
Sedari tadi, suara ledakan tak kunjung mereda. Orang-orang mulai berkumpul menyaksikan sumber ledakan tersebut. Di atas sana terdapat begitu banyak prajurit berseragam sedang melayang. Tampaknya tengah terjadi pertarungan di sana.
Meskipun banyak orang berbondong-bondong untuk melihat kejadian tersebut, aku memilih untuk tetap duduk tenang di atas bangku taman. Namun, suara berisik yang selalu menggema membuat pikiranku tak bisa tenang walau hanya sedetik. Sejenak, aku memalingkan pandangan ke arah pertempuran itu, lalu sebuah hal menarik terjadi.
Orang yang terkepung mengurung dirinya dalam suatu bulatan energi yang begitu kuat serta besar. Aku langsung berdiri, mengamati dengan saksama siapa pelakunya. Lama berselang, bola energi berwarna biru tadi semakin membesar. Mereka yang berada di sekitar bola tersebut langsung lari tanpa arah karena ketakutan.
“Hei! Dia tidak berencana memusnahkan kota ini, kan?” Aku masih bergeming, mengamati kelanjutan dari kejadian ini. Namun, firasatku langsung menjadi tidak enak. “Ternyata benar, dia ingin menghancurkan seisi kota dalam sekali serang.”
Walaupun enggan, mau tak mau aku harus menghentikan ini. Kalau tidak, kota ini akan hancur menjadi puing-puing karenanya. Saat bola energi berwarna biru tadi semakin membesar, kerumunan orang langsung panik dan lari terbirit-birit untuk menjauh. Para prajurit berseragam besi akhirnya datang bersama dengan drone juga alat tempur lain berupa robot.
“Ya ampun! Sudah jelas kekuatan ini mengerikan. Siapa orang yang mampu berbuat seperti ini?”
Dalam satu kejapan mata, bola energi berwarna biru tadi langsung dilingkupi oleh jaring berwarna ungu yang berasal dari drone, robot, serta para prajurit. Meski demikian, menurut analisaku, jaring tersebut takkan sanggup membendung ledakan dari bola energi itu. Tidak ada cara lain, aku juga harus bertindak.
Sebelum aku sempat melesat ke arah keramaian itu, Dom tampak sudah melayang melewatiku terlebih dahulu. Aku pun melompat, melayang di udara menyusulnya. Dia tidak menyadari kehadiranku, karena terlalu fokus pada apa yang ada di depan. Sampai di kerumunan para prajurit, Dom mengeluarkan sesuatu dari sakunya ketika berhenti.
Aku melayang tepat di sebelahnya, meski dia tak menyadari kehadiranku ini. Di tangan kanannya yang terulur, terdapat sebuah kotak kecil dengan kamera pada bagian atas. Dari sana terpancar layar hologram berwarna biru yang menunjukkan kualitas serta kuantitas dari bola energi biru di hadapan kami.
Salah satu prajurit datang melapor kepadanya. “Prajurit Khusus Dom, jaring penangkal telah dipasang.”
__ADS_1
“Perkuat! Itu masih belum cukup!”
“Baik, Prajurit Khusus.”
“Cih!” Dom mematikan alat di tangannya dan memasukkannya ke dalam saku celana. “Prajurit Khusus lainnya sedang dalam misi. Hanya aku yang ada di sini sekarang. Lagipula, kenapa juga ada Prajurit Khusus yang mau memusnahkan kota ini!”
“Bagaimana dengan para Bintang Elite itu?” tanyaku.
“Mereka masih belum datang. Mungkin sibuk dengan urusan pribadi.”
Jadi begitu, orang yang paling tinggi dapat semena-mena dan menyerahkan semuanya pada bawahan, sungguh tak adil. Dan tampaknya Dom masih belum sadar kalau aku adalah orang yang berbicara padanya. Dia kini menutup mata untuk mulai menyerap energi alam. Namun, tiba-tiba dia melirik ke arahku.
“Dari tadi.”
Dia langsung berhenti menyerap energi dan langsung memegang kedua tanganku. “Kei ... kumohon! Hentikan bencana ini.” Bola matanya berbinar ketika memohon padaku.
“Ini terlalu merepotkan. Selain itu, tidak bisakah kau mengatasinya sendiri?”
“Mustahil! Meskipun aku seorang Prajurit Khusus, kekuatanku masih jauh di bawahnya.”
__ADS_1
“Baiklah, akan kucoba semampuku.”
“Terima kasih! Aku juga akan membantu.”
Aku menjulurkan tangan kiriku ke depan sambil mengumpulkan energi alam pada telapak tangan. Sekarang, bagaimana cara untuk menghentikan ledakan bola energi biru ini? Aku menarik napas panjang, kemudian fokus pada aliran kekuatanku.
Bayangan merembes melewati uluran tanganku melingkupi bola energi biru yang hendak meledak itu. Memang benar bayangan ini tak bisa membendung ledakan yang akan segera terjadi, tetapi jika kuubah sedikit saja, maka bayanganku akan lebih mengerikan dari biasanya. Tato di wajahku mulai menyebar ke sekujur tubuh, menambah kekuatanku menjadi berkali-kali lipat.
Bola energi biru tersebut memberikan tekanan yang cukup kuat pada bayanganku, tetapi masih belum bisa menandingi aku. Bagai memecahkan sebutir telur dengan genggaman tangan, bola energi tersebut pecah menjadi beberapa bagian.
Orang-orang mulai memandang ke arahku. Namun, kuabaikan mereka sambil memasukkan kembali kekuatan bayanganku ke dalam tubuh. Tato yang tadinya menyebar juga telah kembali ke asalnya. “Tugasku sudah selesai. Sekarang giliranmu menyelesaikan apa yang menjadi bagianmu, Dom.” Setelah berkata demikian, aku memutuskan untuk kembali ke villa keluarga Dom.
Melesat dengan cepat melewati kota Rose dari angkasa, aku pun sampai ke tempat tujuan. Alasan kenapa aku bergegas adalah untuk menghindari kebisingan. Tentu mereka akan bersorak-sorai ketika melihatku mampu memecahkan bola energi tadi, dan aku sangat tidak menyukai itu.
Mendarat di halaman villa, aku melihat Vany sedang duduk di teras. Tanpa basa-basi aku langsung menghampirinya. “Hei, Vany!”
“Huh!” Gadis itu memalingkan wajahnya dariku. “Kau pergi tanpa mengajakku, jahat sekali.”
Sungguh, pikiran seorang gadis memang tidak bisa ditebak, ya. Seharusnya dia bisa berkeliling kota seorang diri pada hari cerah ini. Akan tetapi, dia malah menunggu aku untuk berkeliling kota, sangat tidak logis, bukan?
__ADS_1