The Escort Man

The Escort Man
SHOCK


__ADS_3

Jesslyn terus menggeleng-gelengkan kepalanya saat Oscar membujuknya untuk pulang ke rumah. Gadis itu sepertinya shock berat setelah rentetan perustiwa yang belakangan ini terus saja mengganggu hidupnya dan Oscar.


"Pulang sana!" Usir Jesslyn pada Oscar. Gadis itu lalu memeluk bantal sofa di rumah Nona Rivera dan membenamkan kepalanya di sana.


"Biarkan dia disini dulu," ujar Nona Rivera akhirnya memberi pengertian pada Oscar.


"Rivera benar, Osh! Biarkan Jess dusini dulu sampai dia merasa nyaman. Kami sama sekali tak keberatan," tukas Paul ikut-ikutan meyakinkan Oscar.


"Kau mau kita pindah rumah?" Tawar Oscar selanjutnya pada Jesslyn yang kini kembali menatapnya.


"Kau punya uang memang?" Jawab Jesslyn ragu sekaligus ketus.


"Aku akan kerja nanti!"


"Kata Nona Rivera ada lowongan supir bus sekolah," tutur Oscar yang langsung menjelaskan jenis pekerjaan yang akan ia lakoni sebelum Jesslyn kembali salah sangka.


"Aku masih mau disini," jawab Jesslyn seraya merengut.


"Sampai kapan? Beritahu aku!"


Jesslyn tak menjawab dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sudah jangan dipaksa, Osh!" Ujar Rivera kembali menengahi. Wanita itu lalu membimbing Jesslyn agar bangkit dari sofa dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Aku benar-benar tak ingin merepotkan, Paul!" Ucap Oscar pada Paul yang hanya tertawa kecil.


"Kami sama sekali tak kerepotan. Nanti Rivera yang akan membujuk Jess agar mau secepatnya pulang ke rumah."


"Dia hanya masih shock, itu saja," terang Paul seraya menepuk-nepuk punggung Oscar.


"Baiklah!"


"Semoga Jess mau pulang ke rumah secepatnya," ucap Oscar penuh harap, sebelum kemudian pria itu pamit pulang dari kediaman Oliver.


****


"Dia bergerak-gerak," celetuk Jesslyn setelah gadis itu meletakkan kepalanya di perut Rivera.


"Yap! Dia aktif sekali," komentar Rivera menanggapi.


"Dia bisa mendengar jika aku mengajaknya bicara?" Tanya Jesslyn lagi sembari mengusap-usap perut Rivera.


"Tentu saja! Kau bisa mengajaknyq mengobrol, berbicara, atau menyanyikan sebuah lagu untuknya," jawab Rivera yang langsung membuat Jesslyn menatapnya dengan tidak percaya.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Kau coba saja! Nyanyikan sebuah lagu untuknya," titah Rivera selanjutnya.


"Suaraku kurang merdu tapi." Jesslyn terkikik lalu berdehem beberapa kali sebelum mulai bernyanyi.


^^^Twinkle, twinkle, little star^^^


^^^How I wonder what you are^^^


^^^Up above the world so high^^^


^^^Like a diamond in the sky^^^


Jesslyn bernyanyi sembari mengusap-usap perut Rivera, lalu gadis itu merasakan gerakan samar dari bayi Rivera dan kembali bernyanyi.


^^^Twinkle, twinkle, little star^^^


^^^How I wonder what you are^^^


^^^When the blazing sun is gone^^^


^^^When he nothing shines upon^^^


^^^Twinkle, twinkle, all the night^^^


^^^Twinkle, twinkle, little star^^^


^^^How I wonder what you are^^^


"Good night, baby" ucap Jesslyn seraya mengecup perut Rivera.


"Dia sudah tidur," bisik Jesslyn pada Rivera yang hanya tersenyum dan mengangguk.


"Aku boleh menggendongnya saat ia lahir nanti?" Tanya Jesslyn lagi masih sambil berbisik.


"Tentu saja! Dia bisa jadi adikmu setelah lahir nanti," jawab Rivera yang langsung membuat Jesslyn mengangguk-angguk.


"Aku seorang kakak!" Sorak Jesslyn dengan suara yang pelan.


"Kapan dia akan lahir, Nona Rivera?" Tanya Jesslyn selanjutnya.


"Beberapa minggu lagi sepertinya," jawab Rivera. Jesslyn memeluk perut Rivera sekali lagi.

__ADS_1


"Kau ingin menjaganya disini sampai dia lahir?" Tanya Rivera selanjutnya seraya mengusap-usap kepala Jesslyn.


"Tak ada yang akan mengurus Oscar jika aku disini terus-terusan," jawab Jesslyn sedikit merengut.


"Aku pikir selama ini Oscar yang mengurusmu?" Rivera mengernyit tak mengerti dan Jesslyn langsung menggeleng.


"Dia tak pernah bisa mengurus dirinya sendiri. Dia selalu melakukan hal-hal bodoh setiap ada masalah atau merasa frustasi." Cerita Jesslyn.


"Hal bodoh? Bisa kau memberitahu aku?"


"Dia suka minum!" Jawab Jesslyn cepat.


"Dan merokok! Bukankah itu tidak baik untuk kesehatan?" Sambung Jesslyn lagi bercerita pada Rivera.


"Kau tidak suka Oscar minum dan merokok?" Tanya Rivera yang langsung membuat Jesslyn menggeleng.


"Mom meninggal karena sakit tumor. Lalu aku membaca artikel kalau salah satu penyebab sakit itu adalah gaya hidup yang tidak sehat yang salah satunya adalah minum dan merokok seperti yang dilakukan oleh Oscar."


"Aku tidak mau jika Oscar...." Jesslyn tak melanjutkan kalimatnya dan gadis itu dengan cepat menyeka butir bening di sudut matanya.


"Kau begitu peduli pada Oscar." Rivera membantu menyeka airmata Jesslyn dan wanita itu merasa terharu dengan kepedulian Jesslyn pada Oscar.


"Dia satu-satunya yang aku miliki di dunia ini," ucap Jesslyn lirih.


"Kau bisa pulang ke rumah mulai besok berarti, agar kau bisa mengurus Oscar lagi," saran Rivera dengan nada lembut.


"Apa menurutmu Oscar akan mau mendengarkan ucapan bocah sepertiku?" Tanya Jesslyn kembali meminta pendapat dari Rivera.


"Pasti Oscar mau mendengarkan. Atau kau bisa mengajukan permintaanmu itu tadi sebagai syarat kau pulang ke rumah. Oscar mungkin tak akan keberatan," cetus Rivera memberikan ide.


"Lagipula, Oscar sudah mulai bekerja besok dan kau tahu sendiri, sopir bus sekolah dilarang keras minum dan merokok selama bekerja," tukas Rivera lagi meyakinkan Jesslyn.


Gadis sepuluh tahun itu mengangguk-angguk dan langsung memeluk Rivera.


"Aku akan menjaga adikku dulu malam ini kalau begitu!" Pungkas Jesslyn sebelum akhirnya ia dan Rivera tertawa bersama.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2