The Escort Man

The Escort Man
HAMPIR


__ADS_3

"Pergi!"


"Lepaskan aku!"


Praaang!


Oscar baru tiba di rumah Aster Brennen, dan pria itu bergegas cepat ke kamar Jesslyn. Namun baru beberapa langkah mendekati kamar, terdengar teriakan Jesslyn dari dalam kamar, serta suara dari beberapa bebda yng sepertinya sengaja dilempar oleh Jesslyn.


"Jess!" Oscar berusaha membuka pintu kamar Jesslyn namun ternyata dikunci darj dalam.


"Pergi kau tua bangka!"


"Jesslyn!" Oscar menggedor dan berusaha untuk mendobrak pintu sialan di depannya.


Praaang!


Braaak!


Terdengar suara benda yang pecah, lalu suara benda lain yang menghantam pintu.


"Toloong!" Jesslyn berteriak keras dari dalam kamar yang terkunci.


"Keparat!"


"Johnson! Buka pintu kamarnya!" Oscar terus mencoba mendobrak pintu kamar Jesslyn dengan bahunya berulang-ulang.


"Jess!"


"Jesslyn! Buka pintunya!" Teriak Oscar yang tak berhenti berusaha.


Sementara di dalam kamar, Jesslyn merangkak tertatih menghindari tua bangka Johnson yang sudah menatapnya dengan penuh n*fsu.


"Jangan mendekat!" Jesslyn nekempar benda apa saja di dekatnya ke arah Johnson yang sepertinya sengaja menakut-nakuti Jesslyn terlebih dahulu.


"Aku penasaran dengan rasa dari hadis sepuluh tahun galak sepertimu!"


"Pasti masih legit!" Johnson berucap dengan ekspresi wajah yang sangat menjijikkan.


"Keparat!"


"Pergi kau!" Usir Jessgalak sambil terus merangkak untuk menghindari Johnson.


"Jesslyn!" Terdengar teriakan Oscar dari luar kamar.


"Osh! Tolong aku!" Jesslyn segera merangkaak ke arah pintu, saat Johnson dengan sigap meraih kaki Jesslyn dan menariknya.


"Aaarrrgh! Lepas!!" Jesslyn meronta-ronta dan berusaha menendang-nebdang tangan Johnson. Namun sialnya, Johnson sudah ganti memegang kaki Jesslyn yang cedera hingga gadis itu kembali menjerit kesakitan.


"Jangan coba-coba membukanya atau aku patahkan lagi kakimu!" Ancam Johnson pada Jesslyn yang sedang sekuat tenaga bangkit berdiri untuk membuka pintu.


"Jesslyn!" Teriakan Oscar tak berhenti terdengat dari luar.


"Oscar!"


"Tolong!" Teriak Jesslyn yang sekuat tenaga berusaha menyentak cekalqn tangan Johnson di kakinya.

__ADS_1


"Lepaskan!" Jesslyn berteriak dan terus meronta saat Johnson sudah berhasil menarik celana yang dikenakan Jjesske bawah.


"Tua bangka keparat!" Umpat Jesslyn yang kembali merangkak untuk menghindari Johnson yang semakin beringas mengejarnya.


"Kau mau kemana, hah?"


"Kau tak akan bisa kemana-mana!" Johnny tertawa penuh kemenangan saat akhirnya pria tua itu berhasil menindih tubuh Jesslyn yang sudah tersudut di dekat sofa.


Johnson baru saja merobek baju Jesslyn, saat akhirnya pintu berhasil didobrak oleh Oscar, dan pria itu langsung merangsek masuk.


"Keparat!" Umpat Oscar yang tanpa basa-basi langsung menarik tibih Johnson dari atas Jesslyn, lalu membanting pria itu ke lantai.


"Baj*ngan!" Oscar memukuli Johnson dengan membabi buta


"Keparat!"


"Biadab!"


Bugh! Bugh! Bugh!


Wajah Johnson sudah babak belur karena bogrm mentah bertubi-tubi dari Oscar.


"Dasar baj*ngan!" Umpat Oscar sekali lagi setelah pria itu puas memukuli Johnson yang kini sudah terkapar tak berdaya.


Oscar ganti menghampiri Jesslyn yang masih meringkuk di sudut kamar. Tangan Oscar menyambar selimut dengan cepat, lalu menutupi tubuh Jesslyn yang sudah setengah terbuka.


"Ayo pergi!" Ajak Oscar seraya mengangkat tubuh Jesslyn ke dalam gendongan, lalu pria itu segera meninggalkan kamar Jesslyn serta mansion mewah Brennen.


****


Aster bangun dengan tubuh yang sudah terasa lebih baik serta kepala yang tak lagi pusing. Wanita itu langsung mencari Oscar di ruang kerjanya yang terlihat sepi.


Kemana perginya asisten sekaligus kekasih Aster tersebut?


Aster meraih gagang telepon di mejanya, lalu menghubungi sang sekretaris.


"Selamat sore, Madame!"


"Oscar kemana?" Tanya Aster to the point.


"Pergi dari siang dan belum kembali sampai sekarang, Madame!"


"Apa?" Aster langsung terkejut.


"Pergi kemana? Apa dia mengatakan sesuatu?" Cecar Aster selanjutnya.


"Maaf, Madame! Tapi Tuan Petrichor tidak mengatakan apapun dan dia langsung pergi begitu saja. Terlihat tergesa-gesa."


Laporan sang sekretaris langsung membuat Aster berpikir sejenak. Oscar pergi dengan tergesa-gesa? Ada apa?


"Ke ruanganku sekarang!" Titah Aster akhirnya pada sang sekretaris sebelum wanita itu menutup telepon.


Oscar kemana?


Dan kenapa pria itu pergi tanpa pamit?

__ADS_1


****


Oscar masuk ke dalam mobil seraya membawa sebuah paperbag di tangannya. Pria itu langsung menghampiri Jesslyn yang sejak dari rumah Aster tadi duduk meringkuk di jok belakang mobil.


"Pakai bajumu!" Titah Oscar yang hendak membuka selimut yang masih membalut tubuh Jesslyn, namun gadis itu dengan cepat menolak.


"Aku bisa pakai baju sendiri!" Sentak Jesslyn yang langsung membuat Oscar mengangkat kedua tangannya.


"Baiklah!" Oscar akhirnya keluar dari mobil dan memberikan privasi untuk Jesslyn yang hendak berganti baju.


Sedangkan Jesslyn mengganti bajunya di dalam mobil, dengan mata yang tetap awas melihat ke arah Oscar yang kini duduk di atas kap mobil seraya membakar rokok.


Hingga Jesslyn selesai berganti baju, Oscar masih di tempatnya semula dan tak kunjung beranjak. Akhirnya Jesslyn terpaksa melongokkan kepalanya keluar jendela mobil dan memanggil Oscar.


"Osh! Aku lapar!" Lapor Jesslyn yang langsung membuat Oscar buru-buru mematikan rokoknya, lalu menghampiri Jesslyn.


"Aku sudah beli makanan." Oscar menyodorkan satu kantung makanan pada Jesslyn.


"Kau akan membawaku ke rumah pacarmu yang kaya itu lagi?" Tanya Jesslyn seraya menatap Oscar dengan ketus.


"Kita akan pulang ke rumahmu," jawab Oscar tegas yang langsung membuat Jesslyn mengernyit beberapa saat.


"Rumahku?"


"Rumah tepi danau itu. Itu adalah rumah milik Mommy-mu yang dibeli atas namamu. Jadi itu adalah rumahmu," jelas Oscar yang akhirnya masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Jesslyn.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Jesslyn sebelum gadis itu menggigit burger di tangannya.


Oscar mengendikkan kedua bahunya dan merasa enggan untuk menjelaskan.


"Maaf karena aku tak percaya pada ucapanmu tempo hari," ucap Oscar akhirnya tanoa mrnjawqb pertanyaan Jesslyn.


"Ucapanku yang mana?" Tanya Jesslyn pura-pura tak paham.


"Tentang Aster yang menguras uang di rekeningku." Oscar tersenyum kecut, lalu melipat kedua tangannya di belakang kepala.


"Kau sudah tahu semuanya sekarang?" Tanya Jesslyn dengan mulut yang penuh burger.


"Ya!"


"Ayo kita pulang sekarang!" Ajak Oscar selanjutnya seraya pindah ke jok depan, lalu duduk di belakang kemudi.


"Kau tidak membawa tongkatku saat kabur tadi, Osh!" Jesslyn mengingatkan Oscar yang langsung menoleh ke arah gadis itu.


"Aku yakin kau akan bisa berjalan tanpa tongkat sebentar lagi."


"Dan sementara ini aku akan menggendongmu kemana-mana sebagai permintaan maaf!" Tukas Oscar yang langsung membuat Jesslyn tertawa kecil.


Tawa yang sudah beberapa bulan terakhir tak pernah Oscar lihat. Dan sekarang tawa Jesslyn sudah kembali!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2