The Red Game

The Red Game
Chapter 11 part 2


__ADS_3

Setelah beristhirahat selama satu hari satu malam, kekuatanku akhirnya pulih. Meskipun begitu, tangan kananku sudah tidak dapat digerakkan sedikit pun.


“Ah, sudahlah. Apa gunanya aku memikirkan sesuatu yang tidak bisa diubah.” Gumanku sambil menatap langit yang mendung.


Namun sangat disayangkan, aku sedang tidak suka dengan keadaanku saat ini. Karena atap gedung yang kemarin sangat damai dan tenang, sekarang sudah diisi oleh banyak tentara.


Ya sebenarnya aku sudah tahu keadaan seperti ini akan datang cepat atau lambat. Karena perang sudah berhasil dimenangkan oleh para tentara, maka secara otomatis mereka akan menyelidiki setiap tempat dikota Fluch untuk memastikan apakah masih ada orang dari aliansi kota utara yang bersembunyi.


“Bagaimana ini?” tanya Vany yang sedang bersandar dipunggungku.


“Apakah aku perlu mengatakan kalau kita seharusnya mengangkat tangan dan menyerah begitu saja.” jawabku.


“Jadi maksudmu kita akan menyerah begitu saja.”


Dari nada suaranya aku dapat mengetahui kalau Vany sangat tidak senang mendengar jawabanku.


“Kalau begitu. Bagaimana cara kita keluar dari situasi ini? kau sudah lihat sendiri kalau kita sudah dikepung oleh para tentara yang mengarahkan senapan mereka pada kita.”


“Bukankah kau sudah pernah keluar dari situasi yang lebih gawat dari ini?”


Kuakui kalau itu memang benar, tetapi saat ini aku tidak yakin dapat melindungimu dengan kekuatanku saat ini. Dan juga, tangan kananku sedang cedera.


Sebenarnya aku ingin mengatakan itu, tetapi apa boleh buat. Sepertinya aku harus memaksakan diriku lagi untuk melindunginya.


Aku menghela nafasku sejenak lalu berkata, “Baiklah, aku akan berusaha mencari cara untuk keluar dari situasi ini.”


“Gitu dong.” Jawab Vany.


“Hei kalian berdua. Angkat tangan dan menurut saja jika tidak ingin terluka.” Ancam seorang tentara yang ada didepanku sambil mengarahkan senapannya padaku.


Ini aneh, apakah dia tidak mengenali wajahku ini.


Kalau aku tidak salah ingat, aku pernah menyapu bersih banyak tentara dengan sekali serang saat perang beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Ah sial. Aku baru ingat kalau waktu itu aku masih memakai topeng, dan sekarang ini aku sudah memutuskan untuk kembali memakai wajah dan identitasku yang asli.


Tetapi ini masih aneh. Karena waktu itu aku juga sempat memperlihatkan wajah asliku. Apa mungkin mereka berani mengepungku seperti ini karena kemarin mereka melihatku melarikan diri karena sedang terluka.


Yah mungkin lebih baik kalau aku membuat mereka mengingat betapa kuatnya diriku ini. Dan mungkin dengan begini sang penguasa akan mengetahui kalau Luchifer sang raja kesombongan sudah bangun dari hibernasi.


Aku mengangkat tangan kiriku dan mengarahkannya kearah tentara yang mengancamku beberapa saat yang lalu.


“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya tentara itu sambil membidikku.


Aku mengalirkan kekuatan angin ke tangan kiriku lalu menyebarkannya. Beberapa saat kemudian kekuatan angin itu berubah menjadi pelindung angin berbentuk setengah bola angin besar yang melindungi aku dan Vany.


Melihat itu, para tentara dengan sigap langsung menembaki kami dengan senapan mereka. Tetapi tidak ada yang berhasil menembus pelindung angin yang kubuat.


“Akan kubuat kalian bebas dari pekerjaan kalian sebagai tentara. Dan mungkin saja kalian akan bahagia karena hal itu.” Gumanku.


“Jangan bilang kau akan menghabisi mereka tanpa ada yang tersisa.” Sahut Vany.


“Entahlah.”


Teriakan dari paniknya para tentara menggema bercampur dengan suara berisik runtuhnya gedung dan suara tembakan. Namun tak lama kemudian hujan mulai turun dengan lebatnya sehingga dapat sedikit meredakan suara-suara yang sangat berisik itu.


“Hei, hei. Ini tidak akan jatuh ‘kan.” Kata Vany untuk memastikan apakah lantai yang kulayangkan dengan kekuatanku ini akan jatuh.


“Jika kau ragu, aku dapat menurunkanmu.” Jawabku.


“Apa kau ingin membunuhku?”


Gadis ini sangat berisik. Dia selalu saja meragukan kekuatanku, tetapi disaat bersamaan juga mengaharapkan kekuatanku untuknya berlindung. Meskipun wajar baginya untuk ragu karena tangan kananku tidak dapat kugunakan sekarang ini.


“Bagaimana kalau kita kembali ke kota utara saja.” kataku pada Vany.


Vany berbalik dan menatapku dengan heran setelah mendengar perkataanku. Aku tahu dia tidak akan menyangka ini. karena melihat apa yang sudah kulakukan, orang-orang dari kota utara pasti sangat ingin menghabisiku. Meskipun pada akhirnya mereka yang akan lenyap.

__ADS_1


“Kalau kau tidak menjawab maka aku akan menganggap kau setuju.” Sambungku.


“Ah, iya.” Jawab Vany.


Aku menurunkan tangan kiriku dan mengatur kekuatanku dengan pikiranku. Lantai yang kulayangkan tadi perlahan-lahan bergerak menuju ke arah utara. Tujuanku pergi ke kota utara adalah untuk memastikan apakah semua aliansi kota utara sudah tewas, atau mungkin masih ada beberapa yang berhasil selamat.


Belum sempat kami keluar dari perbatasan, para tentara mulai melemparkan serangan bola api ke arah kami. Sebenarnya aku sangat ingin mengeluh karena hal itu, tetapi aku sangat malas untuk melakukannya.


Serangan bola api yang para tentara lemparkan pada kami tadi berhasil dihalang oleh pelindung anginku. Aku tahu mereka pasti berpikir kalau api dapat semakin berkobar karena angin, namun pelindung anginku ini sangat berbeda dari yang lainnya. Mereka seharusnya tahu akan hal itu.


Oh tidak, kanapa aku menjadi orang bodoh. Aku bahkan tidak sadar kalau para tentara itu adalah para idiot yang berani membangunkan monster yang sedang tidur lelap sepertiku.


Hm, apa mungkin mereka sangat ingin untuk kuhabisi. Kalau begitu akan kubulkan permintaan mereka. Tetapi sangat disayangkan hari ini aku sangat malas untuk berhadapan dengan mereka. Namun suatu hari aku pasti akan menyulut peperangan lagi. Dan mungkin saja perang ini akan lebih menarik dari pada yang terjadi beberapa hari lalu.


Aku tersenyum tipis lalu berkata, “Akan kubuat sang penguasa melihat kegelapan dari Red Game.”


~THE END~


------


Hallo semuanya. Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih karena sudah membaca karya saya yang tidak seberapa ini.


Tetapi mungkin ada dari kalian yang nanya kenapa saya dengan terpaksa harus mengakhiri karya saya yang satu ini.


Sebenarnya sih saya sangat ingin melanjutkan, tetapi ketika saya mencoba untuk melanjutkannya, saya merasa tidak puas dengan hasilnya.


Walaupun begitu, saya pasti akan membuat Volume kedua dari The Red Game ini. dan tentunya saya melakukan ini untuk membuat kalian senang dan semakin tertarik dengan karya saya.


Ok, kita cukupkan sampai disini saja.


Terima kasih sudah mendukung dan sukses selalu untuk kalian.


btw kalo kalian punya karya di MT boleh dong kasi tau saya judulnya di kolom komentar.

__ADS_1


😁😁


__ADS_2