The Red Game

The Red Game
[S2] Chapter 2 part 4


__ADS_3

Sebelum aku mencapainya, Karel langsung melayang ke atas dengan cepat, Teknik Memanipulasi Gravitasi miliknya sudah sangat mahir, ini benar-benar merepotkan. Mau tak mau, aku langsung mempercepat diri, menyusul Karel yang tak kunjung berhenti. Dia berputar-putar selama beberapa saat, lalu melayang ke samping kanan.


“Sial, ini harus segera diselesaikan.” Aku kian mempercepat gerakan, dan menyusul Karel melesat ke samping kanan.


Tiba-tiba begitu banyak kerikil menyerangku, mengurung dari segala arah. Berputar mengelilingi, hingga membuat aku terganggu dan terhenti sejenak, tetapi segera melesat lagi. Kerikil-kerikil terus saja berdatangan, tapi tak ada yang aku acuhkan. Terus melayang dengan kecepatan tinggi, mengejar seorang komandan muda yang bersikap sok kuat.


Aku mengarahkan tangan kiriku ke depan, butiran-butiran hitam yang mengambang di sekitarnya, langsung melesat dengan cepat mengejar Karel. Sekali lagi aku berkonsentrasi untuk menggunakan Teknik Berpindah Tempat, dan langsung saja, diri ini berada tepat di depan Karel. Namun, dia sudah menyadari dan segera melayang ke atas.


“Sial!”


Lagi-lagi kerikil-kerikil tadi menyerang, menghantam pelindungku dari segala arah. Hantamannya semakin kuat, karena kecepatan benda itu kian bertambah. Membuat penglihatan terganggu, dan gerakan menjadi lebih berat.


“Teknik yang merepotkan ini, sangat tidak cocok untuk kulawan.”


Mendadak suara ledakan menggema, menghantarkan getaran pada pelindungku. Gerakan menjadi sedikit terhambat, menggunakan Teknik Berpindah Tempat juga tak dapat, karena harus melihat atau menandai tempat tujuan sebelum digunakan.


Tapi tunggu! Aku tahu ini akan sangat merugikan, tetapi satu-satunya cara yang dapat aku lakukan adalah berhenti mengejar orang itu, dan segera berpindah tempat di mana Vany berada, karena tempat itu telah kutandai sebelumnya.


“Sial!” Mau tak mau, aku pun berpindah tempat di mana Vany berada.


Dalam satu kedipan mata, diri ini telah berada tepat di sebelah Vany yang tengah berdiri, memandang ke atas. Ia tampaknya tidak menyadari kehadiranku ini. Namun, sudahlah, tak perlu untuk menggubrisnya.

__ADS_1


“Hei, apa yang kau lihat?”


Sontak pertanyaan itu membuat Vany melompat ke samping. Aku tahu ia melakukannya tanpa sadar, karena memang dia tak tahu aku ada di sebelahnya.


“Se-se-se-sejak kapan kau di sini?”


“Sejak tadi.” Segera aku berjalan mendekati salah satu mayat yang terkapar begitu saja, tubuhnya dipenuhi oleh bekas luka, tetapi bukan itu yang aku inginkan. Tubuh tertunduk, tangan meraih senapan panjang yang ada di samping kanan mayat tersebut. Tidak ada yang melarang untuk mengambilnya, maka aku bebas mau berbuat apa pun di sini.


Senapan itu berbau amis, karena memang sudah basah oleh darah. Sesekali aku mengarahkannya ke atas, sembari mengecek kelayakan senjata itu. Tak lama kemudian, Vany datang mengahampiri.


“Apa yang sedang kau lakukan, Luchifer?”


Maksudku, siapa yang tak ingin kekuatannya meningkat berkali-kali lipat. Tentu saja tidak ada yang tidak menginginkannya. Semua orang mau membuat serangannya meningkat, dengan berbagai alasan yang dimiliki. Balas dendam bisa menjadi salah satunya, membela diri juga termasuk.


Akan tetapi, ada alasan yang lebih sederhana dari itu semua, hal tersebut adalah ego manusia itu sendiri. Menginginkan lebih dan lebih tanpa pernah puas, itulah manusia. Hingga pada akhirnya, rasa haus itu membunuh mereka tanpa mereka sadari.


Aku mengalirkan kekuatan dari ‘Kristal Warna’ milikku, di telapak tangan kiri, lalu menyalurkannya pada senapan. Jujur saja, aku sudah tidak berminat untuk membunuh orang yang mungkin akan sangat merepotkan tadi. Namun, tetap saja dia akan mati dengan sendirinya dengan rencana yang aku siapkan.


Sebuah senyum tipis karena girang, tak dapat kutahan dan akhirnya terbentuk di bibir. Lagipula, tidak ada gunanya menyembunyikan emosi di hadapan gadis yang sedari tadi terus memandangiku. Dia tampak sangat tertarik dengan apa yang hendak aku lakukan pada senapan di tangan ini.


Beberapa kali aku memutar-mutarkan senapan yang ada di tangan, sambil memikirkan ulang semua kejadian yang aku alami, untuk mengurangi resiko ketika rencana telah dijalankan. Memang benar, sudah ada rencana yang aku buat, tetapi masih belum sempurna kalau tidak menutup celah yang ada di setiap waktu.

__ADS_1


Setelah dipikir lagi, rencanaku yang dulu itu sangatlah luar biasa dan fantastis. Ingin rasanya membuat seperti itu lagi, tetapi tak bisa. Sebab aku tidak memiliki kelompok untuk digunakan sebagai alat. Cresh juga telah menjadi sampah yang hanya terus mengurung diri tanpa ada semangat hidup.


Sementara itu, Vany tidak akan cocok dijadikan bidak untuk menggantikan Cresh maupun Nathaniel yang telah mati. Jadi, semuanya tergantung pada tindakanku sendiri.


Sejenak aku melirik Vany, ia tak bereaksi apa-apa ketika melihat lirikanku. “Mungkin kita harus segera menyelesaikan masalah tak berujung ini, Vany.”


“Masalah tak berujung? Apa maksudmu?” Vany memiringkan kepala, tidak mengerti dengan maksud perkataanku.


Sebuah senyum aku lemparkan padanya. Mendadak, wajah gadis itu memerah dan segera ia palingkan ke arah lain. “A-apa sih?”


Segera kaki ini melangkah ke depan, tenagaku sepertinya sudah harus dipulihkan dengan beristhirahat selama beberapa waktu. “Jangan membuang waktu, sebaiknya kita segera mencari tempat sembunyi, karena di sini sebentar lagi akan dipenuhi oleh para tentara dari Negara Alastein.”


“Ba-baik.”


Ah, kenapa dia gugup? Bukankah ini seperti yang selalu kami lakukan saat dulu sekali, di masa kecil. Bersama menjalani hari, baik ataupun buruk semua dilalui. Kuakui kalau diri ini telah tidak lagi kecil dan bahkan beranjak dewasa, tetapi tetap saja, kami adalah teman.


Memikirkan masa lalu membuatku teringat pada hari-hari di mana kami saling tertawa bahagia, bercanda dan bersenang-senang. Namun, semuanya telah berubah, kejadian buruk satu tahun lalu sudah membuatnya berbeda. Aku, dengan tangan ini, menghabisi semua keluargaku, tanpa ada sisa. Pantaskah sampah sepertiku ini hidup?


Perlahan, aku mengalirkan kekuatan pada telapak tanganku sembari terus berjalan. Semua yang menghadang di depan langsung hancur tanpa sisa, membuat sebuah jalan yang dapat dilalui dengan leluasa. Sesaat kemudian aku teringat, membuat jalan secara paksa sama dengan meninggalkan jejak, tetapi tak ada yang perlu dikhawatirkan.


Dari bayanganku yang ada di tanah, muncul beberapa sosok diriku. Ya, ini adalah salah satu teknik yang aku miliki, yaitu Teknik Pembuat Bayangan. Beberapa saat kemudian, setelah semua bayanganku berpencar, Vany mendekat di sebelah kananku. Dan kami pun berjalan lurus, tanpa berkata sepatah kata pun.

__ADS_1


__ADS_2