
Setelah pertarungan berakhir, aku memutuskan untuk mengikuti kelompok Aris. Mereka hanya berjumlah tiga puluh orang, dan kebanyakan dari mereka belum menunjukkan kemampuan. Jika kata-kata Nathaniel tadi dicermati, mereka pastilah gabungan dari beberapa organisasi. Aku tidak bisa menjamin ini benar atau tidak. Tapi jika itu benar, maka semuanya akan semakin menarik.
Ini tidak begitu buruk untuk menghilangkan kebosanan. Ya, berhubung juga aku masih belum memutuskan langkah selanjutnya. Namun, untuk berjaga-jaga aku sudah memberi kejutan pada seseorang. Semoga saja dia menyukainya.
Kelompok itu tiba-tiba berhenti setelah perjalanan yang begitu panjang. Mungkin mereka sudah sampai pada tujuan. Tempat di mana kami berada sekarang adalah sebuah gang kecil yang dihimpit oleh dua bangunan tinggi. Sinar matahari tidak dapat mencapai daerah ini, sehingga kawasannya menjadi gelap.
“Apa kau yakin, di ujung gang ini ada Kelompok Jubah Kelam?” tanya salah satu dari mereka kepada Aris.
“Kau pikir sudah berapa lama aku menjadi mata-mata dikelompok itu,” jawab Aris dengan menaikan nada suaranya.
“Ma-maaf.”
Menyedihkan, hanya dengan sedikit gertakan, metalnya sudah menciut. Aku sudah dapat menebak apa yang terjadi jika dia diancam dengan menggunkan senjata. Setidaknya dia pasti akan memohon sambil menangis ketakutan. Mungkin suatu hari aku harus membuktikannya.
Sebelum melanjutkan perjalanan, mereka membagi kelompok itu menjadi empat tim yang beranggotakan tujuh sampai delapan orang setiap tim, lalu berpencar. Aku sudah tahu apa yang direncanakan oleh mereka. Ya, kupikir itu bukan hal yang membosankan. Sebagai seorang penonton setia, aku juga tidak ingin mengabaikan ini.
Untuk sekarang, aku hanya mengikuti tim yang berada di dekatku. Mereka beranggotakan delapan orang dan dipimpin oleh Aris. Tim ini mungkin ditugaskan untuk memblokir jalan keluar musuh. Apa pun itu, aku tidak masalah.
Kami sampai di ujung gang, di sana terdapat sebuah rumah yang sangat luas. Halamannya juga cukup luas, tapi sangat kosong dan hanya ditumbuhi oleh rumput. Dari dalam rumah, orang-orang berjubah hitam muncul. Mereka berjumlah sekitar dua puluh lima orang. Aku tidak mengerti, kupikir jumlah ini cukup sedikit. Di sini aku menyadari sesuatu yang janggal.
Sejak pertama kali datang ke sini, aku diserang oleh lima orang preman. Awalnya itu memang terlihat biasa saja, tapi ketika aku sampai di markas BlackList, jumlah mereka juga hanya sedikit. Dan ketika Aris memanggil kelompoknya, mereka hanya berjumlah tiga puluh orang. Itu cukup wajar, jika mereka kumpulan penghianat, tapi setelah melihat ke markas ‘Jubah Kelam’, aku menjadi sedikit bingung memikirkan jumlah ini.
Rumor mengatakan, Kota Utara adalah markas besar para penjahat. Namun, pada kenyataannya aku belum pernah melihatnya. Ada kemungkinan rumor itu salah. Atau mungkin saja rumor itu ingin mengatakan bahwa ‘markas besar’ yang dimaksud adalah kumpulan seluruh organisasi yang ada di Kota Utara. Aku masih belum mengerti.
“Yo! Arya Sang Ketua Jubah Kelam.”
Aris berjalan mendekat pada orang yang berada di depan anggota Kelompok Jubah Kelam. Mungkinkah dia berencana untuk melakukan negosiasi dengan mereka. Kalau itu yang terjadi, maka sia-sia aku datang ke sini dengan niat untuk menyaksikan pertunjukkan.
“Yo! Bukankah ini Aris. Kenapa kamu membawa orang yang tidak dikenal kemari?”
Sang Ketua mengatakan itu dengan kata yang sopan, tetapi cara ia menyampaikannya mengandung banyak arti. Bisa dibilang satu pertanyaan ini sudah mencakup banyak pertanyaan hanya dengan cara menyampaikannya.
“Apakah saya tidak diperbolehkan untuk membawa teman kemari?”
Dia menyampaikan sebuah kalimat yang ambigu. Tergantung bagaimana orang lain menanggapinya, kalimat ini bisa menjadi bumerang atau disambut baik oleh lawan.
“Bisakah aku menanyakan apa maksudmu, Aris?”
Jawaban yang bagus. Daripada harus menyimpulkan sendiri, dia memilih untuk mengkonfirmasi kebenarannya.
“Seperti yang saya katakan ketua. Saya membawa teman-teman saya kemari.”
__ADS_1
Aris dengan sengaja membuat kata-katanya menjadi bumerang. Sepertinya dia tidak pernah berencana untuk menyerang diam-diam.
“Jadi, apa yang kamu inginkan dari kami?”
Seperti yang diharapkan dari Ketua Jubah Kelam. Dia bisa mengerti apa maksud Aris yang sebenarnya.
“Kami tidak meminta sesuatu yang spesial. Kami hanya ingin Kelompok Jubah Kelam menjadi rekan kami untuk menguasai Kota Utara. Hanya itu.”
“Pada dasarnya, kalian hanya ingin menjadikan kami sebagai alat tempur. Tidak lebih dari itu. Sudah jelas kami akan menolak.”
Dia melebihi harapanku. Dengan sedikit informasi, ia mampu membaca rencana musuhnya. Tapi itu saja masih belum cukup.
“Kalau itu keputusanmu, aku tidak keberatan. Kami hanya perlu menghabisi kalian semua sekarang juga.”
Aris melompat ke belakang, lalu penghalang segitiga berwarna merah mengurung anggota Jubah Kelam. Dia sepertinya cukup menarik, kemampuannya tidak bisa dianggap remeh. Sejak awal dia sudah memperhitungkan semuanya. Dengan melakukan negosiasi dan memberi lawannya petunjuk, lalu saat negosiasi gagal, jebakan sudah dipersiapkan.
Sungguh rencana yang luar biasa. Dia tahu betul negosiasi yang disetujui hanya karena lawannya merasa terancam pasti akan membuat kerusakan di masa depan. Dan jika dia berbohong saat melakukan negosiasi yang memiliki resiko besar ini, maka semuanya tidak akan bertahan.
Kuakui kau adalah orang yang hebat. Tapi kenapa kau tega mengurungku bersama dengan targetmu. Begitu tega kau kepada diriku yang malang ini. Setidaknya, jika kau ingin mengurung mereka, beritahu aku dulu.
“Hahaha, inilah yang terjadi jika kalian menentang kami. Mulai detik ini, kalian tidak akan pernah bisa keluar dari penghalang untuk selamanya.”
Kira-kira seperti itulah ucapan Aris. Suaranya memang tidak terdengar di dalam sini, tapi aku dapat membaca gerakan mulutnya, karena dia berada tepat di depanku. Aku tahu dia tidak berbicara padaku yang menggunakan Teknik Tak Terlihat. Dia hanya berbicara pada mereka yang berada dibelakangku.
Seorang anggota jubah kelam menerobos kerumunan teman-temannya yang sedang panik. Dia melompat langsung ke arahku, lalu melancarkan tinju dengan tangan kanannya yang bersinar. Aku melompat ke samping untuk menghindari serangan mendadak itu.
Fiuh, hampir saja aku terluka karena serangan yang begitu tiba-tiba. Kenapa aku selalu saja bernasib buruk semenjak datang ke kota ini. Entah bagaimana diri ini bisa bertahan hingga sekarang.
Serangan yang dilancarkan oleh orang itu tadi, jelas bukan untuk menyerangku. Apa yang dituju olehnya adalah Aris yang tengah mengejek Kelompok Jubah Kelam, dari luar penghalang. Tapi sudah jelas serangan tersebut digagalkan oleh penghalang.
Melihat itu, Aris terus mengoceh tanpa arah untuk memprovokasi. Biar aku mengingatkanmu kali ini. Kau seharusnya tidak mengambil langkah yang buruk seperti itu.
“Brengsek. Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Aris,” kata orang yang menyerang penghalang.
“Tenanglah, Dian. Tidak ada gunanya kau membuang-buang staminamu itu untuk sesuatu yang tidak penting.” Sang ketua menenangkan anak buahnya.
“Baik, Ketua. Maafkan aku.”
Sang ketua beralih pada anak buahnya yang panik.
“Semuanya harap tenang.”
__ADS_1
Mendengar perintah dari ketua mereka. Perlahan, keadaan panik berubah menjadi tenang. Ini menandakan kalau mereka sangat percaya pada ketua mereka.
“Untuk menghancurkan penghalang ini, kita harus menyatukan kekuatan. Aku yakin dengan gabungan kekuatan yang kita miliki, penghalang ini bukanlah masalah besar.”
Ide yang bagus.
“Seperti yang diharapkan dari ketua,” puji salah satu dari mereka.
“Sebaiknya kita segera mempersiapkan serangan gabungan. Semuanya harap berbaris sesuai dengan kemampuan yang kalian miliki!” perintah sang ketua.
“Baik.” Dengan serentak anggota Jubah Kelam menjawab.
Sang Ketua Jubah Kelam ini cukup pintar. Dia tahu betul kalau Teknik Penggabungan tidak akan berhasil jika memiliki kemampuan yang bertentangan. Contohnya saja, ketika melakukan Teknik Penggabungan antara pengguna air dan api, itu hanya akan memadamkan apinya dan memperlemah serangan air tersebut. Tapi beda ceritanya jika mereka memang ingin membuat asap.
“Pengguna api dan angin berbaris di sebelah kananku. Sedangkan pengguna air dan listrik disebelah kiri. Untuk yang lainnya bersiap di belakang.”
Jadi, dia bermaksud untuk membuat ledakan. Ide yang cukup menarik, tapi aku tidak yakin itu cukup untuk menghancurkan dinding ini. Kalian cukup beruntung karena aku juga ada di sini. Meskipun enggan, aku tetap akan membantu.
Di luar penghalang, kelihatannya Aris dan kelompoknya terus menertawai Kelompok Jubah Kelam. Mereka mungkin berpikir untuk melihat musuhnya berusaha terus menerus untuk memecahkan penghalang hingga akhirnya menyerah. Tapi dia melakukan kesalahan dengan melibatkanku. Meskipun tidak disengaja.
Ya, bagaimanapun, aku sudah terlanjur terlibat dalam masalah ini. Kurasa tidak buruk menolong mereka sekarang.
“Pengguna air dan petir, tembak!!” seru Ketua Jubah Kelam.
Bola air yang besar dan dicampur dengan listrik ditembakkan. Serangan itu bahkan tidak mampu menggores penghalang.
“Api dan angin tembak.”
Api semakin membesar saat dicampur dengan hembusan angin. Kobaran api itu memadat menjadi bola api besar lalu ditembakkan kearah bola air berlistrik.
>Boom<
Serangan tadi meledak dan membuat banyak asap. Lalu anggota Jubah Kelam yang berada di belakang, menyerbu ke depan. Mereka pastinya ingin menyerang penghalang dengan serangan jarak dekat.
Aku berbaur dengan mereka. Lalu secara bersamaan aku melancarkan tinju dengan tangan kanan. Sebenarnya aku hanya asal meninju saja, tidak ada semangat atau apa pun.
Penghalang hancur karena tinjuku, tidak ada yang menyadari kalau yang merobohkannya adalah aku. Kekuatan dari kutukan yang kudapat, secara otomatis akan keluar jika aku berada dalam posisi menyerang atau bertahan. Dia sudah seperti dewa pelindung pribadiku.
“Akhirnya kita bebas.”
Teriakan penuh semangat dan kelegaan menggema di halaman. Mereka terlalu senang karena berhasil keluar dari penghalang. Aku tidak mengerti mereka bisa sesenang itu hanya karena berhasil keluar. Tidakkah mereka melupakan sesuatu yang sangat penting dan mendesak.
__ADS_1
Aku menjauh dari kerumunan yang berisik itu, menuju sebuah tepat kosong. Kelompok Aris benar-benar terkejut melihat apa yang baru saja terjadi. Penghalang tingkat tinggi mereka berhasil dihancurkan dengan gabungan kekuatan Kelompok Jubah Kelam. Aku penasaran bagaimana kelanjutannya.