The Red Game

The Red Game
Chapter 7 part 3


__ADS_3

Pertandingan memperebutkan posisi ketua aliansi antara aku dan Rias telah dimulai. Aku berdiri sambil memasukan kedua tanganku dalam saku celana sambil menatap Rias. Dia terlihat sangat tenang, tidak ada keraguan yang dipancarkan olehnya. Melihat itu aku menjadi yakin kalau dia sudah sangat terbiasa dalam pertarungan.


Dia menyilangkan kedua tangan didadanya. Seketika itu pula muncul sesuatu dari punggungnya. Nampaknya dia memiliki teknik yang sama seperti milik Cresh. Dia tersenyum sinis dan menatap tajam kearahku.


“Hei Kei! Cepat keluarkan teknikmu. Aku tidak akan segan-segan untuk menghajarmu lho.”


“Serang saja jika kau mau.” Jawabku.


Mendengar itu dia langsung bergidik dan menyerangku dengan sesuatu yang keluar dari punggungnya tadi. Apa yang keluar dari punggungnya itu adalah sebuah patung perak yang berbentuk seperti Rias. Patung itu meluncur kearahku lalu melancarkan serangan dengan kepalan tangannya.


Tanpa menunggu lagi aku langsung menghindar kesamping kanan dengan gerakan yang cepat. Dalam sekejap Rias menambah jumlah patung yang menyerangku. Patung-patung itu mengepungku sehingga aku tidak menemukan celah untuk lari.


Patung-patung itu menyerang bersamaan. Tangan-tangan mereka berubah bentuk menjadi pedang yang ujungnya sangat runcing. Aku bergerak maju menabrak salah satu dari patung itu hingga membuatnya jatuh terbaring. Saat kupikir akhirnya bisa lepas dari kepungan, tali perak dari patung itu melilit tubuhku sehingga aku tidak bisa bergerak. Patung-patung lainnya membentuk lingkaran disekelilingku. Mereka menyatukan tangan mereka dan perlahan-lahan berubah bentuk menjadi sebuah sangkar yang mengurungku.


Rias berjalan kearahku, tali perak yang melilitku perlahan menyatun dengan sangkar perak. Senyum penuh kemenangan terbentuk pada wajah Rias. Dengan tenang dia menatapku lalu berkata.


“Hanya ini kemampuanmu?”


Ucapannya itu pasti untuk memprovokasiku. Dia tidak tahu kalau aku memang tidak berniat menang melawannya. Jika aku memang berniat untuk menang, aku ragu dia dapat menghentikanku walau mengerahkan semua kekuatannya.


“Ya aku kalah telak darimu. Seharusnya sejak awal aku tidak melawanmu dipertandingan pertama.”


Dia tampak terganggu karena aku tidak terpancing oleh provokasinya. Ini tidak dapat dihindari, untuk dapat memprovokasiku dia harus lebih banyak berlajar.


“Ha..., kau benar-benar orang yang membosankan.” Rias mengeluh seperti itu setelah menghela nafas.


“Maaf saja bila aku tidak sesuai harapanmu. Aku juga sudah tidak peduli lagi jika kau tidak ingin aku menjadi penasehatmu.”


“Pfft... jadi kau benar-benar ingin menjadi tangan penasehatku ya.”


Sangat wajar jika dia menganggap aku sangat ingin menjadi penasehatnya setelah mendengar perkataanku. Alsannya cukup sederhana dalam perkataanku barusan, aku memang menyelipkan maksud seperti itu. Aku terkejut dia bisa mengetahuinya.


“Aku tidak menginginkannya sedikit pun, kau saja yang terlalu percaya diri.” Kataku.


Mendengar kata-kataku itu dia menjadi membara. Dikeningnya terdapat kerutan yang sangat besar dan raut wajahnya sangat menakutkan. Dia pasti sangat marah akibat provokasiku.


“Hei, hei. Jangan marah dong. Aku hanya mencoba untuk sedikit memprovokasimu. Aku tidak menyangkan kau akan marah hanya karena hal itu.” Sambungku.

__ADS_1


Rias melemaskan tangan kanannya. Tiba-tiba cambuk perak keluar dari telapak tangannya itu. Dia mengayunkan cambuknya itu sekali ketanah. Tanah yang dicambuk olehnya langsung membentuk retakan yang cukup besar. Dia kembali bersiap untuk menggunakan cambuknya.


“Eh? Seriusan nih? Ehehe, maaf untuk yang sebelumnya. Aku tidak berniat untuk mengganggumu.” Aku mengatakan itu sambil mengangkat tanganku kedepan mencoba untuk menenangkannya.


Ini buruk, sangat buruk. Kenapa aku malah memprovokasinya tadi. Akan sangat merepotkan nantinya jika ada orang lain yang melihat kemampuanku.


Dia mengayunkan cambuknya sekuat mungkin. Aku harap sangakar ini dapat menahan serangannya. Jika aku menguatkan sangakar ini, kemungkinan besar dia akan tahu tentang kekuatanku. Ini buruk, aku tidak punya solusi.


Serangan cambuk itu semakin mendekat, tiba-tiba rantai ungu menahan serangan itu. Rias menatap orang yang menggunakan teknik itu. Orang yang menggunakan rantai ungu itu adalah Cresh. Aku tidak mengerti kenapa dia mau menolongku disaat seperti ini.


“Kenapa kau mengganggu pertarunganku dengan dia?” tanya Rias.


“Hm.., kalau aku tidak salah dengar, dia mengaku kalah beberapa saat lalu.” Jawab Cresh.


“Itu..,” Rias menjadi bingung ingin menjawab seperti apa.


“Ah, itu salahku.” Potongku, “Aku yang salah karena membuat dia marah. Jadi kuharap kau dapat melupakan masalah ini.”


“Eh?” Rias tersentak mendengar aku menolongnya.


“Oh begitu ya.” Jawab Cresh, “Itu artinya pertandingan ini sudah dimenangkan oleh Rias. Kau tidak keberatankan, Kei?”


“Ya. Lagipula aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi.”


Aku melirik Rias beberapa saat untuk menyampaikan sebuah isyarat.


“Ah.., iya aku mengerti.” Katanya.


Rias segera menarik kembali sangkar perak yang mengurungku kedalam tubuhnya. Aku merasa lega karena akhirnya dapat keluar dari kurungan. Mungkin seperti inilah yang dirasakan oleh orang yang terkurung dalam suatu tempat saat ia akhirnya dapat keluar.


“Pertandingan pertama, Kei melawan Rias dimenangkan oleh Rias.” Teriak Cresh.


Suara sorakan menggema memenuhi lapangan. Aku tahu mereka senang karena Rias memenangkan pertandingan kali ini meskipun hanya melawanku.


Aku pergi meninggalkan arena tanpa berbicara lagi. Saat aku masuk ke dalam kerumunan kelompok, Vany langsung menarikku ke suatu tempat. Jika dilihat dari kelakuannya, dia tampaknya ingin mengkonfirmasi sesuatu hal padaku.


Kami keluar dari kerumunan dan masuk ke tempat yang aku dan Cresh datangi sebelumnya. Vany melepaskan tangannya yang menarikku. Dia berbalik kearahku lalu mengamati ekspresiku.

__ADS_1


Setelah beberapa saat ia akhirnya menyerah karena tidak mendapatkan hasil. Ia menghela nafasnya lalu berkata.


“Aku akan langsung pada intinya. Kenapa kau tadi tidak serius saat melawan Rias?”


Kalau aku boleh jujur, sebenarnya aku sudah tahu rencananya sejak awal. Dia sengaja menjebakku untuk ikut pertandingan itu. Yah kalau dipikir-pikir, aku bisa saja menolaknya. Namun akan buruk jika aku menolak dengan paksa. Karena dia akan tambah curiga kepadaku.


Vany mengangkat alisnya menunggu jawabanku.


Aku menghela nafasku lalu menjawab, “Itu karena aku tidak tertarik untuk menjadi ketua aliansi. Selain itu, aku juga tidak ingin terlihat mencolok. Apa itu cukup.”


Dari ekspresinya aku dapat melihat sebuah tanda tanya muncul diwajahnya. Mungkin sekarang dia sedang bingung bagaimana ia akan menanggapi kata-kataku itu.


“Bukankah kau sudah tahu kalau aku ini tidak suka menjadi pusat perhatian.” Sambungku.


“Ya.., itu memang benar sih. Tapi kenapa kau mau mengikuti pertandingan itu. Aku tidak mengerti.” Katanya.


“Meskipun kau sudah mengenalku cukup lama, kau ternyata masih tidak bisa mengerti diriku. Aku merasa kecewa.”


“Eh.., tidak, tidak, tidak.” Dia menjadi gugup dan salah tingkah, “Bukannya aku tidak mengerti tapi, aku hanya merasa bingung setelah melihat tingkahmu akhir-akhir ini.”


“Hm.., begitu ya. Ternyata kau memang menyadarinya ya.”


Vany terdiam. Dia pasti sangat terkejut oleh ucapanku barusan. Mungkin dia pikir aku akan mengakui semuanya sekarang. Namun hal itu tidak akan mungkin kulakukan sekarang.


“Sebenarnya akhir-akhir ini aku mendapat firasat akan terjadi hal buruk.” Kataku padanya, “Dan ternyata firasat itu benar. Itulah kenapa aku merasa sangat kacau akhir-akhir ini.”


“Eh?” kata Vany menanggapi kata-kataku.


Dia terlihat sangat kecewa saat mendengar penjelasanku. Aku yakin harapannya telah hancur.


“Kenapa kau terlihat kecewa?” tanyaku.


“Ah, tidak. Itu..,” Vany menjadi bingung dan akhirnya mengalihkan topik, “Oh iya, sebaiknya kita kembali untuk menyaksikan pertandingan.”


“Baiklah.”


Aku dengan patuh mengikuti keinginannya. Sudah tidak ada gunanya lagi aku menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah kuketahui. Dan dengan ini kecurigaan Vany pasti akan sedikit menghilang.

__ADS_1


__ADS_2