The Escort Man

The Escort Man
SEHARUSNYA


__ADS_3

"Kemarilah!" Ucap Rivera dengan nada sensual menggoda pada Oscar yang masih duduk di kursinya.


"Oscar!" Panggil Rivera lagi yang terdengar seperti buaian sensual di telinga Oscar.


Oscar menelan saliva berulang kali, sebelum akhirnya pria itu bangkit dari atas sofa, dan menghampiri Rivera yang tengah meliuk-liuk di atas ranjang dan hanay mengenakan sebuah kemeja tipis.


Astaga!


Sudah lama sekali Oscar tak disuguhi pemandangan seperti ini.


"Oscar!"


"Ya!" Jawab Oscar dengan hasrat yang sudah naik ke ubun-ubun.


"Oscar!" Panggil Rivera lagi yang semakin membuat Oscar mabuk kepayang.


"Oscar!"


Oscar sudah semakin dekat dengan Rivera yang berulang kali menyebut namanya dengan suara merdu yang memang dimiliki wanita itu.


"Oscar!"


"Aku datang, Sayang!" Jawab Oscar penuh semangat seraya mulai membuka satu persatu kancing kemeja Rivera. Namun baru kancing ketiga yang terbuka, Oscar mendadak mendengar suara menyebalkan Jesslyn serta gempa bumi....


Apa?


Gempa bumi?


"Oscar!"


Oscar refleks membuka kedua matanya dan pria itu menatap linglung ke sekitar. Tak ada lagi Rivera yang hanya mengenakan kemeja, dan kini yang ada di hadapan Oscar adalah Jesslyn.


Apa?


"Kau sedang apa disini, Jess?" Tanya Oscar pada sang putri yang kini menatapnya dengan aneh.


"Membangunkanmu!"


"Memangnya kau pikir aku sedang apa? Menyanyikan lagu nina bobo untukmu?" Jawab Jesslyn ketus seraya berdecak.


Oscar ikut berdecak, sebelum kemudian pria itu melemparkan pandangannya ke atas ranjang Rivera demi mencari keberadaan sesosok tubuh yang tadi datang ke dalam mimpinya.


Sial sekali!


Apa memang yang Oscar pikirkan semalam, hingga ia bisa bermimpi hampir bercinta dengan Rivera.


Hampir, namun Oscar masih bisa merasakan sensasinya serta hasratnya yang kini mendesak untuk segera dituntaskan.


Oh, yeah!


Dituntaskan bukan bersama Rivera tentu saja!


Tapi bersama sabun dan air dingin di dalam kamar mandi Rivera.

__ADS_1


Dasar sialan!


"Sedang mencari siapa?" Teguran Jesslyn lagi-lagi menyentak lamunan Oscar.


"Rivera dimana?' Tanya Oscar to the point karena tak mendapati Rivera di ayas ranjang. Bukankah semalam wanita itu masih demam? Lalu kenapa sekarang sudah berkeliaran?


"Di depan sedang memilah beberapa barang," jawab Jesslyn seraya bersedekap. Namun jawaban Jesslyn sontak membuat kedua bola mata Oscar membulat.


"Memilah barang? Rivera mau mengadakan garage sale?" Tanya Oscar seraya tertawa sumbang.


"Rivera mau pindah lebih tepatnya. Apa dia belum memberitahumu?" Ujar Jesslyn yang balik bertanya pada Oscar.


"Pindah?"


"Lagipula, aku berencana untuk pulang ke kampung halamanku bersama Peter, setelah menunaikan keinginan terakhir Paul."


"Pulang kemana?"


"Ke rumah keluarga besarku. Mungkin bulan depan aku sudah berangkat."


Kalimat Rivera satu bulan lalu mendadak berkelebat di benak Oscar.


"Oscar!" Tegur Jesslyn lagi yang langsung membuat Oscar buru-buru beranjak dari sofa, lalu keluar dari kamar untuk mencari Rivera. Wanita itu terlohat sedang memasukkan beberapa foto ke dalam box.


"Rivera!" Panggil Oscar seraya menghampiri Rivera.


"Hai, kau sudah bangun?"


"Terima kasih karena sudah merawatku semalam," Ucap Rivera tulus, sebelum wanita lanjut berkemas.


"Ya! Aku sudah sehat," Rivera kembali menatap pada Oscar dan mengulas senyum.


"Dan aku akan pergi besok bersama Peter," lanjut Rivera lagi seolah sedang memberitahu Oscar.


"Kenapa mendadak?" Tanya Oscar lirih.


"Sama sekali tidak mendadak. Aku sudah memberitahu kau dan Jess sebulan lalu."


"Jadi ini sama sekali tak mendadak," tutur Rivera seraya menghela nafas.


"Lagipula, aku sudah menunaikan keinginan terakhir Paul. Jadi tugasku disini sudah selesai dan aku sudah bisa pergi," ujar Rivera lagi seraya menutup kotak di depannya, karena wanita itu sudah selesai memasukkan barang-barang penting ke dalamnya.


"Aku akan lanjut mengemasi bajuku dan baju-baju Peter," ucap Rivera lagi seraya berlalu dari hadapan Oscar yang sejak tadi hanya membisu.


"Kau harus mencegah Nona Rivera pergi, Osh!" Bisik Jesslyn yang sudah ganti menghampiri Oscar yang sejak tadi hanya bungkam.


"Menghentikan bagaimana? Aku tak bisa mengganggu keputusannya," jawab Oscar merasa bimbang, galau, dan bingung. Oscar juga tak tahu ia kenapa.


"Kau sudah berjanji pada Paul kalau kau akan menjaga Peter dan Nona Rivera!" Jesslyn mengingatkan Oscar sekali lagi.


"Aku tahu dan aku ingat, Jess! Tapi jika ini sudah menjadi keputusan Rivera, aku bisa apa memangnya?" Sergah Oscar seraya mengacak rambutnya sendiru karena merasa frustasi.


"Mungkin Nona Rivera tak akan pergi jika kau melamarnya dan mengajaknya menikah!" Jawab Jesslyn seraya menatap lekat pada wajah Oscar.

__ADS_1


Oscar balas menatap pada wajah Jesslyn saat nasehat Rivera tempo harj berkelebat lagi di kepala Oscar.


"Jess menginginkan sebuah keluarga, dimana ada Mom, Dad, lalu Jess sebagai seorang putri."


"Jess punya hak untuk tumbuh dan besar di dalam sebuah keluargq yang utuh, Oscar! Jadi tolong pertimbangkan kembali tentang prinsip hidupmu itu!"


"Apa kau pernah meminta Rivera untuk menjadi Mom-mu?" Tanya Oscar akhirnya masih menatap pada sang putri.


"Nona Rivera memang selalu menganggap aku sebagai putrinya." Jesslyn mengendikkan kedua bahunya.


"Lalu aku juga pernah bertanya, jika memang ia menganggap aku sebagai putrinya, kenapa dia tetap ingin pethi dan tidak tinggal disini saja seterusnya-"


"Lalu apa jawaban Rivera?" Sela Oscar memotong.


"Katanya, Nona Rivera tak punya alasan lagi untuk tetap tinggal disini." Kedua mata Jess sudah berkaca-kaca.


"Buat Nona Rivera memiki alasan untuk tetap disini, Osh!" Pinta Jesslyn pada Oscar.


Oscar hanya membisu, hingga suara tangisan Peter membuat Jesslyn cepat-cepat menyeka airmatanya. Gadis itu segera berlalu meninggalkan Oscar yang masih bingung dengan pikirannya sendiri.


****


Oscar pulang lebih cepat dari alun-alun kota. Setelah memarkirkan truk-nya, pria itu langsung masuk ke dalam rumah Rivera. Samar-samar terdengar tangisan Peter dari dalam rumah. Ada apa lagi dengan bayi laki-laki Rivera itu?


"Kau sudah pulang?" Sapa Jesslyn saat melihat Oscar datang.


"Peter kenapa?" Tanya Oscar khawatir karena bayi itu sepertinya rewel. Padahal besok pagi-pagi Rivera akan membawanya pergi.


"Peter mendadak demam," lapor Jesslyn yang langsung membuat Oscar bergegas menghampiri Peter di dalam kamar. Rivera terlihat sedang berusaha menenangkan bayinya tersebut.


"Biar aku gendong," izin Oscar seraya mengambil alih Peter dari gendongan Rivera.


"Mungkin tertular aku kemarin," ujar Rivera menerka-nerka.


"Sudah kau berikan obat penurun panas?" Tanya Oscar memastikan. Pria itu masih menimang-nimang Peter yang petlahan mulai tenang.


"Ya!" Jawab Rivera lirih.


"Besok kami harus-"


"Tidak bisakah kau undur menjadi lusa atau minggu depan?" Oscar memotong kalimat Rivera dengan cepat.


"Peter sedang tidak fit, dan tidak baik membawanya bepergian," ujar Oscar lagi menasehati Rivera.


"Ya!" Putus Rivera akhirnya yang sedikit membuat Oscar lega. Oscar masih mendekap Peter dan perlahan bayi itu mulai terlelap.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2