The Red Game

The Red Game
Chapter 8 part 2


__ADS_3

Terik matahari menyinari ruangan melalui lubang-lubang bekas jendela yang sudah hancur. Ruangan ini berada dilantai 2 sebuah apartemen lama yang digunakan oleh aliansi kota utara sebagai markas. Dalam ruangan itu terdapat sebuah meja panjang yang setiap sisinya terdapat beberapa kursi yang sudah dipakai oleh beberapa orang. Disalah satu ujung meja tersebut, terdapat seorang perempuan berambut pirang yang duduk sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya yang didirikan diatas meja. Perempuan itu tidak lain adalah Rias, orang yang menjadi ketua aliansi.


Aku berdiri disamping Rias atas perintahnya. Dia tidak memperbolehkanku untuk duduk seperti yang lainnya. Ini sangat menyebalkan, dia memperlakukanku seperti asisten pribadinya. Dia tidak tahu kalau berdiri seperti ini bisa membuatku pegal.


“Jadi, apa kalian mempunyai suatu rencana untuk menyerang sang penguasa?” Rias membuka diskusi dengan bertanya.


“Bagaimana kalau kita menyerang saat tengah malam?” salah satu dari orang-orang itu menjawab.


“Kei, bentangkan peta itu!” kata Rias memerintahkanku.


Aku berbalik dan mengambil sebuah peta yang cukup besar lalu menenpelkannya ke dinding paku kecil diempat sudutnya. Aku berpindah ke samping kanan peta itu sambil mengahadap kearah orang-orang tadi. Rias memutar tempat duduknya dan mengamati peta itu.


“Jika kita menyerang pada malam hari, dimana kita akan mulai menyerang.” Kata Rias.


Aku berbalik dan memandangi peta itu. Disana dapat dilihat dengan jelas gambar pembagian wilayah negara Alastein.


Dibagian paling utara terdapat desa Rose yang dikelilingi oleh hutan yang sangat lebat sejauh beberapa kilometer. Diujung selatan hutan itu terdapat kota Utara. Disebelah barat kota utara terdapat kota Ars, sebelah timurnya terdapat kota Square, sedangkan sebelah diselatannya terdapat kota Fluch. Dibangian tengah negara Alastein terdapat kota pusat yang dikelilingi oleh 3 kota, yaitu kota Villain sebelah barat, kota Traes disebelah timur, dan kota Fluch disebelah utara.

__ADS_1


Jika dilihat dari peta ini, kesempatan berhasilnya aliansi kota utara mengalahkan sang penguasa sangat kecil. Dalam kasus ini, hanya ada satu cara yang mungkin berhasil.


“Ehm.., bisakah aku menyela sebentar.” Kataku sambil mengangkat tangan kepada orang-orang yang sejak tadi membahas strategi penyerangan.


Rias menatapku dengan wajah bingung lalu berkata, “Ada apa?”


“Apa tidak masalah jika aku memberikan usulan tentang strategi yang akan kita pakai.”


“Katakan!”


“Dilihat dari peta ini, kemungkinan berhasilnya rencana kita untuk mengalahkan sang penguasa sangat kecil. Untuk itu aku menganjurkan untuk menundukkan kota Ars dan kota Square dalam waktu bersamaan.”


“Aku tahu kau tidak ingin melibatkan banyak orang dalam rencana ini. Namun jika kita tidak menggunakan rencana ini, maka aliansi kota utara akan leyap tanpa sisa.” Bantahku.


“Tapi_”


“Simpati hanya akan membuat kalah perang disini. Apa kau tega melihat teman-temanmu mati dibandingkan dengan orang lain yang tidak kau kenal.”

__ADS_1


“Tch.” Cresh mengepalkan tangan dan menggigit bibirnya sembari kembali duduk dengan enggan.


“Bisa kau menjelaskan kenapa kita harus menyerang kedua kota itu?” tanya Rias.


“Tentu saja.” jawabku, “Alasan kenapa kita harus menyerang kedua kota itu adalah untuk mendesak sang penguasa.”


“Mendesak sang penguasa?”


“Menurutmu apa yang akan dilakukan sang penguasa jika aliansi kota utara menyerang kedua kota itu dalam waktu bersamaan.”


“Kemungkinan besar dia akan mengirim banyak pasukan untuk menyerang balik.”


“Dan disaat itulah kita akan menggunakan pasukan ketiga untuk menyerang kota Fluch.”


“Jadi maksudmu kita akan membentuk 3 pasukan.”


“Tidak. Pasukan aliansi hanya akan menyerang kota Ars dan kota Square. Sedangkang kota Fluch serahkan saja pada kelompok BlackList.”

__ADS_1


“Apa maksudmu dengan itu?” tanya Rias.


“Percayakan saja kota Fluch pada BlackList.” Kataku mengakhiri rapat strategi yang membosankan ini.


__ADS_2