The Escort Man

The Escort Man
NYAMAN


__ADS_3

Malam semakin larut dan Oscar masih belum bisa memejamkan kedua matanya. Sayup-sayup Oscar mendengar tangisan Peter dari dalam kamar Rivera. Ingin rasanya Oscar mengetuk pintu kamar tersebut, tapi Oscar merasa sungkan dan takut mengganggu.


Mungkin Peter hanya terbangun karena haus.


Oscar kembali berusaha untuk memejamkan kedua matanya saat tak lagi terdengar tangis Peter dari dalam kamar. Namun baru beberapa detik mata Oscar terpejam, pintu kamar Rivera tiba-tiba sudah dibuka dari dalam. Oscar refleks terlonjak karena melihat Rivera yang keluar sembari menggendong Peter.


"Hai, kau belum tidur?" Sapa Rivera pada Oscar yang kini duduk di atas sofa.


"Ya, aku tak bisa tidur."


"Apa Peter rewel?" Tanya Oscar seraya bangkit berdiri dan memeriksa Peter yang masih berada di dalam gendongan Rivera.


"Biasanya setiap malam, Jess yang akan mendekapnya. Aku rasa Peter sedang rindu pada Jess," cerita Rivera seraya tertawa kecil.


"Aku boleh coba mendekapnya?" Izin Oscar yang sebenarnya masih lumayan kaku saat menggendong Peter. Oscar memang jarang menggendong bayi Rivera ini dan Oscar belum ada pengalaman memiliki bayi sebelum ini. Meskipun Jess adalah putri Oscar, tapi Oscar baru dekat dengan Jess saat gadis itu berusia sepuluh tahun. Jadi mana Oscar tahu rasanya punya bayi?


"Ya, jika kau tak keberatan," Rivera memberikan Peter dengan hati-hati pada Oscar, lalu membantu membuat Peter nyaman juga di dalam dekapan Oscar.


"Seperti ini?" Tanya Oscar yang tangannya mendadak jadi kaku dan pria itu juga sedikit grogi sekarang.


Grogi karena menggendong bayi?


Konyol!


"Iya, sudah benar. Peter terlihat nyaman," jawab Rivera seraya mengusap lembut punggung Peter.


"Berapa lama aku harus mendekapnya seperti ini? Semalaman?" Tanya Oscar lagi seraya menatap pada Rivera.


"Mungkin saja! Peter terlihat nyaman berada di dekapanmu," jawab Rivera lagi seraya terkekeh. Wanita itu lalu membuka lebar pintu kamarnya dan mempersilahkan Oscar untuk masuk.


"Masuklah ke kamar saja, Osh! Kau mungkin bisa mendekapnya sembari duduk," Ujar Rivera seraya menunjuk ke satu sofa single di dalam kamar.


"Disini? Begini?" Tanya Oscar setelah pria itu mendaratkan bokongnya di kursi yang terasa nyaman tersebut.


"Iya."


"Aku perlu ke toilet sebentar," izin Rivera selanjutnya.


"Oh, silahkan! Aku akan tetap duduk disini dan tak akan mengganggu," jawab Oscar sedikit berkelakar. Rivera ikut tertawa kecil, sebelum kemudian wanita itu masuk ke dalam toilet yang berada di dalam kamar.


Oscar yang masih mendekap Peter, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Rivera. Ada foto Paul di atas nakas yang mungkin selalu dipandangi oleh Rivera setiap hari.


"Kau pasti bangga dengan ayahmu, Peter," Oscar bergumam pelan seraya mengusap-usap punggung Peter yang mulai menggeliat di dalam dekapannya.


"Ayahmu seorang pahlawan yang sudah banyak menyelamatkan banyak nyawa. Dia juga seorang family man dan seorang suami idaman," gumam Oscar lagi masih sambil menatap pada foto Paul.


"Hei, kau tidak tidur?" Oscar yang merasakan Peter yang mulai menggeliat-geliat segera meneriksa bayi tersebut. Kedua mata Peter memang sudah terbuka dan kini bayi tersebut menggosok-gosokkan wajahnya di dada Oscar seolah mencari sesuatu.


"Kau mencari apa, Peter?"


"Aku tidak punya payud*ra seperti milik ibumu," Oscar mulai tertawa kecil karena Peter yang tak berhenti menggosok-gosokkan wajahnya ke dada Oscar.


"Astaga! Ini geli sekali," kekeh Oscar sembari melihat ke pintu kamar mandi yang akhirnya dibuka dari dalam. Rivera keluar dan langsung menghampiri Oscar.

__ADS_1


"Ada apa? Peter menangis?" Tanya Rivera khawatir.


"Tidak, dia hanya salah paham dan mengira aku punya sumber makanannya seperti milikmu itu," jawab Oscar seraya menunjuk ke dada Rivera dan peia itu masih tertawa


"Maaf, aku tak bermaksud," sergah Oscar cepat karena sudah lancang menunjuk-nunjuk pada dada Rivera.


Sial!


Semoga Rivera tak ikut-ikutan salah paham.


Rivera mengulas senyum, lalu mengambil Peter dari gendongan Oscar.


"Aku akan menyusuinya dulu kalau begitu," ujar Rivera.


"Ya! Dan aku akan keluar," Oscar sedikit salah tingkah.


"Bye, Peter! Good night!" Ucap Oscar selanjutnya pada Peter sebelum pria itu keluar dari kamar Rivera. Tak lupa Oscar juga menutup pintu kamar dan masih bisa Oscar lihat sekilas Rivera yang membuka kancing baju bagian atasnya, lalu mengeluarkan sesuatu yang kenyal dari dalam sana.


Sial!


Kenapa Oscar lancang mengintip?


Oscar tak berhenti menggerutu dan merutuki dirinya sendiri, hingga pria itu merebahkan tubuhnya di sofa ruang depan rumah Rivera. Oscar melipat kedua tangannya ke belakang kepala, lalu menatap pada langit-langit rumah, saat adegan Rivera membuka kancing baju tadi kembali berkelebat di benaknya.


Brengsek!


Sialan!


Oscar mengumpat berulang-ulang, lalu pria itu menutupi wajahnya dengan selimut. Oscar berusaha keras untuk memejamkan mata dan mengusir bayangan Rivera.


****


"Kau dan Peter akan pergi? Kenapa?" Tanya Jesslyn suatu hari setelah gadis itu tak sengaja menguping pembicaraan Rivera di telepon dengan seseorang.


"Karena aku tak lagi punya alasan untuk tetap tinggal di sini, Jess!"


"Paul sudah pergi dan aku tak memiliki siapa-siapa lagi disini-"


"Aku bukan keluargamu?" Jess menyela.


"Tentu saja kau adalah keluargaku," jawab Rivera cepat.


"Lalu kenapa kau masih ingin pergi? Kau tak lagi menyayangiku?" Tanya Jesslyn sekali lagi.


"Tentu saja aku menyayangimu, Jess! Kau sudah aku anggap seperti putriku-"


"Seperti?" Jess kembali menyela.


"Kenapa aku tak kau jadikan putrimu yang sesungguhnya saja kalau begitu?" Lanjut Jesslyn lagi to the point.


"Tidak bisa seperti itu!"


"Sudah ada Oscar yang begitu menyayangimu dan peduli kepadamu." Ucap Rivera cepat.

__ADS_1


"Tapi Oscar tak seperti kau," sergah Jesslyn yang langsung membuat Rivera mengernyit.


"Maksudku, Oscar tak pernah memberikan sesuatu yang aku inginkan..." Jesslyn berucap dengan sendu.


"Kau menginginkan apa memangnya?"


"Sebuah keluarga."


"Oweek!" Tangisan Peter menyentak lamunan Rivera tentang obrolannya bersama Jesslyn beberapa hari yang lalu. Rivera memang belum bicara pada Oscar perihal permintaan sederhana Jess untuk memiliki sebuah keluarga.


Rivera sedikit bingung harus mulai bicara darimana. Karena Rivera juga tahu kalau Oscar bukanlah pria yang percaya pada sebuah ikatan pernikahan seperti halnya Paul.


"Pernikahan bukan prioritas utama dalam hidupku karena aku mencintai kebebasan dan aku tak suka hidup dalam sebuah ikatan." Tutur Oscar suatu hari pada Paul dan Rivera tak sengaja mendengar obrolan dua pria tersebut.


"Jadi, kau dan Mommy-nya Jess tak pernah menikah?" Tanya Paul penasaran.


Oscar menggeleng.


"Kami hanya tinggal bersama dan aku merawatnya hingga kemudian ia pergi untuk selamanya."


"Padahal memiliki sebuah keluarga begitu menyenangkan, Osh!"


"Dan aku sama sekali tak tertarik!"


"Aku tak tertarik pada sebuah pernikahan!"


Ceklek!


Suara pintu kamar yang dibuka dari luar membuyarkan lamunan Rivera.


"Peter rewel lagi?" Tanya Oscar yang rupanya masih belum tidur. Atau mungkinkah pria itu terganggu dengan tangisan Peter.


"Dia hanya haus," jawab Rivera cepat ssrata lanjut menyusui Peter.


"Maaf, jika tangisan Peter mengganggumu, Osh!" Ucap Rivera merasa tak enak hati.


"Aku memang sedikit insomnia, jadi ini sama sekali tak ada hubungannya dengan tangisan Peter," jawab Oscar santai.


"Syukurlah kalau begitu!"


"Oweek!" Peter kembali menangis dan Rivera segera menenangkan bayi laki-lakinya tersebut.


"Biar aku yang menggendongnya. Mungkin dia memang sudah kenyang," izin Oscar saat Rivera menyodorkan payud*ranya pada Peter, namun bayi itu menolak .


Rivera akhirnya memberikan Peter pada Oscar, dan secara ajaib bayi itu sudah langsung diam dan merasa nyaman pada Oscar.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2