The Escort Man

The Escort Man
JAWABAN


__ADS_3

Erangan serta lenguhan Aster seolah tak putus terdengar, saat lidah Oscar terus meng-eksplore miliknya dengan semakin liar.


Oscar memang belum melakukan hal.gila ini di dua permainan sebelumnya. Dan Aster tidak tahu kenapa Oscar seliar ini sekarang.


"Aaarrrgh!"


"Oscar!" Aster mencengkeram erat pinggiran meja tempat ia serengah berbaring saat lidah Oscar terasa mengaduk-aduk miliknya yang kini sudah basah kuyup. Oscar sepertinya begitu menikmati, hingga pria itu sesekali juga menjilat dan menghisap bagian paling intim dari tubuh Aster tersebut.


"Kapan kau akan memasukiku, Osh!" Aster menatap sayu pada Oscar yang kini mengangkat kepalanya dan menatap pada Aster.


Tak ada jawaban dari Oscar. Pria itu malah mendekatkan wajahnya pada Aster sekarang, lalu meraup bibir Aster dengan bibirnya yang baru saja igunakan untuk meng-eksplore milik Aster tadi. Aster bahkan bisa merasakan aroma miliknya sendiri dari mulut Oscar sekarang.


Ah, tapi siapa peduli!


Karena yang Aster pedulikan sekarang adalah pagutan panas Oscar yang selalu bisa membuatnya terlena.


"Kau sudah sangat basah dibawah sana," Oscar akhirnya buka suara dan memberitahu satu hal yang langsung membuat wajah Aster memerah.


"Dan kau masih mengenakan baju yang lengkap," Aster menatap sedikit kecewa pada Oscar yang memang belum menanggalkan satupun bajunya,padahal Aster sudah kacau balau sekarang dan hampir full naked.


"Aku ingin memuaskanmu terlebih dahulu, lalu nanti kita hisa berganti posisi." Ucap Oscar lembut seraya melepaskan rok Aster yang tergulung di pinggang. Kini tubuh Aster benar-benar sydah full naked, dan Oscar kembali mencecap dada Aster yang membuatnya tergila-gila. Meskipun bentuknya sudah sefikit turun karena faktor usia Aster yang tak lagi muda.


Aster tentu saja sangat bisa menperbaiki bentuknya dengan uang yang ia miliki. Tapi sepertinya Aster memilih untuk mempertahankan bentuk aslinya. Dan Oscar sangat bahagia dengan keputusan Aster ini, karena kini Oscar bisa menikmati gundukan kenyal yang asli dan berisi. Rasanya lebih nikmat dan benar-benar tak ada duanya!


"Kau sepertinya sangat menyukai dadaku," ucap Aster yang langsung dijawab Oscar dengan hisapan kiat di dadanya. Aster sampai harus menjambak rambut Oscar karena ujung dadanya yang kini teatsa begitu nyeri akibat hisapan barbar Oscar.


"Sudah kubilang, kalau aku menyukai yang asli seperti ini." Oscar sudah ganti memainkan ujung dada Aster dengan lidahnya, hingga membuat Aster menelan saliva berulang kali.


"Kapan aku boleh ganti menelanjangimu, Oscar?" Tanya Aster mendesak.


"Setelah aku puas bermain-main dengan tubuhmu." Jawab Oscar sebelum kembali menghisal dada sebelah kanan Aster dengan kuat juga.


"Jadi, apa keputusan Naomi? Dia akhirnya melepaskanmu, hingga kau berani datang kemari tanpa terlebih dahulu membuat janji?" Cecar Aster sok tahu.


Oscar langsung melepaskan hisapannya pada dada Aster, lalu pria itu ganti menatap pada Aster yang wajahnya sudah dipenuhi peluh.


"Ya! Naomi melepaskanku!" Jawab Oscar akhirnya yang langsung membuat Aster tertawa penuh kemenangan. Wanita itu seperti batu saja memenangkan sebuah lotre besar.


"Kau akan menjadi kekasihku mulai sekarang, Oscar Petrichor!" Ucap Aster yang sudah mengusap dada Oscar, lalu mengalungkan kedua lengannya melingkari leher Oscar.


"Kekasih untuk hari ini saja," koreksi Oscar yang langsung membuat Aster terkejut dan diam untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Tentu saja tidak!" Sergah Aster selanjutnya menyangkal pernyataan Oscar sebelumnya.


"Kita saling menyukai, Oscar! Jadi kita akan menjadi kekasih untuk jangka waktu yang lama," lanjut Aster dengan nada tegas.


"Sayangnya itu tak akan terjadi, Aster!" Ujar Oscar tak kalah tegas yang langsung membuat mimik wajah Aster berubah.


"Kau menolak tawaranku?" Aster menatap tak senang pada Oscar.


"Aku tidak menolaknya!" Sergah Oscar cepat.


"Kau ingin aku menjadi kekasihmu. Maka aku akan menjadi kekasihmu hari ini," lanjut Oscar yang sedikit membuat Aster menjadi bingung.


"Hari ini?" Aster mengernyit.


"Maksudmu hanya hari ini?" Tanya Aster sekali lagi.


"Tepat!" Jawab Oscar seraya mengecup pundak Aster hingga wanita itu sedikit menggeliat. Oscar bahkan dengan berani meninggalkan tanda kemerahan di pundak Aster.


"Kenapa?" Hanya satu kata itu yang menjadi pertanyaan Aster.


"Karena esok aku akan pergi jauh." Oscar menerawang sejenak dan kembali mengingat kata-kata dokter serta Mitch kemarin.


"Buat Nona Olsen bahagia di sisa usianya. Karena membujuk Nona Olsen untuk terus melakukan pengobatan rasanya juga hanya akan sia-sia. Wanita itu begitu keras kepala."


"Tapi bukankah katamu Naomi sudah melepaskanmu?" Sergah Aster menatap tak percaya pada Oscar.


"Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan Naomi!" Jawab Oscar menatap Aster dengan tegas.


"Naomi memang sudah melepaskanku dan aku bukan lagi escortman koleksi Naomi sekarang!" Lanjut Oscar lagi tetap dengan nada tegas.


"Lalu kau mau kemana?" Tanya Aster tak mengerti.


"Mengejar mimpiku," jawab Oscar singkat.


"Apa memangnya mimpimu? Aku akan bantu mewujudkannya dan kau tak perlu susah payah mengejarnya, Osh!"


"Kau bisa tetap disini dan menjadi kekasihku," mohon Aster pada Oscar.


Seumur hidup Aster, baru hari ini wanita itu memohon pada seorang pria Yang seharusnya tak pantas menetima permohonan dari Aster.


Oscar Petrichor bahkan bukan siapa-siapa dan sama sekali tak sederajat dengan Aster Brennen. Tapi Aster sudah terlanjur tergila-gila pada sentuhan pria ini!

__ADS_1


"Kau sungguh-sungguh tak ingin memberitahuku kau mau pergi kemana?" Tanya Aster masih berharap.


"Tanpa aku beritahu, kau mungkin sudah bisa tahu, jadi untuk apa aku memberitahumu?" Ujar Oscar seolah sedang mengingatkan tentang kuasa yang dimiliki oleh seorang Aster Brennen.


"Kau benar!"


"Mungkin sekarang kau bisa pergi, namun besok aku mungkin sudah akan menemukanmu kembali," Aster sedikit berseloroh sekalipun ia tak yakin kalau ia akan membuang waktu dan tenaganya hanya untuk mencari Oscar setelah ini.


Ah, entahlah!


"Tapi kau tidak usah khawatir, Aster! Karena hari ini aku sepenuhnya milikmu!" Ujar Oscar lagi yang sudah kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Aster.


"Jadi ini adalah salam perpisahan, begitu?" Aster tertawa sumbang.


"Anggap saja begitu!"


"Dan jika tadi aku sudah memuaskanmu...." Oscar meraih dagu Aster dan mengangkatnya ke atas. Lalu mengecup sekilas bibir merekah itu.


"Maka sekarang giliranmu untuk memuaskanku!" Lanjut Oscar seraya menurunkan Aster dari atas meja. Sekarang ganti Oscar yang berbaring di atas meja kerja Aster, masih mengenakan suit lengkapnya.


"Kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan pada tubuhku, Aster!"


"Aku milikmu seutuhnya sekarang," ujar Oscar lagi yang langsung membuat Aster menggigit bibir bawahnya.


Gairah dalam diri Aster yang tadi sempat padam, karena mendengar keputusan Oscar, sekarang mendadak kembali tersulut, saat Aster melihat tubuh tegap sempurna Oscar yang kini terbaring di hadapannya.


"Aku boleh menelanjangimu?" Tanya Aster seraya mendekat ke arah Oscar.


"Lakukan sesukamu, dan buat sebuah kenangan yang tak akan pernah aku lupakan," jawab Oscar yang langsung membuat Aster tanpa malu-malu lagi naik ke atas tubuh Oscar.


Aster mulai dengan menanggalkan jas serta rompi Oscar, lalu lanjut membuka satu persatu kancing kemeja pria tersebut.


Dan yang selanjutnya terjadi adalah pergelutan panas Oscar dan Aster, serta lenguhan dan erangan yang tak berhenti keluar dari bibir Oscar serta Aster.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2