
Jesslyn mengintip ke dalam kamar Naomi karena tadi gadis sembilan tahun tersebut melihat Oscar yang membawa baskom ke dalam kamar Mommy-nya tersebut. Jesslyn hanya ingin memastikan kalau kondisi Naomi baik-baik saja sekarang.
"Masih sakit?" Tanya Oscar pada Naomi yang samar-samar bisa didengar oleh Jesslyn. Pemandangan yang saat ini Jesslyn lihat adalah Oscar yang sedang menyeka tubuh Naomi yang terbaring di atas ranjang, dengan menggunakan washlap dan air hangat.
"Hanya nyeri sedikit." Jawaban Naomi atas pertanyaan Oscar tadi juga bisa didengar oleh Jesslyn samar-samar.
"Apa memang yang sakit? Mom sakit lagi?" Jesslyn bergumam dan bertanya pada dirinya sendiri, sebelum kemudian gadis itu berhenti mengintip dan segera mengambil tasnya, lalu keluar dari rumah untuk menunggu bus jemputan.
Sepuluh menit berlalu, dan bus sekolah Jesslyn masih belum tiba.
Aneh sekali!
Karena biasanya bus selalu tepat waktu.
"Jess! Kau melupakan bekalmu!" Seru Oscar seraya membuka pintu deoan dan Jesslyn cepat-cepat menuruni tangga teras dan pura-pura tak mendengar seruan dari Oscar.
"Jesslyn!" Oscar berteriak lebih lantang dan berusaha mengejar Jesslyn, saat bus sekolah sudah tiba di depan rumah.
"Sial!" Umpat Oscar yang segera memakai sandalnya dengan cepat dan mengejar Jesslyn yang sudah masuk ke dalam bus.
"Jess! Bekalmu!" Seru Oscar seraya menyodorkan bekal pada Jesslyn yang acuh.
"Pagi, Jess! Apa bekalmu tertinggal?" Seorang wanita muda yang berada di dalam bus menyapa Jesslyn seraya menunjuk ke arah Oscar yang masih melambai-lambaikan bekal Jesslyn.
"Kau siapa?" Tanya Jesslyn ketus karena ia memang merasa tak kenal dengan wanita muda yang baru saja menyapanya tersebut.
"Rivera Oliver!"
"Aku guru baru di sekolah," ucap wanita muda itu memperkenalkan dirinya.
Jesslyn berdecak dan akhirnya kembali ke pintu bus untuk mengambil bekal yang disodorkan Oscar.
"Apa susahnya membawa bekal agar aku tak perlu repot-repot mengantarnya ke sekolah?" Desis Oscar merasa geram pada Jesslyn yang hanya memutar bola mata. Jesslyn lalu berbalik dan pintu bus sekolah sudah kembali tertutup.
Sama sekali tak ada ucapan terimakasih!
Bus sudah kembali melaju dan Jesslyn juga sudah duduk di salah satu bangku yang ada di dalam bus.
"Bekal yang cantik!" Puji Rivera saat melihat kotak bekal dengan tutup transparan di pangkuan Jesslyn. Sandwich yang dihias mirip salah satu karakter tokoh kartun terlihat dengan sangat jelas dari luar kotak.
Kekanakan sekali!
Apa Oscar yang membuat sandwich dengan hiasan konyol ini?
Jesslyn tak berhenti menggerutu dalam hati dan gadis sembilan tahun itu sama sekali tak menanggapi pujian Rivera, sang guru baru.
Jesslyn paling malas berbasa-basi pada orang baru yang sok akrab!
****
Beberapa minggu berlalu.
Oscar membalutkan selimut yang ia bawa ke tubuh Naomi, lalu merengkuh kedua pundak wanita tersebut.
"Ayo masuk! Udaranya mulai dingin," ajak Oscar lembut pada Naomiyang sejak tadi memang berada di teras belakang dan hanya duduk diam seraya menatap ke arah danau.
__ADS_1
Oscar tidak tahu kenapa, tapi Naomi selalu melakukan hal tersebut beberapa hari belakangan.
"Nao!" Bujuk Oscar lagj pada Naomi yang sejak tadi hanya diam. Oscar mendekap tubuh Naomi yang sudah semakin kurus. Bahkan untuk berjalan saja, Naomi tak lagi bisa melakukannya.
"Sebentar lagi." Jawab Naomi dengan tatapan amta kosong.
"Dokter dan perawat akan datang sebentar lagi untuk mengecek kondisimu dan mungkin mereka akan memasang infus juga," ujar Oscar memberitahu sekaligus mengusap lengan kuris Naomi yang begitu terlihat memprihatinkan.
"Jesslyn sudah pulang?" Tanya Naomi selanjutnya pada Oscar tetak dengan suara yang lirih.
"Belum! Mungkin Sebentar lagi," jawab Oscar seraya mendekap dan mengusap pundak Naomi.
"Ayo masuk!" Ajak Oscar sekali lagi pada Naomi dengan nada sedikit memaksa.
"Ya!" Jawab Naomi yang akhirnya setuju. Oscar hendak mendorong kursi roda Naomi, namun kemudian wanita itu menolak.
"Apa kau keberatan jika aku minta digendong sampai ke kamar?" Tanya Naomi membuat permintaan pada Oscar.
"Sama sekali tidak!" Jawab Oscar seraya mengulas senyum. Oscar segera membungkuk dan bersiap mengangkat Naomi dari atas kursi roda. Naomi sendiri langsung mengalungkan kedua lengannya di leher Oscar, dan saat Oscar mengangkat tubuh kurus Naomi, mendadak ada ganjalan pahit yang memenuhi tenggorokan serta menghimpit hati Oscar.
Tubuh Naomi terasa begitu ringan. Raut wajah wanita itu juga pucat dan tatapan matanya seolah kosong.
Oscar mendaratkan Naomi dengan hati-hati di atas ranjang. Pria itu juga langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh Naomi.
"Jess seharusnya sudah pulang, Osh! Bisakah kau jemput dia di depan, lalu mengantarnya kemari?" Pinta Naomi lagi pada Oscar.
"Dia biasanya akan masuk ke rumah sendiri dan tak perlu dijemput, Nao," tolak Oscar mengungkapkan alasannya. Lagipula, Jesslyn juga bukan bocah TK umur lima tahun yang harus ditunggu di depan rumah saat pulang sekolah.
"Satu kali ini saja!" Pinta Naomi memohon. Oscar menghela nafas, dan akhirnya menuruti kemauan Naomi meskipun hatinya tak berhenti menggerutu.
"Sudah pulang?" Oscar berbasa-basi dengan ketus. Namun Jesslyn hanya bungkam dan gadis itu langsung merangsek masuk ke dalam rumah. Jesslyn langsung menuju ke kamarnya, saat Oscar terpaksa memanggil gadis itu lagi.
"Mommy memanggilmu, Jess!"
Jesslyn menghentikan langkahnya, dan ganti menuju ke kamar Naomi. Oscar hanya memutar bola mata, lalu memilih keluar ke teras untuk menghirup udara segar.
Namun baru saja Oscar keluar, seorang wanita muda sudah menyapanya.
"Selamat siang, Tuan Olsen! Jesslyn meninggalkan kotak bekalnya di bus lagi," ujar wanita muda yang sepertinya adalah guru sekolah Jesslyn tersebut.
"Ya! Terima kasih sudah diantarkan! Gadis itu memang ceroboh!" Jawab Oscar sedikit geram, seraya menerima kotak bekal Jesslyn yang sudah kosong.
"Jess hanya butuh sedikit perhatian Tuan Olsen-"
"Maaf!" Oscar menyela nasehat dari guru muda tersebut.
"Ah, iya! Nama saya Rivera Oliver dan saya adalah guru di sekolah Jess." Wanita muda tadi memperkenalkan dirinya pada Oscar.
"Jess selalu terlihat murung di sekolah dan jarang mau bergaul dengan temannya. Jadi saya harap anda sebagai dad-nya bisa memberikan perhatian lebih untuk Jess dan mengajaknya bicara dari hati ke hati," nasehat Rivera panjang lebar yang hanya ditanggapi Oscar dengan sedekapan tangan serta tatapan kesal kurang bersahabat.
"Terima kasih nasehatnya, Nona Rivera!" Jawab Oscar sedikit sinis. Raut wajah guru sekolah Jesslyn itu seketika berubah.
"Maaf jika saya lancang. Saya permisi!" Pamitnya kemudian.
"Selamat siang, Tuan Olsen!"
__ADS_1
Oscar hamya berdecak dan tak menjawab sama sekali. Pria itu menatap pada guru muda tadi yang ternyata tinggal tak jauh dari rumah Naomi.
"Dasar sok tahu dan sok bijak!" Gerutu Oscar seraya mendaratkan bokongnya di kursi teras.
****
Jesslyn menggenggam dan mencium tangan kurus Naomi hingga beberapa saat.
"Maaf!" Ucap Naomi lirih seraya menatap penuh rasa bersalah pada Jesslyn.
Rasa bersalah karena selama ini selalu egois dan jarang memberikan perhatian pada Jesslyn. Rasa bersalah karena belum bisa menjadi Mom yang baik untuk Jesslyn. Rasa bersalah karena tak bisa mewujudkan sebuah keluarga yang seharusnya Jesslyn miliki.
"Mom yang terbaik!" Bisik Jesslyn seraya menitikkan air mata. Jesslyn memeluk erat Naomi yang kondisinya sudah semakin memprihatinkan.
"Terima kasih karena sudah melakukan semua yang terbaik untuk Jess," bisik Jesslyn lagi masih sambil memeluk Naomi.
"Mom sudah menghubungi pihak yayasan. Mereka akan menjemput dan mengurus kepindahan sekolahmu minggu depan," ujar Naomi nyaris tanpa suara.
"Jadilah apapun yang kau inginkan, Sayang!" Suara Naomi sudah tak lagi terdengar.
"Mom!" Cicit Jesslyn seraya mengusap wajah Naomi dan menciuminya tanpa henti seolah gadis itu sudah merasakan sebuah firasat.
"Masuklah ke kamarmu!" Titah Naomi seraya ganti mengusap wajah Jesslyn meskipun gerakan tangannya begitu lemah.
"I love you,, Mom!" Bisik Jesslyn seraya mencium kening Naomi.
"I love you too!" Balas Naomi tanpa suara.
Jesslyn memeluk Naomi sekali lagi, sebelum kemudian gadis itu keluar dari kamar Naomi lalu langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.
Oscar yang melihat Jesslyn keluar dari kamar Naomi dengan bersimbah airmata, buru-buru masuk ke kamar untuk memeriksa kondisi Naomi.
"Semuanya baik-baik saja?" Tanya Oscar seraya mendekat ke ranjang Naomi.
"Ya!" Jawab Naomi masih tanpa suara.
"Kau ingin aku ambilkan sesuatu?" Tanya Oscar lagi sembari mengusap lembut kepala Naomi yang hanya menggeleng samar.
"Maukah kau memelukku, hingga aku tertidur?" Pinta Naomi lirih.
"Ya!" Jawab Oscar yang langsung naik ke atas ranjang, lalu masuk ke dalam selimut dan mendekap tubuh kurus Naomi.
"Tidurlah!" Oscar mencium puncak kepala Naomi dan terus mendekap wanita itu hingga malam menjelang dan semuanya menjadi sunyi.
Sunyi dan dingin untuk Naomi yang akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di dalam pelukan Oscar, pria yang selama sepuluh tahun Naomi cintai dalam diam.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1