
Oscar diam sejenak di ambang pintu kamar, saat pria itu melihat Aster yang sudah duduk di atas ranjang seraya mengenakan kemeja Oscar.
Sial!
Apa wanita ini sengaja ingin menggoda Oscar?
Oscar menutup pintu kamar semnari memperhatikan gelagat Aster yangvsulit ditebak. Oscar tidak pernah tahu hal mengejutkan apa yang mungkin akan dilakukan oleh Aster jika Oscar tiba-tiba memarahinya atau mengusirnya.
Kemarin saja Aster bisa menyusun skenario penculikan Jesslyn dengan sangat rapi. Lalu kali ini, bukan tak mungkin joka wanita kaya ini sudah menyiapkan penembak jitu di sekitar rumah Oscar yang mungkin akan mencelakakan dirinya dan Jesslyn.
Oh, tidak! Jesslyn!
Oscar meninggalkan gadis muda itu di kamarnya sendirian!
Oscar kembali meraih gagang pintu saat akhirnya Aster buka suara.
"Kau mengkhawatirkan Jesslyn?" Tanya Aster yang sudah langsung bisa mebebak isi kepala Oscar. Sialan!
"Jesslyn baik-baik saja dan sedang tidur di kamarnya!" Ujar Aster lagi.
"Dan aku tak membawa siapapun ke rumah ini. Supir dan semua bodyguardku sudah pergi tadi," lanjut Aster lagi seolah sedang memberitahu Oscar. Oscar tak jadi keluar dari kamar, namun tangannya tetap memegang knop pintu untuk berjaga-jaga.
"Bagaimana aku bisa percaya padamu, jika sebelumnya saja kau sudah menipu aku mentah-mentah?" Jawab Oscar ketus.
"Aku minta maaf soal itu, Osh!" Ucap Aster cepat seraya menghampiri dan mengusap lengan besar Oscar.
"Maaf?" Oscar berdecih.
"Setelah semua hal licik yang kau lakukan hingga Jesslyn nyaris kehilangan hal berharga miliknya di tangan kepala pelayan sialan di rumahmu!" Oscar menumpahkan segala amarah yang membuncah di dalam dadanya.
"Aku benar-benar tidak tahu perihal itu!" Sergah Aster cepat.
"Tidak usah mengelak, Aster!" Oscar mendelik pada Aster Brennen.
"Johnson mengkhianatiku!" Sergah Aster yang tetap saja mencoba untuk membela diri.
"Pria itu ternyata disuruh oleh Deasy untuk melecehkan Jesslyn agar kau marah padaku dan mengira aku yang menyuruhnya!"
"Dia tidak suka dengan keberadaanmu dan dengan status kita sebagai sepasang kekasih. Padahal aku sudah menyayangi Jesslyn-"
"Bullsh*t!" Potong Oscar cepat yang tetap tak percaya pada Aster. Pria itu menatap tajam pada Aster sekaligus penuh kebencian.
"Kau tak pernah benar-benar tulus menyayangi Jesslyn! Kau diam-diam membenci gadis itu dan hendak menyingkirkannya-"
"Itu tidak benar!" Sergah Aster kembali memotong.
"Dengarkan ini!" Aster mengeluarkan ponselnya lalu memutar sebuah rekaman.
"Cari kesempatan untuk menghancurkan hubungan Oscar dan Brennen, John!"
"Jadilah pria berguna dan perjuangkan perasaanmu pada Brennen! Jangan lemah!"
"Sudah bertahun-tahun kau mengabdi dan memendam perasaan pada Brennen, bukan? Jadi jangan biarkan Oscar mengambil posisi yang seharusnya kau tempati itu!"
"Hancurkan hubungan Oscar dan Brennen, lalu buat Oscar membenci Brennen dan tak pernah percaya lagi pada wanita itu!"
__ADS_1
"Lakukan sekarang!"
Aster mematikan rekaman suara Deasy Anthony yang sepertinya sedang bicara pada Johnson. Oscar segera tersenyum simpul setelah mendengar rekaman tersebut.
"Kau sudah mendapatkan pria yang tulus mengabdi padamu dan hanya mencintaimu, Aster! Jadi pulanglah dan jemput bahagiamu bersama Johnson!" Ujar Oscar dengan nada sinis pada Aster Brennen yang langsung ternganga tak percaya.
"Apa maksudmu? Aku sudah menendang keluar Johnson dari mansionku karena pengkhianatannya!"
"Sayang sekali!" Komentar Oscar dengan nada mencibir.
"Aku hanya mencintaimu, Oscar Petrichor!" Ucap Aster lantang yang sesaat membuat Oscar terdiam.
"Apa katamu barusan?" Oscar mengernyit seolah tak percaya dengan ucapan lantang Aster barusan. Lagipula, seorang wanita angkuh yang ambisinya hanya tentang bisnis, mana mungkin bisa jatuh cinta?
Oscar yakin kalau ini juga termasuk penipuan yang hendak Aster lakukan. Oscar tak boleh terperdaya!
"Aku mencintaimu!" Aster mengulangi pernyataannya.
"Maaf, tapi aku tak akan tertipu dengan rayuan palsumu itu, Aster!"
"Silahkan pergi dari sini sebelum aku-"
"Oscar!" Oscar belum menyelesaikan kalimatnya saat terdengar jeritan Jesslyn dari luar kamar.
"Kau keparat, Aster!" Maki Oscar seraya bergegas keluar.
"Oscar!" Jesslyn menjerit-jerit saat gadis itu diseret oleh seorang pria keluar dari rumah.
"Oscar! Tolong aku!" Jerit Jesslyn lagi yang suaranya menggema ke seluruh rumah.
"Jess!"
"Jesslyn!" Oscar hampir menggapai Jesslyn saat tiba-tiba tubuh Oscar didorong ke depan lalu ditindih oleh orang lain yang bertubuh lebih besar.
"Johnson! Lepaskan Jesslyn!" Seru Aster yang sudah keluar dari rumah Oscar. Pria yang tadi menyeret Jesslyn membuka penutup wajahnya, dan benar saja, itu adalah Johnson.
Sial!
Kenapa para penjahat ini ada di rumah Oscar?
"Aku akan menghabisi mereka berdua di depanmu, Aster!" Johnson sudah mengluarkan sebuah pistol dari dalam sakunya, lalu memaksa Jesslyn untuk berdiri. Gadis itu sudah bercucuran airmata sekarang.
"Johnson, jangan menyakiti Jesslyn!" Teriak Oscar yang terus mencoba untuk berontak dan melepaskan diri dari cekalan dua orang yang kini menindih tubuhnya.
Dasar keparat!
Siapa sebenarnya dalang dari para keparat ini?
"Johnson, letakkan pistolmu dan jangan menyakiti Jess!" Mohon Aster seraya mendekat ke arah Johnson yang sudah menodongkan pistol tepat di kepala Jesslyn.
"Diam di tempatmu dan jangan bergerak!" Gertak Johnson pada Aster yang langsung diam di tempat dan melanjutkan langkahnya.
"Kau mau aku menembak pacarmu itu terlebih dahulu, hah?" Teriak Johnson seolah menantang Aster yang kini mendelik tajam ke arahnya.
"Jangan menyakiti mereka!" Seru Aster memohon pada Johnson.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan sebenarnya, hah?" Tanya Aster masih sambil berseru pada Johnson.
"Aku ingin kau menjadi kekasihku!" Jawab Johnson dengan suara lantang.
"Baiklah! Aku akan jadi kekasihmu mulai sekarang! Tapi lepaskan Jess dan Oscar!" Aster mengajukan syarat yang langsung membuat Johnson berdecih.
"Kau akan berkhianat dan kembali menemui pria gig*lo ini jika aku tak menghabisinya," Johnson tiba-tiba sudah ganti menodongkan pistolnya ke arah Oscar yang tertelungkup di lantai seraya ditindih oleh dua pria besar. Pria itu sama sekali tak bisa berkutik, saat Johnson mulai menarik pelatuk pistolnya.
"Jangan!" Jerit Jesslyn dan Aster bersamaan, saat suara tembakan menggema di teras rumah Oscar dan sejenak semuanya diam tak bergerak. Oscar yang tadi ditodong tembakan oleh Johnson, hanya bisa memejamkan mata sastt merasakan suara tembakan tadi yang begitu dekat dengannya. Namun setelah beberapa saat, Oscar tak sedikitpun merasa sakit.
Apa tembakan Johnson meleset?
Oscar akhirnya membuka mata, saat mendengar Johnson berteriak dengan keras.
"Aster!"
Oscar langsung kaget sekaligus tak percaya, saat melihat Aster yang sudah tumbang dan bersimbah darah di depannya.
Apa Aster baru saja melindungi Oscar dari tembakan Johnson, lalu mengorbankan dirinya sendiri?
Tapi kenapa?
Bukankah ini semua adalah rencana Aster?
Kedua mata Aster masih terbuka dan wanita itu masih bernafas, sekalipun nafasnya terlihat tersengal-sengal.
"Os-car!" Aster memanggil Oscar dengan terbata, bersamaan dengan cekalan di tangan Oscar yang sedikit mengendur. Oscar bergegas melepaskan diri, lalu memangku kepala Aster yang kini menatapnya dengan sayu.
"Aku mencintaimu," Lirih Aster sebelum kemudian wanita itu memejamkan matanya di pangkuan Oscar.
"Aster!" Oscar mengguncang tubuh Aster yang tak lagi bergerak.
"Aster!!!"
Suara sirine ambulance serta mobil polisi mulai terdengar dari kejauhan, lalu semakin mendekat, hingga akhirnya mereka sekua mengepung rumah Oscar.
Oscar masih memangku Aster, hingga tim medis datang memeriksa wanita tersebut dan menyatakan Aster sudah meninggal dunia. Oscar merasa bingung dan tidak tahu siapa sebenarnya yang sedang merencanakan kejahatan pada dirinya dan Jesslyn malam ini.
Apa Aster dan Johnson bersekongkol?
Atau Johnson benar-benar adalah suruhan Deasy Anthony yang merasa sakit hati pada Aster dan Oscar karena ejekan Aster di pesta waktu itu?
Atau Johnson memang bekerja sendiri dan ia sesungguhnya hanya merasa dendam pada Oscar yang sudah merebut hati Aster?
Entahlah.....
Oscar tidak tahu siapa yang benar dan salah disini.
.
.
.
Mblundet otakku.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.