The Red Game

The Red Game
Chapter 1 : lingkungan dan teman baru


__ADS_3

Dari atas sebuah tembok raksasa yang mengelilingi sebuah kota, aku berdiri dan memandangi begitu banyak mayat akibat pertempuran. Namun, mereka yang hidup, masih terus bertarung satu sama lain, agar bisa mendapatkan kemenangan.


"Membosankan, semua ini hanya membuang waktu dan tenaga, tidak ada artinya sama sekali." Aku bergumam pelan sambil memasukkan ke dua tangan di dalam saku celana.


Jerit kesakitan terus menggema, mengisi telinga sampai-sampai aku tidak nyaman karenanya. Melompat dari atas dinding, kaki terus melangkah di atas genangan darah, hasil pertempuran. Satu pun tidak ada yang menyadari kehadiranku, sebab diri ini menggunakan Teknik Tak Terlihat.


Bau amis yang sangat mengganggu, memenuhi lubang hidung. Meski begitu, aku masih ingin menyaksikan peperangan ini, lebih lama lagi.


Mengabaikan semua hal tersebut, mata ini masih menyaksikan para prajurit yang saling bunuh, sebagai pertunjukan untuk membuang bosan. Aku tidak akan peduli jika salah satu dari mereka, mati di hadapanku, walau dia adalah orang yang menganggap aku adalah teman.


Mengalirkan Energi ke sekujur tubuh, aku pun melayang di udara untuk menyaksikan pemandangan ini lebih luas. Darah yang membasahi sepatu, perlahan menetes. Mereka yang sedang berperang tidak akan mungkin mempedulikannya, sebab sudah terlalu bosan melihat genangan darah.


Ketika menatap dari udara, aku teringat dari mana semua ini dimulai. Semuanya berawal pada saat itu.


***


Aku pergi ke Kota Utara setelah mendengar rumor aneh tentang tempat ini. Orang-orang percaya kalau di sini sangat berbahaya. Ada juga yang mengatakan, kalau lingkungannya dipenuhi oleh para penjahat. Kupikir rumor itu benar, karena tampaknya, begitu banyak brengsek dapat berkeliaran dengan bebas, mengisi setiap sudut kota.


Apakah ini sebuah nasib buruk? Padahal baru saja datang ke kota ini, tetapi sudah terjebak di dalam sebuah gang buntu bersama dengan para penjahat yang hendak memeras uang.


Itu benar, beberapa saat yang lalu, aku dikejar oleh beberapa orang, hingga akhirnya terjebak di sini tanpa ada harapan akan ditolong.


Astaga, ternyata kota ini menyebalkan! Bagaimana caraku melarikan diri sekarang?


Tarik napas, aku harus tetap tenang dan tidak terbawa suasana. Sebab, akan merepotkan jika harus ada pertumpahan darah.


"Hei, Bocah! Sebaiknya kau serahkan uangmu secepatnya agar kau selamat," kata salah satu dari mereka, sambil tertawa mengejek.


Astaga, nampaknya uangku akan dikuras sampai habis oleh mereka. Padahal ini adalah hasil kerja kerasku. Ya ampun, kenapa aku sangat sial?


Ah, sudahlah, sepertinya aku tidak punya pilihan lain.


Perlahan, aku mulai pasrah akan keadaan, lalu membuka tas untuk mengambil dompet.


"Tunggu dulu!" Seorang di antara mereka, mendekatkan wajahnya padaku. "Ada apa dengan tatapanmu yang seperti sedang mengejek itu?"


Sejenak aku terdiam.


Orang itu pun beralih pada temannya. "Hei, kalian juga merasakannya, kan, kalau bocah ini sedang mempermainkan kita dengan tatapannya?" Kembali dia menatapku. "Matamu terlihat seperti sedang mengejek! Apa kau sengaja menatap kami untuk minta dipukuli, huh?!"


Ah, sial! Mereka malah mempermasalahkan tatapan mataku. Kenapa harus seperti ini?


Orang-orang ini ternyata sangat bodoh. Hanya menilai dari sampul saja, hingga membuatku dilema, tak tahu harus berbuat apa.


Setelah sejenak menenangkan pikiran, aku pun berkata, "Sepertinya kalian semua terganggu dengan tatapanku, ya? Kalian tidak perlu mempermasalahkannya. Cukup ambil uangku saja, lalu lupakan kejadian ini."


"Aku tidak percaya, kau mengatakan itu dengan nada yang datar. Lagipula, kau terlihat tak terganggu dengan keadaanmu sendiri. Jadi, kami benar-benar seperti kumpulan semut di matamu. Apa aku salah?!"


Gawat, aku tidak menyangka kalau perkataan seperti itu dapat membuat mereka semakin marah. Namun, sudahlah, tidak perlu dipikirkan, lebih baik masalah ini diselesaikan sekarang juga. Cih, habis sudah uangku.


Aku pun melemparkan dompet di tangan, kepada mereka, tanpa mau berbicara lagi. Anggap saja sebagai sumbangan untuk orang yang tidak mampu.


"Hm, sepertinya kau adalah orang yang paling tidak suka terlibat dalam masalah dan selalu melarikan diri," ejek si brengsek yang menangkap dompetku.


Terserah mau mengatakan apa, yang aku inginkan adalah masalah ini segera selesai, dan kalian cepat pergi dari sini. Atau mungkin, kalian adalah orang yang akan menghajar target terlebih dahulu sebelum pergi. Kalau begitu, bukankah semuanya akan buruk.

__ADS_1


"Bukankah seharusnya kalian segera pergi setelah aku memberikan apa yang kalian inginkan? Kenapa kalian masih saja di sini? Tidakkah terpikir oleh kalian, bahwa berlama-lama di sini adalah hal yang sia-sia? Dan bisa saja, ada orang yang melihat kejadian ini."


"Apa kau pikir, kami takut akan hal seperti itu? Lagipula, ini adalah kota para penjahat, aku ragu kalau masih ada orang baik di sini."


Dia bercanda, kan? Apa mungkin kota ini adalah tempat kosong tanpa penghuni? Namun, tetap saja, mereka adalah orang bodoh hingga tidak berpikir, berlama-lama di sini tidak akan merubah pendapatan mereka.


"Tidakkah kalian pikir, jika masih berada di sini hanya akan membuang-buang waktu saja?"


"Cih." Orang yang mengambil dompetku, meludah, lalu melemparkan dompet di tanganya kepada seorang rekannya


Dia membuat kuda-kuda, lalu mengarahkan tangan kanannya yang mengepal, kepadaku. Tiba-tiba, tangannya itu bersinar seperti sebuah lampu


Wah, apakah aku ini sedang bermimpi atau berada di dunia fantasi?


Saat aku sedang terjebak dalam ruang pikiran yang kacau, orang yang mempunyai tangan aneh tadi, sudah meluncurkan serangannya. Dan tidak salah lagi, apa yang diincarnya adalah wajahku.


Nampaknya, akan ada berita yang menyampaikan kalau seorang pemuda ditemukan tewas, karena dihajar sebuah lampu. Namun, serangan yang dilancarkan orang itu, terhenti sebelum mengenai sasaran. Saat melirik ke sekitar, mata dapat melihat para brengsek tadi telah terlilit oleh rantai ungu yang memancarkan cahaya.


Aku berjalan menuju asal rantai-rantai itu, tanpa menghiraukan sekitar. Ternyata asalnya dari punggung seorang laki-laki muda yang bertubuh tinggi dan kurus. Pemuda tersebut memiliki rambut berwarna ungu, mengenakan kemeja putih dilapisi jas hitam dengan celana hitam.


Sudah kuduga, dunia ini pasti telah menjadi dunia fantasi.


"Hei! Kenapa kau terdiam? Cepat pergi dari sini selagi aku memberi pelajaran para brengsek ini," kata orang yang sedang kuperhatikan.


"Jika Anda memang ingin memberi mereka pelajaran, mungkin aku harus menyaksikannya secara langsung." Aku berbalik, memperhatikan mereka yang sudah terlilit rantai.


"Terserah kau saja."


Orang berambut ungu tadi, menatap rantai-rantai yang dililitkan pada lawannya. Seketika itu, ujung rantai yang lancip bergerak dan melubangi kaki orang-orang yang terlilit.


Uh, aku tahu itu pasti sakit.


Aneh, kenapa aku menjadi sedikit tertarik untuk mengetahui asal-usul dari orang asing ini. Namun, sebelum pergi, aku mengambil kembali dompetku dari para brengsek tadi.


Aku berjalan mengikuti seseorang tanpa berbicara sepatah kata pun. Orang yang kuikuti benar-benar mengabaikan dan tidak peduli akan sekitarnya.


Apakah dia pikir kalau aku ini hanya orang aneh yang tidak bisa berbuat apa-apa? Seperti menyergapnya dari belakang dan menghajarnya, mungkin? Meskipun kecil kemungkinan itu akan terjadi.


Tiba-tiba, orang yang kuikuti tadi, berhenti, lalu berbalik menghadap ke arahku sambil mengarahkan rantai berujung lancip seperti tombak yang keluar dari telapak tangan kanannya.


"Hei!" tegurnya, "Jika kau masih mengikuti, maka akan kubuat tengkorakmu itu berlubang."


Astaga, orang ini membuat kaget saja. Akan tetapi, aku harus bisa menekan emosi agar tidak merembes keluar, bagaimanapun caranya. Mungkin mukaku akan terlihat memuakkan di luar, tapi itulah resikonya.


"Brengsek! Kau dengar tidak? Kenapa tidak menjawab?"


"Baiklah bagaimana aku menjawabnya, ya?"


"Mana aku tahu, setidaknya kau mungkin harus menyingkirkan tatapan mengejek itu. Ah, pantas saja para brengsek tadi jengkel padamu."


Aku tidak menyangka, ternyata orang ini begitu emosional. Sepertinya, aku telah salah menilai kalau dia adalah orang yang tenang.


"Jujur, aku tidak dapat menyingkirkan tatapan ini. Tapi aku sedikit penasaran akan kehidupanmu di sini. Firasatku mengatakan kalau aku akan menemukan sesuatu yang menarik jika mengikutimu."


"Hahaha." Orang itu tertawa mendengar jawabanku.

__ADS_1


Kenapa orang ini tertawa? Apa aku mengatakan sesuatu yang lucu? Tadi itu kan, bukan sebuah lawakan. Ah, memahami pikiran orang lain memang sulit.


Orang berambut ungu, menurunkan tangan yang diarahkan padaku, lalu menarik kembali rantai anehnya ke dalam tangan. Dia segera memberhentikan tawanya, dan memasang wajah serius kepadaku.


Akankah dia marah padaku setelah ini? Ayolah takdir, kenapa harus seperti ini?!


"Hei, Kawan! Apa kau orang baru di sini?"


Ekspresinya berubah dari serius menjadi santai, nada suaranya sedikit lebih baik dari yang tadi.


Mungkinkah dia akan membuatku menurunkan kewaspadaan, lalu mencari celah untuk menyerang? Ah, sudahlah, tidak ada artinya terus mencurigai orang ini.


"Ya, begitulah. Namaku Kei, seorang pengembara dari daerah utara."


"Aku Cresh Vallencius, seorang pengacau, senang bertemu denganmu, Kei."


"Hm ... Cresh! Karena aku tidak terlalu mengenal kota ini, bisakah aku ikut bersamamu saja?"


Senyum licik terpancar di wajah Cresh. "Oke, tapi kau akan menjadi bawahanku, mulai sekarang. Kelihatannya kau adalah orang yang cukup aneh dan juga menarik."


"Aneh? Menarik? Apa kau sedang mengejek?"


"Entahlah, kau harus memikirkan sendiri jawabannya. Sekarang kau hanya perlu mengikutiku kembali ke markas sebagai seorang karyawan rendahan."


"Kurasa mulutmu itu harus segera diperbaiki, karena kau baru saja menyebut aku sebagai karyawan rendahan."


"Diamlah!"


Kami melangkah, melewati jalanan yang sepi di tengah kota tak berpenghuni dengan bangunan tua tak terpakai.


Semakin jauh berjalan, aku melihat sebuah blok perumahan tua yang jalan masuknya dibatasi oleh pagar besi yang sudah berkarat.


Sudah berapa lama kiranya tempat ini ditinggalkan?


Tanpa sadar, aku berhenti dan menatap blok perumahan itu.


"Apa ada yang salah?" Sebuah suara terdengar oleh telinga hingga membuat aku terbangun dari lamunan.


"Ah, maaf. Aku hanya penasaran kenapa blok perumahan ini ditutup."


"Kau tidak tahu, ya. Menurut informasi yang kudapatkan, sekitar tujuh belas tahun yang lalu, di sini adalah blok perumahan keluarga Klaurius. Di tempat ini, mereka mengembangkan sebuah eksperimen manusia super yang membuat dunia kita seperti dunia fantasi. Namun, satu tahun yang lalu, mereka semua dihabisi tanpa sisa oleh orang yang tidak diketahui. Baru-baru ini, aku mendengar gosip kalau yang membantai keluarga Klaurius bernama Klaurius Luchifer."


"Hm, Luchifer, ya. Nama yang aneh jika diberikan kepada seseorang."


"Hei, kenapa kau hanya mengomentari namanya?" Cresh sedikit kesal ketika mengatakan itu, lalu ia segera melanjutkan, "tidakkah kau peduli kepada orang-orang yang ia bantai?"


"Orang yang sudah mati tidak akan hidup lagi di dunia ini. Jadi, untuk apa aku memikirkan atau merasa bersimpati kepada mereka."


"Pantas saja raut wajahmu itu datar." Cresh sedikit tertawa dengan ekspresi yang mencurigakan. "Hehe, karena sudah ke sini, bagaimana kalau kita memeriksa ke dalam sana?"


"Tidak, terimakasih."


"Hahaha, sayang sekali aku tidak menerima penolakan darimu, Kei."


"Mere—"

__ADS_1


Tiba-tiba, rantai ungu melilit tubuh, lalu menggangkatku hingga melayang.


Gawat, aku pasti akan diseret masuk ke tempat angker. Oh kawan, tidakkah kau tahu kalau di balik wajah datarku ini, tersembunyi sebuah rasa takut.


__ADS_2