
Oscar yang baru sampai di rumah, langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dan membuang nafas berulang kali. Pria itu juga mengacak rambutnya sendiri yang sedikit gondrong karena Oscar sudah lupa kapan terakhir kali ia pergi ke barbershop.
Oscar mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah, hingga kemudian pandangannya berhenti di pintu kamar Jesslyn. Biasanya gadis itu akan langsung menyambut Oscar saat dirinya pulang, namun sore ini kenapa tumben Jesslyn tak terlihat?
Apa gadis itu sedang tidur?
Oscar bangkit berdiri, lalu menghampiri pintu kamar Jesslyn dan mengetuknya.
"Jess! Panggil Oscar pada hadir sepuluh tahun tersebut.
"Jesslyn! Apa kau tidur?" Seru Oscar lagi lebih keras. Tetap tak ada jawaban hingga akhirnya Oscar berinisiatif untuk mendorong pintu kamar Jesslyn yang ternyata tak dikunci. Dan Oscar semakin terkejut saat mendapati kamar Jesslyn yang kosong.
Apa?
Jesslyn kemana?
"Osh! Kau sudah pulang?" Sapa Jesslyn dari pintu depan yang langsung membuat Oscar bergegas menghampiri gadis itu.
"Kau darimana?" Tanya Oscar to the point seraya menatap tajam pada Jesslyn.
"Menjaga balita di apartemen seberang jalan," jawab Jesslyn seraya meringis.
"Kenapa sampai sore begini? Bukankah katamu kau biasanya hanya menjaga mereka tiga sampai empat jam?" Cecar Oscar lagi yang sepertinya terlihat marah.
"Kedua orang tuanya ada acara di luar sampai sore. Dan mereka bersedia membayar gajiku tiga kali lipat dari biasanya. Jadi aku ambil saja." Jawab Jesslyn berkata jujur.
"Lihat! Kita tak perlu makan burger lagi beberapa hari ke depan. Dan aku bisa makan sereal lagi dengan tambahan susu!" Jesslyn memamerkan uang di tangannya pada Oscar sekaligus memaparkan keinginan sederhana Jesslyn untuk sarapan dengan sereal yang tidak bisa sama sekali Oscar wujudkan
Astaga!
Kau benar-benar payah sebagai seorang Dad, Oscar!
"Kau mau mengantarku membeli sereal nanti, kan?" Tanya Jesslyn lagi sedikit merayu Oscar.
"Ya!" Jawab Oscar singkat dengan hati yang mencelos karena merasa gagal untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai Dad untuk Jesslyn.
"Kau tadi menjaga balita dari jam berapa?" Tanya Oscar lagi yang sudah duduk di sofa.
"Jam sepuluh pagi," jawab Jesslyn santai seraya menghitung uang di tangannya. Oscar kembali merutuki dirinya sendiri yang sudah membiarkan Jesslyn bekerja dari jam sepuluh pagi hingga sekarang jam lima sore. Dad macam apa kau itu, Osh?
Ah, tapi melarang Jesslyn juga rasanya akan sia-sia belaka karena gadis itu begitu keras kepala. Mirip Naomi dan juga Oscar tentu saja!
"Dan aku punya satu berita bagus untukmu!" Ujar Jesslyn tiba-tiba yang sudah ikut duduk di sofa samping Oscar dan membuat semua lamunan pria itu menjadi buyar.
"Berita bagus apa?" Tanya Oscar penasaran.
"Aku baru saja mendapatkan pekerjaan tambahan baru untukmu."
"Pekerjaan macam apa dan darimana kau mendapatkannya?" Cecar Oscar yang selalu saja curiga pada Jesslyn.
__ADS_1
"Menjadi tukang masak di sebuah truk makanan. Jam kerjanya dari sore hingga malam. Jadi tak akan mengganggu pekerjaan utamamu," terang Jesslyn panjang lebar.
"Lalu kapan aku akan tidur jika dari pagi sampai sore aku sudah bekerja di toko, lalu sore sampai malam kau menyuruhku kerja di truk makanan," protes Oscar yang sepertinya merasa keberatan.
"Kau tidur dari malam sampai pagi," jawab Jesslyn cepat.
"Ya, kau benar!"
"Aku harus mengurangi tidur agar tidak gendut," gumam Oscar yang hanya membuat Jesslyn terkekeh. Padahal sebenarnya bukan tanpa alasan Oscar menggumamkan kalimat tersebut. Oscar sedang rindu pada seseorang yang wajahnya mirip dengan gadis sepuluh tahun di depannya saat ini. Yang dulu kerap dan hobi mengomeli Oscar.
Naomi!
"Jadi, kau setuju mengambil pekerjaan itu, kan?" Tanya Jesslyn sekali lagi memastikan.
"Aku ambil!" Jawab Oscar mantap.
"Kapan aku mulai bekerja?" Tanya Oscar lagi.
"Besok malam!"
****
"Dia sekarang melakoni dua pekerjaan, Madame! Bekerja di toko serba ada saat pagi hingga sore, lalu menjadi tukang masak di truk makanan saat malam."
"Dia tinggal dimana?" Tanya wanita empat puluh tahun berambut pirang tersebut.
"Di sebuah rumah sewa kecil bersama putrinya."
"Ada lagi?" Tanyanya kemudian pada pria yang tadi memberikan laporan.
"Tidak ada, Madame Brennen!"
"Pergilah!"
"Dan tetap awasi mereka dari kejauhan!" Pungkas Aster yang masih memainkan pena di tangannya.
Aster menunggu hingga para pria suruhannya tadi pergi, sebelum kemudian wanita itu bermonolog sendiri.
"Kita lihat kau akan bertahan hidup dalam kemiskinan sampai kapan, Oscar!"
****
Oscar menggigit bibir bawahnya sembari tangannya tak berhenti bergerak di dalam selimut.
Sial memang!
Tapi hasrat Oscar sudah naik ke ubun-ubun sekarang karena pertunjukan live dari pelanggan truk makanan tadi.
Kenapa orang bisa bercinta di semak-semak seperti itu tanpa khawatir bokong mereka akan tertusuk duri atau milik mereka kemasukan ulat bulu.
__ADS_1
Aaarrrgh!
Oscar jadi penasaran bagaimana rasanya.
"Brengsek! Aku butuh tangan seseorang!" Oscar meringis sembari terus mengurut miliknya, saat tiba-tiba pintu kamar Jesslyn dibuka dari dalam dan gadis itu keluar dari kamarnya.
"Oh, dobel sialan!" Oscar mengumpat dalam hati dan buru-buru menutupi tubuhnya yang fullnaked dengan selimut hingga melewati kepala.
"Brengsek!" Oscar masih mengumpat di dalam selimut.
"Osh! Kau kenapa?" Tanya Jesslyn yang Oscar yakini sedang berdiri di samping sofa sekarang. Tangan Oscar sekuat tenaga memegangi miliknya sendiri agar Jesslyn tak melihat posisinya yang masih menegang.
"Tidak apa-apa! Hanya saja aku suka tidur seperti ini," jawab Oscar beralasan.
"Kau tidak sedang sakit, kan?" Tanya Jesslyn yang sepertinya khawatir.
"Tidak!" Jawab Oscar yang akhirnya menurunkan sedikit selimutnya dan memperlihatkan wajahnya pada Jesslyn.
"Aku baik-baik saja!" Jawab Oscar seraya meringis.
"Kenapa kau belum tidur, Jess?" Tanya Oscar selanjutnya berbasa-basi pada Jesslyn yang tumben bangun saat tengah malam.
Atau mungkin sebelumnya Jesslyn selalu bangun saat tengah malam dan Oscar saja yang tidak tahu?
Oscar biasanya memang langsung tidur setelah pulang dari tempat kerjanya di truk makanan. Oscar akan tidur lelap sampai alarm membangunkannya di pagi hari.
"Aku haus dan mau minum," jawab Jesslyn seraya mengayunkan langkahnya ke meja dapur yang letaknya tak jauh dari sofa tempat Oscar tidur.
"Biasakan untuk menyediakan air minum di samping tempat tidur, Jess! Agar kau tak perlu keluar kamar saat haus tengah malam!" Ujar Oscar memberikan saran.
"Memangnya kenapa kalau aku keluar kamar saat tengah malam? Tidurmu terganggu? Atau kau sedang melakukan sesuatu tadi?" Tanya Jesslyn yang malah lebih mirip sindirian untuk Oscar.
"Insomniaku sedang kambuh," Oscar masih beralasan.
Jesslyn yang sudah selesai minum, kembali menghampiri Oscar yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Baiklah, lain kali aku akan membawa minum ke dalam kamar agar tak mengganggumu!" Pungkas Jesslyn sebelum kemudian gadis itu masuk lagi ke kamarnya dan menutup pintu.
"Brengsek!" Umpat Oscar kesal karena hasratnya yang tadi membubung tinggi sama sekali tak tersalurkan dan kini kepala Oscar benar-benar terasa pening.
Bagaimana Oscar akan tidur sekarang?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia