
Oscar terlonjak kaget saat Jesslyn membangunkannya pagi-pagi sekali.
"Kau minum lagi semalam?" Tanya Jesslyn seraya mendelik pada Oscar dan menggoyang-goyangkan botol beling kosong bekas minuman di depan wajah Oscar. Tadi Jesslyn menemukan botol itu di atas meja di samping sofa, tempat Oscar tidur semalam.
"Kau sudah pulang, Jess?" Oscar tak mebjawab pertanyaan Jesslyn dannmalah balik bertanya pada gadis tersebut.
"Kau belum menjawab pertanyaanku!" Jesslyn kembali menggoyang-goyangkan botol tadi di depan wajah Oscar.
"Hanya satu teguk dan aku tidak mabuk!" Kilah Oscar mencari pembenaran.
"Meskipun tidak mabuk,tapi kau tetap minum, Osh!"
"Kau harus mulai bekerja hari ini! Apa aku lupa?" Cecar Jesslyn dengan mada kesal pada Oscar.
"Aku ingat!"
"Dan aku minta maaf, Jess!" Ucap Oscar penuh penyesalan.
"Berjanjilah kalau ini yang terakhir!" Jesslyn menatap tajam pada Oscar.
"Aku janji ini yang terakhir." Oscar menirukan kalimat Jesslyn.
"Mereka akan memecatmu sebagai sopir bus sekolah jika kau minum dan mabuk-mabukan seperti ini!" Jesslyn membuang botol beling yadi dengan kasar ke tempat sampah.
"Sudah kubilang, kalau aku tidak mabuk, Jess!" Oscar masih saja mencari pembenaran.
"Bagaimana kau akan membelikan aku makanan dan membiayaiku jika kau dipecat dari pekerjaan yang sudah susah payah kau dapatkan!" Jesslyn masih tak berhenti mengomel pada Oscar.
"Uang di rekeningku sudah kembali, jadi kita-"
"Uang dari hasil menjual diri?" Jesslyn menyela dan memotong kalimat Oscar. Nada bicara gadis itu juga terdengar sinis.
"Baiklah, tidak jadi!" Oscar mengangkat kedua tangannya dan merasa kalah berdebat dengan Jesslyn si keras kepala.
"Nanti aku akan mendonasikan semuanya dan tidak memakai uang itu lagi," ujar Oscar lagi memaparkan rencananya yang langsung membuat Jesslyn tersenyum simpul.
"Cepatlah bersiap kalau begitu! Kau harus berangkat pagi-pagi!" Jesslyn menyodorkan seragam sopir bus pada Oscar.
"Kau tidak akan menginap di rumah Nona Rivera lagi mulai hari ini, kan?" Tanya Oscar memastikan sebelum pria itu pergi mandi.
"Memangnya kenapa? Kau kesepian dan tak bisa mengurus dirimu sendiri hingga kau tidur di sofa setiap malam, selama aku tak pulang?" Cibir Jesslyn yang langsung membuat Oscar berdecak.
"Aku hanya berjaga-jaga, siapa tahu kau pulang dan mengetuk pintu tengah malam karena rindu pada kamarmu."
__ADS_1
"Aku takut tak bisa mendengar ketukanmu yang selembut salju itu jika aku tidur di kamar. Jadi aku memutuskan untuk tidur di sofa saja," Cerocos Oscar panjang lebar yang balik mencibir Jesslyn. Putri Oscar itu langsung memutar bola matanya menanggapi cibiran dari Oscar
"Mandi sana!" Perintah Jesslyn selanjutnya pada Oscar.
"Baiklah!"
"Kau sudah mandi tadi? Kau nanti berangkat bersamaku, kan?" Oscar masih tak berhenti bercerocos hingga pria itu masuk ke kamar mandi dan suaranya teredam oleh pintu kamar mandi.
Dasar Oscar!
****
Malam menjelang....
Tok tok tok!
Oscar mengetuk pintu kamar Jesslyn sembari membawa kudapan di tangannya. Hanya sepotong roti panggang isi coklat kacang. Tapi sepertinya sudah cukup untuk berbasa-basi pada Jesslyn.
"Ada apa?" Tanya Jesslyn setelah gadis itu membuka pintu.
"Kudapan!" Oscar menyodorkan roti panggang tadi pada Jesslyn yang langsung menipiskan bibirnya.
"Kau niat sekali membuatku gendut," gumam Jesslyn seraya menggigit roti panggang buatan Oscar.
"Aku bukan bocah balita, Osh!" Sergah Jesslyn memotong.
"Aku tahu! Tapi kejadian beberapa hari yang lalu aku pikir mungkin meninggalkan sebuah trauma untukmu." Oscar mengendikkan kedua bahunya.
"Hanya sedikit," ucap Jesslyn yang akhirnya berkata jujur. Gadis itu kembali menggigit roti panggang di tangannya.
"Mau aku temani?" Tawar Oscar lagi.
"Kau juga akan memelukku dan membacakan dongeng untukku?" Tanya Jesslyn yang sontak membuat Oscar tergelak.
"Tidak masalah, jika kau memang menginginkannya dan itu bisa membuatmu merasa lebih baik."
"Maaf, tapi aku bukan istrimu!" Tolak Jesslyn akhirnya yanga hanya membuatmu Oscar mengangguk-angguk.
"Baiklah, aku juga tak memaksa dan hanya menawarkan." Tukas Oscar yang kembali mengendikkan kedua bahunya
"Tapi kau bisa tidur di sofa depan seperti semalam, jika kau tak merasa keberatan."
"Itu membuatku merasa aman karena saat aku keluar dari pintu kamar atau ada seseorang yang menyeretku, kau sudah langsung ada depan pintu," tutur Jesslyn seraya menggerak-gerakkan tangannya seolah sedang memperagakan sesuatu.
__ADS_1
"Aku harus memindahkan sofanya ke depan pintu kamarmu berarti?" Tanya Oscar yang tangannya sudah menunjuk ke arah sofa.
"Ya!" Jawab Jesslyn cepat.
"Baiklah, akan kulakukan!" Tukas Oscar yang sama sekali tak merasa keberatan.
"Baiklah, selamat malam!" Ucap Jesslyn seraya tersenyum pada Oscar.
"Selamat malam, Jess!" Balas Oscar bersamaan dengan Jesslyn yang sudah menutup pintu kamar. Oscar mendadak ingat pada sesuatu dan pria itu kembali memanggil Jesslyn.
"Jess!"
"Apa lagi?" Jesslyn membuka pintu kamarnya lagi.
"Aku bertemu Paul sore tadi dan Paul mengatakan kalau ia ingin mengajak kau ke pekan raya hari Sabtu nanti," ujar Oscar memberitahu Jesslyn.
"Aku saja yang diajak atau kau juga diajak? Karena tadi kata Nona Rivera, Paul mengajak kita berdua," cecar Jesslyn yang langsung membuat Oscar garuk-garuk kepala.
"Iya maksudku kita berdua," ujar Oscar mengoreksi.
"Jadi?" Tanya Oscar memastikan sekali lagi.
"Jadi apa? Tentu saja aku ikut!" Jawab Jesslyn cepat.
"Yess!" Oscar langsung bersorak senang.
"Jangan lupa untuk membuat bekal dan jangan bawa minuman keras!" Jesslyn memperingatkan Oscar dengan tegas.
"Iya!"
"Tidur sana!" titah Oscar seraya mengacak gemas rambut Jesslyn. Pria itu kemidian berlalu meninggalkan Jesslyn yang kini mengulas senyum tipis.
Jesslyn suka dengan metamorfosis Oscar sekarang!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1