
Oscar membolak-balik daging serta beberapa sayuran di atas panggangan sambil sesekali memperhatikan Jesslyn yang tengah bercengkerama bersama Nona Rivera. Sesekali Jesslyn juga meletakkan kepalanya di atas perut Nona Rivera dan gadis itu sama sekali tak merasa sungkan. Pun dengan Rivera yang terlihat tak keberatan sama sekali.
"Kau yang membawa minuman ini?" Tanya Paul yang sudah menghampiri Oscar. Pria itu menunjuk ke sebuah botol beling yang tadi memang dibawa oleh Oscar.
"Ya! Yang itu untuk kita berdua," jawab Oscar seraya tertawa kecil. Paul ikut tertawa, lalu dua pria itu lanjut membakar daging yang sudah hampir matang.
"Aku akan menyembunyikannya dulu agar Rivera tidak mengomel."
"Dia melarangku minum belakangan ini," cerita Paul seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau sering minum memangnya?" Tanya Oscar heran.
"Hanya kadang-kadang dan itu juga tidak sampai mabuk! Aku harus selalu siaga," jawab Paul yang langsung membuat Oscar mengangguk.
"Baunya harum! Apa sudah matang?" Tanya Jesslyn yang sudah menghampiri Oscar dan Paul lalu melihat ke atas panggangan.
"Hampir, Nona Jess!" Jawab Paul seraya mengacak rambut Jesslyn.
"Aku akan mengobrol bersama bayi lagi kalau begitu! Dia bergerak sangat lincah!" Ujar Jesslyn memberitahu Paul.
"Benarkah? Dia memberitahumu jenis kelaminnya?" Tanya Paul pada Jesslyn yang begitu antusias membahas tentang bayi Rivera dan Paul yang masih berada di dalam perut.
Jesslyn menggeleng.
"Kata Nona Rivera, itu masih rahasia. Kau mau memberitahuku, Paul?" Jesslyn sedikit merayu suami Rivera tersebut.
"Putrimu pandai merayu, Osh!" Lapor Paul pada Oscar yang langsung mengangguk.
"Dia juga selalu melakukannya kepadaku saat minta sesuatu. Memakai puppy eye menyebalkan itu!" Timpal Oscar yang sukses membuat Paul tergelak.
"Beritahu aku!" Jesslyn kembali memaksa Paul.
"Mmmmmm!" Paul sengaja menahan-nahan agar Jesslyn semakin penasaran.
"Mmmmm apa?" Jesslyn sudah tak sabar.
"Itu rahasia!" Bisik Paul yang langsung membuat Jesslyn berdecak. Gadis itu tak bertanya lagi dan memilih untuk berbalik pergi, lalu kembali menghampiri Nona Rivera yang masih duduk di atas tikar. Jesslyn kembali mengusap-usap perut Nona Rivera dan semua pemandangan tersebut, tentu saja tak luput dari pandangan mata Oscar.
"Osh, kau ada janji dengan seseorang?" Tanya Paul tiba-tiba seraya menunjuk ke arah rumah Oscar dimana sebuah mobil berhenti di sana.
Sial!
__ADS_1
Jangan bilang kalau itu Aster lagi yang hendak membujuk Oscar untuk pulang ke mansion-nya!
"Aku tidak tahu," jawab Oscar pura-pura bingung.
"Kau temui dulu, dan aku akan mengurus ini semua," titah Paul yang akhirnya membuat Oscar mau tak mau terpaksa berlari ke arah rumahnya. Oscar baru saja akan mendekat ke arah mobil tadi, saat tiba-tiba sang empunya mobil sudah menjejakkan kakinya keluar dari mobil.
Dan benar dugaan Oscar!
Wanita itu lagi!
"Oscar!" Panggil Aster seraya membuka kacamata hitamnya.
"Sedang ada acara?" Tanya Aster lagi yang sepertinya sempat melihat sekilas ke arah halaman rumah Paul.
"Tetanggaku yang mengadakan acara." Jawab Oscar ketus.
"Lalu kau tidak mengajakku?" Aster sudah dengan cepat menghampiri Oscar yang langsung melangkah mundur dan menjaga jarak.
"Ada apa?" Tanya Aster bingung.
"Tidak usah berpura-pura!" Jawab Oscar merasa jengah.
Jengah dengan sikap sok manis Aster, padahal dibelakang, wanita ini tak ubahnya seperti ular yang membuat Oscar benar-benar menjadi pria bodoh.
Ah, tapi Oscar tak peduli!
"Tidak usah pura-pura bodoh apalagi pura-pura bersikap manis!"
"Kau sudah menipuku mentah-mentah, Aster! Mencuri surat-surat berharga milik Naomi, lalu mengambil rumah yang sebenarnya adalah milik Jesslyn!"
"Lalu kau juga yang membayar orang untuk menculik Jesslyn dan membuat skenario seolah aku berhutang budi padamu, kan?" cecar Oscar meluapkan segala emosinya pada Aster yang hanya diam mematung.
"Kau benar-benar keterlaluan, Aster!"
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, hah?" Cecar Oscar sekali lagi seraya mendelik pada Aster
"Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya," jawab Aster to the point.
"Menjadi milikmu?" Oscar berdecih.
"Maaf, aku bukan sebuah barang yang bisa kau koleksi-"
__ADS_1
"Kau memang sebuah barang, Osh! Dulu Naomi yang mengoleksimu dan sekarang aku mau hanya aku yang bisa memilikimu!" Sergah Aster memotong kalimat Oscar.
"Kau gila!" Gumam Oscar seraya berbalik dan pergi meninggalkan Aster. Tak berselang lama, mobil hitam Aster tadi sudah pergi dari rumah Oscar dan Oscar sama sekali tak peduli!
Oscar kembali ke halaman rumah Paul dan bergabung bersama Jesslyn, Rivera, seera Paul.
"Kau darimana?" Tanya Jesslyn penuh selidik pada Oscar.
"Mengambil sesuatu yang tertinggal di rumah!" Jawab Oscar seraya mengambil satu potong daging dari piring Jesslyn, lalu melahap dan mengunyahnya di depan Jesslyn yang langsung merengut.
"Itu milikku!" Delik Jesslyn pada Oscar sebelum gadis itu menghampiri Rivera yang sudah duduk bersama Paul. Jesslyn bahkan tanpa sungkan langsung duduk di antara Rivera dan Paul, lalu bermanja-manjaan pada pasangan suami istri tersebut, seolah gadis itu adalah anak dari Paul dan Rivera.
"Aaaa!" Jesslyn membuka lebar-lenar mulutnya saat Paul dan Rivera bergantian menyuapinya dengan irisan daging. Sesekali Jesslyn juga akan mengibas-ngibaskan tangan di depan mulut saat merasa kepanasan.
Ya, hanya di depan Rivera dan Paul, Jesslyn seolah kembali pada kodratnya sebagai seorang bocah berusia sepuluh tahun yang masih suka bermanja-manjaan. Sangat berbeda dengan sikap gadis itu di depan Oscar yang tak ubahnya seperti gadis dewasa yang menjadi pengasuh untuk Oscar dan kerap melontarkan nasehatnya pada Oscar sepanjang waktu.
Benar-benar titisan seorang Naomi!
"Oscar! Kemarilah!" Panggil Rivera yang langsung membuat lamunan Oscar menjadi buyar.
Oscar mengulas senyum tipis, sebelum kemudian ikut bergabung dan duduk di halaman bersama Rivera, Paul, dan Jesslyn. Empat orang itu terus bercengkerama hingga hampir tengah malam.
****
Oscar menurunkan Jesslyn yang sudah terlelap dari punggungnya dengan hati-hati. Lalu membaringkannya di atas tempat tidur dan membenarkan selimut yang membalut tubuh Jesslyn.
"Selamat malam!" Ucap Oscar seraya mengusap sekilas wajah Jesslyn, sebelum kemudian pria itu mematikan lampu, lalu keluar dari kamar.
Oscar menghela nafas, lalu memeriksa semua pintu dan jendela untuk memastikan kalau Oscar sudah mengunci semuanya.
Selesai memeriksa pintu dan jebdela, Oscar langsung masuk ke kamar, dan sebuah pemandangan yang di luar dugaannya tiba-tiba sudah menyambut Oscar.
Oh, sial!
Oscar pikir wanita kaya ini tadi sudah pergi!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.