The Escort Man

The Escort Man
UNDANGAN


__ADS_3

Aster mondar-mandir di kamar hotel tempatnya menginap, dan beberapa kali melirik arloji di tangannya. Wanita emlat puluh tahun itu seperti tengah menunggu seseorang.


"Maaf, Madame! Tapi kita harus secepatnya ke bandara," ujar salah satu pengawal mengingatkan Aster.


Aster berdecak dan akhirnya mengambil tas mewahnya, lalu berjalan keluar dari kamar.


"Kita ke rumah Tuan Petrichor dulu!" Titah Aster pada pengawalnya tersebut.


"Baik, Madame!"


Aster yang sudah tiba di lantai bawah, langsung menuju ke lobi depan hotel dan masuk ke dalam mobik yang sudah menunggunya. Tak berselang lama, mobil langsung melaju meninggalkan hotel dan menuju ke rumah Oscar.


****


"Bekal!" Oscar mengangsurkan kotak bekal Jesslyn saat bus sudah tiba di depan rumah dan siap menjemput Jesslyn.


"Kekanak-kanakan!" Komentar Jesslyn seraya menunjuk ke dalam kotak bekal yang tutupnya transparan tersebut. Oscar memang membuatkan bekal sandwich dengan hiasan hidung serta mata di atas potongan roti.


"Agar kau semangat memakannya," jawab Oscar seraya tertawa kecil.


Jesslyn memutar bola matanya, lalu gadis itu berlari meninggalkan teras dan langsung naik ke atas bus.


"Selamat pagi, Jesslyn!" Sapa Nona Rivera yang selalu ikut naik bus sekolah.


"Selamat pagi, Nona Rivera!" Jawab Jesslyn seraya duduk di dekat guru kelasnya tersebut.


"Bekal yang cantik!" Puji Nona Rivera sebelum bus melaju pergi meninggalkan rumah Jesslyn.


Oscar melambaikan tangan ala kadarnya pada bus yang akhirnya menghilang di ujung jalan tersebut.


Yeah!


Menjadi seorang Dad tidaklah buruk!


Oscar akan menikmatinya mulai hari ini.


Oscar masih bergelung dengan pikirannya, saat mobil mewah Aster Brennen berhenti di depan rumahnya.


Oh, astaga!


Wanita itu tak mudah menyerah ternyata.


Aster Brennen turun dari mobil seraya melepaskan kacamata hitamnya. Wanita itu langsung masuk ke halaman rumah, lalu lanjut ke teras menghampiri Oscar yang masih berdiri di sana.


"Selamat pagi, Madame Brennen!" Sapa Oscar sopan seraya meraih tangan Aster lalu mengecupnya seperti biasa.


"Kau tidak ke hotel semalam. Padahal aku sudah menunggumu," ucap Aster seraya menatal penuh kecewa pada Oscar.


"Aku tak mungkin meninggalkan Jesslyn di rumah sendiri," jawab Oscar beralasan.


"Bocah itu lagi! Sampaj kapan kau akan tunduk kepadanya, Osh?" Aster berdecak tak percaya.


"Tapi aku yakin kau sudah mengambil keputusan yang tepat pagi ini," ucap Aster lagi yang terlihat begitu percaya diri.


"Tentu saja!" Jawab Oscar seraya mengulas senyum.


"Aku sudah mengambil keputusan," lanjut Oscar lagi.


Aster mengulas senyum.


"Cepatlah berkemas kalau begitu lalu kita akan pergi bersama! Nanti anak buahku yang akan mengurus tentang Jesslyn-"

__ADS_1


"Maaf!" Oscar menyela kalimat Aster. Wanita empat puluh tahun tersebut langsung mengernyit.


"Aku belum mengatakan apa keputusanku, Aster!" Oscaf mengingatkan Aster yang sudah ganti bersedekap.


"Keputusanmu pasti ikut bersamaku!" Tebak Aster penuh percaya diri. Namun gelengan Oscar langsung membuat wanita itu terkejut.


"Maaf, aku akan tetap disini bersama Jesslyn. Menjaga dan merawat Jesslyn seperti janjiku pada Naomi," ucap Oscar tegas memberitahu keputusanmya pada Aster yang langsung menatap sengit pada pria itu.


"Janji?" Aster berdecih.


"Ya! Janjiku pada Naomi sebelum wanita itu meninggal dan aku tak akan mengingkarinya," jawab Oscar tegas.


"Kau tak akan bisa melakukannya, Osh! Kau otu seorang petualang! Kau tidak bisa menjadu seorang dad untuk seorang gadis yang statusnya masih diragukan!"cecar Aster merasa tak terima dengan keputusan Oscar.


"Aku akan belajar menjadi seorang Dad kalau begitu!" Jawab Oscar santai


"Kau tak akan tahan menghadapi gadis keras kepala itu!" Aster ganti menuding pada Oscar yang hanya mengendikkan kedua bahunya.


"Ini sudah menjadi keputusanku, Aster!"


"Tapi jika kau ingin salam perpisahan, aku sama sekali tak keberatan," Oscar menunjuk ke pintu rumahnya yang terbuka.


Aster mendengus tak percaya dengan kalimat Oscar tersebut.


"Kita lihat saja,berapa lama kau akan bertahan bersama gadis keras kepala itu!" Aster kembali menuding pada OS sebelum kemudian wanita itu kembali memakai kacamata hitamnya, lalu berbalik dan pergi dari rumah Oscar.


Tak berselang lama, mobil mewah Aster sudah melaju pergi,meninggalkan Oscar yang masih berdiri di teras rumahnya.


"Aku yakin ini bukan keputusan yang salah!" Gumam Oscar seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.


****


"Kau berkelahi lagi di sekolah hari ini?" Tanya Oscar membuka obrolan saat ia dan Jesslyn sedang menikmati makan malam.


"Tidak! Aku hanya bertanya kepadamu!" Ujar Oscar yang langsung membuat Jesslyn memutar bola matanya.


"Kau harus bekerja, Osh!" Celetuk Jesslyn tiba-tiba seolah sedang menasehati Oscar. Mirip Naomi nada dan cara menasehatinya. Oscar jadi rindu pada Mommy kandung Jesslyn itu.


"Uangku masih banyak dan masih cukup untuk menunjang hidup kita setahun ke depan," jawab Oscar pongah.


"Terserah! Aku hanya memberi saran!" Gumam Jesslyn ketus.


"Memangnya menurutmu, pekerjaan apa yang cocok untuk aku lakukan? Aku tak punya skill apapun," Oscar meminta pendapat Jesslyn.


"Kau pandai memasak!" Ujar Jesslyn memberitahu skill Oscar.


"Oh, aku jadi koki saja kalau begitu!" Sahut Oscar seraya tertawa kecil.


"Membuka truk makanan mungkin!" Jesslyn memberikan ide.


"Ide bagus! Aku harus membeli truk dulu berarti," Oscar kembali terkekeh seolah semua saran Jesslyn hanya gurauan.


Jesslyn akhirnya tak buka suara lagi dan gadis itu memilih menikmati makanannya dalam diam. Saat itulah, terdengar ketukan dari pintu depan.


"Siapa yang berkunjung?" Gumam Oscar seraya menatap pada Jesslyn yang hanya mengendikkan kedua bahunya.


Oscar sudah bangkit berdiri untuk membuka pintu depan. Dan pria itu sedikit terkejut saat mendapati siapa yang mengetuk pintu depan.


"Selamat malam, Tuan Olsen!" Sapa Nona Rivera ramah.


"Selamat malam, Nona Rivera! Apa Jesslyn membuat masalah lagi di sekolah?" Tanya Oscar to the point yang langsung membuat Nona Rivera tertawa kecil.

__ADS_1


"Tidak, Tuan Olsen!"


"Saya kesini mengantar pie apel," Nona Rivera mengangsurkan kotak berisi pie apel pada Oscar.


"Oh, astaga! Kenapa harus repot-repot?" Oscar merasa tak enak hati."


"Tapi terima kasih banyak, Nona Rivera!" Ucap Oscar tulus.


"Sama-sama! Apa Jess ada?" Tanya Nona Rivera selanjutnya berbasa-basi.


"Ada!" Jawab Oscar cepat.


"Jess!" Panggil Oscar pada sang putri yang tadi masih makan. Jesslyn langsung keluar dan menghampiri Oscar serta Nona Rivera.


"Malam, Jess!" Sapa Nona Rivera seraya tersenyum hangat pada Jesslyn.


"Malam, Nona Rivera!" Jesslyn membalas sapaan Nona Rivera.


"Jadi sebenarnya saya kesini untuk-"


"Sayang! Kau sudah selesai mengantar pie-nya?"


Nona Rivera belum menyelesaikan kalimatnya saat seorang pria masuk ke teras rumah Oscar dan memanggil Nona Rivera dengan sebutan Sayang.


Siapa pria ini?


"Sudah! Aku baru mau pulang," ujar Nona Rivera menjawab pertanyaan pria botak tadi.


"Oh, ya! Kenalkan ini Paul, suami saya, Tuan Olsen dan Jess!" Nona Rivera mengenalkan suaminya pada Oscar dan Jesslyn yang terlihat kaget.


"Kau sudah menikah, Nona Rivera?" Tanya Jesslyn kaget.


"Iya, Jess! Baru beberapa bulan yang lalu sebelum kami pindah kemari," terang Nona Rivera.


"Pasangan yang serasi!" Puji Oscar pada pasangan suami istri di depannya tersebut.


"Jadi kami ingin mengundang kalian berdua untuk makan malam di rumah besok," Nona Rivera melanjutkan kalimatnya yang tadi disela oleh sang suami.


"Oh, ya! Dalam rangka apa?" Tanya Oscar berbasa-basi.


"Perkenalan sebagai tetangga baru, Tuan Olsen!" Bukan Nona Rivera, melainkan Paul yang menjawab pertanyaan Oscar.


"Agar kita bisa akrab dan saling mengenal juga," imbuh Paul lagi yang hanya membuat Oscar manggut-manggut.


"Tentu saja kami akan datang besok malam," jawab Oscar akhirnya menyanggupi undangan dari Nona Rivera dan suaminya yang botak.


"Kami tunggu, Tuan Olsen!" Pungkas Nona Rivera sebelum kemudian pasangan suami istri tersebut berpamitan dari rumah Oscar.


Ck!


Jesslyn berdecak dan langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan Oscar yang langsung mengernyit tak paham.


Ada apa dengan gadis sembilan tahun itu?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2