The Escort Man

The Escort Man
MEMBUAT MASALAH


__ADS_3

"Berikan!" Gertak seorang siswa saat Jesslyn menikmati makan siang di kantin sekolah. Pagi tadi, Oscar sama sekali tak bangun untuk membuatkan Jesslyn bekal. Jadilah Jesslyn mengambil uang Oscar agar ia bisa membeli makanan.


"Aku bilang berikan!" Meja digebrak dan saat itu juga Jesslyn langsung naik pitam gadis sembilan tahun itu bangkit dari duduknya dengan cepat, lalu mendorong siswa yang menggebrak mejanya tadi dengan berani hingga siswa itu jatuh terjengkang.


Tak cukup sampai disitu, Jesslyn juga lanjut menduduki siswa yang sudah terjengkang tadi dan tanpa aba-aba gadis itu langsung melayangkan bogem mentahnya pada siswa tersebut.


Bugh!


Bugh!


Bukan sekali tapi Jesslyn memukuli siswa itu berulang kali seolah gadis itu sedang meluapkan kemarahan di dalam hatinya.


"Jesslyn!" Nona Rivera yang mendapat laporan dari seorang siswa buru-buru datang ke kantin untuk melerai Jesslyn dan siswa yang sudah babak belur tadi karena dihajar oleh Jesslyn.


"Ayo ikut!" Nona Rivera mengajak Jesslyn keluar dari kantin, lalu membawa gadis itu ke ruangannya.


****


"Dia yang mulai!" Jawab Jesslyn berani, sembari gadis itu lahap memakan mie yang diseduhkan oleh Nona Rivera. Jesslyn terlihat kelaparan saat tadi Nona Rivera menginterogasinya. Karena merasa tak sampai hati, Nona Rivera akhirnya menyeduhkan semangkuk mie untuk Jesslyn.


"Dia menggebrak meja dan menumpahkan makananku padahal aku sangat lapar!" Lapor Jesslyn lagi membuat penyangkalan


"Tapi tidak seharusnya kau bersikap kasar seperti tadi, Jess! Kau bisa lapor ke guru dan tidak perlu memukulinya dengan membabi buta begitu!" Nasehat Nona Rivera menyayangkan sikap kasar Jesslyn.


"Dia menyebalkan!" Sahut Jesslyn sebelum kemudian gadis itu melahap mie di mangkuknya lagi.


"Kau tadi sudah sarapan?" Tanya Nona Rivera menatap prihatin pada Jesslyn yang langsung menggeleng. Gadis itu kembali menikmati mie di mangkuknya dan seolah sudah lupa pada apa yang tadi ia lakukan di kantin sekolah.


"Dad tidak membawakan bekal?" Tanya Nona Rivera lagi pada Jesslyn yang kembali menggeleng.


"Oscar sedang sibuk dengan pacarnya!" Ucap Jesslyn ketus yang tentu saja langsung membuat Nona Rivera mengernyit.


"Dan dia bukan Dad-ku!" Lanjut Jesslyn lagi tetap dengan nada ketus yang langsung membuat Nona Rivera menghela nafas berat.


Sepertinya Nona Rivera harus bicara pada Oscar karena apa yang dilakukan oleh Jesslyn ini sudah diluar kewajaran. Jesslyn sebelumnya tak pernah terlibat perkelahian antar siswa dan gadis ini juga cenderung pendiam serta pemurung. Jarang bergaul dengan teman-teman yang lain.


Lalu hari ini tiba-tiba Jesslyn memukuli seorang siswa hingga babak belur hanya karena siswa itu menumpahkan makanan Jesslyn. Bukankah itu mencemaskan?


"Habiskan mie-mu lalu kau bisa kembali ke kelas setelah ini-"


"Aku sedang tidak enak badan!" Ucap Jesslyn memotong kalimat Nona Rivera.


"Bolehkah aku tidur di ruang kesehatan?" Tanya Jesslyn lagi seraya menatap tanpa sungkan pada Nona Rivera yang mungkin usianya sama dengan Oscar.


"Ya! Silahkan!" Jawab Nona Rivera memberikan izin.


"Mau aku antar?" Tawar Nona Rivera lagi.

__ADS_1


"Tidak usah!" Tolak Jesslyn yang langsung keluar begitu saja dari ruangan Nona Rivera. Gadis itu juga meninggalkan mangkuk mie-nya dan tak sedikitpun mengucapkan terima kasih.


Nona Rivera menghela nafas, lalu membereskan mangkuk bekas Jesslyn sebelum wanita itu lanjut masuk ke kelas untuk kembali mengajar.


****


Tok tok tok!


Oscar membuka pintu depan rumahnya dan langsung terlihat Nona Rivera yang entah mengapa siang ini repot-repot mengantar Jesslyn hingga ke depan pintu. Padahal guru muda itu sangat bisa mengantar Jesslyn sampai di halaman atau depan pagar rumah saja. Jesslyn bukan anak TK yang harus diantar hingga depan pintu! Gadis itu sudah sembilan tahun!


"Selamat siang, Tuan Olsen!" Sapa Nona Rivera pada Oscar seraya mengulas senyum.


Jesslyn sendiri langsung merangsek ke dalam rumah, lalu masuk ke kamarnya dan membanting pintu tanpa sedikitpun berbasa-basi pada Oscar maupun Nona Rivera.


"Siang, Nona Rivera!" Oscar menjawab salam dari Nona Rivera.


"Terima kasih karena sudah repot-repot mengantar Jesslyn," imbuh Oscar lagi sedikit ketus atau mungkin kurang senang.


"Iya." Nona Rivera kembali mengulas senyum, sebelum kemudian wanita itu lanjut berbicara pada Oscar.


"Sebelumnya saya minta maaf, Tuan Olsen!"


"Tapi Jesslyn hari ini sedikit membuat keributan di sekolah," lapor Nona Rivera pada Oscar yang langsung menatapnya dengan penasaran.


"Keributan apa?" Tanya Oscar.


"Ya sudah kalau begitu! Kasus selesai!" Ujar Oscar menyela.


"Tapi Jess mungkin saja akan mengulanginya suatu hari nanti, Tuan Olsen!"


"Jadi saya meminta anda sebagai Dad-nya agar bicara dari hati ke hati pada Jess!" Ujar Nona Rivera panjang lebar berusaha menasehati Oscar.


"Mungkin juga ini dampak dari Jess yang baru kehilangan Mommy-nya. Jadi gadis itu mungkin masih merasa sedih dan sedikit terguncang."


"Jadi saya harap anda bisa bicara pada Jess dan melakukan apa yang seharusnya anda lakukan sebagai seorang Dad. Apalagi mengingat profesi anda yang juga sebagai psikolog, anda pasti tahu bagaimana mengatasi kesedihan yang saat ini dialami Jesslyn," tutur Nona Rivera panjang lebar yang sontak membuat Oscar sedikit menggerutu karena guru muda itu yang malah menyebut-nyebut tentang profesi psikolog.


Padahal itu hanya karangan Naomi belaka dan entah mengapa, Naomi masih memakainya saat memasukkan data Jesslyn di sekolah.


Apa Naomi malu menyebut Oscar sebagai pengangguran?


Atau kenapa tidak sekalian ditulis sebagai mantan escortman?


"Terima kasih atas nasehat panjang lebar anda, Nona Rivera!" Ucap Oscar dengan nada sinis.


"Tapi saya sangat tahu apa yang harus saya lakukan pada Jess karena saya seorang psikolog seperti kata anda tadi!" .


"Dan lain kali tak perlu menyebut-nyebut tentang profesi saya!" Desis Oscar tajam menatap tak senang pada Nona Rivera.

__ADS_1


"Saya minta maaf jika itu menyinggung anda, Tuan Olsen!" Ucap Nona Rivera cepat.


"Dan saya yakin, anda akan bisa menasehati serta bicara pada Jesslyn agar kedepannya, gadis itu tak lagi mengulangi perbuatan kasarnya di sekolah serta berhenti menjadi gadis pemurung." Ujar Nona Rivera lagi menyampaikan harapannya.


"Iya saya paham!"


"Terima kasih-"


"Kau bicara dengan siapa, Osh? Kenapa lama sekali?" Suara Aster yang menyela kalimat Oscar langsung membuat Oscar berdecak.


Aster menampakkan wajahnya dan mebatap sinis ke arah Nona Rivera.


"Selamat siang, Nyonya! Saya guru sekolahnya Jesslyn," ujar Rivera memperkenalkan dirinya dengan ramah. Namun tak ada tanggapan dari Aster pongah.


"Jadi, itu saja, Tuan Olsen! Semoga anda bisa memberikan nasehat, pengertian, serta bicara pada Jess dengan lembut," pungkas Nona Rivera akhirnya sebelum kemudian wanita itu berpamitan dari rumah Oscar.


Oscar hanya mendengus seraya menyugar rambutnya, setelah Nona Rivera berlalu pergi.


"Ada apa? Putri ketusmu membuat masalah di sekolah?" Tebak Aster Brennen seraya bersedekap sinis pada Oscar.


"Hanya terlibat perkelahian kecil," jawab Oscar bergumam..


"Bukankah sudah aku bilang untuk menitipkannya saja di yayasan atau asrama! Itu adalah solusi terbaik untuk mendidik Jess agar gadis itu tak lagi semaunya sendiri!" Tukas Aster panjang lebar yang sama sekali tak memberikan solusi tapi malah mengompori hati Oscar sekarang.


"Ini belum seberapa! Kedepannya, mungkin Jess akan membuat masalah yang semakin besar mengingat sifat gadis itu yang keras kepala dan pemarah!" Ujar Aster lagi.


"Keputusan ada di tanganmu, Oscar! Jangan mau diperbudak oleh gadis sembilan tahun hanya demi sebuah tanggung jawab!"


"Belum tentu juga Jess adalah putri kandungmu!" Aster berucap dengan sinis dan Oscar hanya bungkam seolah enggan menanggapi.


Tak berselang lama, mobil Aster Brennen sudah tiba di halaman rumah Oscar. Dan Oscar baru sadar kalau sejak tadi Aster memang sudah rapi dan siap pergi.


"Aku baru akan pergi besok pagi karena hari ini tak ada penerbangan. Jadi kau masih punya tambahan waktu untuk kembali berpikir dan mengambil keputusan!" Aster mengangsurkan sebuah alamat hotel pada Oscar.


"Ambil keputusan yang tepat, Osh! Penawaranku mungkin saja tak datang dua kali!" Pungkas Aster Brennen sebelum kemudian wanita itu keluar dari rumah Oscar dengan langkah pongah. Beberapa bodyguard langsung menyambut Aster dan ada juga yang membukakan pintu mobil.


Tak berselang lama, mobil mewah Aster Brennen sudah pergi dari kediaman Oscar. Meninggalkan Oscar yang kini hanya mematung dalam kebimbangan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2