
Oscar menyugar rambutnya sendiri dengan kasar karena Jesslyn yang masih belum ditemukan hingga detik ini. Pria itu tak tahu lagi harus mencari Jesslyn kemana.
Tepat saat Oscar sedang bergelut dengan kebingungannya tersebut, pintu depan tiba-tiba diketuk dari luar.
Siapa yang bertamu?
Oscar diam untuk beberapa saat dan tak langsung membuka pintu. Ketukan kembali terdengar dari pintu depan.
Oscar akhirnya bangkit berdiri dan membuka pintu. Pria itu langka terkejut saat mendapati Aster yang berdiri di depan pintu rumahnya.
Astaga!
Kenapa wanita ini selalu bisa menemukan Oscar?
"Sore!" Sapa Aster seraya melepas kacamata hitamnya. Aster juga langsung merangsek masuk ke dalam rumah sewa sederhana Oscar, meskipun belum dipersilahkan oleh sang empunya.
"Jadi, kau tinggal di rumah sempit ini sekarang?" Tanya Aster seraya menggeleng tak percaya.
"Seorang Oscar yang biasa hidup glamour dan berkecukupan, sekarang harus tinggal di sebuah rumah sewa sempit," Aster bergumam dengan nada mengejek.
"Aku menikmati hidupku yang sekarang," sergah Oscar membantah ejekan Aster.
"Bersama putrimu yang ketus dan keras kepala itu?" Tebak Aster yang langsung membuat raut wajah Oscar berubah sendu. Sekalipun Jesslyn ketus dan keras kepala, namun Oscar terlanjur nyaman dan sayang pada gadis sepuluh tahun tersebut. Dan beberapa hari ini Oscar benar-benar tak bisa tidur karena memikirkan Jesslyn yang entah dibawa kemana oleh dua orang asing yang keluar dari lift bersama Jesslyn.
"Jess sudah beberapa hari tak pulang," gumam Oscar lirih dan merasa putus asa.
"Jess sedang dirawat di rumah sakit karena kakinya patah," ujar Aster tiba-tiba yang langsung membuat Oscar membelalakkan kedua matanya.
"Apa kau bilang?"
"Kaki Jess patah karena gadis itu tertabrak mobil saat berlari menghindariku. Padahal aku hanya ingin menanyainya kenapa dia tidak sekolah dan malah berkeliaran di jalan-"
"Jess tidak berkeliaran! Jess menjadi korban penculikan!" Sergah Oscar seraya menjelaskan kronologi yang sebenarnya. Tentang Jesslyn yang hilang beberapa hari yang lalu, dan tentang rekaman CCTV yang memperlihatkan dua orang asing yang membekap lalu membawa Jesslyn pergi dari apartemen tempat Jesslyn mengasuh anak.
"Kau menyuruh putrimu yang berusia sepuluh tahun bekerja, Oscar Petrichor?" Tanya Aster menyela cerita Oscar. Wanita itu menatap tak percaya pada Oscar yang langsung menyanggah.
"Aku tak pernah menyuruhnya!"
"Jess yang keras kepala!" Ujar Oscar lagi membela diri dari semua tuduhan Aster.
"Dan aku menyesal karena tak berusaha mencegah Jesslyn hingga ia menjadi korban penculikan," Suara Oscar tercekat di tenggorokan. Sesaat suasana hening.
"Dimana kau bertemu Jesslyn, Aster?" Tanya Oscar selanjutnya memecah keheningan.
"Di sebuah kota saat aku sedang menghadiri sebuah acara." Aster menyebutkan nama sebuah kota.
"Aku sedang dalam perjalanan pulang, lalu aku tak sengaja melihat Jesslyn yang terlihat seperti orang linglung di pinggir jalan." Terang Aster panjang lebar.
__ADS_1
"Lalu kau membuatnya kaget dan takut hingga dia lari?" Tebak Oscar menuduh Aster.
"Aku hanya ingin bertanya kenapa dia disana?" Sergah Astee mencari alasan.
"Jess saja yang tiba-tiba berlari dan sembrono hingga dia tertabrak mobil," lanjut Aster lagi.
"Padahal kalau dia mengatakan jujur kalau ia adalah korban penculikan, aku pasti akan membantunya dan dia tak perlu kesakitan karena kakinya patah-"
"Sudah cukup!" Oscar mengangkat tangan serta memberikan isyarat agar Aster diam.
"Jess mencarimu. Itulah alasanku datang kemari."
"Aku hendak menjemputmu," ujar Aster memberitahu Oscar tenyang tujuannya datang ke rumah Oscar.
"Kenapa mendadak kau peduli pada Jesslyn?" Tanya Oscar memicing curiga pada wanita di depannya
"Karena aku tahu kalau Jesslyn begitu berharga bagimu."
"Kau begitu menyayangi gadis itu." Aster mengendikkan kedua bahunya lalu duduk di sofa yang biasa Oscar pakai untuk tidur.
"Kau tak mungkin merawat Jesslyn di tempat kecil ini, Osh!"
"Jadi tinggalah bersamaku dan kau bisa membawa Jesslyn sekalian-"
"Tinggal bersamamu dan menjadi peliharaanmu?" Sela Oscar berkata sinis pada Aster.
"Tentu saja bukan! Kau akan menjadi kekasihku!" Aster bangkit berdiri dan menghampiri Oscar. Lalu jemari wanita itu mengusap dada Oscar yang sukses meremangkan seluruh saraf serta aliran darah Oscar.
Sudah lama sekali Oscar menahan diri!
"Aku merindukanmu, Osh!" Bisik Aster dengan nada sensual seolah sedang merayu Oscar. Jemari Aster masih aktif bermain di dada Oscar, hingga membuat Oscar harus berulang kali menelan saliva.
Rayuan Aster pada Oscar memang tak pernah gagal! Terlebih saat Oscar begitu menginginkannya seperti saat ini.
Sudah cukup menahan diri selama berbulan-bulan!
Oscar tak membuang waktu lagi dan langsung meraup bibir Aster, lalu mel*mat bibir merekah tersebut dengan panas dan liar, seolah Oscar baru saja meluapkan seluruh hasrat yang selama ini ia pendam.
"Emmhhh!" Sebuah des*han lolos dari bibir Aster saat Oscar menyentak masuk ke dalam milik wanita empat puluh tahun tersebut.
Rasanya masih begitu menggigit dan Oscar tak mau berhenti sekarang!
Oscar menundukkan kepalanya, lalu bibirnya ganti ******* gundukan kenyal milik Aster yang bentuknya sudah sedikit turun, mungkin karena faktor usia. Tapi Oscar tak peduli dan pria itu terus menghisap gundukan kenyal milk Aster dengan begitu kuat.
"Oscar! Aaargh!" Racauan dan des*han Aster semakin tak terkendali. Dan Oscar seolah tak mau berhenti. Pria itu terus bergerak keluar dan masuk dengan hentakan yang begitu kuat hingga membuat nafas Aster tersengal-sengal.
Kondisi sofa kini semakin tak karuan. Oscar yang masih belum mendapatkan pelepasan, mengangkat tubuh Aster, lalu membawanya masuk ke kamar Jesslyn.
__ADS_1
Oscar lalu membalik tubuh Aster dan ganti menghujam ke dalam milik Aster dengan posisi d*ggy style.
Lenguhan, des*han, serta racauan daei Aster semakin membuat Oscar bersemangat, hingga akhirnya Oscar berhasil mencapai pelepasannya, setelah hampir dua jam ia menghajar Aster dan meluapkan semua hasrat yang selama berbulan-bulan ini mengebdao di kepalanya.
Yeah!
Seharusnya Oscar memang tetap melakoni pekerjaan sebagai escortman saja agar diri serta batinnya selalu merasa bahagia dan puas seperti ini!
Aster sudah terkulai lemas, saat Oscar membenarkan posisi wanita itu agar berbaring di atas tempat tidur Jesslyn. Oscar juga menarik selimut untuk menutupi tubuh naked Aster.
"Mau aku ambilkan sesuatu?" Tawar Oscar pada Aster setelah pria itu memakai kembali pakaiannya.
"Minum," jawab Aster singkat dan Oscar bergegas mengambilkan minum untuk Aster.
"Maaf, karena sudah membuatmu menjadi tak berdaya seperti ini," ucap Oscar pada Aster yang langsung meneguk habis air di gelasnya. Sepertinya, Madame direktur itu benar-benar kehausan.
"Tidak masalah!"
"Aku senang karena akhirnya kau tak lagi memendam hasratmu sekarang," ujar Aster dengan nada santai. Oscar langsung tersenyum kecut.
"Tinggallah bersamaku agar kau tak perlu hidup dalam kemiskinan seperti ini, Osh!" Pinta Aster seraya menggenggam tangan Oscar.
"Aku sudah berjanji pada Jess kalau aku tak akan menjual diri lagi," tolak Oscar beralasan.
"Siapa bilang kau menjual diri? Kau akan menjadi kekasihku!" Sergah Aster yang tetap berusaha membujuk Oscar.
"Lalu apa bedanya?" Oscar bertanya sinis dan Aster sejenak diam.
"Pikirkan tentang masa depan Jess kalau begitu!" Ujar Aster selanjutnya yang sepertinya sudah mulai menemukan kalimat rayuan lagi.
"Bagaimana kau akan membiayai sekolah Jess jika hidupmu semiskin ini?" Ujar Aster lagi.
"Apa kau akan membiarkan Jesslyn hidup tanpa pendidikan serta tempat tinggal yang layak?" Cecar Aster yang terdengar seperti sebuah sentilan untuk Oscar.
"Kau hanya akan membuang Jess ke panti asuhan, jika aku setuju ikut bersamamu," Oscar masih sinis.
"Dangkal sekali pikiranmu!"
"Aku akan mengijinkan Jess tinggal di mansionku juga, lalu aku akan memasukkan Jess ke sekolah yang memang layak untuknya," tukas Aster panjang lebar.
"Kau hanya perlu menjadi kekasihku dan tinggal bersamaku, Oscar Petrichor!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.