
Setelah memeriksa tubuhku, drone tadi langsung memindai tubuh Vany dengan cahaya berwarna birunya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena kami memang berasal dari desa ini, jadi secara otomatis, kami pasti tidak akan menemukan masalah dengan pemeriksaan ini.
Usai melakukan pemindaian kepada kami berdua, drone tersebut kembali melayang ke atas kami, sebagai kamera pengawas. Tentu, meskipun ada penyusup yang tertangkap, penyusup itu tidak langsung dibunuh, tetapi ditangkap untuk kemudian dibawa ke ruang pemeriksaan.
Walau desa ini masih bagian dari negara Alastein, tetapi mereka memiliki otonomi daerahnya sendiri. Tidak boleh sembarang orang masuk ke sini, karena memang tempat ini adalah wilayah tertutup. Bahkan, para petinggi negara Alastein, perlu suatu izin agar dapat masuk ke desa Rose ini.
Sejenak, aku melirik Vany. Ia tampak biasa saja dengan pemandangan seperti ini. Jelas, tidak ada hal yang mengejutkan, sebab pada awalnya semuanya memang seperti ini. Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa seorang pembunuh sepertiku, dapat menjadi penduduk desa Rose. Dan bukan menjadi buronan seluruh negara Alastein.
Jawaban dari hal itu sangat sederhana, aku berhasil menutupi kejadian tersebut. Bukan karena aku menggunakan identitas Kei—adikku—sebagai tameng, tetapi karena aku, Luchifer adalah orang yang dianggap sebagai pahlawan. Kalian tahu kenapa demikian? Itu sebab banyak orang dari desa Rose, yang tidak setuju akan adanya eksperimen manusia yang dilakukan oleh keluarga Klaurius.
Orang-orang dari desa Rose ini lebih suka bereksperimen dengan alat dan mesin, bukan manusia. Meskipun ada di antara mereka yang menjadi manusia setengah robot atau biasa disebut Cyborg, karena mengalami cacat tubuh. Namun, eksperimen itu dilakukan atas permintaan pribadi seseorang, bukan karena paksaan.
Mungkin tidak ada yang tahu fakta tentang eksperimen manusia super yang dilakukan oleh Keluarga Klaurius. Ya, tidak perlu diungkapkan lagi, mereka memperlakukan manusia layaknya seekor hewan tak berharga, walaupun pada akhirnya tetap ada yang berhasil. Namun, tetap saja, desa Rose tak mau memaksa kehendak seseorang untuk dijadikan bahan percobaan, sangat berbeda dengan keluarga Klaurius.
Dulu, desa Rose juga pernah behubungan baik dengan keluarga Klaurius, tetapi itu karena unsur paksaan dari keluarga Klaurius sendiri. Itulah kenapa, aku dan Vany dapat menjadi salah satu penduduk dari desa ini. Memang tidak begitu logis, tapi sebagai rasa terima kasih mereka karena aku telah membinasakan keluarga Klaurius, mereka pun membiarkanku menjadi penduduk desa Rose.
Perlahan, aku berjalan ke depan, di mana terdapat sebuah gerbang yang menjadi akses ke desa Rose. Tanpa perlu kusuruh, Vany mengekor di belakangku. Dia hanya diam, tak mau mengatakan sepatah kata pun. Hingga sampailah kami di depan sebuah gerbang besar yang tertutup oleh pintu besi, dan dijaga oleh penjaga berseragam robot.
Yah, bagaimana aku mejelaskannya, mereka bukan Cyborg, tetapi manusia yang seluruh badannya tertutup oleh kerangka robot. Tentu di sana terdapat senjata untuk betarung.
Salah seorang penjaga, yang wajahnya tertutup topeng baja berwarna silver, mengarahkan telapak tangan kanannya yang memancarkan cahaya berwarna putih. Lalu, cahaya biru terpancar dari arah mata topengnya untuk memindai tubuhku.
Tak lama berselang, penjaga tadi menurunkan tangannya. “Klaurius Luchifer, identitas dikenali, silakan masuk.”
Sangat mudah, tanpa perlu bagiku memperlihatkan tanda pengenal, mereka sudah tahu identitasku. Bukan seperti para penjaga gerbang Kota Fluch, yang langsung percaya ketika aku menyodorkan kartu identitas palsu.
Beberapa saat kemudian, Vany juga berhasil melewati pemeriksaan. Wajar, karena dulu Vany dipindahkan dari Kota Utara ke desa Rose karena keinginan orangtuanya. Alasan kenapa dia dipindahkan, aku juga tidak tahu, sebab itu adalah kejadian yang dulu sekali, saat aku masih anak-anak.
__ADS_1
Pintu besi besar yang menutup gerbang, mulai terbuka dengan suara yang berdengung keras. Sesaat setelah pintu itu terbuka, pemandangan dari sebuah kota yang indah dengan begitu banyak gedung tinggi, langsung mengisi pengelihatan. “Mungkin lebih baik kita menyebutnya Kota Rose daripada desa Rose.”
“Haha,” Vany sedikit tertawa mengengar ucapanku. “Tapi dulu tempat ini bukanlah tempat seperti ini.”
“Aku tahu, dulu tempat ini hanyalah sebuah desa kecil tanpa ada sebuah gedung pun.”
“Ya, mungkin karena itulah mereka menamainya dengan sebutan desa Rose.”
“Sudahlah, lebih baik kita segera masuk dan mencari penginapan.”
“Baiklah.”
Kami pun berjalan masuk melewati gerbang besar tadi. Jalanan begitu padat, motor dan mobil yang mengandalkan pemanipulasian gravitasi, terus lalu lalang melewati jalanan besar. Sementara itu, aku dan Vany hanya terus bergeming di pinggir jalan, dengan dipandangi oleh banyak orang.
Bagaimana mungkin tidak, penampilan kami yang seperti gelandang membuat orang-orang melirik dengan aneh ke arah kami. Tak lama kemudian, seorang pemuda tinggi dengan jaket merah, memberikan beberapa potong roti kepadaku.
Entah kenapa, tanganku mau mengambil pemberian pemuda itu. Lalu, dia pun pergi sambil melambaikan tangan.
“Hei!”
Beberapa potong roti tadi langsung kulemparkan ke kepala pemuda tadi. Ia berpaling, dan melotot dengan kesal. Tak mau kalah, aku juga menyipitkan mata ke arahnya. Sedangkan Vany hanya terus bersembunyi di balik punggungku.
Aku menghela napas. “Teman sialan macam apa kau ini?”
Pemuda itu langsung melongo, dia mungkin terkejut mendengar perkataanku.
“Jangan bilang kau adalah Luchifer.” Ia langsung menutup hidung dan mundur beberapa langkah.
__ADS_1
Sialan, dia malah mengejekku. “Iya, itu aku.”
“Tidak kusangka kau berganti profesi menjadi seorang gelandangan.”
“Apa katamu!”
“Ah, sudahlah, yang lebih penting, siapa gadis yang ada di belakangmu?”
Aku berpaling ke arah Vany, ia tampak tak begitu tertarik untuk memperkenalkan diri. “Dia Vany,” kataku, “Vany, dia adalah temanku, Dom.”
“Hai!” Dom melambaikan tangannya kepada Vany.
Gadis itu tak bereaksi sedikit pun, nampaknya dia sangat tidak tertarik untuk berkenalan dengan Dom. Tapi sudahlah, itu tidak penting. Segera aku berbalik ke arah Dom. “Jadi.”
“Ya, aku mengerti.” Dom langsung berjalan meninggalkan kami. “Ikuti aku!”
Dengan perlahan, aku dan Vany mengikutinya.
“Hei, apa kau yakin?” Vany berbisik dengan pelang di telingaku.
Tanpa berpaling ke arahnya, aku menjawab, “Dia adalah temanku.”
“Hee....”
Sepertinya dia ingin meledek seperti; tidak kusangka orang sepertimu memiliki teman. Namun, tidak perlu dipedulikan, memikirkannya hanya akan menambah beban.
Berjalan di pinggir jalan besar dengan terus dipandangi oleh banyak orang, kami akhirnya sampai di sebuah villa besar, tempat aku dan Dom pernah tinggal dulu. Villa tersebut dikelilingi oleh dinding yang cukup tinggi, dan jalan masuknya ialah sebuah gerbang yang cukup besar, dan dijaga oleh beberapa orang berseragam.
__ADS_1
Dom langsung menuntun kami masuk setelah berbicara dengan para penjaga tadi, dan kami masih terus diperhatikan oleh mereka ketika memasuki villa. Tidak kusangka, berpenampilan kumuh karena tidak mandi selama beberapa minggu dapat menarik perhatian.