
Aku berbaring di atas tempat tidur usai makan malam bersama dengan Dom dan Vany. Ruangan ini begitu gelap karena lampu telah kumatikan sedari tadi. Sesekali aku menghela napas, pikiranku melayang memikiirkan strategi serta benar tidaknya pilihanku kali ini.
Memang benar aku telah berjanji pada seseorang sebelumnya, tetapi janji tersebut dapat diingakri kapan saja. Namun, ada perasaan aneh yang selalu menghantuiku untuk segera menyelesaikannya. Walaupun suasana sangat tenang, isi kepalaku tidak bisa tenang meski sedikit. Merepotkan, ingin aku memaki seseorang dan melimpahkan semua kekesalan ini padanya. Akan tetapi, itu bukanlah suatu pilihan yang bagus.
Kupandangi tangan kiriku yang terulur bagaikan hendak menggapai langit-langit ruangan. Sejenak terbersit di dalam pikiranku, kalau hanya diriku kini hanya memiliki satu tangan. Beberapa saat kemudian, aku menurunkan kembali tanganku itu sambil menghela napas. Kuharap masih ada sebuah kelompok yang mau beraliansi denganku. Lalu, mataku pun terpejam.
***
Matahari sudah terpancar di balik gorden putih yang menutup jendela kamar ini kala aku membuka mata. Segera aku bangun lalu membuka gorden tersebut agar dapat melihat pemandangan di luar sana. Cukup bagus, dari sini mataku bisa melihat taman indah yang mengelilingi villa tempatku bernaung sekarang.
__ADS_1
“Baiklah, mungkin aku perlu menenangkan pikiran terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali bertindak. Aku sangat yakin kalau rencana kali ini akan lebih menguras waktu dan tenagaku.”
Dengan santai aku langsung keluar menuju kolam renang. Suhu udara sudah tidak terlalu dingin sekarang, sebab matahari telah meninggi. Kupandangi jernihnya air kolam renang yang tenang. Tidak ada ide apa pun di dalam kepalaku sekarang. Wajar saja, sebab tidak ada lagi kelompok di sisiku.
Kutengadahkan kepala memandangi langit biru. Aku hanya bergeming di tepi kolam saat melakukannya. Seandainya terdapat sebuah keajaiban, mungkin semuanya tak akan seperti ini.
Lelah karena tidak bisa memikirkan apa pun, aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke kota Rose ini. Tanpa sepengetahuan Vany dan Dom, kini aku seorang diri berjalan di trotoar sambil memperhatikan sekitar. Ya, jika mereka mencariku nanti, setidaknya para penjaga telah tahu kalau aku tengah pergi.
Tanpa sadar, diriku telah sampai di depan sebuah gang kecil. Kuhentikan langkah kemudian melirik ke arah dalam gang tersebut. Di sana terlihat sangat kosong, tak ada seorang pun yang melintas. “Berhubung sepanjang jalan sedang padat, mungkin aku harus mencoba melewati gang ini saja. Siapa tahu aku dapat menemukan sesuatu yang fantastis di ujung sana.”
__ADS_1
Aku pun mulai melangkahkan kaki memasuki gang tersebut. Berjalan dilingkupi oleh kesunyian, aku akhirnya mencapai ujung gang. Ketika keluar dari sana, mataku langsung disuguhkan pemandangan dari padatnya kota. “Sial, ini jauh lebih ramai daripada di sana tadi.” Dengan berat hati aku menghela napas. “Tapi, sudahlah, sebaiknya aku mencari tempat makan yang sedikit lebih sepi.”
Napasku begitu terengah ketika selesai melewati padatnya orang yang berlalu lalang. Namun beruntung, berkat hal itu, aku menemukan sebuah tempat makan sederhana di dekat sebuah gang. Tanpa mau berlama-lama, aku langsung masuk ke sana dan memesan beberapa makanan.
Usai makan, perjalan kembali kulanjutkan. Karena terlalu lama bersantai saat makan tadi, tanpa kusadari matahari semakin tinggi. “Hm, apa yang akan kulakukan sekarang? Tampaknya sekarang jauh lebih senggang dibanding sebelumnya.” Menimbang keadaan, kuputuskan untuk berkeliling tanpa tujuan untuk melihat-lihat apa saja yang berbeda di kota Rose ini.
Dalam perjalan tanpa tujuan itu, aku menemukan banyak tempat baru, seperti taman luas, sebuah tugu dengan pancur air, dan sebagainya. Tiba-tiba, sebuah ledakan menggema. Aku pun memlingkan pandangan ke arah sumber ledakan tersebut.
Jauh di sana, kumpulan asap keluar dari sebuah gedung tinggi. Kemudian, seseorang keluar dari sana, disusul oleh yang lainnya. “Apakah itu perampokan? Ah, sudahlah, tidak ada urusannya denganku.” Mengabaikan semua itu, aku mencari sebuah taman dan duduk di bangku taman itu.
__ADS_1
Angin berembus, menghantarkan suhu sejuk di sekujur tubuhku. Rasanya sangat menyenangkan ketika berhenti sejenak membuang semua beban pikiran. Inikah rasanya menikmati hari tua setelah pensiun dari sebuah pekerjaan? Entah kenapa aku merasa diriku semakin tua saja.