The Escort Man

The Escort Man
ALASAN


__ADS_3

Oscar duduk diam di teras belakang rumah yang langsung menghadap ke danau. Sesekali pria itu akan menenggak minuman di botol yang berada di tangannya. Bibir pria tiga puluh tahun tersebut juga akan mengepulkan asap yang kemudian mengurung wajahnya. Tatapan mata Oscar lurus mengarah ke depan, dimana air danau yang sesekali terlihat berriak karena hembusan angin malam.


Cukup lama Oscar termenung dalam sepi dan gelapnya malam, hingga sebuah deheman membuyarkan semua lamunan Oscar.


Cepat-cepat Oscar mematikan rokoknya, lalu menoleh ke arah Naomi yang kini bersedekap seraya menatap tak senang pada Oscar.


"Darimana kau mendapatkan minuman itu, Osh?" Tanya Naomi yang kangsung dengan cepat merebut botol yang hendak disembunyikan oleh Oscar.


"Banyak dijual di toko di tempat aku membeli bahan makanan hari ini," jawab Oscar jujur.


"Lagipula, satu botol tak akan membuatku mabuk dan aku bukan lagi escortman di agensimu!"


"Jadi aku tak perlu mematuhi peraturan yang kau buat itu lagi," ujar Oscar panjang lebar yang langsung membuat Naomi menenggak sisa minuman di botol di tangannya.


"Nao!" Oscar dengan cepat mencegah Naomi, meskipun sedikit terlambat dan sudah ada beberapa mili dari minuman beralkohol itu yang terlanjur ditelan oleh Naomi.


"Apa yang kau lakukan?" Marah Oscar pada Naomi.


"Apa yang aku lakukan? Aku sedang minum! Sama sepertimu!" Jawab Naomi yang balik mendelik pada Oscar. Sebelum kemudian wanita itu sedikit limbung hingga Oscar harus buru-buru membimbingnya agar duduk di kursi.


"Apa kau ingin cepat mati, hah? Kau sedang dalam pengobatan!" Omel Oscar lagi pada Naomi.


"Aku memang akan mati cepat atau lambat, Osh!" Sergah Naomi seolah sedang mengingatkan Oscar yang langsung terdiam.


"Maaf aku tak bermaksud-"


"Tidak perlu minta maaf!" Naomi memotong kalimat Oscar.


"Kau tahu kenapa aku melarang keras para escortman minum dan mabuk?" Tanya Naomi mengalihkan pembicaraan.


"Profesionalitas?" Jawab Oscar menerka-nerka.


"Bukan!" Naomi menggeleng samar dan Oscar langsung mengangkat sebelah alisnya.


"Aku tak mau kejadian yang pernah terjadi di antara kita sepuluh tahun lalu kembali terulang," ujar Naomi lirih mengemukakan alasannya.


"Sejujurnya, aku penasaran dengan apa yang terjadi pada kita malam itu dan bagaimana kau bisa begitu ceroboh?" Tanya Oscar yang wajahnya terlihat benar-benar ingin tahu.


"Itu benar-benar diluar dugaanku!"


"Bukan karena kau memang sengaja melakukannya?" Tanya Oscar lagi memancing.

__ADS_1


"Apa maksudmu dengan sengaja?" Kedua telunjuk Naomi membentuk tanda kutip.


"Sengaja agar kau bisa tidur denganku," Oscar tertawa kecil dan terlihat percaya diri sekali.


"Kenapa aku harus menjebak diriku sendiri jika memang aku ingin tidur denganmu? Kau adalah koleksiku, dan aku bisa tidur denganmu kapanpun aku ingin!" Sergah Naomi dengan nada pongah.


"Tapi anehnya kau tidak pernah mengajakku untuk tidur denganmu saat aku masih menjadi koleksimu, Naomi!"


"Apa kau sungguh-sungguh tak pernah menginginkan aku selama ini?" Tanya Oscar semakin penasaran.


"Aku...."


"Aku hanya merasa tidak percaya diri," jawab Naomi lirih.


"Tidak percaya diri?" Oscar mengernyit bingung dan merasa tak paham.


"Aku takut jika aku tak akan bisa memberikanmu kepuasan, karena kau selalu mengatakan kalau kau adalah Oscar yang tidak mudah mendapatkan apa yang kau inginkan itu sekalipun kau sudah tidur dengan banyak wanita!"


"Aku merasa tak mampu atau mungkin aku hanya takut. Satu yang pasti aku tam mau membuatmu kecewa!"


"Jadi aku memilih untuk menahan diri saja," lanjut Naomi seraya tersenyum kecut.


"Menahan diri?" Oscar berdecih.


"Bersama Mitch hanya selingan, karena standar Mitch tak setinggi dirimu-" Kedua pundak Naomi mendadak sudah direngkuh oleh Oscar.


"Kau bahkan belum mencoba bercinta denganku, dan kau sudah bisa menilai berdasarkan asumsi-asumsi saja!" Oscar menatap Naomi dengan geram.


"Bukan asumsi! Tapi kenyataannya memang begitu!"


"Kau selalu minum diam-diam setelah melayani klien dengan alasan kau belum puas, kau belum mencapai kepuasan yang kau inginkan!" Sergah Naomi membalas tatapan Oscar dengan tajam.


"Aku juga bukan Aster Brennen! Satu-satunya wanita yang katamu berhasil membuat Oscar Petrichor jatuh cinta dan mendapatkan apa yang selama ini ia cari saat bercinta!" Lanjut Naomi lagi dengan nada mencibir.


"Aku tidak jatuh cinta pada Aster Brennen!" Bantah Oscar menyangkal kalimat Naomi.


"Tapi kau merasa nyaman bersamanya!" Sergah Naomi sok tahu.


"Kau bahkan menghabiskan waktu sepanjang hari untuk menemui Brennen di kantornya dan mungkin bercinta dengannya seharian sebelum kita pergi ke sini."


"Apa itu sebuah salam perpisahan?" Cibir Naomi lagi pada Oscar.

__ADS_1


"Kau yang mengusirku dan menyuruh aku melakukan apapun yang aku inginkan waktu itu," ujar Oscar mengingatkan sekaligus mencari pembenaran.


"Ya! Seharusnya kau tak usah menemuiku lagi ataupun ikut denganku ke kota terpencil ini!"


"Seharusnya kau menerima tawaran Aster Brennen dan menjadi kekasihnya saja, agar kau bisa berendam dengan uang dan emas setiap malam, lalu menikmati apartemen serta mansion mewah yang diberikan oleh Brennen beserta semua fasilitasnya!"


"Tak perlu juga merasa frustasi karena melihat wajah dan sikap ketus Jess setiap hari!" Naomi terus bercerocos seolah wanita itu sedang mengeluarkan segala uneg-uneg di dalam hatinya.


"Kenapa kau tak melakukan itu semua, Oscar? Kenapa kau malah kembali lagi kepadaku dan menghabiskan harimu dengan sia-sia untuk merawatku?" Tanya Naomi dengan nada lirih.


"Tak ada yang sia-sia, Nao!" Oscar memangkas jarak di antara dirinya dan Naomi.


"Aku ikhlas merawatmu dan menemanimu disini, karena...."


"Karena kau adalah orang yang paling berarti di dalam hidupku." Oscar mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah Naomi.


"Jika aku tak pernah bertemu denganmu, mungkin saat ini aku masih jadi Oscar yang miskin yang tidur di kolong jembatan atau meringkuk kedinginan di kursi taman." Lanjut Oscar lagi sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Naomi yang hanya bergeming.


"Dan sejujurnya, aku merasa cemburu karena kau tidur dengan Mitch selama inj dan selalu menolak ajakanku untuk bercinta." Oscar sedikit menyibak rambut sebahu Naomi, lalu mencium belakang telinga wanita tersebut dan menggigit kecil daun telinganya.


"Aku tak mau membuatmu kecewa," Naomi kembali mengungkapkan alasannya dan wanita itu sedikit menggeliat karena Oscar yang kini mulai memainkan lidahnya di sekitar daun telinga Naomi.


"Kau tidak akan tahu sebelum mencobanya." Nada suara Oscar terdengar merayu.


"Jadi ayo kita coba malam ini, karena kita adalah kekasih dan bukan lagi kakak beradik!" Lanjut Oscar lagi yang sudah menangkup wajah Naomi, lalu menatapnya penuh kesungguhan.


Atau mungkin itu hanya sebuah keinginan?


Keinginan untuk bercinta dengan Naomi!


"Nao!" Oscar mulai mendesak,dan mendekatkan bibirnya ke wajah Naomi. Pria itu sepertinya he dak mencium Naomi,namun tangan Naomi sudah bergerak cepat untuk menahan bibir Oscar.


"Kau bisa gosok gigi dulu!" Ujar Naomi seraya berbalik dan meninggalkan Oscar. Wanita itu masuk ke rumah lalu langsung menuju ke kamar Oscar.


Oscar menipiskan bibirnya, lalu segera masuk dan menyusul Naomi.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2