The Escort Man

The Escort Man
KUNJUNGAN TAK TERDUGA


__ADS_3

Oscar memakai kembali kacamata hitamnya, saat melihat Jesslyn keluar dari kompleks pemakaman. Tadi Oscar memang hanya menunggu di luar dan membiarkan Jesslyn masuk sendiri ke dalam pemakaman. Oscar selalu enggan pergi ke pemakaman karena pria itu sudah terlalu banyak kehilangan orang-orang yang ia cintai dan menyaksikan pemakaman mereka.


Kedua orang tua Oscar yang meninggalkan Oscar saat dirinya seusia Jesslyn. Lalu kakaknya yang begitu ia sayangi juga pergi sepuluh tahun lalu. Dan terakhir Naomi...


Jesslyn hanya menatap sekilas pada Oscar sebelum kemudian gadis itu masuk ke dalam mobil tanpa sedikitpun menyapa Oscar.


Yeah!


Bukankah itu hal biasa!


Oscar menyusul masuk ke dalam mobil, dan Jesslyn sudah menyumpal telinganya dengan headphone sembari tangannya mengutak-atik ponsel. Oscar memilih untuk tak berkomebtqr dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan kompleks pemakaman.


****


"Jess!" Oscar menggerakkan tangannya di depan wajah Jesslyn yang memejamkan mata dan tak bergerak. Apa gadis ini tertidur?


"Jess! Haloo!" Oscar mengulangi tindakannya dan Jesslyn masih tetap tak bergerak.


"Oh, astaga! Apa aku harus menggendongmu ke kamar sekarang?" Gerutu Oscar sebelum akhirnya pria itu keluar dari mobil. Oscar memilih untuk menurunkan belanjaan terlebih dahulu dari mobil sebelum kembali membangunkan Jesslyn.


Tadi setelah dari pemakaman, Oscar dan Jesslyn memang langsung ke supermarket untuk berbelanja beberapa kebutuhan dapur dan rumah.


Ya, setelah beralih profesi menjadi baby sitter untuk Jesslyn, kini Oscar juga beralih profesi menjadi bapak rumah tangga. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi seorang mantan escortman, bukan?

__ADS_1


Namun baru saja Oscar meletakkan kantung-kantung berisi belanjaan di teras rumah, sebuah mobil berhenti di depan rumah.


Siapa yang datang?


Perwakilan dari yayasan lagi?


Bukankah Oscar belum menelepon mereka?


Oscar masih diam sembari menunggu siapa yang akan turun dari mobil, dan saat akhirnya pintu belakang mobil terbuka, Oscar benar-benar harus mengumpat.


"Brengsek!"


Aster Brennen turun dari mobil dengan ekspresi wajah pongah, lalu wanita empat puluh tahun itu juga melepaskan kacamata hitamnya dan menatap ke arah Oscar.


Ah, tapi bukan Aster Brennen namanya jika wanita ini tak tahu segalanya.


"Sedang ada kunjungan bisnis, Madame Brennen?" Sapa Oscar seperti halnya seorang rekan bisnis. Masih ada beberapa pengawal Madame Brennen jadi Oscar rasa, ia perlu menjaga sopan santun.


"Hanya sedang mencari seseorang!" Aster Brennen tak sedikitpun menatap pada Oscar, dan wanita itu malah mengedarkan pandangannya ke arah rumah Oscar dan Jesslyn.


"Rumah siapa itu? Germ* sekaligus kekasihmu?" Tanya Aster Brennen selanjutnya pada Oscar dengan nada sinis.


"Maaf!" Oscar menyela dan merasa bingung dengan pertanyaan aneh Aster.

__ADS_1


"Tidak usah berpura-pura! Kau dan Naomi sudah menipuku!"


"Kau mengatakan kalau Naomi sudah melepaskanmu, tapi apa yang aku temukan? Kau tinggal bersama mantan wanita simpanan itu!" Aster Brennen berucap sinis.


"Naomi memang sudah melepaskanku, Aster! Aku bukan escortman lagi sekarang!" Sergah Oscar seolah sedang memberitahu Aster.


"Melepaskanmu sebagai escortman agar bisa menjadikanmu kekasihnya, begitu?"


"Kau pikir aku bodoh, hah?"


"Sekarang dimana wanita itu?" Cecar Aster bertubi-tubi sekaligus penuh emosi.


"Naomi sudah meninggal satu pekan lalu," jawab Oscar yang sontak langsung membuat Astee terkejut.


"Apa katamu?"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2