The Escort Man

The Escort Man
SEBUAH KEBENARAN


__ADS_3

"Kau terlihat kurang sehat, Aster!" Ujar Oscar setelah ia dan Aster tiba di kantor. Padahal semalam Oscar tak mengajak wanita ini lembuf dan .ereka hanya bermain satu ronde. Lalu kenapa sekarang Aster terlihat kelelahan dan kurang sehat.


"Aku tidak tahu. Tapi kepalaku pusing sekali," keluh Aster seraya memegangi kepalanya.


"Kau hamil?" Celetuk Oscar tiba-tiba yang langsung membuat Aster menajamkan tatapan matanya pada Oscar.


"Kapan kau lupa memakai pengaman, Osh?" Pertanyaan Aster sudah seperti tim interogasi kejahatan saja.


"Saat kita melakukannya di rumah tepi danau," Oscar terkekeh dan Aster langsung terlihat menghela nafas lega. Itu sudah lama sekali dan itu artinya yang dirasakqn oleh Aster bukan tanda kehamilan.


Aster selalu bermain aman bersama Oscar karena Aster memang tak mau hamil di usianya yang tak lagi muda ini.


Ya, sejak dulu Aster memang tidak mau hamil karena itu akan sangat mengganggu performanya saat menjalankan semua perusahaan serta mencapai ambisi bisnisnya.


Oscar membimbing Aster untuk berbaring di ranjang yang memang berada di dalam ruang kerja Aster dan letaknya sedikit tersembunyi. Kini Oscar tahu fungsi lain dari ranjang tersebut selain dipakai untuk bercinta.


Ya, ranjang itu ternyata berfungsi untuk tempat istirahat Aster di situasi tak terduga seperti pagi ini.


"Aku ada jadwal meeting hari ini?" Tanya Aster saat Oscar menyelimuti tubuh Aster yang kini sudah berbaring di atas ranjang.


"Nanti akan aku minta sekretarismu untuk menjadwalkan ulang. Kau perlu istirahat, Madame Brennen!" Jawab Oscar dengan nada sedikit lebay yang langsung membuat Aster tertawa kecil.


"Istirahatlah!" Ujar Oscar sekali lagi seraya mengecup kening Aster.


"Bisa bawakan aku teh hangat?" Pinta Aster saat Oscar sudah beranjak.


"Tentu saja!" Jawab Oscar cepat seraya keluar dari ruangan Aster dan langsung menuju ke pantry.


****


Hari beranjak siang.


Kondisi Aster belum terlalu membaik dan wanita itu sudah kembali tidur, setelah Oscar menyuapinya dengan bubur serta memberikan obat pereda sakit kepala.


Oscar baru mendaratkan bokongnya di atas kursi, saat pintu ruangan Aster diketuk dari luar. Segera Oscar beranjak lagi untuk membuka pintu.


"Selamat siang Tuan Petrichor!" Ucap sekretaris Aster Brennen.


"Siang! Ada apa? Madame Brennen masih kurang sehat," ujar Oscar memberitahu.


"Ada orang dari bank yang ingin menitipkan sesuatu, Tuan Petrichor!" Sekretaris Aster menunjuk ke satu orang pria yang tadi datang bersamanya.


"Madame Brennen sedang istirahat, dan saya asistennya. Apa bisa diwakilkan?" Tanya Oscar memastikan.


"Bisa, Tuan! Karena ini mendesak, dan harus saya sampaikan hari ini." Tutur pria berkacamata tersebut.


"Baiklah, silahkan masuk!" Oscar mempersilahkan pria tadi untuk masuk ke dalam ruang kerja Aster. Mereka langsung duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerja, lalu berbasa-basi sedikit sebelum kemudian pria dari bank tersebut menyampaikan tujuannya.

__ADS_1


"Jadi saya hanya ingin memberikan laporan tentang pemindahan sejumlah uang yang beberapa bulan lalu dilakukan oleh Madame Brennen sekaligus mengembalikan surat-surat dari rumah tepi danau yang waktu itu juga dijadikan jaminan ke bank oleh Madame Brennen."


Surat-surat dari rumah tepi danau?


Apa maksudnya itu adalah rumah yang pernah ditempati oleh Oscar dan Naomi sebelum dua orang yang mengaku dari bank mengusir Oscar kala itu?


"Silahkan diperiksa dulu, Tuan! Barangkali ada berkas yang masih tertinggal."


Oscar bergegas memeriksa dengan teliti surat-surat yang tadi disodorkan. Dan benar saja, foto serta denah di dalam surat tersebut jelas menunjukkan kalau itu adalah rumah yang katanya rumah yang disewa oleh Naomi.


Itu bukan rumah sewa!


Itu adalah rumah milik Naomi yang dibeli memakai nama Jesslyn Olsen.


Dan apa Aster yang sudah mencuri surat-surat itu dari brankas penyimpanan Naomi di bank?


"Wanita iblis itu yang sudah menguras uangmu dan membuatmu jatuh miskin! Lalu dia juga yang sudah membuatmu dipecat dari pekerjaanmu, dan insiden penculikanku kemarin juga adalah rencana licik Aster!"


Kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Jesslyn tempo hari mendadak berkelebat di benak Oscar.


Mungkinkah semua yang dikatakan oleh Jesslyn itu ada benarnya?


Oscar memeriksa laporan pemindahan sejumlah uang yang dilakukan oleh Aster dari sebuah rekening....


Keparat!


Itu adalah rekening Oscar!


Aster yang sudah melakukan semua hal licik ini dan wanita itu sudah benar-benar membuat Oscar seperti pria bodoh.


Bukan seperti lagi!


Tapi Oscar memang bodoh kali ini!


"Bagaimana Tuan?" Tanya pria dari bank tadi pada Oscar.


"Semuanya sudah benar," jawab Oscar dengan suara bergetar karena menahan amarah yang kini membuncah di dalam dadanya.


"Baiklah kalau begitu. Saya permisi, Tuan Asisten!"


"Selamat siang!" Pamit pria dari bank tadi seraya beranjak, lalu keluar dari ruang kerja Aster. Oscar tak menjawab, dan pria itu masih menahan amarahnya yang siap meledak.


Oscar memejamkan matanya, lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya pria itu beranjak dari sofa, lalu menghampiri Aster yang rupanya sudah terlelap di atas ranjangnya.


Oscar menatap penuh kebencian pada wanita tersebut, sebelun akhirnya Oscar pergi dan keluar dari ruangan Aster.


"Tuan Petrichor, anda mau kemana?" Tanya sekretaris Aster Brennen yang hanya dijawab Oscar dengan kebisuan. Oscar tak berucap apapun dan pria itu langsung masuk ke dalam lift lalu turun secepatnya.

__ADS_1


Oscar akan langsung membawa pergi Jesslyn dari kediaman Aster. Seharusnya Oscar melakukan ini sejak lama!


****


"Good job, Nona Olsen!" Puji guru yang hari ini datang untuk mengajari Jesslyn.


"Ada lagi yang harus aku kerjakan?" Tanya Jesslyn dengan ekspresi wajah datar.


"Semuanya sudah selesai. Kita akan berjumpa lagi di pertemuan selanjutnya minggu depan." Ujar guru tersebut yang hanya membuat Jesslyn mengangguk.


Guru tadi segera membereskan barang-barangnya, lalu berpamitan dan keluar dari kamar Jesslyn.


Jesslyn melirik ke jam di kamarnya yang menunjukkan pukul satu siang. Biasanya perawat pribadi Jesslyn akan langsung masuk ke kamar membawa troli penuh makanan, setelah guru private Jesslyn tadi pergi. Lalu kenapa sekarang perawat Jesslyn tak kunjung datang? Apa dia pingsan?


Jesslyn akhirnya terpaksa menekan tombol panggil di sisi tempat tidurnya karena Jesslyn juga enggan keluar dari kamar. Belum lagi cacing-cacing di dalam perut Jesslyn yang sudah berdemo hebat.


"Ck! Kemana selusin pelayan yang ada di rumah ini?" Jesslyn menggerutu sebal, saat pintu kamar akhirnya dibuka dari luar.


"Kenapa lama seka-" Jesslyn tak melanjutkan kalimatnya saat melihat siapa yang masuk membawa troli makanan.


Sial!


Tua bangka botak itu lagi!


"Selamat siang, Nona Jesslyn! Maaf makan siang anda datang terlambat," sapa Johnson seraya terus mendorong troli yang penuh makanan mendekat ke arah Jesslyn yang masih duduk di sofa.


"Perawatku kemana?" Tanay Jesslyn sedikit tergagap.


"Kebetulan sedang cuti, dan para pelayan juga sedang sibuk," Johnson tersenyum smirk ke arah Jesslyn.


"Letakkan saja trolinya disitu dan aku bisa makan sendiri!" Ujar Jesslyn sekalian mengusir Johnson keparat yang sepertinya merencanakan sesuatu. Jesslyn segera meraba-raba tongkatnya, dan memegang erat benda tersebut.


"Anda yakin tidak ingin saya bantu atau daya suapi, Nona?" Tawar Johnson seraya mengulas senyum yang justru terlihat menjijikkan bagi Jesslyn.


"Tidak! Aku sudah bisa makan sendiri!" Sergah Jesslyn cepat menolak tawaran Johnson.


"Baiklah kalau begitu, saya akan keluar dan meninggalkan troli disini." Johnson sudah berbalik dan mengayunkan langkahnya ke arah pintu kamar. Jesslyn hampir saja bernafas lega, saat ternyata Johnson tak jadi keluar dari kamar dan sekarang pria itu malah mengunci pintu kamar Jesslyn.


Sial!


Mau apa pria tua bangka sialan ini?


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2