
"Kini kalian sah sebagai suami istri."
Tepuk tangan serta sorak kebahagiaan langsung terdengar dari teras belakang rumah Jesslyn, dimana acara pernikahan sederhana Oscar dan Rivera digelar.
Jesslyn yang sedang menggendong Peter, mendekat kd arah Oscar dan Rivera, lalu menyodorkan kotak cincin pada Oscar.
"Congrats, Dad and Mom!" Ucap Jesslyn dengan senyum merekah seolah menandakan kalau gadis itu sedang benar-benar bahagia sekarang.
Oscar melingkarkan cincin pernikahan di jari manis Rivera, lalu mencium bibir wanita yang kini sudah sah sebagai istrinya tersebut. Tepuk tangan kembali terdengar, dan semua yang hadir turut berbahagia atas lancarnya acara pernikahan Oscar dan Rivera.
Oscar segera mengambil Peter dari gendongan Jesslyn dan menciuminya berulang-ulang. Sementara Rivera langsung memeluk dan merangkul Jesslyn dengan penuh sayang.
Impian Jesslyn untuk memiliki sebuah keluarga yang lengkap sekarang sydah benar-benar terwujud. Jesslyn sekarang punya Mom, Dad, dan seorang adik laki-laki yang begitu ia sayangi.
"Thank's Dad!" Ucap Jesslyn sekali lagi seraya memeluk Oscar dengan erat. Jesslyn bahkan tak mampu menahan air matanya karena gadis itu begitu bahagia sekarang.
"Kau bahagia?" Tanya Oscar seraya menyeka airmata Jesslyn yang hanya mengangguk-angguk.
"Terima kasih untuk semuanya!" Ucap Jesslyn tulus yang langsung membuat hati Oscar menghangat. Oscar kembali memeluk putrinya tersebut, lalu turut menarik Rivera dan Peter juga.
****
"Kau yakin akan menjaga Peter malam ini?" Tanya Rivera sekali lagi pada Jesslyn yang bersikeras mengajak Peter tidur bersamanya.
"Yap!"
"Aku akan membuatkan susu jika Peter haus, dan aku akan menimangnya jika Peter ingin ditimang," jawab Jesslyn penuh keyakinan.
"Baiklah!"
"Tapi jangan dikunci pintunya. Agaf nanti aku bisa menengok kalian berdua saat malam," pesan Rivera seraya mengusap kepala Jesslyn.
"Baik, Mom!" Jawab Jesslyn seraya tersenyum.
"Selamat malam!" Ucap Rivera sekali lagi seraya mengecup kening Jesslyn dan Peter bergantian.
"Selamat malam, Mom!" Balas Jesslyn seraya menyamankan posisinya di atas tempat tidur. Sedangkan Peter memang sudah terlelap sejak tadi setelah bayi itu bercengkerama bersama Oscar.
"Mom!" Panggil Jesslyn lagi saat Rivera hendak mematikan lampu kamar.
"Ya!"
"Kita akan bersama-sama terus, dan Mom tidak akan pergi kemana-mana lagi, kan?" Tanya Jesslyn yang sepertinya masih khawatir.
"Mom tidak akan kemana-mana, Jess! Dan Mom pasti mengajakmu juga jika ingin kemana-mana," jawab Rivera sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Dan Dad juga?" Tanya Jesslyn lagi.
"Iya, dan Dad juga," jaeab Rivera seraya mengangguk.
Jesslyn ikut mengangguk dan tersenyum lalu gadis itu menarik selimut, dan memeluk Peter sebelum mulai memejamkan kedua matanya. Rivera mengulas senyum tipis saat melihat Jesslyn yang begitu menyayangi Peter. Rivera lanjut mematikan lampu kamar, lalu menutup perlahan pintu kamar Jesslyn.
Rivera melanjutkan langkahnya ke arah kamar untuk memeriksa Oscar uangvtadi mengeluh sakit kepala.
"Osh," panggil Rivera lembut pada Oscar yang sudah memejamkan mata.
"Anak-anak sudah tidur?" Tanya Oscar yang tiba-tiba sudah menarik krpala Rivera dan mencium bibir istrinya tersebut.
"Sudah!"
"Sakit kepalamu sudah sembuh? Mau aku buatkan teh hangat?" Tawar Rivera seraya meletakkan punggung tangannya di kening Oscar. Memeriksa kalau-kalau suaminya itu demam.
"Sudah agak mendingan." Ujar Oscar menjawab pertanyaan Rivera.
"Aku buatkan teh hangat, ya!" Tawar Rivera sekali lagi pada Oscar.
"Apa yang ini juga hangat?" Bukannya menjawab tawaran Rivera, Oscar malah balik melontarkan pertanyaan seraya meletakkan tangannya di dada Rivera.
"Peter selalu berkeringat saat menghisapnya," ujar Oscar lagi yang langsung membuat Rivera terrawa kecil.
"Kau sering mengintip?" Tebak Rivera.
"Aku sudah boleh mencobanya sekarang, kan? Kau belum memompanya, kan?" Cecar Oscar lagi yang sudah berhasil membuka deretan kancing di piyama Rivera.
Tangan Oscar lalu dengan cekatan menanggalkan piyama Rivera, dan sekalian membuka pengait bra Rivera.
Meskipun sudah lama sekali tak melakukannya, tangan Oscar ternyata masih cukup lihai saat menel*njangi tubuh Rivera.
"Kau tidak buka baju?" Tanya Rivera seraya mengusap dada Oscar yang kini berada di bawahnya.
Oscar mendadak ingat dirinya dulu yang selalu memuaskan terlebuh dahulu lawan mainnya, bahkan kadang masih sambil berpakaian lengkap. Tapi jika sekarang Oscar melakukannya pada Rivera, rasanya sangat tidak sopan. Rivera bisa saja tersinggung atau merasa tak dihargai.
"Aku kunci pintu kamar dulu," jawab Oscar akhirnya seraya mengecup sekilas bibir Rivera. Oscar lalu mendaratkan tubuh Rivera dengan lembut, sebelum kemudian pria itu beranjak untuk mengunci pintu kamar. Oscar sekalian menanggalkan kaus dan celananya sembari ia berjalan kembali ke arah ranjang.
Oscar sudah full naked, saat pria itu menyusul Rivera naik ke atas ranjang. Oscar mengusap wajah Rivera, dan menyingkirkan beberapa rambut Rivera yang menutupi wajah istrinya itu. Lalu Oscar lanjut menciumi wajah Rivera dengan lembut dan perlahan. Oscar akan menikmati setiap sentuhannya pada Rivera dan tak hanya sekedar melampiaskan n*fsu serta hasratnya.
"Tegur aku, jika aku melakukannya terlalu kasar," bisik Oscar seraya mengecup belakang telinga Rivera yang sontak membuat istrinya itu menggelinjang.
"Disini?" Oscar kembali mengecup dan menjilati area tengkuk dan belakang telinga Rivera saat ia menyadari kalau otu salah satu titik sensitif Rivera.
"Emmmh!" Satu lenguhan akhir lolos dari bibir Rivera, dan melecutkan semangat dalam diri Oscar.
__ADS_1
Oscar kembali memagut bibir Rivera, sembari tangannya merem*s dada Rivera yang ujungnya sudah tegak dan mengeras. Oscar memainkan ujung dada Rivera tersebut dengan jarinya, sebelum kemudian jari Oscar terasa basah.
"Apa ini?" Tanya Oscar seraya menjilat jarinya yang tadi basah terjena cairan dari dada Rivera.
"Manis," gumam Oscar yang sudah menatap penuh tanya pada Rivera.
"Kau pasti sudah tahu itu apa," Rivera menahan tawa dan nafas wanita itu sedikit terengah. Oscar yang penasaran, lalu menjilati ujung kecoklatan di dada Rivera. Rasanya seperti susu, namun lebih enak dan lezat.
"Aku boleh menghisapnya?" Izin Oscar seraya kembali menatap pada Rivera yang sudah mengangguk samar.
Oscar tak menunggu lagi, dan segera menghisap dada Rivera bagian kanan. Oscar terus menghisap sambil sesekali memainkan ujungnya yang sudah sanagta mengeras dengan lidah. Membuat Rivera harus menelan saliva berulang kali.
Titik-titik keringat mulai memenuhi kening Oscar yang masih teeusenghisap dada Rivera bergantian antara kanan dan kiri. Sesekali, Oscar juga akan menatap ke dalam netra Rivera, lalu bibirnya yang tersumpal gundukan kenyal Rivera akan mengulas senyum.
"Masih berapa lama lagi?" Tanya Rivera yang nafasnya sudah mulai tak beraturan. Wanita itu mengusap rambit dan kepala Oscar yang masih terus bersandar di dadanya. Rivera memejamkan mata sembari mendekap Oscar yang seolah tak mau berhenti menyusu kepadanya.
"Honey!" Panggil Oscar yang tangannya sudah terulur untuk mengusap wajah Rivera. Oscar juga sudah berhenti menghisap dada Rivera da pria itu memagut tipis bibir Rivera.
Kedua mata Rivera perlahan terbuka dan wanita itu mengulas senyum manis pada Oscar.
"Kau mengantuk?" Tanya Oscar yang jemarinya sudah menyusuri setiap inchi wajah Rivera sembari menatapnya dengan penuh cinta.
Ya, Oscar mungkin sudah bercintq dengan puluhan wanita sebelum bersama Rivera. Namun baru malam ini, Oscar merasakan hatinya yang terus-terusan menghangat, setiap Oscar menatap wakah Rivera yang begitu meneduhkan. Semakin Oscar menatapnya dengan lekat, semakin jantung Oscar berdetak dengan tak karuan.
Apa perasaan semacam ini yang disebut sebagai cinta?
"Kau tadi tanya apa?" Tanya Rivera seraya mengusap wajah Oscar yang tak berhenti menatapnya dengan lekat sejak tadi.
"Kau mengantuk? Kita lanjutkan besok-"
"Sudah tanggung!" Rivera tiba-tiba sudah mengajak Oscar berguling, dan kini mereka bertukar posisi. Rivera sudah ganti berada di atas Oscar.
"Maaf, jika aku agresif. Tapi biasanya pria suka wanita yang agresif. Bagaimana denganmu?" Tanya Rivera seraya menatap ke dalam netra Oscar.
"Aku menyukainya," jawab Oscar seraya menarik kepala Rivera, lalu mereka kembali berpagutan dengan panas.
.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.