
Oscar menyodorkan satu buah burger pada Jesslyn yang terlihat kelaparan sejak tadi. Meskipun uang Oscar di rejening sudah lenyap tak tahu rimbanya, tapi uang di saku Oscar masih ada beberapa dan setidaknya masih cukup untuk membeli makanan hingga besok.
Asal mereka tidak makan di restoran yang mahal!
"Kita sebenarnya mau kemana, Osh?" Tanya Jesslyn sekali lagi. Entah sudah berapa kali gadis itu melontarkan pertanyaan yang sama pada Oscar.
"Aku juga tidak tahu!" Oscar membenturkan kepalanya di atas roda kemudi. Otak Oscar benar-benar sedang buntu sekarang.
"Apa Mommy-mu punya rumah lain yang bukan merupakan rumah sewa?" Tanya Oscar seraya menoleh pada Jesslyn yang langsung menggeleng.
"Rumah besar itu?" Jesslyn bergumam sekaligus bertanya.
"Aku tidak punya uang untuk membeli tiket kesana!" Sergah Oscar yang kembali membentur-benturkan kepalanya ke atas kemudi.
"Kita bisa kesana melalui perjalanan darat. Meskipun sedikit lama," ujar Jesslyn mengajukan sebuah ide.
"Lalu kau mau mendorong mobil ini sampai ke sana?" Tanya Oscar merasa geram.
"Lagipula, masih belum jelas status rumah besar itu. Apa memang rumah Naomi atau hanya rumah sewa juga!"
"Jadi aku rasa tak ada gunanya kita pulang ke sana," pendapat Oscar yang hanya membuat Jesslyn mengendikkan bahu. Gadis itu kembali melahap hamburgernya.
"Sepertinya aku harus mencari pekerjaan," gumam Oscar akhirnya membuat keputusan.
"Kau akan menjual diri lagi?" Tanya Jesslyn blak-blakan di sela gadis itu mengunyah burgernya. Oscar langsung melempar tatapan tajam pada gadis sembilan tahun di sampingnya tersebut.
"Kau pikir skill-ku hanya menjual diri?" Sahut Oscar ketus.
"Kau sendiri yang bilang waktu itu!" Jesslyn mengendikkan bahunya tanpa dosa dan kembali menggigit hamburger yang tadi diberikan oleh Oscar.
Oscar menelan saliva saat melihat hamburger Jesslyn karena tadi pria itu memang hanya membeli satu untuk Jesslyn.
"Ada apa? Kau mau burgerku?" Tawar Jesslyn seraya menyodorkan burger bekas gigitannya pada Oscar.
"Tidak! Terima kasih!" Tolak Oscar cepat dan sedikit ketus.
"Sudah ada bekas air liurmu juga di sana," sambung Oscar bergumam.
"Aku bukan gadis penyakitan!" Sergah Jesslyn ikut-ikutan ketus.
"Terserah saja! Aku sedang pusing!" Oscar membenturkan kepalanya lagi ke atas roda kemudi.
"Minum obat kalau pusing! Jangan malah membenturkan kepala seperti itu!" Ujar Jesslyn memberikan saran.
"Terima kasih! Kau punya obat sakit kepala?" Tanya Oscar tanpa menatap pada Jesslyn.
"Tidak ada! Tapi kita bisa beli ke apotek!" Jesslyn menyodorkan beberapa lembaran uang pada Oscar.
__ADS_1
"Kau punya uang? Mencuri dimana?" Tanya Oscar yang langsung menuduh.
"Dari sakumu saat kau sibuk tidur dengan pacarmu si wanita kaya!" Jawab Jesslyn jujur dan blak-blakan.
Oscar langsung mendengus.
"Kau melihat apa saja waktu itu? Usiamu baru sembilan tahun tapi isi otakmu melebihi gadis berusia dua puluh satu tahun!" Cibir Oscar pada Jesslyn
"Usiaku sudah sepuluh tahun!" Jesslyn mengoreksi.
"Oh, ya! Kapan bertambahnya? Kenapa aku bisa tidak tahu?" Tanya Oscar penasaran.
"Tidak penting! Lagipula,kau juga tak akan peduli!" Sahut Jesslyn merasa kesal.
"Kapan hari ulang tahunmu, Jesslyn Olsen? Beritahu aku agar aku bisa mengingatnya dan tahun depan aku bisa mengucapkan selamat," tanya Oscar dengan nada yang terdengar manis yang sukses membuat Jesslyn menipiskan bibir.
"Tanggal tiga puluh Juni! Ingat itu!" Jesslyn menuding pada Oscar yang hanya tertawa kecil.
"Akan aku ingat!" Ujar Oscar bersungguh-sungguh.
"Lalu sekarang kita akan kemana? Tanya Jesslyn yang kembali melontarkan pertanyaan seperti di awal.
"Mencari pekerjaan untukku!" Oscar melajukan mobilnya beberapa meter, lalu mereka berhenti di sebuah toko dua puluh empat jam. Ada pengumuman lowongan pekerjaan di pintu toko tersebut dan Jesslyn langsung tertawa kecil.
"Apa yang lucu, Nona Olsen?" Tanya Oscar merasa heran. Pria itu melepaskan sabuk pengaman dan bersiap untuk turun.
"Aku suka dengan semangat kerjamu!" Jawab Jesslyn yang langsung menyusul Oscar untuk turun dari mobil. Ayah dan anak itupun masuk ke dalam toko untuk melamar pekerjaan.
Oscar membuka pintu sebuah rumah susun sewa sederhana yang akhirnya berhasil ia sewa setelah pria itu menjual harta terakhir miliknya.
Mobil!
"Hanya ada satu kamar," komentar Jesslyn setelah melihat-lihat rumah yang ukurannya memang tak terlalu besar tersebut. Semuanya menyesuaikan dengan budget yang dimiliki oleh Oscar saat ini.
"Kamarnya untukmu! Nanti aku akan tidur di sofa saja," ujar Oscar seraya mengendikkan dagunya ke sofa di dekat pintu.
"Nanti aku akan mencari pekerjaan lain agar kita bisa menyewa rumah yang lebih lapang dan kau bisa melanjutkan sekolahmu," Oscar menatap penuh bersalah pada Jesslyn yang terpaksa harus berhenti sekolah karena gadis itu mengikuti Oscar sekarang.
Seharusnya Oscar menitipkan saja Jesslyn pada Nona Rivera dan suaminya!
Tapi itu juga bukan sebuah keputusan bijak, karena Jesslyn adalah tanggung jawab Oscar.
Entahlah!
Kenapa semua hal berubah rumit begini?
"Aku boleh ikut mencari pekerjaan juga?" Tanya Jesslyn yang langsung membuat Oscar menatap tak senang pada gadis itu.
__ADS_1
"Aku tak akan menjual diri, Osh! Aku akan mencari pekerjaan yang wajar dan aku hanay tinggal mengubah sedikit penampilanku-"
"Tidak usah!" Sergah Oscar cepat.
"Aku akan mendaftarkanmu ke sekolah baru besok!" Putus Oscar akhirnya.
Oscar tak akan membuat impian Naomi untuk memberikan pendidikan yang layak bagi Jesslyn hilang begitu saja. Dulu Naomi juga mendukung pendidikan Oscar hingga ia lulus perguruan tinggi. Jadi kini saatnya Oscar memperjuangkan pendidikan Jesslyn juga hingga perguruan tinggi.
"Kau punya uang memang?" Tanya Jesslyn meragukan.
"Masih ada sisa dari hasil penjualan mobil," jawab Oscar sedikit ragu.
"Lalu biaya hidup kita sampai kau menerima gaji?" Tanya Jesslyn yang sesaat langsung membuat Oscar terdiam.
"Kau tidak akan mencuri bahan makanan dari tempatmu bekerja, kan?" Cecar Jesslyn lagi menyindir Oscar.
"Aku bukan pencuri sepertimu!" Bantah Oscar yang malah membuat Jesslyn tergelak.
"Aku sekolah di rumah saja! Bukankah kau bisa mengajariku, Tuan psikolog!" Ujar Jesslyn akhirnya memberikan jalan keluar.
"Berhentilah memanggilku seperti itu! Aku bukan psikolog!" Oscar menuding pada Jesslyn dan pria itu terlihat kesal. Namun bukannya takut, Jesslyn malah tergelak sekali lagi.
Dasar menyebalkan!
"Masuk kamarmu dan tidur sana! Aku harus bangun pagi-pagi besok agar tak terlambat berangkat kerja." Perintah Oscar selanjutnya pada Jesslyn yang tak berkomentar lagi.
Jesslyn masuk ke satu-satunya kamar yang ada di rumah sewa tersebut, lalu menutup dan mengunci pintu.
Sementara Oscar masih membereskan sedikit sofa tempatnya akan tidur malam ini. Pria itu menyibak tirai sedikit untuk melihat pemandangan dari jendela rumah sewanya yang berada di lantai sepuluh.
Tak ada yang menarik!
Namanya juga rumah sewa sederhana!
Mana ada pemandangan laut atau danau yang airnya masih biru!
"Selimut!" Jesslyn melemparkan sebuah selimut ke arah Oscar, sebelum gadis itu kembali menutup pintu kamar.
Ck!
Dasar gadis aneh!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.