
Jesslyn membuka mata saat gadis itu mendengar hiruk pikuk serta suara orang-orang asing di sekitarnya. Gadis sepuluh tahun itu mengerjap sebentar, sebelum akhirnya kedua netranya terbuka dan menyaksikan beberapa orang yang tengah mengerumuni dirinya.
Apa?
Jesslyn buru-buru bangun dari posisinya semula. Lalu gadis itu duduk dan menatap ke beberapa pasang mata yang juga tengah melihat ke arahnya.
Siapa mereka?
Orang-orang yang tadi mengelilingi Jesslyn tak berkomentar apapun dan mereka membubarkan diri begitu saja. Saat itulah, Jesslyn menyadari kalau saat ini dirinya tengah berada di sebuah tempat asing.
Tempat asing yang penuh gemerlap lampu serta gedung-gedung pencakar langit.
Yang jelas, ini bukanlah kota tempat Jesslyn tinggal sebelumnya. Ini adalah kota asing yang sama sekali belum pernah Jesslyn kunjungi.
Lantas siapa yang sudah membawa Jesslyn ke tempat ini?
Jesslyn bangkit berdiri dan masih menatap linglung ke sekelilingnya. Satu-satunya hal yang Jesslyn ingat adalah ia tadi sedang naik lift dan hendak pulang ke rumah, saat ada seseorang di balik punggungnya yang tiba-tiba membekapkan sapu tangan ke mulut dan hidung Jesslyn.
Lalu setelah itu Jesslyn tak ingat apa-apa lagi!
"Ini dimana?" Gumam Jesslyn mwrasa bingung dan asing. Gadis itu juga tak tqhunia harus kemana sekarang karena tak ada identitas apapun yang ia bawa. Tak ada siapapun yang Jesslyn kenal. Dan sekarang perut Jesslyn juga lapar.
Jesslyn melangkah tanpa arah menyusuri trotoar kota bersama para orang asing yang langkahnya lebih cepat seolah mereka sedang berpacu dengan waktu ke tujuan masing-masing.
Hanya Jesslyn yang tak punya tujuan dan merasa bingung harus kemana. Atau bicara pada siapa.
Langkah Jesslyn menuntun gadis itu ke sebuah hotel bintang lima, dimana deretan mobil mewah datang silih berganti untuk menurunkan para orang kaya yang berpenampilan glamour. Mereka masuk ke dalam hotel dengan baju-baju ber-merk dan mahal serta tas yang mungkin harganya jutaan bahkan milyaran.
Jesslyn hanya mematung di seberang jalan, menyaksikan para orang kaya itu turun dari dalam mobil. Hingga akhirnya kedua netra Jesslyn menangkap satu sosok yang terlihat tak asing turun dari satu mobil mewah yang baru datang.
"Aster," gumam Jesslyn yang bergegas menyeberang jalan untuk menghampiri Aster sebelum wanita kaya itu masuk ke dalam gedung.
"Aster!" Teriak Jesslyn sekuat tenaga, berharap Aster akan mendengar suaranya di tengah ramainya suasana di sekitar hotel.
"Aster Brennen!" Panggil Jesslyn lagi lebig keras dan wanita paruh baya itu akhirnya menoleh ke arah Jesslyn. Namun disaar bersamaan juga, Jesslyn tak memperhatikan sekitarnya dan dirinya yang menyeberang sembarangan membuat sebuah mobil tak sempat mengerem. Hingga akhirnya.....
Braak!!!
Mobil membentur tubuh Jesslyn lumayan keras hingga gadis itu sempat terlempar beberapa meter lalu tak sadarkan diri. Aster serta beberapa orang yang menyaksikan kejadian itu sejenak mematung, sebelum akhirnya beberapa dari mereka tersadar dan bergegas memanggil ambulance.
__ADS_1
****
"Jesslyn!" Oscar bangun dari tidurnya saat pria itu mendapatkan mimpi buruk tentang Jesslyn. Nafas pria itu seketika tak beraturan karena mimpi tentang Jesslyn yang mengalami kecelakaan seolah terlihat nyata. Oscar bahkan bisa mendengar jeritan Jesslyn sebelum senuah motor menghantam tubuh gadis itu hingga melayang.
Oscar mengusap wajahnya berulang kali dan berusaha untuk melenyapkan bayangan mimpi buruk tadi dari kepalanya. Pria itu juga menghela nafas panjang, sebelum bangkit dari duduk dan mendorong pintubkamar Jesslyn yang masih sunyi.
"Jess!" Panggil Oscar pada kamar yang membisu tersebut. Oscar menyugar kasar rambutnya saat menyadari Jesslyn yang masih belum pulang hingga detik ini.
Tiga hari sudah Jesslyn menghilang dan Oscar yang tak berhenti untuk mencari Jesslyn.
Kemarin Oscar juga pergi ke rumah lama mereka, lalu ke rumah Nona Rivera juga. Namun hasilnya masih nihil dan Oscar malah justru mendapat omelan dari Nona Rivera karena tiba-tiba pergi tanpa pamit. Namun setelah Oscar menjelaskan semuanya pada guru Jesslyn tersebut, Nona Rivera dan Paul berjanji untuk ikut mencari keberadaan Jesslyn.
Oscar masuk ke kamar Jesslyn tanpa menyalakan lampu. Pria itu langsung duduk di tepi tempat tidur Jesslyn, lalu memeluk boneka Jesslyn.
"Kamu dimana, Jess?" Gumam Oscar yang benar-benar bingung sekarang.
****
Jesslyn membuka mata dan langsung merasakan nyeri di seluruh bagian tubuhnya. Gadis sepuluh tahun itu meringis saat berusaha menggerakkan kakinya yang entah kenapa tak terasa sama sekali.
"Kakimu patah." Ucap seorang wanita yang langsung membuat Jesslyn memutar kepalanya ke samping.
Ada Aster Brennen yang duduk tak jauh dari bed perawatan Jesslyn seraya menatap tak bersahabat pada gadis tersebut.
"Aku juga tidak tahu!" Jawab Jesslyn lirih.
"Tidak tahu bagaimana? Kau kesini bersama Oscar?" Tanya Aster Brennen lagi.
"Tidak!"
"Aku diculik oleh seseorang!" Jawab Jesslyn yang langsung membuat Aster mengernyit.
"Siapa orang kurang kerjaan yang menculik gadis ketus sepertimu?" Aster tertawa sumbang dan Jesslyn langsung mendengus. Tapi Jesslyn juga tak bisa terus-terusan bersikap ketus pada Aster karena kini harapan Jesslyn satu-satunya untuk bisa bertemu Oscar lagi adalah Aster.
"Aku boleh minta bantuanmu, Madame Brennen?" Tanya Jesslyn akhirnya dengan bahasa yang sopan serta mimik wajah memohon.
"Bantuan apa?" Aster melipat kedua tangannya di depan dada lalu menatap Jesslyn dengan tajam.
"Antar aku pulang dan bertemu Oscar lagi! Dia pasti begitu khawatir," pinta Jesslyn pada Aster Brennen.
__ADS_1
"Tidak masalah! Aku akan mengantarmu ke rumah danau itu lagi untuk mene-"
"Aku dan Oscar tak tinggal di rumah danau itu lagi!" Sergah Jesslyn menyela dan memotong kalimat Aster. Wanita itu terlihat kaget.
"Benarkah? Lalu kalian tinggal dimana sekarang?' Tanya Aster penasaran.
"Di sebuah rumah sewa sederhana." Jawab Jesslyn lirih.
"Kau bisa mengantarku pulang?" Pinta Jesslyn sekali lagi pada Aster.
"Ya! Tapi aku tak akan melakukannya secara cuma-cuma," tukas Aster yang ternyata tak tulus menolong Jesslyn.
"Aku punya beberapa syarat untuk kau penuhi, jika memang kau ingin pulang dan bertemu Oscar." Ujar Aster lagi.
"Tidak usah kalau begitu!" Putus Jesslyn akhirnya yang merasa malas memenuhi syarat dari Aster. Jesslyn sudah bisa menebak syarat apa yang akan diajukan oleh Aster.
"Kau bahkan belum mendengar syarat dariku, tapi sudah menyerah begitu saja!" Cibir Aster pada Jesslyn.
Jesslyn hanya memalingkan wajahnya dan memilih untuk tak menjawab apapun tentang Cibiran Aster barusan.
"Tapi baiklah, kalau memang kau tak butuh bantuanku." Aster bangkit dari duduknya, lalu membawa tas mahalnya dengan anggun.
"Aku akan pergi sekarang."
"Dan kau akan diurus oleh panti sosial setelah ini karena tak ada identitas apapun tentangmu."
"Mungkin kau akan dimasukkan ke pantai asuhan nanti dan harus berbagisegalanyadengan teman-temanmu di panti," bisik Aster lagi menakut-nakuti Jesslyn yang langsung terlihat gentar.
"Jess yang malang!" Ujar Aster sekali lagi sebelum wanita itu mengayunkan langkah ke pintu kamar perawatan. Aster baru saja meraih gagang pintu tersebut, saat Jesslyn akhirnya mengubah keputusanmya.
"Aster, tunggu!" Panggil Jesslyn yang langsung membuat Aster menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Jesslyn.
"Kau berubah pikiran?"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.