
Setelah puas menyeretku masuk ke dalam perumahan Keluarga Klaurius, Cresh kembali menarik diri ini, bagaikan hewan peliharaan, ke sebuah tempat di tengah-tengah kota tak berpenghuni.
Memperhatikan dengan saksama, selama beberapa saat, mata dapat melihat api unggun kecil dikelilingi oleh delapan orang remaja, laki-laki dan perempuan. Yang di antaranya adalah tiga orang gadis dan sisanya para pemuda.
"Kau pasti terkejut karena melihat ini kan, Kei?"
"Tidak juga. Sejak awal aku sudah sedikit mengerti."
"Apa yang kau mengerti? Atau mungkin kau sudah menduga kalau ada orang di kota ini selain kita?"
"Aku tidaklah bodoh. Kalau di sini memang tidak ada orang, bagaimana mungkin aku bisa dirampok dan akhirnya diselamatkan olehmu? Lagipula, tempat ini tidak akan dirumorkan jika tidak berpenduduk."
"Hahaha, kau memang orang yang menarik, Kei."
"Berhenti tertawa dan lepaskan aku!"
"Oke."
Cresh menarik kembali rantai yang mengikat tubuhku, ke dalam tubuhnya. Sungguh lega rasanya ketika berhasil lepas dari ikatan rantainya itu. Ia lalu mendekati mereka yang sedang berkumpul mengelilingi api unggun.
"Aku kembali," kata Cresh pada mereka.
Sepertinya, mereka adalah teman. Akan tetapi, aku tidak mengerti bagaimana mereka dapat menjadi akrab di lingkungan seperti ini. Namun, firasatku mengatakan kalau mereka pasti tidak jauh berbeda dari para penjahat.
Semoga saja itu salah.
"Hei, Cresh! Siapa orang lemah yang kau bawa itu." Seorang pemuda bertubuh kekar, menunjuk wajahku.
"Oh, dia. Namanya Kei, orang lemah tak berguna dengan wajah datar dan tatapan aneh."
Perkenalan macam apa itu?
Cresh sialan, sepertinya dia sungguh meremehkanku. Awas saja nanti, aku pasti akan membungkam mulutmu.
"Oh, jadi namanya, Kei. Hm." Pemuda tadi berjalan mendekat dengan wajah seram.
Apa yang ia inginkan? Apakah aku akan dirampok lagi hari ini?
Eh tunggu, bukannya aku baru saja diselamatkan oleh Cresh. Kenapa sekarang dia malah hanya berdiam saja. Mungkinkah ia memang sudah berniat merampok dari awal? Ah, sial. Bagaimana ini bisa terjadi?
"Hei, bocah! Apa kau tidak takut melihatku? Kau sepertinya terlihat sangat tenang tanpa rasa takut sedikitpun."
Astaga, bisakah kalian berhenti menakut-nakuti? Kau tahu aku punya alasan tersendiri untuk tidak menampakkan emosi di wajah. Dan lagi, kenapa kau memanggilku bocah padahal kita terlihat seumuran. Atau mungkin usiamu itu tidak sesuai dengan badanmu.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu." Aku menyahut seperti biasa, tetapi, sepertinya terjadi kesalahan pahaman di sini. Kalimat dan raut wajahku tampak begitu berbeda olehnya. Sungguh, sangat malas jika harus bertarung.
"Ternyata kau memang meremehkanku, dasar brengsek." Pemuda tadi berteriak marah, lalu melancarkan tinju, dengan tangan kanannya, ke arahku.
Aku langsung menunduk dengan cepat, kemudian menyerang selangkangannya dengan sentilan jari tengah.
Pemuda tadi langsung menjerit, melompat ke belakang sambil memegangi selangkangannya. Mereka yang melihat kami bertarung tidak mampu menahan tawa, ketika melihat adegan itu.
"Hei, Wili! Bagaimana rasanya serangan bocah itu?" ejek seorang gadis bertubuh tidak begitu tinggi, dengan rambut panjang berwarna merah, dan mengenakan seragam yang sama seperti Cresh dan yang lainnya.
"Diam kau, dasar jelek!" Pemuda yang diejek, tidak terima.
"Aku tidaklah jelek, dasar otak udang."
"Brengsek! Siapa yang kau pangil otak udang!?"
Pemuda itu langsung melompat ke arah gadis yang mengejeknya. Ia mengepalkan tangan dan langsung melancarkan serangan.
Tanah bergetar ketika serangan itu dilancarkan. Aku hanya berdiri, tetapi tidak dapat melihat apa-apa, karena terhalang oleh debu yang bertebaran.
Tiba-tiba, pundakku ditepuk oleh seseorang dari belakang, lalu sebuah suara yang tidak asing terdengar di sana.
"Hei, namamu, Kei 'kan. Aku Vany, senang bertemu denganmu."
Aku berbalik ke sumber suara tersebut. Di sana tidak ada siapa-siapa, tetapi aku bisa merasakan kehadiran seseorang.
Tak kusangka, diri ini akan bertemu dengan orang-orang yang menarik seperti mereka. Nampaknya, hari-hari yang hanya diisi oleh kebosanan, akan berubah. Aku sangat ingin melihat bagaimana mereka beraksi di kemudian hari.
"Senang berkenalan denganmu. Bisakah kamu membatalkan Teknik yang kamu pakai itu, agar aku dapat melihatmu lebih jelas."
__ADS_1
"Ah, kukira kau akan takut, ternyata kau sangat membosankan untuk diajak bercanda."
"Itu salahmu, karena tidak dapat merubah nada suara saat mengejek pemuda itu dengan saat mengejutkanku."
"Hahaha, ternyata kamu cukup cerdas."
"Entahlah."
"Terserahlah. Sampai jumpa."
Debu perlahan-lahan menghilang, bersamaan dengan kehadiran orang yang di depanku. Sesaat kemudian, aku merasakan ada yang mencoba menyerang dari belakang.
Dengan cepat, diri ini berbalik. Mata dapat melihat sosok pemuda yang baru saja kalah tadi, melompat ke arahku sambil mengumpulkan seluruh kekuatannya pada tangan kanan, untuk melancarkan serangan. Dilihat dari cara bertarungnya, ia memiliki Teknik yang dapat memperkuat tubuh saat melancarkan serangan.
Menanti dalam diam, aku tidak bergerak sedikit pun untuk menghindar atau menyerang balik. Dengan tatapan kosong, sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku seperti orang yang menunggu kematian.
Sejengkal di depan mata, serangan orang itu terhenti, tubuh dan tangannya terlilit oleh rantai ungu.
"Siapa yang menyuruhmu untuk membunuh budakku yang bahkan tidak dapat melakukan apa pun selain menunggu dilenyapkan?"
"Jangan menghentikan aku Cresh!"
"Berdamailah dengannya, atau kau akan kujadikan makanan anjing."
Ekspresi Cresh berubah menjadi sangat seram, seperti seorang pembantai yang berhati dingin. Orang yang menyerangku, langsung gemetar dan ketakutan.
"Maafkan aku, Kei. Karena telah menyerangmu. Aku Wili, senang bertemu denganmu."
Hah? Apa-apaan itu? Kenapa dia jadi seperti ini? Tapi aku sedikit kesal, karena dia berkenalan seperti dipaksa.
"Oh, oke. Semoga aku dapat mengingat namamu."
"Apa-apaan jawaban itu?" bentak Wili dengan ekspresi wajah yang sangat seram.
Mungkin aku dapat memanfaatkan situasi ini untuk sedikit bermain-main dengannya.
"Aku hanya ingin menguji, apakah kau berani memukulku sekarang jika kau, kuejek. Ya, lagipula mana mungkin orang sepertimu bisa memukulku."
Kata-kataku mungkin bisa dibilang sangat murahan untuk memancing amarah, tapi jika seseorang sedang dalam keadaan jengkel, trik seperti ini pasti dapat memancing amarahnya. Meskipun sebenarnya bukan ini tujuanku yang sebenarnya.
"Kau brengsek!"
Tujuanku yang sebenarnya sudah tercapai, hanya perlu sedikit waktu untuk membongkar rahasia dari Cresh Vallencius.
Sesaat sebelum aku terkena serangan, Wili terdorong oleh rantai ungu hingga terpental sangat jauh. Sekarang, mata ini dapat melihat dengan jelas, raut wajah penuh keputusasaan dan tatapan kosong yang memandangi kedua tangannya sendiri.
Orang itu adalah Cresh, yang sudah tak berdaya menghadapi trauma masa lalunya yang kelam. Dia yang sekarang tidak akan asik untuk ditonton. Namun, setelah aku melepasnya dari masa lalu, hal ini pasti akan merubah Cresh.
"Wah, wah, wah. Kau benar-benar tidak berdaya lagi, Cresh." Sengaja aku memancing amarah Cresh.
Pemuda berambut ungu itu, terlihat sangat putus asa. "Apa yang sedang kau bicarakan?"
"Orang yang tidak pernah mengalami sesuatu yang buruk di masa lalu, tidak akan pernah membuat ekspresi wajah seperti saat kau menghentikan Wili yang hendak memukulku. Aku tahu kau dulunya pasti pernah menyaksikan sesama temanmu saling membunuh, kan?"
"Brengsek! Kenapa kau bisa tahu tentangku?!" Sesaat Cresh terdiam, tergambar di wajahnya, bahwa kalimatku sangat menyayat hati pemuda itu. "Sebaiknya kau hentikan omong kosongmu!"
"Hm, omong kosong, ya? Aku tidak yakin apa yang kukatakan itu adalah omong kosong. Sejak awal aku sudah bersiap jika perlu untuk mengujimu, makanya aku berusaha untuk lebih akrab denganmu, walau hanya dalam sehari. Aku memanfaatkan perasaanmu untuk mengungkap masa lalumu, agar kau dapat bergerak maju, jangan salahkan aku karena melakukan itu."
"Hentikan! Apa pun yang kau akan katakan aku tidak akan mempercayainya, berhentilah mengatakan hal-hal bodoh itu, kau tahu apa tentang diriku!"
"Atau aku harus katakan bahwa, kau pernah hilang kendali saat mencoba menghentikan perkelahian mereka, hingga kau membunuh mereka semua dalam sekejap mata, Cresh Vallencius."
Sebenarnya, masa lalumu hampir mirip denganku, Cresh. Dan juga, aku tidak pernah bilang kalau diri ini memang tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya. Saat itu, mungkin hanya aku yang selamat. Tapi aku beruntung, kau tidak mengingatnya. Karena aku akan membuatmu bermain-main sebagai hiburan di saat yang membosankan ini.
"Kei, apa yang kau lakukan? Kau pasti sedang mengontrol pikiranku. Mengapa tak sedikitpun, diri ini menginginkanmu untuk mati? Kenapa kita seperti sangat akrab? Katakan, Kei ... apa yang kau inginkan, hingga membuat aku begitu kesulitan?"
Nada suara yang penuh putus asa itu, pernah kudengar sebelumnya. Kau mungkin tidak ingat atau bahkan sangat ingin melupakan masa lalumu. Mungkin karena itu kau tidak mengingat sahabatmu ini.
Aku tidak keberatan kau melupakannya, dan jujur, aku masih sangat ingat hari di mana kau tenggelam jauh dalam keputusasaan. Mungkin dapat dikatakan, kalau sekarang aku akan membuatmu menebus dosamu itu, sang pengacau tak terduga, Cresh Vallencius.
"Kenapa kau diam saja, hei? Atau kau sangat ingin untuk kubunuh."
Cresh memandang ke bawah, rantai-rantai ungu mulai bermunculan dipunggunya. Namun, tubuh pemuda itu terlihat gemetaran, karena ingatan masa lalu yang sudah terlupakan mulai muncul kembali.
__ADS_1
"Coba saja kalau kau memang sanggup melakukannya. Aku yakin kau tidak akan lupa bagaimana rasanya berada di kolam darah manusia. Bagaimana rasanya melihat hamparan mayat teman-temanmu. Atau mungkin kau sudah melupakan hal-hal yang seperti itu untuk terus hidup. Benar-benar pengecut."
Aku terus mencoba untuk mengungkit masa lalunya, agar dia dapat menerima kenyataan pahit yang pernah terjadi dalam hidup. Akan kubuat ulang dia, supaya dapat menjadi pion. Dan, sebagai permintaan maaf, keinginannya untuk membebaskan hukum rimba di negara ini, akan aku kabulkan.
"Tapi, masa lalu hanyalah rangkaian kejadian yang tidak dapat diubah lagi. Percuma kau terus-menerus tenggelam di sana. Kau hanya perlu berhenti menatap ke arah itu, dan mulai berpaling ke arah yang lain, yaitu sekarang, waktu di mana kau hidup. Yakinlah, kalau memikirkan masa lalu hanya akan membuatmu ingin mati karena penyesalan, sedangkan memikirkan masa depan, dapat membuatmu menyerah karena kecemasan."
Aku berhenti sejenak, lalu menatap mata Cresh agar maksud hati dapat tersampaikan.
"Pada akhirnya, yang perlu kau pikirkan adalah masa di mana kau hidup, memikirkan dan menyelesaikan masalah yang kau hadapi agar tidak terjadi lagi penyesalan di masa depan. Intinya, kau harus menikmati waktu hidupmu. Masa depan akan terbentuk dengan sendirinya, dan dapat tampak indah tanpa penyesalan."
Haih, kenapa juga aku harus banyak berbicara seperti sedang ceramah? Aku harap Cresh tidak membuat kecewa, karena diri ini sudah bersusah payah merangkai kalimat yang sangat bagus.
Cresh masih mematung, tak bergerak sedikit pun. Rantai masih terus keluar dari punggung pemuda tersebut. Apakah kejadian seperti dulu akan terjadi lagi. Jika itu memang terjadi, artinya dia tidak seperti yang kuharapkan.
Seharusnya aku tidak menyia-nyiakan waktu untuk menjadikannya pion, tapi aku masih ingin membuat ia melihat neraka dunia lebih lama lagi. Aku tidak ingin ditinggal seorang diri untuk melihatnya, jadi berusahalah mengendalikan kekuatanmu.
Tiba-tiba, aku dikepung oleh lima orang yang siap menghancurkan tubuh. Aku merasakan kehadiran Wili yang mengarahkan kepalan tangannya di belakang. Dan empat lainnya juga hendak mengarahkan serangan yang berbeda-beda dari berbagai arah.
Di depan, ada seorang laki-laki bertubuh tinggi, berkulit putih dengan rambut coklat, mengarahkan ujung pedang ke wajahku. Di sebelah kanan dan kiri, terdapat aura dua orang laki-laki dengan tubuh dan gaya yang sama, sedang mengarahkan tangan mereka. Sepertinya, mereka berdua sama-sama dapat mengendalikan listrik. Sedangkan yang lain, ada di atas dengan benda tajam yang diarahkan pada kepala.
Sekarang akan jadi bahaya, sebelum berhasil memastikan orang yang ada di atas. Kenapa juga aku penasaran? Baiklah, saatnya menunjukkan kemampuan tersembunyiku.
"Ada apa dengan kalian ini? bukankah sangat berbahaya mengarahkan serangan kalian pada orang lain?"
Hm, akan kutunjukkan teknik tersembunyi pada kalian. Teknik ini sangat beresiko, jika salah sedikit saja, akan berakibat fatal pada akhirnya. Aku menyebut teknik ini, 'Teknik Negosiasi Super'.
"Oh ayolah, Bung. Aku ini tidak melakukan apa-apa pada kalian. Bukankah tidak baik berbuat sesuka hati pada orang lain?"
"Sebaiknya kau berhenti bicara dan segera batalkan Teknik Pengendali Pikiran itu," bentak orang yang ada di depanku.
"Kenapa kalian malah memfitnah? Bukankah kalian tahu sendiri kalau aku ini orang yang tidak dapat disamakan dengan kalian, para manusia super."
"Hentikan omong kosong itu. Dari awal sudah jelas bahwa kau bisa mengendalikan pikiran."
"Dari mana pemikiran itu berasal?"
"Heh, apa kau pikir aku ini bodoh. Di awal tadi, kau sudah membuat Wili menjadi marah tanpa sebab, bukankah sudah pasti itu ulahmu agar dapat memanipulasi pikiran Cresh. Karenamu juga, Cresh membuat ekspresi seperti ketika Wili sedang mencoba melukaimu, padahal kau hanya orang asing yang baru saja bertemu dengannya."
"Sepertinya kau cukup cerdas-"
"Ternyata kau memang-"
Tanpa berlama-lama, aku langsung memotong perkataannya itu sebelum ia sempat melanjutkan.
"Tapi, kau telah salah paham sekarang."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, kau sekarang hanyalah orang bodoh yang tidak mampu berpikir dengan jernih, karena temanmu sedang dalam masalah. Lalu dalam keadaan itu, kau teringat akan sesuatu, ditambah mencurigai seseorang maka tercapailah sebuah kesimpulan bodoh."
"Kau brengsek!"
Dalam keadaan terprovokasi, orang yang ada di depan mengangkat pedangnya, mencoba untuk membelahku. Di saat yang bersamaan, aku menendang selangkangnya. Sudah pasti orang itu akan menjerit kesakitan sambil berguling-guling di tanah.
"Hei, brengsek! Apa yang kau lakukan?"
Wili berteriak marah, aku sudah tahu dia pasti kesal dan dengan sembarang akan menyerang. Tapi, kehati-hatian sangat diperlukan, karena di atas dan di samping, terdapat orang yang menyerang. Melihat situasinya sedikit menguntungkan, diri ini berjongkok dan menendang kaki kiri Wili hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Seharusnya kalau tidak ada gangguan, semua serangan itu akan mengenainya.
Di saat-saat kritis, aku yakin mereka bertiga ingin membatalkan serangan. Namun, semuanya sudah terlambat untuk dilakukan.
Tiba-tiba, rantai ungu menghadang semua serangan yang dilancarkan. Akan tetapi, Wili terjatuh meninpaku.
Ah sial, kenapa aku harus tertimpa.
"Kau memang pandai membuat orang membencimu, Kei sialan," kata Cresh yang kelihatan sangat kelelahan, seperti akan pingsan sepenuhnya.
Aku berdiri membuang Wili yang jatuh di punggung.
"Aku hanya tidak pandai bergaul. Sepertinya, kau sudah berhasil membuang masa lalumu itu."
"Siapa bilang aku membuangnya? Aku hanya membiarkannya dan mencoba menerima semua itu agar tidak terjebak di dalamnya."
"Begitulah seharusnya."
__ADS_1
Akhirnya, tujuan yang pertama selesai. Selanjutnya, aku akan membuat mereka sebagai bidak yang akan kujalankan sesuka hati. Namun, sudah cukup untuk hari ini, sangat melelahkan jika harus melakukan banyak usaha. Aku harus bersabar sebentar lagi.