The Red Game

The Red Game
Chapter 8 part 4


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu setelah aku turun ke lantai 3, seseorang mengatakan kalau Rias sedang mencariku. Sebenarnya aku sangat enggan untuk menanggapi pesan itu, namun Rias pasti akan marah kalau aku mengabaikannya. Aku berjalan dengan santai sampai akhirnya berada didepan sebuah ruangan.


Tok! Tok! Tok!


Aku mengetuk pintu ruangan itu, lalu seseorang yang berada didalam menjawab, “Masuk.”


Tanpa basa-basi lagi aku langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Didalam ruangan itu hanya terdapat sepasang bangku yang diduduki Rias. Dinding yang berada disebelah kiriku memiliki 2 lubang jendela sehingga ruangan ini memiliki penerangan.


“Ada perlu apa kau memanggilku?” tanyaku.


“Aku hanya ingin membahas tentang rencana yang kau usulkan saat rapat tadi.” Jawabnya.

__ADS_1


“Apa kau tidak mempercayaiku?”


Dia mungkin berniat untuk memastikan keberhasilan rencanaku itu. Namun dia juga tidak dapat memikirkan rencana lain yang lebih baik untuk menyerang. Jika aliansi utara hanya menyerang salah satu kota, maka sudah dapat dipastikan aliansi utara akan kalah.


“Bukannya aku tidak mempercayaimu, hanya saja memecah aliansi utara menjadi dua akan mengurangi kekuatan tempur kita. Rencana yang kau usulkan itu memang bagus, namun kita juga harus mempertimbangkan soal kekuatan tempur kita.”


Jadi dia sejak tadi memikirkan soal kekuatan tempur aliansi utara yang dipecah menjadi dua. Aku akui apa yang dipikirkannya itu tidaklah salah, namun dia hanya berpikir berdasarkan kuantitas dan tidak berdasarkan kualitas. Memiliki keunggulan dalam kuantitas memang bagus, tetapi kuantitas masih dapat dikalahkan jika kita memiliki kualitas.


“Kekuatan tempur tidaklah terlalu berpengaruh akan hal ini. yang perlu kita lakukan hanyalah memanfaatkan semua yang kita miliki. Jika kita tidak mempunyai kekuatan tempur yang cukup mumpuni, maka kita hanya perlu memikirkan sebuah rencana yang akan menutupi kekurangan itu hingga tidak terlihat lagi.”


“Kita tidak perlu terlalu mengandalkan kekuatan jika itu memang tidak cukup untuk digunakan. Untuk menyerang kota Arc dan kota Square kita hanya perlu menggunakan strategi yang sering digunakan para pembunuh bayaran.”

__ADS_1


“Jadi maksudmu kita akan menyusupkan pasukan untuk menyerang secara diam-diam tentara yang ada disana.”


“Ya. Dan ini harus diselesaikan dalam satu malam. Jika tidak maka aliansi akan kalah.”


“Pada dasarnya kita hanya perlu untuk mengambil alih kedua kota itu dalam semalam.”


Seperti yang diharapkan dari pemimpin aliansi. Dia dapat mengerti rencana yang kuusulkan. Namun bantuanku untuk aliansi akan kucukupkan sampai disini saja. karena akan tidak adil jika aku membantu aliansi ini terlalu banyak. Mulai sekarang aku hanya akan menonton pertunjukkan dengan tenang.


“Tapi apa yang akan kita lakukan pada kedua kota itu setelah kita menghabisi semua tentara mereka?” Rias bertanya seperti itu saat aku berpikir pembahasan ini sudah berakhir.


“Bukankah kau bisa memikirkannya sendiri. Apakah kau perlu menarik kembali pasukan, atau terus menetap disana. Aku tahu kau pasti akan menemukan jawaban yang benar.”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, aku keluar dari ruangan dan menuju pintu keluar apartemen tua. Hari ini aku merasa sangat kelelahan. Hanya dalam satu hari aku harus memutar otakku berulang-ulang untuk menyelesaikan masalah. Untung saja waktu itu aku mempercepat rencana menyulut perang antara aliansi kota utara dengan sang penguasa. Jika tidak aku pasti akan merasa lelah setiap hari karena pertanyaan yang akan ditanyakan oleh anggota BlackList.


“Pekerjaan untuk hari ini akan kusudahi cukup sampai disini saja.” Gumanku sambil berjalan pergi menuju markas BlackList.


__ADS_2