The Escort Man

The Escort Man
PERMINTAAN NAOMI


__ADS_3

"Kau adalah kekasihku sekarang, Naomi Olsen!" Ucap Oscar sebelum kemudian pria itu mengecup kening Naomi dengan lama.


Oscar lanjut menurunkan kecupannya ke hidung lalu saat hampir mencapai bibir Naomi, wanita itu mengelak dengan cepat.


"Kau tadi darimana?" Tanya Naomi seraya menahan bibir Oscar dengan telapak tangannya.


"Aku rasa kau sudah tahu jawabannya," Oscar mengendikkan kedua bahunya dan Naomi hanya menghela nafas.


"Menemui Aster?" Tebak Naomi yang langsung bisa tahu setelah menatap kedua mata Oscar yang memang terlihat berbeda.


"Aku perlu melakukannya qgar diabtak terus-terusan mengusikmu. Aku juga mengatakan kepadanya kalau kau sudah melepaskanku dan aku akan pergi jauh dari kota ini," jelas Oscar panjang lebar yang sekali lagi hanya membuat Naomi menghela nafas.


"Kau mau kemana memangnya?" Tanya Naomi seraya mengusap airmatanya. Oscar sigap mengambil tisu lalu membantu Naomi menyeka air mata di wajah wanita tersebut.


"Kemana saja yang kau inginkan. Aku kekasihmu sekarang dan aku akan bersamamu kemana saja. Menjagamu...." Oscar kembali menangkup wajah Naomi.


"Kau mau kemana setelah pulang nanti?"Oscar bertanya pada Naomi.


"Pulang!" Jawab Naomi singkat.


"Ke rumah besar itu?" Tanya Oscar lagi.


Naomi menggeleng.


"Ke rumah nenek. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku di sana," ucap Naomi seraya membalas tatapan Oscar.


"Kita berdua akan kesana kalau begitu," ujar Oscar yang sama sekali tak keberatan.


"Bertiga! Aku tak mau jauh dari Jesslyn di sisa umurku," Naomi mengoreksi.


"Bisakah kau berhenti membahas soal umur? Kau pasti akan sembuh, Nao!" Oscar berusaha meyakinkan Naomi.


"Aku bukan anak kecil yang bisa kau tipu dan kau bujuk, Osh!" Sergah Naomi seraya tertawa kecut.


"Aku paham bagaimana kondisiku saat ini dan aku tak lagi punya harapan untuk sembuh!" Lanjut Naomi seraya menekankan setiap kata yang ia ucapkan.


Oscar berdecak dan memijit pangkal hidungnya.


"Tapi vonis dokter juga tak bisa dijadikan acuan!"


"Kau mungkin masih bisa bertahan satu atau dua tahun ke depan!" Oscar sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Sudah aku bilang untuk tak perlu menghibur dan membujukku dengan kalimat manis itu, Osh!"

__ADS_1


"Aku sudah menerima takdirku dan aku juga sudah siap mati!" Sergah Naomi tetap keras kepala yang kembali harus membuat Oscar berdecak. Oscar tak mengerti kenapa Naomi selalu saja keras kepala dan sok tahu.


"Berhentilah bicara tentang kematian, Nao!" Mohon Oscar setelah dua orang itu saling diam untuk beberapa saat.


"Please!" lanjut Oscar yang sudah kembali menangkup wajah Naomi.


"Kau akan memelukku di saat terakhirku nanti, kan?" Tanya Naomi yang kini sudah ganti menatap sendu pada Oscar.


"Ya! Aku akan selalu memelukmu setelah ini, Nao!" Jawab Oscar bersungguh-sungguh.


"Aku akan mewujudkan apapun yang menjadi keinginanmu," lanjut Oscar lagi seolah sedang berjanji pada Naomi.


"Termasuk menjadi ayah yang baik untuk Jess?" Tanya Naomi lirih yang langsung membuat Oscar diam untuk beberapa saat. Tentu saja diamnya Oscar tersebut langsung bisa membuat Naomi paham tentang keberatan Oscar yang sepertinya belum siap menjadi ayah dari Jess.


"Aku tidak akan memaksa, Osh! Mungkin ini memang mendadak-"


"Aku akan belajar!" Sergah Oscar memotong kalimat Naomi.


"Aku akan belajar menjadi ayah untuk Jess jika memang hal itu bisa membuatmu bahagia," ulang Oscar lagi yang akhirnya menyanggupi permintaan Naomi.


"Ya! Aku memang seorang ayah, kan?" Ujar Oscar lagi yang sepertinya sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


"Tak perlu memaksakan diri!" Nasehat Naomi bijak.


"Aku tidak memaksakan diri! Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan," sangkal Oscar yang rupanya juga keras kepala.


"Lagipula, Jess akan hidup bersama siapa jika bukan bersamaku ke depannya?" Lanjut Oscar lagi seraya tertawa sumbang.


Tak berselang lama, pintu kamar perawatan di ketuk dari luar. Rupanya dokter Naomi sudah tiba.


Oscar segera mempersilahkan dokter untuk masuk sekaligus bertanya apa Naomi sudah bisa pulak hari ini.


"Kondisi Nona Olsen sudah stabil." Jelas dokter.


"Saya bisa pulang hari ini berarti, Dok?" Tanya Naomi tak sabar.


"Ya! Tapi sebaiknya anda tetap rajin minum obat serta terapi, Nona!"


"Keajaiban bisa datang kapan saja, Nona Olsen! Jadi sebaiknya anda tak menyerah begitu saja." Nasehat dokter panjang lebar.


"Saya belum menyerah, Dok!" Jawab Naomi cepat seraya beberapa kali menatap pada Oscar.


"Dan saya selalu punya semangat untuk terus berjuang," lanjut Naomi lagi penuh rasa optimis.

__ADS_1


"Sangat optimis!" Puji dokter ikut senang.


"Semoga Nona Olsen akan menemukan jalan kesembuhan, Tuan Petrichor! Jangan lupa untuk terus mengingatkannya tentang obat yang harus ia konsumsi," pesan dokter panjang lebar pada Oscar sebelum pamit dari kamar perawatan Naomi.


"Terima kasih, Dokter! Saya akan terus mengingatkan Naomi," jawab Oscar seraya mengantarr dokter hingga keluar dari kamar perawatan.


Oscar kembali menghampiri Naomi lagi dan sedikit merapikan rambut wanita tersebut.


"Bisa kau panggil Jess kemari?" Pinta Naomi selanjutnya pada Oscar.


"Sekarang?" Tanya Oscar merasa ragu. Oscar masih tak suka pada Jesslyn sekalipun kata Naomi gadis menyebalkan itu adalah putri kandungnya.


"Ya!" Jawab Naomi.


"Baiklah!" Oscar akhirnya menuruti permintaan Naomi dan keluar dari kamar perawatan lalu langsung menuju ke taman di dekat kamar perawatan. Jesslyn terlihat duduk sendiri di sana seraya menyumpal telinganya dengan headphone. Oscar juga yakin kalau gadis itu tak menyadari kedatangan Oscar sekarang.


Oscar berdiri di belakang Jesslyn yang posisi duduknya memang membelakangi Oscar. Pria itu berkacak pinggang sejenak sebelum kemudian memaksa untuk melepas headphone Jesslyn hingga gadis sembilan tahun itu merasa kaget dan menoleh pada Oscar.


"Sebaiknya kau kurangi memakai headphone atau telingamu akan menjadi tuli nanti!" Ucap Oscar seraya menatap tajam pada Jesslyn.


"Kembalikan!" Gertak Jesslyn galak serta balas menatap tajam pada Oscar.


"Mommy memanggilmu!" Ujar Oscar menyampaikan pada Jesslyn seraya mengendikkan dagu ke arah kamar perawatan Naomi.


"Jesslyn bangkit dari duduknya, lalu berysaha metaih headphone miliknyq yang masih dipegang oleh Oscar. Namun Oscar dengan cepat mengangkat tinggi headphone tersebut hingga Jesslyn tak bisa menggapainya.


"Minta yang sopan, Jesslyn!" Perintah Oscar pada gadis sembilan tahun tersebut.


"Dalam mimpimu! Kau bahkan bukan siapa-siapa!" Cibir Jesslyn yang akhirnya berlalu dari hadapan Oscar dan meninggalkan headphone-nya.


"Aku Dad kandungmu, Jesslyn Olsen!"


"Atau harus aku katakan kalau namamu sekarang adalah Jesslyn Olsen Petrichor!" Sergah Oscar dengan nada pongah seolah sedang memberitahu Jesslyn.


"Aku tidak akan pernah memakai nama belakangmu di dalam namaku!" Tuding Jesslyn berani pada Oscar. Gadis itu kembali berbalik dan melangkah cepat menuju ke kamar perawatan Naomi.


"Dasar gadis keras kepala!" Gerutu Oscar yang juga ikut menuju ke kamar perawatan Naomi.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2