The Escort Man

The Escort Man
KEPUTUSAN OSCAR


__ADS_3

Oscar berdiri di ambang pintu kamar Jesslyn dan melihat ke arah gadis sembilan tahun yang kini sedang mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Besok pagi rencananya pihak yayasan memang akan menjemput Jesslyn.


"Pastikan tak ada yang ketinggalan agara ku tak perlu repot-repot membawakan barangmu!" Ucap Oscar yang langsung membuat Jesslyn mengangkat wajahnya, lalu mendelik ke arah Oscar.


"Apa? Aku hanya mengingatkan!" Oscar melangkah masuk ke dalam kamar Jesslyn, lalu menyodorkan sebuah kantung belanja pada gadis sembilan tahun tersebut.


"Ini barang-barangmu yang kemarin ada di daftar belanja!"


"Sudah aku belikan!" Ujar Iscar dengan nada serta raut wajah berlebihan.


Jesslyn tak berucap sepatah katapun dan gadis itu hanya mengambil kantung belanjaan dari tangan Oscar dengan kasar.


"Ada sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yang biasanya diucapkan setelah menerima sesuatu dari seseorang!" Oscar menyindir Jesslyn yang sama sekali tak mengucapkan terima kasih atau kata-kata lainnya setelah menerima barang yang disodorkan Oscar.


"Terima kasih!" Ucap Jesslyn akhirnya, pelan dan nadanya ketus.


"Apa?" Oscar pura-pura tak mendengar.


"Pergi dari kamarku sekarang!" Usir Jesslyn yang sama sekali tak mengulangi ucapan terimakasihnya.


"Cih! Kamar ini akan menjadi milikku besok! Kau akan pergi dari sini!" Cibir Oscar seraya melangkah keluar, dan saat kedua kaki Oscar sudah berada di luar kqmar Jesslyn, putri kandung Naomi itu langsung membanting pintu kamar tepat dibalik punggung Oscar.


"Dasar pemarah dan menyebalkan!" Gerutu Oscar kesal. Pria itu langsung menuju ke dapur dan mengambil botol minuman dari lemari bawah dapur.


Oscar duduk di minibar yang ada di dapur, lalu meletakkan botol beling berisi minuman keras itu di hadapannya. Pria itu tak langsung membuka botol tersebut melainkan hanya memainkannya saja.


"Berhentilah minum, Osh!"


"Kau tahu kenapa aku melarang keras para escortman untuk minum? Aku tak mau kejadian sepuluh tahun yang lalu kembali terulang!"


Kalimat demi kalimat yang pernah dilontarkan oleh Naomi kembali berkelebat di benak Oscar dan langsung membuat pria itu menggeram.


"Persetan!"


"Aku bukan lagi escortman-mu!" Oscar menggerutu sendiri,lalu pria itu membuka botol minuman keras yang sejak tadi ia mainkan dan mulai menenggak isinya.


"Lagipula! Aku membelinya dengan uangku! Uang hasil kerja kerasku!" Oscar masih lanjut menggerutu.


"Kenapa Naomi selalu melarangku melakukan ini dan itu?" Tanya Oscar entah pada siapa karena memang tak ada siapapun di dapur ini dan hanya ada Oscar seorang saja.


Oscar sudah selesai menggerutu, dan kini pria itu hanya diam sembari menatap lurus ke arah jendela di dapur yang langsung mengarah ke danau. Namun suasana di luar rumah juga gelap karena hari sudah malam. Oscar menyugar rambutnya, lalu kembali larut dalam lamunan. Hingga sebuah suara menyentak lamunan Oscar dan membuat pria itu bergerak refleks.


Oscar mendelik ke arah pintu kulkas yang kini terbuka dan ada Jesslyn yang berdiri tanpa dosa di sana, meneguk air dingin dari dalam kulkas.


"Kenapa kau belum tidur, Jess?" Tegur Oscar pada gadis yang kata Naomi adalah putri kandungnya tersebut. Meskipun hingga saat ini Oscar masih merasa ragu.


Tak ada jawaban dari Jesslyn. Gadis itu sudah selesai minum dan menutup pintu kulkas. Jesslyn juga sama sekali tak menyapa Oscar, seolah pria itu hanyalah patung pajangan di dapur.


"Jess!" Panggil Oscar dengan kesal. Namun tetap tak ada jawaban dari Jesslyn. Tak berselang lama, terdenyar pintu kamar Jesslyn yang ditutup dengan kasar.


"Dasar gadis menyebalkan!" Gerutu Oscar kesal.


****


"Selamat malam, Madame!" Sapa seorang pria berperawakan tegap yang baru saja masuk ke ruang kerja Aster Brennen.


"Kau bawa kabar apa?" Tanya Aster Brennen to the point.


"Kami menemukan Tuan Petrichor, Madame!" Pria itu menyodorkan sebuah amplop coklat besar pada Aster Brennen.


Aster membuka amplop tersebut dan melihat beberapa foto di dalamnya.


"Dimana lokasinya?" Tanya Aster selanjutnya.


"Di sebuah rumah tepi danau di kota terpencil." Jelas pria tegap tadi.

__ADS_1


"Dia tinggal sendiri?" Tanya Aster lagi.


"Bersama seorang wanita dan juga seorang anak perempuan berusia sembilan tahun."


"Kami tidak tahu apa hubungan mereka, namun tetangga sekitar mengatakan kalau mereka adalah kekuarga yang baru saja pindah. Dan nama keluarga itu adalah keluarga Olsen." Jelas pria tegap itu lagi.


"Olsen?" Aster tampak terkejut mendengar nama itu. Itu adalah nama belakang Naomi.


Lalu apa maksudnya Oscar tinggal bersama Naomi? Mereka menjalin hubungan? Dasar munafik!


"Benar, Madame!"


"Warga sekitar mengenal mereka dengan Tuan dan Nyonya Olsen," terang oria tegap tadi lagi.


"Ada lagi?" Tanya Aster selanjutnya yang mendadak merasa marah sekarang. Entah marah atau cemburu tapi Aster hanya tidak suka saat mengetahui Oscar yang ternyata masih tinggal bersama Naomi.


Lalu kenapa waktu itu Oscar mengatakan kalau Naomi sudah melepaskannya?


Kenapa pria itu berbohong pada Aster?


Apa maksudnya Oscar berhenti menjadi escortman itu karena dia kini menjadi kekasih atau mungkin suami Naomi?


"Tidak ada, Madame!" Jawab pria tegap tadi.


"Silahkan pergi!" Usir Aster selanjutnya seraya menyodorkan sebuah cek sebagai bayaran.


"Terima kasih Madame!" Pamit pria tadi yang sama sekali tak dijawab oleh Aster Brennen. Wanita kaya itu meraih gelas minumannya dengan kasar, lalu menenggak isinya hingga tandas.


"Awas kau, Oscar!"


****


Oscar bangun pagi karena Jesslyn akan pergi hari ini.


Semalam Oscar sudah berpikir dan memutuskan kalau ia juga akan ikut pergi dari kota terpencil ini setelah nanti Jesslyn dijemput oleh pihak yayasan.


"Jess!" Oscar baru saja akan mengetuk pintu kamar Jesslyn, saat pintu tersebut malah sudah dibuka dari dalam. Jesslyn terlihat sudah siap mengenakan jaket serta syalnya, dan gadis itu juga menyeret koper berisi barang-barangnya.


"Biar aku bawakan!" Tawar Oscar yang langsung mengambil koper dari tangan Jesslyn sekalipun gadis itu sempat menolak. Tapi Oscar tetap memaksa untuk membawakan kopet Jesslyn ke teras.


Sementara Jesslyn berhenti sejebak di ruang depan dan menatap pada foto Naomi dan Omanya yang terpajang di sana. Jesslyn mengambil foto Naomi lalu memeluknya dengan erat dan raut wajah gadis itu terlihat sendu.


Oscar yang hendak kembali masuk ke rumah sejenak tertegun mrlihat Jesslyn yang memeluk foto Naomi.


Oscar lupa membawa Jesslyn ke makam Naomi sekedar untuk berpamitan. Dan sekarang rasa bersalah malah memenuhi relung hati Oscar.


Beep beep!


Suara klakson dari mobil yayasan sudah terdengar.


Sial!


Kenapa mereka on time sekali!


Oscar tak berhenti menggerutu dan segera menghampiri Jesslyn yang masih memeluk foto Naomi.


"Kau bisa membawanya," ujar Oscar memberikan saran. Namun Jesslyn malah meletakkan kembali foto Naomi je atas meja dan sepertinya tak berniat membawa foto tersebut.


Jesslyn menyeka butir bening di kedua sudut matanya, lalu melangkah menuju ke teras, bersamaan dengan beberapa perwakidari yayasan yang sudah turun dari mobil untuk menyapa Oscar dan Jesslyn.


"Selamat pagi, Tuan Olsen!" Sapa salah satu wanita yang mungkin seusia dengan Naomi.


"Selamat pagi!" Jawab Oscar sambil berulang kali melihat ke arah Jesslyn yang ekspresi wajahnya hanya datar.


"Kau sudah siap, Jess?" Tanya wanita tadi lagi seraya memindai penampilan Jesslyn.

__ADS_1


"Sudah!" Jawab Jesslyn lirih seraya menganggukkan kepalanya.


Barang-barangnya ini saja?" Tanya wanita paruh baya itu lagi seraya menunjuk ke satu-satunya koper Jesslyn.


"Barang-barangnya tidak terlalu banyak," Oscar membantu menjelaskan dan supir yayasan langsung mengambil koper Jesslyn untuk dimasukkan ke dalam mobil.


"Sudah tidak ada yang tertinggal lagi?" Tanya Nyonya yayasan itu sekali lagi.


Jesslyn menggeleng.


"Baiklah, ayo langsung berangkat," ajak nyonya yayasan selanjutnya yang tiba-tiba malah membuat hati Oscar merasa tak karuan.


Jesslyn sendiri hanya mengangguk dan langsung mengayunkan langkah ke halaman dimana mobil yayasan terparkir.


"Jess! Kau tidak berpamitan pada Dad?" Tanya Nyonya yayasan tadi yang langsung membuat Jesslyn menghentikan langkahnya. Namun gadis itu tak langsung berbalik untuk pamit pada Oscar, melainkan hanya diam dan bergeming di tempatnya.


Oscar memejamkan mata sejenak karena merasa ada yang salah dengan hati dan perasaannya. Tapi Oscar dengan cepat menepus perasaan tersebut, lalu berucao pada Nyonya yayasan.


"Jess sudah pamit tadi." Jelas Oscar.


"Baiklah kalai begitu! Kami akan langsung berangkat!" Nyonya yayasan tadi akhirnya pamit pada Oscar dan menyusul langkah Jesslyn yang tetap bergeming. Nyonya yayasan meraih tangan Jesslyn dan menggandengnya ke arah mobil, saat Oscar mearsa ada yang salah dengan semua hal ini.


Tidak!


Ini salah!


"Nyonya!" Panggil Oscar yangvsudah dengan cepat menyusul ke arah mobil.


"Ada apa, Tuan Olsen?"


"Maaf, saya berubah pikiran!" Ucap Oscar cepat yang langsing membuat Nyonya yayasan mengernyit.


"Jesslyn belum mengunjungi makam Mom-nya. Jadi saya akan membawa Jesslyn ke makam Mom-nya terlebih dulu, lalu nanti saya akan mengantarnya ke yayasan," sambung Oscar menjelaskan.


"Baiklah, tidak masalah, Tuan Olsen!" Nyonya yayasan tersenyum lalu membantu Jesslyn untuk kembali turun dari mobil.


"Lalu kapan anda akan mengantar Jesslyn?" Tanya Nyonya yayasan lagi.


Oscar diam sejenak dan tak langsung menjawab.


"Nanti saya akan menghubungi anda kembali!" Jawab Oscar akhirnya.


"Baiklah, saya tunggu!" Ujar Nyonya yayasan.


Tak berselang lama, mobil yayasan sudah melaju pergi, meninggalkan Jesslyn dan kopernya yang tak jadi pergi.


Jesslyn menatap tajam ke arah Oscar yang juga hanya diam seolah meminta penjelasan kenapa Oscar tak jadi menyerahkan Jesslyn ke yayasan.


"Jangan menatapku seperti itu! Aku juga tidak tahu kenapa aku melakukannya!" Ujar Oscar ketus yang balik menatap Jesslyn dengan tajam


"Tapi aku akan mengurusmu mulai hari ini!" Lanjut Oscar lagi.


Jesslyn tak berucap sepatah katapun, dan gadis itu langsung berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Oscar yang kini menyugar rambutnya berulang-ulang.


Ada apa denganmu, Osh?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2