The Escort Man

The Escort Man
TANGGUNG JAWAB


__ADS_3

"Welcome!" Ucap Oscar seraya membuka pintu rumah Rivera.


Oscar memang baru selesai membersihkan sekaligus sedikit memperbaiki rumah Rivera dan Paul ini setelah beberapa kerusakan kecil efek dari gempa kemarin. Tak lupa, Oscar dan Jesslyn juga sedikit menghias rumah untuk menyambut Baby Peter yang hari ini pulang ke rumah.


"Aku dan Oscar sedikit memberikan hiasan di rumahmu untuk menyambut Baby Peter," lapor Jesslyn pada Rivera.


"Bagus!" Puji Rivera yang terlihat senang.


"Terima kasih-"


"Biar aku yang menggendong Peter agar kalian bisa berpelukan," Oscar mengambil alih Baby Peter dari gendongan Rivera, dan membiarkan Rivera dan Jesslyn saling berpelukan.


"Dan Oscar juga mengijinkan aku tinggal disini untuk sementara, Nona Rivera! Agar aku bisa sedikit membantu menggendong baby Peter," ujar Jesslyn lagi memberitahu Oscar.


"Benarkah?" Tanya Nona Rivera tak percaya. Namun Jesslyn segera mengangguk dengan yakin.


"Lalu nanti siapa yang akan mengurus Oscar, jika dia di rumah sendiri?" Tanya Rivera selanjutnya yang langsung membuat Oscar mengernyit.


"Mengurus apa?" Tanya pria itu bingung.


"Mengurus kau! Karena Jess dulu pernah mengatakan padaku jika kau belum bisa mengurus dirimu sendiri, Osh," terang Rivera yang langsung membuat Oscar menggeram pada Jesslyn.


"Jess!"


"Apa? Aku bicara kenyataan!" Sergah Jesslyn menatap berani pada Oscar.


"Tapi aku tak sepayah itu!"


"Ya, belakangan ini kau memang tak lagi payah dan kau sudah banyak berubah," tukas Jesslyn seraya tersenyum bangga pada Oscar.


"Kau sedang memujiku?" Tanya Oscar memastikan.


"Oh, tentu saja tidak! Aku sama sekali tak sedang memujimu," sanggah Jesslyn cepat.


"Kau memujiku barusan!" Oscar tetap bersikeras.


"Percaya diri sekali!" Cibir Jesslyn seraya menghampiri Oscar, lalu mengambil alih baby Peter dari gendongan Oscar.


"Awas, hati-hati!" Oscar memperingatkan Jesslyn.


"Hey! Aku lebih pandai menggendong ketimbang kau yang kaku itu!" Cibir Jesslyn sekali lagi pada Oscar dengan nada sombong


"Pulang sana!" Usir Jesslyn selanjutnya pada Oscar.


"Kenapa mengusirku? Aku masih mau memasak makan siang untuk Rivera karena biasanya wanita menyusui cepat sekali lapar," ujar Oscar berteori.


"Hmmmm, aku penasaran kau tahu darimana?" Tukas Jesslyn penasaran


"Dari pengamatan sekaligus dari artikel yang aku baca," jawab Oscar membuat membuat pengakuan.


"Aku akan memasak sendiri dan terima kasih atas semua perhatianmu, Osh!" Ucap Rivera merasa tak enak karena sudah banyak merepotkan Oscar.


"Sama sekali tak repot, Rivera! Kau bisa beristirahat sementara aku menyiapkan makan siang," tukas Oscar sebelum kemudian pria itu pergi ke dapur di rumah Rivera dan mulai berkutat dengan bahan-bahan masakan yang juga baru Oscar beli di ranch market dekat rumah.

__ADS_1


Rivera tak mencegah lagi, dan wanita itu ganti berbincang dengan Jesslyn yang masih menggendong baby Peter.


"Kapan kau mulai masuk sekolah, Jess?" Tanya Rivera pada putri Oscar tersebut.


"Lusa," jawab Jesslyn.


Rivera mengangguk. Wanita itu lalu memeriksa Peter yang sudah terlelap.


"Biar aku pindahkan ke kamar," ujar Rivera seraya mengambil alih Baby Peter dari gendongan Jesslyn. Rivera lalu membawa baby Peter ke kamar, dan membaringkannya di atas ranjang. Jesslyn ikut masuk ke kamar dan gadis itu juga sudah menguap.


"Kau ngantuk juga, Jess?" Tanya Rivera yang peka.


"Sedikit," jawab Jesslyn kembali menguap. Rivera sontak tertawa kecil.


"Tidurlah bersama Peter kalau begitu," titah Rivera pada Jesslyn yang tak lagi menunggu. Jesslyn langsung naik ke atas tempat tidur, lalu berbaring di samping Baby Peter sembari mengusap-usap punggung bayi Rivera tersebut.


Rivera hanya tersenyum menyaksikan kedekatan Jesslyn dan Baby Peter. Wanita itu memilih untuk keluar dari kamar, lalu menutup pintu perlahan dan masuk ke dapur


"Hai! Makanan siap sebentar lagi," ujar Oscar yang tangannya masih cekatan menyiapkan makanan.


"Kau mulai belajar masak sejak kapan, Osh?" Tanya Rivera membuka obrolan. Wanita itu duduk di minibar di dapur sambil masih memperhatikan Oscar.


"Aku lupa." Jawab Oscar seraya terkekeh.


"Sejak kuliah sepertinya, lalu saat aku bekerja pada Naomi aku tak lagi memasak karena Naomi sudah punya koki pribadi-"


"Naomi itu Mommy-nya Jesslyn?" Tanya Rivera menyela.


"Jadi, kau sudah lama tinggal bersama Naomi, sebelum lanjut tinggal bersama Jesslyn?" Rivera mulai menerka-nerka.


"Aku tinggal bersama Naomi sejak kuliah," terang Oscar yang langsung membuat Rivera mengangguk.


Oscar sudah selesai mengolah hidangan makan siang, dan pria itu segera menyajikannya ke hadapan Rivera.


"Aku tidak melihat Jess," tanya Oscar sedikit celingukan.


"Jess mengantuk. Jadi aku menyuruhnya tidur bersama Peter," ujar Rivera.


"Kau yakin Jess tidak akan menindih Peter? Aku sedikit khawatir-"


"Jess tidak akan melakukannya," potong Rivera yakin.


"Gadis itu sudah sangat peka dan dia terlihat menyukai Peter," ujar Rivera lagi sebelum kemudian wanita itu melahap makanan hasil masakan Oscar.


"Jess sempat bekerja sebagai pengasuh anak beberapa waktu yang lalu," ujar Oscar seraya memainkan garpunya di ayas piring.


"Benarkah? Pantas saja dia terlihat sudah begitu ahli," timpal Rivera memuji sikap manis Jesslyn pada Peter.


Sejenak suasana menjadi hening, karena Rivera dan Oscar tak lagi melanjutkan obrolan mereka. Hingga kemudian terdengar deheman dari Oscar.


"Ada apa?" Tanya Rivera karena raut wajah Oscar terlihat aneh.


"Apa minumanmu tumpah?" Tanya Oscar seraya menunjuk ke dada Rivera atau lebih tepatnya ke salah satu dari dua payud*ra Rivera yang terlihat basah.

__ADS_1


"Oh, ya ampun! Sebaiknya aku pompa dulu," ujar Rivera sebelum wanita itu bangkit berdiri dan meninggalkan Oscar yang langsung menrlan salivanya dengan susah payah.


Hasrat sialan!


Bisakah agar tidak datang saat siang-siang begini?


Oscar terus menggerutu dalam hati, saat pria itu mulai merasakan ada yang sesak di dalam celananya.


Sial!


Oscar emang sudah lama tak memikirkan soal bercinta dan tak pernah menuruti hasrat sialannya meskipun sekedar hanya dengan tangan. Lalu kenapa sekarang, hanya karena melihat gundukan berbentuk bulat sempurna milik River tadi, hasrat Oscar seketika membubung ke langit ke tujuh?


Oscar masih belum berhenti menggerutu, saat akhirnya pria itu memutuskan untuk pulang dan mandi air dingin, lalu sedikit melampiaskan hasrat sialannya.


"Rivera!" Panggil Oscar yang langsung melihat Rivera yang sedang duduk di sofa seraya memakai appron untuk menutupi dadanya.


Namun Oscar bisa melihat cairan berwarna putih yang mengalir dari pompa yang terhubung langsung ke dada Rivera.


Jadi, apa itu yang disebut air susu ibu? Bentuknya seperti susu pada umumnya, tapi kenapa Oscar mendadak jadi haus setelah melihatnya.


Glek!


Oscar menelan saliva dengan susah payah.


"Oscar, kau tadi ingin bicara apa?" Teguran Rivera membuyarkan lamunan konyol Oscar.


"Bicara...." Oscar berpikir keras karena otaknya malah blank mendadak.


"Aku akan pulang sebentar!" Lanjut Oscar setelah diam beberapa saat dan berpikir keras.


"Aku rasa, aku tadi lupa mengunci pintu atau jendela. Jadi aku akan memeriksanya." Jelas Oscar lagi panjang lebar.


"Baiklah, silahkan!" Ucap Rivera ramah. Wanita itu menutup pouch berisi ASI yang lagi-lagi sukses membuat Oscar menelan ludah sekali lagi.


"Baiklah, aku pulang dulu!"


"Bye!" Pamit Oscar yang langsung keluar dari rumah Rivera secepat kilat.


Sabun!


Air dingin!


Oscar butuh keduanya!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2