The Escort Man

The Escort Man
BIANGLALA


__ADS_3

"Woow!" Jesslyn menatap kagum pada bianglala besar yang berada di tengah-tengah pekan raya yang diadakan di alun-alun kota.


"Kau nanti mau naik?" Tawar Paul seraya merangkul Jesslyn yang masih menatap kagum pada benda bulat besar yang mirip roda sepeda tersebut.


"Kita bisa naik?" Tanya Jesslyn penuh semangat.


"Tentu saja! Tapi ayo kita makan dulu karena sejak tadi aku mencium aroma sandwich buatan Oscar yang membuatku lapar," ujar Paul yang langsung membuat Jesslyn tergelak.


"Sandwich buatan Oscar memang yang terbaik sejauh ini!" Ungkap Jesslyn memberitahu Paul sekaligus memuji Oscar yang kini tengah sibuk menyiapkan tempat piknik bersama Nona Rivera.


"Kau pernah mengatakan itu secara langsung di depan Oscar?" Tanya Paul penasaran.


Jesslyn menggeleng.


"Dia akan langsung menepuk dadanya dengan sombong seperti ini." Jesslyn mempraktekkan bagaimana Oscar menunjukkan sikap sombongnya dengan menepuk dada keras-keras di depan Jesslyn.


"Jika aku memujinya," lanjut Jesslyn lagi yang kali ini ganti membuat Paul tergelak.


"Tapi kau tetap harus memujinya sesekali," Paul memberikan saran serta nasehat.


"Baiklah! Nanti kapan-kapan akan aku lakukan!" Janji Jesslyn sebelum kemudian gadis itu menarik Paul ke arah tikar piknik yang sudah selesai digelar oleh Rivera dan Oscar. Bekal makanan yang tadi mereka bawa juga sudah tertata rapi di atas tikar.


"Sudah yang melihat bianglala?" Tanya Rivera seraya menyambut Paul yang langsung duduk di sebelahnya, lalu mengusap-usap perut wanita tersebut.


"Ya! Jesslyn katanya mau naik nanti," jawab Paul memberitahu Rivera dan Oscar yang hanya tersenyum melihat betapa mesranya hubungan Paul dan Rivera.


"Kau nanti mau naik juga, Osh? Bersama Paul dan Jess?" Tanya Rivera pada Oscar yang sedang mengupaskan jeruk untuk Jesslyn.


"Naik apa?" Tanya Oscar yang ternyata tak menyimak sejak tadi.


"Roda besar itu!" Paul menunjuk ke bianglala raksasa di tengah alun-alun kota.


"Aku? Naik roda besar itu?" Oscar menggeleng-gelengkan kepalanya dan raut wajah pria itu terlihat lucu.


"Kenapa?" Tanya Paul dan Rivera serempak.


"Aku hanya tak tertarik saja," jawab Oscar memberikan alasan. Sepertinya pria itu sedikit malu mengakui sesuatu yang mungkin ia sembunyikan.


Mungkinkah seorang Oscar takut pada ketinggian?


"Tidak tertarik?" Gumam Jesslyn dengan nada mencibir yang langsung berhadiah delikan dari Oscar.


"Ada apa sebenarnya, Jess?" Tanya Paul merasa penasaran.


"Oscar takut ketinggian-"


"Jesslyn!" Oscar refleks membungkam mulut Jesslyn yang ember. Dan Oscar segera menjepit putrinya itu ke bawah ketiak hingga Jesslyn meronta-ronta.


"Lepaskan aku, Osh!" Jerit Jesslyn seraya memukul-mukul lengan Oscar.


"Lepaskan dia, Osh!" Rivera segera membantu Jesslyn lepas dari jepitan lengan Oscar, dan wanita itu masih saja tertawa. Pun dengan Paul yang juga tak berhenti tertawa melihat pergelutan Oscar dan Jesslyn.


"Aku akan naik bianglala bersama Paul nanti!" Jesslyn sudah berpindah ke pangkuan Paul sekarang dan menatap sengit pada Oscar.


"Silahkan! Aku akan disini saja, lalu mengambil foto dirimu saat naik roda besar itu!" Oscar menirukan ekspresi wajah Jesslyn saat sedang ketakutan yang sontak membuat Rivera dan Paul kembali tergelak. Sementara Jesslyn hanya merengut dan bersedekap.


"Kau mau naik juga, Rivera?" Oscar ganti bertanya pada Rivera yang sedang mengunyah jeruk yang tadi dikupaskan Oscar untuk Jesslyn. Tapi Jesslyn tak mau, jadi Rivera makan saja.

__ADS_1


"Pertanyaanmu keterlaluan, Osh!" Celetuk Paul yang masih memangku Jesslyn. Oscar sontak tertawa dan pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku akan menjaga Rivera di bawah sini kalau begitu, sementara kau dan Jess naik roda raksasa mengerikan itu!" Tukas Oscar kembali mencari alasan.


"Dasar lemah!" Cibir Jesslyn pada Oscar.


"Daripada kau harus nembersihkan muntahanku di atas sana." Oscar akhirnya mengaku.


"Oh, maaf! Aku tak tertarik!" Sahut Jesslyn cepat seraya menyambar jeruk di tangan Oscar, lalu melahapnya.


"Tadi katanya tidak mau?" Cibir Oscar pada sang putri yang hanya memeletkan lidahnya.


"Sudah selesai? Ayo naik sekarang sebelum penuh!" Ajak Paul akhirnya pada Jesslyn seraya bangkit berdiri


"Yeay! Naik bianglala!" Jesslyn bersorak senang seperti baru saja mendapatkan lotre.


Ck! Dasar lebay!


"Hati-hati dan awasi Jess!" Pesan Rivera seraya mengecup bibir Paul.


"Kau bisa naik tahun depan," ujar Paul yang balas mengusap wajah Rivera yang hanya mengangguk-angguk seraya tersenyum


"Kau yakin tak mau ikut naik, Osh?" Tawar Paul sekali lagi yang langsung dijawab Oscar dengan gelengan kepala.


"Aku akan disini menjaga Rivera dan calon bayi kalian. Siapa tahu Rivera melahirkan mendadak," tukas Oscar kembali beralasan.


"Baiklah!"


"Ayo Jess!" Ajak Paul seraya menggandeng tangan Jesslyn dan keduajya langsung berbaur dengan orang-orang yang juga mengantre untuk naik bianglala.


"Mau jeruk lagi? Biar aku kupaskan." Tawar Oscar seraya menawarkan buah jeruk pada Rivera.


Oscar hanya mengendikkan bahu dan akhirnya mengupas jeruk lagi untuk ia makan sendiri. Namun baru saja Oscar menyuapkan buah jeruk ke dalam mulutnya, tiba-tiba Oscar merasakan sebuah getaran dari tanah tempat ia duduk.


Oscar diam sebentar saat guncangan terasa semakin kuat. Dan orang-orang mulai berlarian karena panik.


Gempa bumi!


"Ayo pergi dari sini!" Oscar buru-buru membantu Rivera untuk bangkit berdiri sebelum orang-orang datang menabrak ibu hamil ini.


"Jesslyn!" Rivera mengingatkan Oscar tentang putrinya yang tadi pergi ke kerumunan.


"Sudah ada Paul! Dia pasti lebih tahu yang harus dia lakukan," jawab Oscar yang langsung ingat yentang Paul yang seorang anggota pemadam kebakaran. Jadi Paul pasti menjaga dan melindungi Jesslyn. Sekarang Oscar juga harus menjaga Rivera dan calon bayi Paul.


Oscar dan Rivera segera pergi ke titik yang dirasa aman untuk berlindung. Oscar dengan hati-hati membimbing Rivera agar wanita hamil itu tak terjatuh, tertabrak, terdorong, maupun tersandung.


"Bianglalanya akan jatuh!" Teriakan dari beberapa orang dibelakang Oscar dan Rivera, langsung membuat dua orang itu menoleh ke bianglala raksasa yang memang sudah terlihat miring.


Oh, sial!


"Oscar!"


"Ck! Tidak ada waktu!" Oscar secepat kilat menggendong Rivera agar ia bisa membawa wanita itu sejauh mungkin dari area yang mungkin akan tertimpa roda besar sialan itu.


Lagipula, siapa orang bodoh yang punya ide meletakkan bianglala sebesar itu di tengah alun-alun kota?


Oscar terus berlari masih sambil menggendong Rivera, mengikuti arah orang-orang yang mencari tempat perlindungan. Hingga akhirnya Oscar bertemu tim penyelamat yang membimbingnya untuk membawa Rivera ke tempat berlindung yang aman. Pikiran Oscar masih saja tertuju pada Jesslyn yang sekarang entah dimana.

__ADS_1


"Kau akan aman disini bersama tim penyelamat, dan aku akan mencari Jess dulu," ujar Oscar seraya menatap pada Rivera yang juga mencemaskan Paul.


"Aku juga akan mencari Paul," ujar Oscar lagi yang akhirnya membuat Rivera mengangguk.


Oscar segera kembali ke arah pintu masuk bianglala karena gempa juga sudah tak lagi terasa. Oscar mempercepat langkahnya sembari memanggil-manggil nama Jesslyn dan Paul yang entah berada dimana.


"Jess!"


"Paul!" Oscar terus berteriak di antara orang-orang sesekali Oscar juga akan mendongak untuk melihat bianglala yang sudah miring. Oscar harus tetap awas.


"Jess!"


"Oscar!" Teriakan Paul segera nembuat Oscar mencari-cari sumber suara tadi.


"Oscar!" Paul melambaikan tangan ke arah Oscar yang akhirnya berhasil menemukan keberadaannya.


"Paul! Jesslyn dimana?" Tanya Oscar yang tam melihat keberadaan Jesslyn di dekat Paul.


"Aku sedang mencarinya! Tadi pegangan tangan kami terlepas saat berlari di kerumunan." Terang Paul sebelum kemudian pria itu kembali memanggil Jesslyn. Pun dengan Oscar yang juga memanggil-manggil Jesslyn yang entah dimana


"Jesslyn!"


"Jess!"


Oscar dan Paul masih berteriak-teriak saat gempa kembali terasa.


Sial!


"Oscar!" Oscar dan Paul akhir mendengar teriakan Jesslyn dari satu arah.


"Oscar!" Teriak Jesslyn lagi yang terlihat ketakutan saat gemoat tearsa semakin kuat. Oscar hendak berlari untuk menyelamatkan Jesslyn yang posisinya tersudut di belakang sebuah mobil, namun Paul mencegah.


"Tetap disini dan biar aku yang mengambil Jess!" Ujar Paul seraya berlari ke arah Jesslyn, lalu melompati mobil yang membuat posisi Jesslyn terjepit.


Oscar mendekat ke arah Paul dan Jesslyn sambil berulangkali mendongak ke atas, dimana bianglala yang tadi sudah miring posisinya semakin mengkhawatirkan.


"Paul cepat!" Teriak Oscar pada Paul yang sudah berhasil menggendong Jesslyn yang terlihat ketakutan.


Paul baru saja melompat dari atas mobil seraya menggendong Jesslyn, saat tanah yang berada di bawah kaki Paul tiba-tiba retak dan membuat pria itu jatuh terjerembab ke depan. Jesslyn langsung terlempar dari gendongan Paul namun gadis itu berhasil selamat dan langsung berlari ke arah Oscar.


"Paul!" Oscar hendak menolong Paul, saat suami Rivera itu mengangkat tangannya dan minta Oscar tak melanjutkan langkahnya.


"Cepat lari dari sini sebelum bianglalanya jatuh!" Ucap Paul bersamaan dengan kaki Paul yang terjerembab semakin dalam.


"Pergi sekarang, Oscar!


"Dan jaga Rivera!" Teriak Paul bersamaan dengan suara gemuruh dari bianglala yang mulai rubuh. Oscar langsung membawa Jesslyn ke dalam gendongan dan membawa putrinya itu berlari secepat mungkin meninggalkan Paul yang masih terjebak lalu tubuhnya tertutup oleh reruntuhan besi-besi dari bianglala raksasa yang rubuh tadi.


.


.


.


Tarik nafas....


Huh!

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2