The Red Game

The Red Game
Chapter 8 part 3


__ADS_3

Mereka yang mengikuti rapat strategi kali ini mulai pergi meninggalkan ruangan. Aku tetap tak beranjak dari tempatku berdiri dan hanya memandangi mereka yang pergi satu per satu hingga akhirnya hanya aku dan Cresh yang tersisa. Melihat itu aku mendekat dan duduk dikursi yang berada diseberang meja Cresh. Dia tampaknya sedang gelisah memikirkan sesuatu.


“Jika kau ingin marah sekaranglah saatnya.” Kataku padanya.


Aku tahu dia pasti akan sangat membenciku karena mengajukan strategi seperti tadi. Dia sangat tidak ingin melihat adanya korban dalam perang ini. Namun perang tanpa adanya korban itu sangat mustahil untuk dikabulkan.


“Hah.., apa yang perlu dimarahi. Perang adalah sesuatu yang kejam. Jadi apa yang harus dilakukan.” Kata Cresh dengan nada datar sambil menatap meja dengan tatapan kosong.


Dari gaya bicaranya, dia sudah pasrah akan keadaan sekarang ini. Dia terlalu baik sehingga tidak mampu berbuat apa-apa sekarang. Ternyata sampai sekarang Cresh masih tidak berubah.


“Lakukan apa saja demi kemenangan, karena dengan begitu kau akan mendapatkan kesenangan.”


“Eh?” Cresh terkejut dan mengangkat kepalanya untuk menatapku.


“Benar-benar slogan yang membuat nostalgia ya, Cresh Vallencius.”


“D-Dari mana kau mendengar slogan itu?”


“Pertanyaan konyol macam apa itu. Bukankah sudah jelas kalau aku mendengarnya ditempat yang sangat pamiliar bagi kita.”


“S-Siapa kau sebenenarnya? Apakah kau Klaurius Kei? Atau Luchifer? Atau yang lainnya.”


“Aku tidak menyangka kau akan lupa padaku. Padahal kau dulunya hanya memiliki beberapa teman dekat. Ah sungguh membuat kecewa saja.”


“Mungkinkah kau adalah Ravel?”


“Entahlah, aku tidak ingin mengungkapkan identitasku yang sebenarnya sekarang. Namun yang jelas, kau harus mengerahkan seluruh kekuatanmu saat peperangan nanti. Dan tentu saja kau harus memerintahkan anggota BlackList yang bermarkas dikota Fluch ikut membantu.”


“Bagaimana kau bisa tahu?”


Dia tampaknya tidak ingin menutupinya karena sudah menduga aku pasti dapat membongkar kebenarannya.


“Aku sudah tahu sejak Vany menyerangku malam itu.”


Aku beranjak dari kursiku dan pergi keluar meninggalkan Cresh seorang diri. Sekarang ini dia pasti kebingungan memikirkan identitasku yang sebenarnya. Apakah aku ini Klaurius Kei? Atau Luchifer? Atau mungkin saja Ravel? Suatu hari pasti akan kuungkapkan. Namun untuk sekarang aku hanya akan menggunakan identitas palsuku.


***

__ADS_1


Setelah aku keluar dari ruangan, aku melihat Vany sedang bersandar didekat pintu. Dilihat dari situasinya, kemungkinan dia sedang menunggu seseorang. Aku terus berjalan lurus tanpa mempedulikannya. Beberapa langkah didepanku terdapat sebuah persimpangan. Tanpa ragu aku berbelok ke kanan karena disana memiliki tangga yang menghubungkan lantai 2 dengan lantai 3.


Satu demi satu anak tangga kudaki hingga akhirnya mencapai lantai 3. Tidak puas hanya dengan mendaki sampai lantai 3, aku terus mendaki hingga akhirnya sampai diatap gedung itu yang merupakan lantai ke 10. Pemandangan dari atas sini cukup indah disertai oleh hembusan angin yang menyejukkan.


Aku berdiri dipinggiran atap gedung itu sambil menikmati pemandangan. Apa yang sedang kulihat sekarang ini adalah jalanan sepi dan rumah tanpa penghuni. Namun pemandangan seperti ini akan segera berakhir. Jika perang sudah dimulai, aku sangat yakin kota ini akan dibanjiri oleh darah seperti 1 tahun yang lalu.


Memikirkan tentang kejadian 1 tahun lalu membuatku merasa sedikit kesal. Ini bukan karena aku merasa kasihan pada kota ini, melainkan karena waktu itu aku pernah mengalami sebuah kejadian buruk. Sebuah kejadian yang menjadi pemicuku untuk merencanakan peperangan kali ini. Tujuanku memicu perang ini adalah untuk membuat beberapa orang merasakan apa yang kurasakan. Karena merekalah yang menyebabkan kejadian buruk itu.


Beberapa saat kemudian, aku berbalik dan mulai berjalan menuju pintu keluar. Saat aku membuka pintu keluar itu, aku melihat Vany berada tepat didepanku.


“Ada perlu apa kau denganku?” tanyaku padanya sembari menutup pintu.


“Tidak ada. Aku hanya sedang ingin mencari angin diatap gedung ini.” Jawabnya, “Kau sendiri, sedang apa berada disini?”


“Sebelumnya aku sempat berpikir untuk bunuh diri, namun rasa takut membuatku tidak berani melakukannya.”


Vany dengan tegas menyangkal jawabanku dengan berkata, “Itu lelucon.”


Aku kira dia akan tertawa mendengarnya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Sepertinya aku memang tidak berbakat dalam membuat lelucon.


“Tunggu!” seru Vany dan menghentikan langkahku dengan menarik tangan kananku.


“Kukira kau ingin mencari angin untuk menenangkan pikiranmu.”


“Aku akan langsung keintinya saja.” nada suaranya berubah menjadi serius, “Apa kau berencana untuk menghancurkan negara Alastein?”


“Apakah Cresh yang memberitahukan rencanaku kepadamu?”


“Kau tidak perlu tahu dimana aku mendengarnya. Namun yang jelas kau harus mengatakan padaku tentang tujuanmu yang sebenarnya.”


“Kalau kau bersedia membayarnya dengan harga yang pas, aku bersedia untuk mengatakannya padamu.”


“Apa yang kau mau?”


Nampaknya dia tidak gegabah untuk menerima tawaranku. Kalau begitu mari kita pikirkan apa yang pantas untuk ditukar dengan tujuanku.


“Bayarannya adalah nyawamu.”

__ADS_1


“Apa??”


Jelas dia akan terkejut saat mendengarnya, namun hanya itu bayaran yang menurutku cukup. Karena orang yang mengetahui tujuanku yang sebenarnya harus mati agar tidak menjadi penghalang.


“Kalau kau tidak mau maka aku akan pergi.”


“Tidak.., tunggu dulu.”


Sekali lagi dia menghentikanku. Apakah dia berniat mati hanya demi mengetahui rencanaku. Ini sangat konyol.


“Apa tidak ada yang lainnya selain nyawaku?” sambungnya.


Hm.., jadi dia benar-benar berniat untuk mengetahui tujuanku. Sepertinya aku harus megatakannya, kalau tidak dia pasti akan sangat curiga kepadaku.


“Baiklah, aku akan mengatakan tujuanku padamu jika kau berjanji tidak akan mengganggu rencana yang sudah kubuat untuk menyerang sang penguasa.”


“Ok, aku berjanji.”


“Sebenarnya aku tidak peduli pada negara Alastein, tujuanku hanyalah mengalahkan sang penguasa. Kau mungkin berpikir ini konyol, tapi aku pikir dengan mengalahkan sang penguasa aku bisa menghilangkan deskriminasi ini. Maka dari itu aku tidak berniat untuk kalah dalam perang ini, walaupun negara Alastein harus hancur.”


“Bukankah jika negara Alastein hancur perjuangan kita akan sia-sia?”


“Jika negara Alastein hancur kita bisa mendirikan negara baru yang lebih baik. Tidakkah kau berpikir demikian.”


“Aku tidak menyangka orang sepertimu memiliki tujuan seperti itu. Tapi kenapa kau menganggap tujuanmu itu setara dengan nyawaku pada awalnya?”


Ini merepotkan, aku tidak menyangka dia akan menanyakan hal itu. Nampaknya aku harus sedikit berusaha untuk membodohinya.


“Tadinya aku hanya berpikir untuk menjadikanmu sebagai asistenku seumur hidup. Aku tidak menduga kau tidak akan menyadari pesan tersirat itu.”


“Oh ternyata begitu ya. Aku pikir kau tadinya ingin membunuhku.”


“Mana mungkin aku melakukan hal itu. Kalau begitu aku akan pergi.”


“Ya.” Jawab Vany sambil melepaskan genggaman tangannya.


Fiuh.., akhirnya aku bisa lolos darinya. Aku sangat beruntung bisa memikirkan alasan yang tepat untuk membuat dia percaya. Ternyata sangat susah untuk menjadikan orang yang cerdik sebagai pion. Untung saja dia sudah berjanji kalau dia tidak akan mengganggu rencanaku, kalau tidak dia pasti akan membuatku kerepotan.

__ADS_1


__ADS_2