sebuah keluarga yang sempurna saat berada di antara Rivera dan Paul.
Mungkinkah sikap ketus Jesslyn selama ini disebabkan oleh gadis itu yang merindukan kehangatan sebuah keluarga?
Dulu saat Naomi masih ada, Jesslyn tetap ketus dan jarang bicara karena Oscar dan Naomi memang tak bersikap layaknya Mom dan Dad untuk gadis sembilan tahun tersebut. Oscar dan Naomi terlalu sibuk dengan diri mereka masing-masing dan sepertinya memang tak pantas menyandang status sebagai orang tua untuk Jesslyn.
"Berikan rotinya, Paul! Nanti Jess tak akan jadi makan!" Teguran Rivera pada sang suami segera membuyarkan lamunan Oscar.
Paul akhirnya memberikan roti Jess dan membiarkan gadis itu memakan supnya, setelah candaan panjang mereka.
Sepertinya Paul dan Rivera lebih cocok menjadi orang tua untuk Jesslyn ketimbang Oscar yang sama sekali tak berpengalaman!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia..