The Escort Man

The Escort Man
KAU AKAN MEMBERITAHUNYA?


__ADS_3

"Oscar! Paul dimana?" Tanya Rivera saat wanita itu melihat Oscar yang datang sembari menggendong Jesslyn di punggungnya.


"Paul...."


"Dia menyuruhku pergi duluan tadi," jawab Oscar tergagap, merasa tak sampai hati untuk mengatakan pada Rivera tentang apa yanh terjadi pada Paul.


"Paul masih menyelamatkan orang-orang yang terjebak?" Tebak Rivera yang sepertinya begitu paham dan pengertian dengan pekerjaan Paul yang memiliki jiwa kemanusiaan begitu tinggi.


"Ya! Dia mengatakan nanti akan menyusul kemari. Dan dia mint aku menjagamu sementara ini," tutur Oscar yang terpaksa mengarang cerita. Namun Rivera seolah langsung paham dan wanita itu hanya mengangguk.


"Kau kenapa, Jess? Apa kau terluka?"


"Turun dan duduklah disini!" Rivera membimbing Jesslyn agar turun dengan hati-hati dari punggung Oscar. Wanita itu lalu menyuruh Jesslyn untuk duduk dab memberikan air mineral pada Jesslyn.


"Kau cedera?" Tanya Rivera seraya memeriksa tangan dan kaki Jesslyn.


"Aku baik-baik saja, Nona Rivera!" Jawab Jesslyn cepat, sebelum gadis itu meneguk air mineral di botolnya.


"Baiklah! Aku akan memeriksa yang lain sembari menunggu Paul datang," Pamit Rivera seraya pergi dari hadapan Jesslyn.


Oscar yang hanya membisu sejak tadi, akhirnya duduk di samping Jesslyn, dan memeluk lututnya sendiri.


"Apa Paul tidak selamat?" Tanya Jesslyn berbisik pada Oscar. Kedua mata gadis itu sudah berkaca-kaca sekarang.


"Aku tidak tahu!"


"Paul tertimpa reruntuhan bianglala sialan tadi dan kecil kemungkinn dia bisa selamat," jawab Oscar seraya menyeka airmata Jesslyn.


"Lalu kau akan memberitahu Nona Rivera?" Tanya Jesslyn lagi.


"Tidak sekarang!" Jawab Oscar lirih.


"Rivera sedang hamil tua, dan jika wanita itu mendengar apa yang terjadi pada Paul...." Oscar tak mampu melanjutkan kalimatnya karena membayangkan bagaimana sedihnya Rivera saat tahu suami yang begitu ia cintai mengalami kecelakaan karena menyelamatkan Jesslyn.


"Seharusnya aku yang menyelamatkanmu saja tadi agar Paul tak perlu mengalami insiden ini," gumam Oscar penuh sesal. Jesslyn langsung menghambur ke pelukan Oscar dan tampak sekali kalau gadis itu sedang bersedih sekarang.


Saat Oscar masih berusaha meredakan kesedihan Jesslyn, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari arah Rivera pergi tadi.


"Ada apa, Osh? Apa ada gempa susulan lagi?" Tanya Jesslyn yang sudah dengan cepat menyeka airmatanya dan melongok penasaran ke dalam kerumunan.


"Bukan gempa susulan," jawab Oscar cepat. Pria itu langsung mengajak Jesslyn untuk bangkit berdiri.


"Ayo kita cari tahu!"


Oscar dan Jesslyn berjalan ke arah kerumunan.


"Panggil ambulance!"


"Rumah sakit penuh dan tidak ada ambulance kosong!"

__ADS_1


"Berikan ruang!"


Suara orang-orang saling bersahutan dan Oscar bergegas menyibak kerumunan.


"Bawa saja ke tenda darurat!" Seru seseorang bersamaan dengan Oscar yang melihat Rivera yang sudah terduduk dan mengeluarkan darah dari jalan lahirnya.


"Ada apa? Dia mau melahirkan?" Tanya Oscar cepat pada orang-orang yang mengelilingi Rivera.


"Kau suaminya?" Seseorang tiba-tiba menarik Oscar agar ikut membantu mengangkat Rivera dan membawanya ke sebuah tenda darurat yang sepertinya juga baru didirikan karena masih seadanya.


Kini Oscar duduk sambil memangku Rivera yang terlihat kesakitan. Wanita itu berulang kali menarik nafas panjang sambil merem*s paha Oscar.


"Paul belum datang?" Tanya Rivera lirih pada Oscar yang langsung menggeleng.


"Jaga Rivera!" Kalimat terakhir Paul kembali terngiang di benak Oscar.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Oscar seraya menyeka peluh yang memenuhi wajah Rivera.


"Ya!"


"Tidak apa-apa jika aku yang menemanimu sementara?" Tanya Oscar merasa ragu. Namun Rivera dengan cepat menggeleng.


"Jangan kemana-mana sampai Paul datang-"


"Aaarrrrgh!" Rivera mengerang dan wanita itu terlihat kesakitan.


Ya ampun! Oscar gugup sekarang.


"Dokter, dia kesakitan!" Oscar berteriak pada entah dokter entah perawat yang akan membantu proses persalinan Rivera.


Semoga tak ada lagi gempa susulan!


"Pembukaannya hampir lengkap, Pak! Tetap rileks agar ibunya juga rileks!" Ujar dokter yang bisa-bisanya terlihat santai. Oscar sudah gugup setengah mati sekarang.


Rivera kembali mengerang dan rem*san tangan wanita itu di paha Oscar semakin kencang.


Wajah Oscar sudah turut dipenuhi peluh karena kepanasan di dalam tenda sekaligus karena merasa gugup mendampingi Rivera.


Pembukaan Rivera akhirnya lengkap dan Oscar tetap setia berada di belakang wanita itu, menemani proses kelabayi Rivera dan Paul yang bisa dibilang sangat cepat. Rivera hanya mengejan sekali dan bayi laki-laki tampan itu sudah langsung lahir dan menangis.


Ya!


Bayi Rivera dan Paul ternyata berjenis kelamin laki-laki.


"Congrats!" Ucap Oscar saat bayi mungil itu diletakkan di dada Rivera dan sedikit menggeliat.


Sesaat, Oscar tercenung sekaligus merasa takjub karena ini kali pertama ia menyaksikan bagaimana seorang wanita berjuang untuk melahirkan satu kehidupan baru ke dunia ini.


"Bisa kau mencari Paul dan memberitahumya kalau bayi kami sudah lahir?" Pinta Rivera yang langsung membuat hati Oscar mencelos. Susah payah Oscar menelan ganjalan pahit di dalam tenggorokannya sebelum pria itu menjawab permintaan Rivera.

__ADS_1


"Aku-"


"Aku akan mencari Paul!" Jawab Oscar lirih.


"Terima kasih, Oscar!" Ucao Rivera seraya tersenyum tulus yang justru membuat Oscar merasa semakin tak tega untuk mengatakan kondisi Paul yang sebenarnya. Oscar mendongakkan wajahnya, lalu bergegas keluar dari dalam tenda, sebelum airmatanya tumpah.


Sial!


"Oscar, Nona Rivera sudah melahirkan?" Tanya Jesslyn yang rupanya menunggu di luar tenda sejak tadi.


"Ya! Bayinya tampan," jawab Oscar dengan tatapan bingung.


"Dan dia ingin aku mencari Paul sekarang," lanjut Oscar lagi yang langsung membuat Jesslyn menggenggam erat tangan Oscar.


"Kau temani Rivera dan bayinya dulu! Aku akan kembali ke tempat Paul tadi," tikas Oscar akhirnya yangasih berharaada keajaiban.


"Hati-hati!" Pesan Jesslyn sebelum Oscar berlalu pergi dan kembali ke reruntuhan bianglala raksasa tadi. Sudah banyak tim penyelamat yang melakukan pencarian para korban yang tertimbun. Oscar yang masih ingat betul letak Paul tertimbun tadi langsung ikut mencari. Oscar juga memanggil beberapa anggota tim penyelamat untuk membantunya.


"Iya, disini!"


"Cepat gali!" Perintah Oscar tak sabar pada tim penyelamat. Pria itu ikut menggali dan mengais puing-puing dengan tangan kosong, saat akhirnya Oscar melohat tangan Paul.


"Paul!"


Oscar menggali lebih cepat dan merebut salah satua alat dari tim oenyelamat.


"Paul, bertahanlah!"


"Paul! Kau sudah jadi seorang ayah!" Oscar terus menggali sembari berharap Paul masih bernafas di bawah sana.


"Paul!"


Oscar menarik tubuh Paul dibantu oleh beberapa tim penyelamat.merekq langsung memeriksa detak jantung serta nafas Paul yang sudah tak ada sama sekali.


"Dia sudah meninggal,"ujar seorang anggota tim penyelamat yang langsung membuat Oscar frustasi.


"Tidak!!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Mampir baca Zeline juga, ya!


Rilis hari ini 💜💜

__ADS_1


__ADS_2