The Red Game

The Red Game
Chapter 11 : Pertemuan Yang Singkat


__ADS_3

Tubuhku terasa sangat berat untuk diangkat. Saat aku membuka mataku pancaran sinar matahari yang hangat begitu menyilaukan sehingga aku menutup mataku dengan tangan kananku.


Setelah beberapa saat, mataku akhirnya terbiasa pada pancaran sinar matahari. Aku melirik kesekitar dan melihat gadis yang kuobati kemarin sedang terlelap dalam tidurnya. Wajahnya yang kemarin sangat pucat sedikit demi sedikit mulai kembali normal. Melihat keadaannya itu hati kecilku merasa sedikit lega.


Hm, ini mengejutkan, tidak kusangka aku bisa merasakan hal seperti itu. Tetapi sudahlah, kurasa tidak buruk merasakan perasaan seperti ini untuk sementara waktu.


Kupaksakan diriku untuk bangun dari tempatku. Dalam sesaat rasa sakit menyebar keseluruh tubuhku hingga membuatku ingin terus berbaring.


“Menyebalkan. Tidak kusangka aku akan semenderita ini hanya untuk menyelamatkan gadis ini.” Gumanku sambil memegangi keningku yang terasa pusing.


Walau tubuhku terasa sangat sakit, aku tetap berdiri dengan kaki yang gemetaran. Dengan langkah gontai aku berjalan menuju tepi atap gedung. Dari sana aku dapat melihat dua pemandangan yang sangat berbeda. Karena jika aku melirik ke sebelah utara, aku dapat melihat tumpukan mayat yang bergelimpangan. Sedangkan disebelah selatan adalah pemandangan kota kosong yang sangat damai.


“Mungkin aku harus memberi sedikit kejutan pada sang penguasa. Sekalian saja aku menghilangkan rasa bosanku ini.” kataku sembari terjun dari atap gedung.


Sebelum aku melampiaskan rasa bosanku, aku melayang menuju sebuah toko serba ada terdekat. Tanpa berlama-lama lagi aku langsung saja menendang pintu masuk toko itu hingga rubuh lalu masuk kedalamnya. Dari pintu masuk itu aku berjalan menuju deretan rak yang berisikan makanan ringan dan roti-rotian.

__ADS_1


Aku berjalan diantara rak-rak itu sambil melihat-lihat apakah ada yang kuminati disana. Ya, berhubung hari ini ada diskon besar-besaran, jadi aku harus memanfaatkannya sebisa mungkin.


“Hm, mungkin aku harus memilih makanan yang sedikit lebih mahal.” Gumanku sembari mengambil beberapa roti tawar beserta selai coklat dan memasukkannya kedalam tasku.


Setelah berbelanja ditoko, aku melayang kembali ke atap gedung tempatku tidur semalam. Disana masih ada seorang gadis yang sedang terbaring dibawah hangatnya cahaya pagi.


Entah kenapa langkahku terhenti saat memandangi gadis itu. Dan disaat bersamaan aku mengingat kembali bagaimana dia berusaha keras untuk menghentikanku melakukan balas dendamku.


Ah sial. Kenapa aku ini?


Kutepis pemikiran itu sembari mendekati gadis itu. Aku duduk bersela disampingnya lalu mengambil beberapa potong roti dari dalam tasku dan menaruhnya disamping gadis itu.


Aku menggeleng mendengar diriku mengucapkan kata-kata itu. Karena hal itu terdengar seperti bukan diriku. Mungkinkah ini yang dinamakan dengan dilema. Benar-benar merepotkan.


Aku berdiri lalu berbalik sambil memakan sepotong roti tawar tanpa selai. Namun menurutku rasanya tidaklah buruk, sama seperti hidupku yang sangat kosong. Roti ini tidak mempunyai rasa, tetapi aku selalu ingin mengunyahnya sampai perutku kenyang.

__ADS_1


“Ayo katakan hallo padaku, sang penguasa.” Gumanku sembari melayang dengan cepat ke arah utara menuju ke bekas medan perang.


Dibekas medan perang itu terdapat beberapa tentara yang sedang berjaga. Aku melayang dengan cepat ke arah para penjaga itu dan menyerang mereka dengan cambuk listrik. Dalam sekejap seranganku itu mengakibatkan hentakan yang sangat kuat hingga mampu mementalkan mereka.


Melihat serangan dadakanku itu, para tentara yang lain mulai menyerangku dengan berbagai serangan jarak jauh. Untuk menanggapi serangan itu, aku menalirkan kekuatanku pada tangan kanan, namun kekuatanku tidak bisa mengalir.


Meskipun begitu, kupaksakan kekuatanku untuk mengalir. Tetapi ternyata apa yang kulakukan itu berakibat buruk. Tangan kananku menjadi kaku dan tidak bisa digerakkan. Disaat aku sedang tidak dapat menggunakan kekuatan, serangan-serangan itu dengan cepat melaju kearahku.


Namun aku beruntung karena dewa pelindungku masih setia menjagaku.


“Sial. Ternyata tanganku menjadi lumpuh karena terlalu memaksakan diri untuk menyembuhkan gadis itu.” Keluhku sambil memandangi tangan kananku yang sudah tidak bisa digunakan lagi.


Beberapa saat setelah para tentara menyerangku dengan serangan jarak jauh, mereka mulai berlarian ke arahku dengan pedang ditangan yang sudah dilapisi kekuatan api, dan listrik. Ah, ini baru saja menjadi buruk, aku tidak bisa berbuat banyak dengan kondisiku sekarang ini.


Aku melirik kepada para tentara itu dengan tenang. Saat mereka mulai menebaskan pedang mereka ke arahku, pelindungku aktif dengan sendirinya dan mementalkan orang-orang itu. Namun kejadian buruk kembali terjadi. Kakiku tiba-tiba melemas hingga membuatku terjatuh berlutut ditanah.

__ADS_1


“Ini akan semakin buruk jika aku terus menggunakan kekuatan dari kristal kegelapan milikku.”


Aku mengalirkan sisa-sisa kekuatanku keseluruh tubuh dan membanyangkan suatu tempat yang tidak begitu jauh dari sini. Tak lama kemudian aku berpindah keatap sebuah gedung. Disana aku terbatuk sampai memuntahkan darah, rasa sakit semakin menyebar keseluruh tubuhku hingga pada akhirnya aku kehilangan kesadaran.


__ADS_2