The Escort Man

The Escort Man
KERJA APA?


__ADS_3

Oscar berulang kali menghitung gaji pertamanya setelah bekerja di sebuah minimarket dua puluh empat jam dan raut wajah pria itu terlihat tak percaya.


"Pak, anda yakin tidak salah memberikan gaji untuk saya?" Tanya Oscar sekali lagi pada manajer toko.


"Kenapa? Gajimu kelebihan?" Manajer toko mengambil uang ditangan Oscar, lalu menghitungnya dengan cepat.


"Sudah pas!"


"Silahkan pulang, Tuan Petrichor! Dan sampai jumpa besok!" Ujar manajer toko dengan raut wajah yang terlihat begitu santai.


"Tapi-"


"Saya bekerja full setiap hari, Pak! Kenapa gaji saya hanya segini?" Protes Oscar yang sama sekali tak digubris oleh manajer toko.


Oscar hanya mampu menggeram dan akhirnya pria itu keluar dari toko dengan raut wajah frustasi. Gaji Oscar saat ini sama sekali tak ada apa-apanya dengan bayaran saat dulu ia menjadi escortman. Uang di tangannya saat ini bahkan hanya cukup untuk membayar sewa rumah saja. Lalu bagaimana Oscar dan Jesslyn akan makan dan melanjutkan hidup ke depannya?


Bolehkah Oscar kembali ke pekerjaan lamanya saja dan kembali menjual diri pada para wanita kaya lagi?


****


"Kau sudah bertanya pada manajer tentang gaji saat kenarin kau melanar pekerjaan?" Tanya Jesslyn setelah mendengar keluh kesah Oscar tentang gajinya yang hanya cukup untuk membayar uang sewa rumah.


"Tidak!"


"Aku pikir gajinya akan sebesar saat aku menjadi escortman kemarin," jawab Oscar yang langsung membuat Jesslyn memutar bola matanya.


"Salahmu berarti yang tak menanyakannya sejak awal," komentar Jesslyn yang malah menyalahkan Oscar.


"Bisakah kau berhenti menyalahkanku dan membuat aku terlihat seperti pria yang bodoh?"


"Kenapa kau tak cari solusi saja agar kita mendapat uang tambahan untuk makan dan uang sekolahmu!" Cecar Oscar mearsa emosi pada Jesslyn.


"Sudah kubilang aku tak akan sekolah! Aku masih bisa belajar di rumah dan kau juga tak keberatan mengajariku sejak kemarin," ujar Jesslyn kembali menegaskan.


"Tak keberatan tapi kepalaku nyaris meledak," gumam Oscar sedikit kesal.


"Jadi kau tak mau mengajariku lagi, begitu?" Tanya Jesslyn yang langsing membuat Oscar berdecak.


"Aku tak berkata seperti itu! Aku hanya sedang mengatakan dengan jujur uneg-uneg dalam hatiku!" Sergah Oscar mencari pembelaan.


"Terserah!" Gumam Jesslyn malas.


"Ngomong-ngomong tentang penghasilan tambahan tadi, aku rasa kau harus mencari pekerjaan satu lagi agar punya penghasilan tambahan," pendapat Jesslyn memberikan saran pada Oscar.


"Maksudmu, aku harus melakukan dua pekerjaan dalam satu hari, begitu?" Tanya Oscar seraya menatap tak percaya pada Jesslyn.


"Ya! Bukankah kau mau penghasilan tambahan? Maka kau harus bekerja keras, Oscar!" Jawab Jesslyn yang sudah seperti ahli saja. Berbeda dengan Oscar yang kini mengusap wajahnya berulang-ulang serta terlihat frustasi.

__ADS_1


"Aku boleh menjual diri lagi?" Tanya Oscar yang langsung berhadiah delikan dari Jesslyn.


"Baiklah, aku hanya bercanda!" Oscar mengangkat kedua tanganmya seraya terkekeh.


"Aku hanya beli dua burger untuk makan malam kita! Uangnya sudah habis untuk membayar sewa rumah." Oscar mengangsurkan kantong burger ke tangan Jesslyn yang mungkin sudah kelaparan sekarang.


"Terima kasih! Setidaknya aku akan menjadi gendut beberapa minggu lagi karena kau terus menyumpaliku dengan junkfood ini!" Jawab Jesslyn seraya terkekeh. Jesslyn membuka kantong burger yang tadi diberikan oleh Oscar, lalu mengeluarkan dua buah burger dari dalam sana dan memberikannya satu pada Oscar.


"Menurutmu, aku harus bekerja apa lagi agar kita bisa makan besok?" Tanya Oscar meminta pendapat Jesslyn.


"Kau bisa jadi kurir makanan," cetus Jesslyn memberikan ide.


"Aku tak hafal jalan-jalan disini. Bagaimana kalau nanti aku tersesat?" Ujar Oscar beralasan.


"Menjaga balita?" Jesslyn memberikan ide lain.


"Aku takut tiba-tiba meledak lalu membanting balita yang aku jaga." Oscar sedikit terkekeh.


"Bekerja di pencucian mobil!" Ujar Jesslyn yang entah mengapa tak pernah kehabisan ide.


"Memang ada lowongan? Bukannya mereka biasa memakai mesin?" Tanya Oscar yang langsung membuat Jesslyn mengangguk.


"Benar juga."


"Tapi tidak ada salahnya bertanya, Osh!" Jesslyn ternyata pantang menyerah.


****


Oscar pulang sedikit cepat dan pria itu tak sengaja melihat Jesslyn yang sepertinya juga baru pulang. Gadis sepuluh tahun itu terlihat masuk ke dalam gedung rumah sewa, lalu naik lift. Oscar buru-buru mengejar karena merasa penasaran, Jesslyn darimana.


"Jess!" Panggil Oscar saat Jesslyn baru membuka kunci pintu. Gadis itu juga terlihat menentang sesuatu di tangannya.


"Kau darimana?" Tanya Oscar oenuh selidik.


"Kau sudah pulang, Osh? Kenapa cepat sekali-"


"Kau darimana?" Oscar mengulangi pertanyaannya.


"Bekerja!" Jawab Jesslyn seraya mendorong pintu setelah ia berhasil membuat kuncinya. Gadis itu langsung masuk ke dalam disusul oleh Oscar yang ikut masuk.


"Apa maksudmu bekerja? Dan orang bodoh mana yang mempekerjakan anak berumur sepuluh tahun-"


"Umurku tujuh belas tahun di luar sana!" Sela Jesslyn memotong cecaran Oscar.


Dilihat dari postur tubuh, Jesslyn memang terlihat seperti gadis tujuh belas tahun. Gadis itu berperawakan tinggi dengan tubuh yang lumayan berisi.


"Kau bekerja apa?" Tanya Oscar memicing curiga.

__ADS_1


"Hanya menjaga balita!" Jawab Jesslyn seraya mengeluarkan makanan dari kantung yang tadi ia bawa.


"Menjaga balita? Kau seorang anak-anak, Jess! Bagaimana kau bisa menjaga seorang balita?" Tanya Oscar tak percaya.


"Aku belajar!" Sergah Jesslyn cepat.


"Lagipula, aku hanya menjaga mereka dua sampai tiga jam dan bukan seharian! Jadi itu bukan pekerjaan sulit!" Ujar Jesslyn bercerita pada Oscar.


"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu? Terakhir kali kau di dapur saja kau hampir membakarnya?" Oscar masih saja khawatir dan mengungkit-ungkit kejadian di rumah lama mereka.


"Aku menjaga balita, Osh! Bukan memasak!"


"Dan aku tak di dapur saat menjaga balita!" Sergah Jesslyn menerangkan.


"Lihat! Aku bisa membeli makanan untuk kita berdua dengan uang bayaranku!" Ucap Jesslyn lagi yang hanya membuat Oscar berdecak. Bukan makanan mewah menang yang dibeli Jesslyn. Tapi setidaknya itu cukup untuk mengisi perut Oscar dan Jesslyn ketimbang harus menahan lapar seharian.


"Berapa kali kau melakukan pekerjaan ini?" Tanya Oscar lagi menyelidik.


"Ini yang ketiga kalinya," jawab Jesslyn jujur.


"Kau seharusnya tak perlu melakukan pekerjaan itu, Jess! Aku pasti akan mencari pekerjaan sampingan-"


"Aku sama sekali tak merasa terbebani, Osh!" Potong Jesslyn cepat.


"Aku suka menjaga balita, karena di sana aku bisa menonton televisi dan pemilik rumah juga memperbolehkan aku makan kudapan yang ada di kulkasnya," cerita Jesslyn lagi yang seolah mengingatkan Oscar kalau dirinya memang belum bisa memberikan fasilitas serta tempat tinggal layak untuk Jesslyn.


"Baiklah, jika memang kau menyukainya," putus Oscar yang akhirnya tak punya alasan lagi untuk melarang Jesslyn.


"Tapi jangan jauh-jauh dari rumah dan jangan sekali-kali mencuri di rumah tuan rumah!" Oscar memperingatkan sekaligus menuding pada Jesslyn.


"Aku tidak pernah mencuri barang orang lain!" Elak Jesslyn cepat.


"Kau pernah mencuri uangku!" Oscar mengingatkan kelakuan Jesslyn di rumah lama mereka.


"Bukankah uangmu adalah uangku juga? Aku tanggung jawabmu!" Jawab Jesslyn yang langsung membuat Oscar mendengus dan mencibir.


"Bisa saja kau beralasan!"


"Ayo makan!" Ajak Jesslyn seraya menyodorkan satu kotak makanan ke hadapan Oscar. Ayah dan putrinya otu menikmati makanan mereka masih sambil mengobrol sesekali.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2