
Hari sudah mulai senja, pertarungan sengit antara Kelompok Aris dengan Kelompok Arya sudah berakhir dengan kemenangan Kelompok Aris. Sisa orang yang masih hidup setelah pertempuran tadi tidaklah banyak. Kelompok Aris yang awalnya beranggotakan tiga puluh orang kini tinggal tersisa lima belas orang. Dan Kelompok Jubah Kelam hanya tersisa tujuh orang. Tidaklah mengejutkan jumlah mereka yang tadinya banyak berkurang drastis hanya karena pertempuran dengan Kelompok Arya. Karena kelompok itu berisikan orang-orang berkemampuan hebat.
Dari empat anggota kelompok Arya, hanya ada satu orang yang mayatnya tidak hancur. Dia adalah orang yang menggunakan Teknik Tubuh Baja. Ini tidak mengherankan, karena Teknik itu sangat susah untuk ditembus. Namun, pada akhirnya dia tetap mati karena kehabisan energi.
Aku memeriksa mayat itu dengan tetap waspada agar tidak ada yang tahu. Jika orang lain melihatku seperti ini, mereka pasti akan menganggapku aneh. Tapi ini adalah sesuatu yang penting untuk dilakukan.
Setelah itu, aku juga memeriksa tubuh orang yang pertama kali mati di sini. Wajahnya terlihat sangat pucat, darah yang mengalir dari bekas lukannya menghitam dan membeku. Ini sudah sangat wajar, karena waktu telah berlalu begitu lama sejak dia tewas.
Aku berjalan menyusuri gang tempat kami masuk tadi setelah melakukan pemeriksaan. Dari apa yang sudah kulihat dan amati sejauh ini, aku sudah mengerti maksud dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Aris dan kelompoknya.
Alasan kenapa Aris tidak membunuh Nathaniel waktu itu. Awalnya aku pikir dia hanya ceroboh, tapi ternyata dugaanku itu salah. Alasan dia tidak membunuh Nathaniel adalah karena ia tidak berkaitan dengan kelompok Arya. Sedangkan teman Nathaniel yang dibunuhnya itu adalah anggota kelompok Arya, sama dengan Dian yang pertama kali dibunuhnya di pertempuran.
Sejak awal Aris tidak pernah berniat untuk menghianati Kelompok Jubah Kelam. Dia sengaja bertindak seperti penghianat hanya untuk memancing Kelompok Arya keluar. Kemungkinan besar dia sudah tahu rencana mereka dan memutuskan untuk bertindak. Namun, aku masih tidak tahu asal-usul kelompok Aris. Tapi sudahlah, untuk apa juga aku memikirkannya. Yang penting, aku sangat menikmati pertunjukkan hari ini.
Aku membatalkan Teknik Tak Terlihat saat berada di ujung gang. Cukup melelahkan rasanya ketika aku menggunakan teknik itu terlalu lama. Terus berjalan menyusuri jalan sepi, aku berpapasan dengan Nathaniel. Dia tampak sangat kacau, tapi sepertinya dia tidak mengalami luka serius.
“Hei, kau!” sapanya.
Aku pun berhenti. “Ada apa?”
__ADS_1
“Itu, aku sudah mempertimbangkan tentang tawaranmu.”
Dia mengatakan hal tersebut padaku. Tapi tampaknya dia sedikit kesal. Aku hanya bisa menebak kalau dia kesal karena pernah menolak tawaranku itu dengan angkuh. Meskipun aku tidak peduli pada itu.
“Aku tidak masalah apakah kau ingin menerimanya atau tidak. Jadi sebaiknya cepat katakan apa yang ingin kau katakan.”
Aku sengaja mendesaknya, karena hari akan semakin gelap jika dia tidak segera mengatakannya.
“Aku mungkin bisa menjadi rekanmu.”
“Kenapa kau memutuskan untuk menjadi rekanku?”
“Ya, itu karena, aku merasa tujuan kita itu sama ....”
“Aku ingin tahu, sejak kapan aku pernah mengatakan tujuanku.”
Itu memang benar. Aku tidak pernah mengatakan tujuanku padanya. Tapi jika dia mengatakan tujuannya sama denganku. Berarti dia sudah menerima hadiah yang kusiapkan untuknya.
“Karena kupikir kau bertujuan untuk menghancurkan ‘Sang Penguasa’. Hanya itu. Jika kau bertanya kenapa aku bisa seyakin itu, karena ini kutemukan di pakaian temanku.”
__ADS_1
Dia menunjukkan sebuah lencana prajurit negara ini, yaitu negara Alastein. Aku yakin dia berpikir kalau temannya adalah salah satu prajurit yang menjadi mata-mata Kota Utara tanpa tahu kebenarannya.
“Jadi, itu alasanmu mau menjadi rekanku. Aku tidak mengerti kenapa kau berpikir tujuanku adalah menghancurkan ‘Sang Penguasa’ hanya karena temanmu adalah seorang prajurit.”
“Bukankah kau sudah memberikan beberapa petunjuk padaku.”
“Petunjuk?” Aku menjadi bingung karenanya.
“Pertama, kau sengaja memancing kami untuk menyerangmu. Dan hasilnya, temanku terluka. Setelah itu, kau baru mengajakku untuk menjadi rekanmu. Bisa diartikan kau memang ingin menyerangnya.”
Tidak, tidak, tidak. Aku tidak tahu kenapa dia menganggap itu adalah petunjuk. Jika aku harus mengakuinya, itu hanyalah sebuah kebetulan. Aku tidak peduli apakah kau atau temanmu itu yang terluka. Tindakanku itu hanya untuk mengulur waktu saja. Tidak lebih dari itu.
“Baiklah, mulai sekarang kita adalah rekan. Namaku Kei.”
Aku tidak ingin mempermasalahkan teorinya. Karena menilai akan merepotkan jika aku mengakui itu adalah kebetulan.
“Oke. Namaku Nathaniel Vultures. Salam kenal, Kei.”
Kami saling berjabat tangan. Setelah itu aku memutuskan untuk mengajaknya ke markas BlackList. Aku yakin nanti Wili pasti mengintrogasiku selama satu jam. Ini merepotkan.
__ADS_1