The Red Game

The Red Game
Chapter 3 part 1


__ADS_3

Vany terus menertawakanku sejak tadi, karena kekonyolan yang aku buat membawa akhir bahagia baginya. Ini tidak bisa dihandari walau aku sudah mengganti pakaian dengan yang baru dan mengeringkan barang-barang bawaan. Sebenarnya aku tidak menyangka akan seperti ini pada akhirnya. Dan yang membuatnya terjadi adalah karena saat itu Vany menyentuh pundakku.


Aku bertanya-tanya kenapa rangkaian kejadian buruk terjadi padaku saat bersama dengan Vany. Apakah dia semacam pembawa sial? Hari ini akan kukenang sebagai hari terburuk dalam hidup. Karena kejadian konyol membuat aku sangat malu karena diperhatikan oleh banyak orang.


“Berhentilah tertawa atau perutmu akan sakit.” Aku menegur Vany.


“Oke, Oke.” Vany mencoba untuk kembali tenang.


“Jadi kita akan kembali, kan?”


“Tidak ada yang mengatakan itu.” Dia melirik ke sekitar. “Karena kau sudah selesai mengeringkan tubuh, kita akan menaiki bianglala.”


Aku hanya mengangguk kecil sebagai persetujuan. Aku ingin tahu kesialan apa lagi yang akan terjadi. Sebaiknya diri ini bersiap. Sudah dapat kutebak kalau nantinya kesialan pasti datang,  mungkin karena wahana itu macet. Itu bukanlah masalah besar.


Itu yang kupikirkan sebelumnya. Tapi kenapa kejadiannya seperti ini? awalnya bianglala berputar dengan normal, lalu tiba-tiba saja terjadi sebuah hentakan tak terduga saat posisi kami berada dipuncak. Itu menyebabkan kejadian tak terduga terjadi. Aku kehilangan keseimbangan saat itu, dan tanpa sengaja terdorong ke arah Vany yang duduk di depanku. Lalu kemudian, aku tidak tahu apakah akan menyebut ini keberuntungan atau bukan, tapi yang jelas, ciuman pertamaku telah direbut tanpa sengaja.


Ciuman itu terjadi hingga beberapa detik kemudian aku dihajar habis-habisan oleh Vany dengan wajahnya yang memerah. Aku tahu ini akan terjadi. Mungkin saja itu adalah ciuman pertamanya juga. Meskipun tidak penting tetap saja kejadian itu memalukan. Untungnya tidak ada yang melihat.


Setelah turun dari wahana bianglala, Vany terus berjalan tanpa mempedulikan aku. Kurasa dia sangat marah karena insiden tak terduga tadi. Ah, hari ini adalah hari yang buruk.


“Hei, Vany! Aku sungguh minta maaf atas kejadian tadi. Sungguh. Aku tidak sengaja melakukannya.” Aku terus membujuk Vany untuk berbaikan.


Vany hanya mengacuhkan apa yang baru saja kukatakan. Tidak ada tanda-tanda dia ingin berbaikan. Jika ini terus berlanjut, semua yang kurencanakan akan menjadi kacau.


“Hei, ayolah. Tidak baik bagi seorang teman untuk menyimpan dendam.”


“....”


Ini baru saja menjadi bertambah buruk. Percuma saja untuk membujuknya sekarang. Jika aku terus melanjutkan, hasil terburuknya adalah; dia akan membenciku dan itu yang tidak kuinginkan. Untuk menghindarinya aku perlu membiarkan dia sendiri.


“Sepertinya kau sedang ingin sendiri. Setelah kau tenang temui aku di gerbang perbatasan. Aku akan menunggu.”


“....”

__ADS_1


Tidak ada jawaban seperti yang aku duga. Wajar saja dia marah jika orang yang baru dia kenal menciumnya seperti itu. Apalagi orangnya adalah aku.


Meninggalkan Vany sendiri untuk menenangkan pikirannya, aku berbalik dan berjalan menuju arah gerbang. Orang-orang sudah mulai berkurang karena hari semakin larut. Hembusan angin dingin membuat tubuh sedikit kedinginan. Aku berbelok ke kanan untuk mencari jalan memutar agar dapat menghindar dari keramaian.


Berjalan menyusuri gang sempit dan hanya disinari cahaya bulan yang redup. Tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain di sini. Aku menjadi agak khawatir karena situasi tersebut. Biasanya tempat seperti ini akan menjadi sarang para penjahat. Tapi aku tidak akan peduli, mungkin sudah saatnya untuk berhenti berpura-pura.


Kesunyian malam menutupiku. Hanya ada suara langkah kaki yang terdengar. Bagaikan kehampaan. Tidak ada hal yang spesial. Namun, ini sama seperti kebosanan yang selalu kurasakan.


Sampai beberapa saat kemudian, orang-orang yang terlihat mencurigakan dengan jubah hitam mengepungku. Kuhentikan langkah, lalu memeriksa situasi. Mereka berhasil mengepung, sehingga tidak ada jalan untuk kabur. Satu-satunya cara untuk keluar dari situasi ini adalah dengan bertarung, karena saat ini kemampuanku sedang lemah, sehingga tidak bisa menggunakan Teknik Berpindah Tempat.


“Apa mau kalian?” tanyaku, “Jika kalian ingin merampas. Akan kukatakan kalau kalian hanya membuang-buang waktu saja.”


“Ck, ck, ck. Apakah kami terlihat seperti para bandit rendahan?” seringai orang yang ada di depanku.


“Aku tidak peduli. Jadi apa yang kalian inginkan dariku?”


“Kau mempunyai dua pilihan. Bunuh diri sekarang juga agar kau tidak menderita sebelum mati. Atau kami akan menyiksamu sebelum kau mati.”


Jadi intinya mereka adalah orang-orang yang dikirim untuk membunuhku. Ini merepotkan.


“Hahaha. Sudah jelas itu mus—”


Orang itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena aku dengan cepat melancarkan tendangan pada wajahnya hingga ia terjatuh. Melihat itu, sekitar dua puluh orang temannya menembakiku dengan pistol mereka. Untuk menahan serangan itu, aku menggunakan tubuh orang yang kutendang sebagai tameng dan menghindari serangan dari arah lain dengan kecepatan. Mereka pun dengan kompak memaki aku. Tapi itu tidak mengubah apa yang terjadi.


Tubuh orang yang kujadikan tameng berubah warna menjadi merah karena darah. Kuambil pistol dan pisau yang disembunyikan di balik jubahnya. Tanpa henti serangan demi serangan terus dilancarkan. Kali ini, bola-bola api, es, dan angin ditembakkan seperti hujan ke segala arah. Bukan hanya itu, mereka membentuk dinding tanah untuk memerangkapku agar tidak bisa kabur. Hebat, mereka berhasil mendesak aku hingga seperti ini.


Aku menatap ke atas memperhatikan hujan serangan itu dalam diam. Ini sama seperti sedang menunggu kematian mendekat. Kejadian tersebut membuatku merasakan sedikit nostalgia di masa lalu. Di mana kami menamai kejadian ini: ‘Kembang api dari langit’. Sulit dimengerti aku malah mengingat hal seperti itu di saat terdesak. Ya, karena mereka membuatku tidak bisa berbuat apa-apa, maka aku akan menurutinya saja.


Tanah bergetar dan ledakan besar terjadi setelah serangan mendarat ke tanah. Siapa pun yang terkena serangan bertubi seperti itu pasti tidak akan selamat dengan mudah. Bisa dikatakan, hanya sebagian kecil orang yang dapat lolos dari sana. Ledakan terus berlanjut selama beberapa menit.


Asap tebal menutup pandangan setelah serangan mereda. Suasananya menjadi cukup tenang. Lalu seseorang melompat keluar dari kumpulan asap. Orang itu adalah aku yang entah bagaimana bisa selamat dari sana. Saat masih berada di udara, aku langsung menarik pistol di tangan, menyerang orang yang berada di depan. Hentakan pistol itu sedikit mendorongku ke belakang.


Berputar di udara sambil menembakkan lima peluru yang tersisa pada pistol. Aku melayang dan menyerang dengan cepat musuh yang tersisa dengan pisau. Mereka mencoba untuk bertahan, tetapi itu tidak cukup menahanku. Kualirkan energi listrik ke pisau yang kupegang dengan tangan kiri, lalu menyebarkannya ke segala arah. Kini musuh hanya tersisa satu orang yang masih hidup.

__ADS_1


Aku turun ke bawah untuk menghampiri orang yang berdiri di atas dinding tanah. Wajahnya tertutup oleh masker, kepalanya tertutup oleh tudung hitam dan tubuhnya terbungkus jubah hitam. Tidak diragukan lagi kalau dialah yang menyuruh orang-orang itu membunuhku. Tapi apa tujuannya?


“Apa maksudmu berbuat seperti ini?” tanyaku padanya.


“Kami hanya diperintahkan untuk melakukan itu,” jawabnya.


“Kau tidak dapat mengelak dariku, Vany.”


“Eh? Siapa yang kau maksud? Aku sama sekali tidak mengenalnya.” Dengan sedikit gugup dan bingung, dia menjawab seperti itu.


“Aku mengerti. Kau disuruh oleh Cresh untuk menguji kemampuanku. Aku tahu dia tidak akan peduli bagaimana caranya. Meskipun nanti aku mati, berarti aku memang tidak layak. Apa aku salah?”


“Tidak ... itu ... aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”


Percuma kau mencoba untuk menipuku sekarang. Meskipun aku tidak dapat melihat wajahmu, aku masih dapat merasakan kekuatanmu. Dan tingkahmu itu juga dapat dijadikan petunjuk.


“Sebenarnya aku juga tidak peduli kalian melakukan hal seperti itu. Aku yakin Cresh sudah memperkirakan akan terjadi seperti ini.”


“Eh? Itu artinya


... kau, maksudku benarkah kau tidak masalah.”


“Ya, itu karena aku juga melakukan hal yang sama pada Cresh, jadi aku menganggap ini impas.”


“Kau yakin?”


“Ya.”


“Baiklah, aku minta maaf. Aku yang melakukan ini semua.”


Dia mengakui dan melepas masker dan tudung kepalanya. Di sini aku melakukannya dengan cara membuat dia menjadi lengah sehingga aku dapat menariknya untuk mengaku. Cara ini cukup mudah dilakukan, hanya perlu sedikit mengalah, maka pada akhirnya perasaan bersalah akan muncul padanya, dan dengan sedikit sentuhan, ia akan mengaku.


“Tidak apa. Aku tidak mempermasalahkannya. Jadi, apakah kita akan kembali ke kota utara malam ini?”

__ADS_1


Tidak penting lagi untuk memperpanjang masalah ini, semuanya sudah terjadi dan tak bisa diulang. Besok kejadian ini akan menjadi masa lalu. Dan semuanya berakhir dengan damai tanpa ada dendam yang tidak berguna.


__ADS_2